© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa saja risiko yang muncul setelah melakukan bleaching gigi?

Ada beberapa risiko serta efek samping yang muncul dalam bentuk variatif pada pasien yang melakukan bleaching gigi. Secara kuantitas dan kualitas juga berbeda-beda pada masing-masing kasus. Apa saja risiko yang muncul setelah melakukan bleaching gigi?

Beberapa resiko serta efek samping yang muncul pada pasien yang melakukan bleaching gigi.

  1. Alergi
    Penggunaan bahan dan reaksi kimia yang terjadi pada proses bleaching gigi bisa menimbulkan alergi pada sejumlah orang. Bentuk alergi yang muncul biasanya berupa rasa gatal atau panas di mulut. Selain itu bisa juga hingga timbul bengkak dan kemerahan pada mulut.

  2. Muncul rasa nyeri
    Rasa nyeri muncul akibat bahan bleaching menyentuh bagian pulpa gigi yang penuh dengan saraf. Rasa nyeri ini muncul sekitar 24-48 jam setelah prosedur bleaching dilakukan. Biasanya terjadi pada metode in office bleaching. Lama waktu munculnya rasa nyeri biasanya variatif tergantung pada lama penyinaran atau pemanasan dengan laser yang dilakukan ketika perawatan.

  3. Sensitifitas gigi
    Pasca bleaching gigi tingkat sensitifitas gigi bisa naik. Khususnya ketika gigi menghadapi rasa dingin, akan bisa timbul rasa ngilu. Hal ini terjadi karena zat kimia peroksida yang digunakan pada proses bleaching gigi mengenai jaringan gigi yang lain. Bagi pasien yang memiliki riwayat gigi sensitif maka rasa ngilu akan bisa berlebih dan bisa jadi sangat mengganggu.

  4. Kerusakan struktur jaringan keras
    Zat kimia yang digunakan ketika proses bleaching bisa memiliki dampak pada kerusakan struktur email gigi. Hal ini disebabkan oleh proses oksidasi yang terjadi selama proses perawatan. Kerusakan struktur email ini bisa menyebabkan jaringan gigi menjadi lebih mudah rusak. Salah satu bentuk kerusakan adalah munculnya lubang gigi.

  5. Kerusakan saraf dan pembuluh darah pada gigi
    Prosedur perawatan bleaching gigi yang tidak hati-hati dapat menyebabkan bahan kimia mengenai pulpa gigi yang berisi penuh dengan saraf dan pembuluh darah yang menyuplai gigi. Selain itu, bila prosedur dilakukan pada gigi pasien yang berlubang kerusakan saraf ini sangat potensial untuk terjadi. Oleh sebab itu pasien dengan gigi berlubang selalu diawali dengan proses penambalan gigi terlebih dahulu. (baca juga : bahaya mematikan saraf gigi)

Sumber: https://halosehat.com/tips-kesehatan/gigi/bleaching-gigi

Pemutih gigi, apabila tidak dilakukan dengan bantuan profesional (dokter gigi) akan berdampak buruk terhadap kesehatan gigi anda. Beberapa bahaya melakukan bleaching gigi antara lain :

Hipersensitivitas Gigi

Sensitivitas gigi adalah efek samping yang sering terjadi pada bleaching gigi eksterna. Insidens sensitivitas gigi yang lebih tinggi (67-78%) terlihat setelah bleaching di klinik dengan hidrogen peroksida yang dikombinasikan dengan panas. Mekanisme yang mendukung untuk bleaching gigi eksterna walaupun belum sepenuhnya terbukti, menyebutkan bahwa peroksida berpenetrasi ke email, dentin, dan pulpa. Penetrasi ini lebih hebat pada gigi yang direstorasi dibanding gigi utuh.

Efek pada Email

Penelitian telah menunjukkan bahwa 10% karbamid peroxida secara signifikan menurunkan kekerasan email. Namun demikian aplikasi fluor terlihat meningkatkan remineralisasi setelah bleaching .

Efek pada Dentin

Bleaching memperlihatkan perubahan warna yang seragam pada dentin.

