© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa yang dimaksud dengan darah?

Darah

Darah adalah cairan yang terdapat pada semua makhluk hidup tingkat tinggi yang berfungsi mengirimkan zat-zat dan oksigen yang dibutuhkan oleh jaringan tubuh, mengangkut bahan-bahan kimia hasil metabolisme, dan juga sebagai pertahanan tubuh terhadap virus atau bakteri. Istilah medis yang berkaitan dengan darah diawali dengan kata hemo- atau hemato- yang berasal dari bahasa Yunani haima yang berarti darah.

Darah adalah kendaraan atau medium untuk transportasi massal jarak jauh berbagai bahan antara sel dan lingkungan eksternal atau antara sel-sel itu sendiri. Transportasi semacam itu penting untuk memelihara homeostatis. Darah berperan dalam homeostatis berfungsi sebagai medium untuk membawa berbagai bahan ke dan dari sel, menyangga perubahan pH, mengangkut kelebihan panas ke permukaan tubuh untuk di keluarkan, berperan penting dalam sistem perubahan tubuh, dan memperkecil kehilangan darah apabila terjadi kerusakan pada pembuluh darah.

Darah membentuk sekitar 8% berat tubuh total dan memiliki volume rata-rata 5 liter pada wanita dan 5,5 liter pada pria. Darah manusia berwarna merah, antara merah terang apabila mengandung banyak oksigen sampai merah tua, apabila kekurangan oksigen. Warna merah pada darah disebabkan oleh hemoglobin, protein pernapasan (respiratory protein) yang mengandung besi dalam bentuk heme, yang merupakan tempat terikatnya molekul-molekul oksigen. Karena darah sangat penting, harus terdapat mekanisme yang dapat memperkecil kehilangan darah apabila terjadi kerusakan pembuluh darah. Tanpa darah, manusia tidak dapat melawan infeksi atau kuman penyakit dan bahan-bahan sisa yang dihasilkan tubuh tidak dapat dibuang.

Komponen Penyusun Darah


Terdapat dua jenis pembuluh darah, yang mengalirkan darah ke seluruh tubuh, yaitu arteri dan vena. Arteri adalah pembuluh yang membawa darah, yang mengandung oksigen dari jantung dan paru-paru menuju ke seluruh tubuh. Sedangkan vena adalah pembuluh yang membawa darah mengalir kembali ke jantung dan paru-paru. Darah yang mengalir melalui kedua pembuluh tersebut terdiri atas tiga jenis sel darah, yaitu sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit), dan keping darah (trombosit) yang terendam dalam cairan kompleks.

Plasma sendiri berupa cairan, 90% terdiri dari air yang berfungsi sebagai medium untuk mengangkut berbagai bahan dalam darah. Jumlah sel darah manusia normal adalah sebagai berikut :

  • Sel darah merah total = 5.000.000.000 sel/mil darah

  • Hitung sel darah merah = 5.000.000/mm3

  • Sel darah putih total = 7.000.000 sel/mil darah

  • Hitung sel darah putih = 7.000/mm3

  • Keping darah total = 250.000.000/mil darah

  • Hitung keping darah = 250.000/mm3

  • Neutrofil 60-70%

  • Limfosit 25-33%

  • Eosinofil 1-4 %

  • Monosit 2-6 %

  • Basofil 0,25-0,5%

Sel darah merah (eritrosit)


Sel darah merah pada dasarnya adalah suatu kantung yang mengangkut O2 dan CO2 (dalam tingkat yang lebih rendah) di dalam darah. Sel darah merah tidak memiliki nukleus, organel, atau ribosom, tetapi dipenuhi oleh hemoglobin, yaitu molekul yang mengandung besi yang dapat berikatan dengan O2 secara longgar dan reversibel. Karena O2 sukar larut dalam darah, hemoglobin merupakan pengangkut satu-satunya O2 dalam darah. Hemoglobin juga berperan dalam transportasi CO2 dan sebagai penyangga darah dengan berikatan secara reversibel dengan CO2 dan H+.

Karena tidak mampu mengganti komponen-komponennya, sel darah merah memiliki usia yang terbatas, yaitu sekitar 120 hari. Sel-sel bakal yang belum berdifferensiasi di sumsum tulang membentuk semua unsur sel darah. Produksi sel darah merah (eritropoiesis) oleh sumsum tulang, dalam keadaan normal seimbang dengan kecepatan lenyapnya sel darah merah, sehingga hitung sel darah merah konstan. Eritropoiesis di rangsang oleh eritropoietin, hormon yang dikeluarkan ginjal sebagai respon terhadap penurunan penyaluran O2.