Efek pada Pulpa

Penetrasi bahan bleaching ke dalam pulpa melalui email dan dentin menyebabkan sensitivitas gigi. Penenlitian menunjukkan bahwa larutan H₂O₂ 3% dapat menyebabkan:

Efek pada Sementum

Penelitian terahir telah menunjukkan bahwa sementum tidak dipengaruhi oleh material yang digunakan untuk bleaching di rumah. Tetapi resorpsi servikal dan resorpsi akar eksterna terlihat pada gigi yang dilakukan bleaching intrakorona menggunakan H₂O₂ 30- 35%.

Resorpsi Servikal

Efek samping yang lebih serius seperti resorpsi akar eksterna dapat terjadi ketika menggunakan konsentrasi hidrogen peroksida lebih tinggi dari 30% dan dikombinasikan dengan panas. Selama proses bleaching termokatalitik, mungkin terbentuk gugus hidroksil terutama bila sebelumnya diginakan EDTA (asam etilenediaminetetraasetat) untuk membersihkan gigi. Ion hidroksil dapat menstimulasi sel di dalam ligamen periodontium servikal untuk berdiferensiasi ke dalam odontoklas, yang memulai resorpsi akar di area gigi di bawah perlekatan epitel. Resorpsi servikal biasanya tidak menimbulkan nyeri sampai saat resorpsi memajankan jaringan pulpa, sehingga memerlukan terapi endodonsia. Pemberian kalsium hidroksida intrakanal seringkali berhasil menghentikan resorpsi gigi lebih lanjut, tetetapi resorpsi akar eksterna yang berat menyebabkan gigi tersebut harus diekstraksi. Resorpsi akar moderat dapat diatasi dengan ekstrusi gigi secara orthodonsia kemudian direstorasi dengan dengan mahkota pasak, walaupun prognosisnya masih meragukan. Resorpsi servikal ringan dapat diatasi dengan akses pembedahan, kuretasi, dan penempatan restorasi.

Iritasi Mukosa

Hidrogen peroksida konsentrasi tinggi (30-35%) bersifat kaustik pada membran mukosa dan bisa menyebabkan terbakar dan bleaching pada gingiva. Dengan demikian, sendok bleaching harus didesain untuk mencegah terpajannya gingiva dengan menggunakan sendok yang hanya pas berkontak dengan gigi.

Genotoksisitas dan Karsinogenisitas

Hidrogen peroksida menunjukkan efek genotoksis karena radikal bebas yang dilepaskan dari hidrogen peroksida (radikal hidroksil, ion perhidroksil dan anion superoksida) mampu menyerang DNA.

Toksisitas

Efek akut hidrogen peroksida yang tertelan bergantung pada jumlah dan konsentrasi larutan yang masuk. Efeknya lebih parah, jika menggunakan konsentrasi yang lebih tinggi.

Tanda dan gejala biasanya terlihat sebagai ulserasi pada mukosa bukal, esofagus dan lambung, mual, muntah, perut kembung, dan sakit tenggorokan. Karena itu, penting untuk menjauhkan semprit berisikan bahan bleaching dari jangkauan anak-anak untuk menghindari kecelakaan yang mungkin bisa terjadi.

Bleaching adalah metode dekolorasi noda gigi yang aman, ekonomis, konservatif, dan efektif karena berbagai alasan. Bleaching hendaknya selalu dipertimbangkan dahulu sebelum melakukan prosedur yang lebih invasif seperti pembuatan vinir atau mahkota keramik penuh.

EFEK PADA MATERIAL RESTORASI

Aplikasi bleaching pada komposit menunjukkan perubahan ini:

  • Peningkatan kekerasan permukaan.
  • Permukaan yang kasar dan teretsa
  • Kekuatan tensil berkurang
  • Peningkatan kebocoran mikro.
  • Tidak terlihat perubahan warna yang signifikan pada material komposit selain penghilangan noda ekstrinsik di sekeliling restorasi.

Efek Bahan Bleaching pada Material Lain

  • Tidak ada efek pada restorasi emas.
  • Perubahan mikrostruktur pada amalgam
  • Perubahan pada matriks ionomer kaca
  • IRM pada saat terpajan pada H₂O₂ menjadi retak dan bengkak
  • Perubahan warna pada mahota sementara yang terbuat dari metil metakrilat dan berubah menjadi oranye.