Sel darah merah dalam keadaan normal
Gambar Sel darah merah dalam keadaan normal hasil Scanning Electron Microscope (SEM)

Sel darah putih (leukosit)


Sel darah putih (leukosit) adalah unit-unit pertahanan tubuh. Sel ini menyerang benda asing yang masuk, menghancurkan sel abnormal yang muncul di tubuh, dan membersihkan debris sel. Terdapat lima jenis sel darah putih, yang masing- masing memiliki tugas berbeda, yaitu :

  1. Neutrofil, spesialis fagositik yang penting untuk memakan bakteri dan debris.

  2. Eosinofil, yang mengkhususkan diri menyerang cacing parasitik dan berperan penting dalam reaksi alergi.

  3. Basofil, yang mengeluarkan dua zat kimia : histamine, yang juga penting dalam respon alergi, dan heparin, yang membantu membersihkan partikel lemak dari darah.

  4. Monosit, yang setelah keluar dari pembuluh, kemudian berdiam di jaringan dan membesar untuk menjadi fagosit jarigan yang dikenal sebagai makrofag.

  5. Limfosit, yang membentuk pertahanan tubuh terhadap invasi bakteri, virus, dan sasaran lain yang telah diprogramkan untuknya. Perangkat pertahanan yang dimiliki limfosit, antara lain adalah antibodi dan renspon imun seluler.

Sel darah putih terdapat di dalam darah, hanya sewaktu transit dari tempat produksi dan penyimpanan di sumsum tulang (dan juga organ-organ limfoit untuk limfosit) dan tempat kerjanya di jaringan. Setiap saat, sebagaian besar sel darah putih berada di luar darah di jaringan untuk tugas patroli atau bertempur. Semua sel darah putih memiliki rentang usia, yang terbatas dan harus diganti melalui diferensiasi dan proliferasi sel-sel prekursor. Jumlah total dan persentase setiap jenis sel darah putih yang diproduksi, bergantung pada kebutuhan pertahanan sesaat tubuh.

Sel darah putih dalam keadaan normal
Gambar Sel darah putih dalam keadaan normal hasil Scanning Electron Microscope (SEM)

Keping darah (trombosit)


Keping darah adalah fragmen sel yang berasal dari megakariosit besar di sumsum tulang. Keping darah berperan penting dalam hemostatis, penghentian pendarahan dari pembuluh yang cidera. Tiga langkah utama dalam hemostatis adalah spasme vaskuler, pembentukan sumbat keping darah, dan pembentukan bekuan. Spasme vaskuler mengurangi aliran darah melalui pembuluh yang cidera, sementara agregasi keping darah di tempat cedera pembuluh dengan cepat menambal cacat yang terjadi. Keping darah mulai berkumpul apabila berkontak dengan kolagen di dinding pembuluh yang rusak.

Pembentukan bekuan (koagulasi darah) memperkuat sumbat keping darah dan mengubah darah di sekitar tempat cedera menjadi suatu gel yang tidak mengalir. Sebagain besar faktor yang diperlukan untuk pembekuan darah, selalu terdapat di dalam plasma dalam bentuk prekursor inaktif. Sewaktu pembuluh mengalami cedera, kolagen yang terpapar kemudian mengawali reaksi berjenjang yang melibatkan pengaktifan suksesif faktor-faktor pembekuan tersebut, yang akhirnya mengubah fibrinogen menjadi fibrin. Fibrin, suatu molekul berbentuk benang yang tidak larut, ditebarkan membentuk jaring bekuan; jaring ini kemudian menagkap sel-sel darah dan menyempurnakan pembentukan bekuan.

Darah yang telah keluar ke dalam jaringan juga mengalami koagulasi setelah bertemu dengan tromboplastin jaringan, yang juga memungkinkan terjadinya proses pembekuan. Jika tidak lagi diperlukan, bekuan darah dilarutkan oleh plasmin, suatu faktor fibrinolitik yang juga diaktifkan apabila berkontak dengan kolagen.

Keping Darah dalam keadaan normal
Gambar Keping Darah dalam keadaan normal hasil Scanning Electron Microscope (SEM)

Darah adalah cairan penting yang membawa oksigen dari paru-paru dan nutrisi-nutrisi dari organ-organ pencernaan ke sel-sel. Darah juga membawa CO2 ke paru-paru dan zat-zat yang tidak dibutuhkan ke ginjal. Fungsi lainya yaitu untuk melawan interaksi, mengatur suhu tubuh serta mengkoordinasikan aktifitas jaringan tubuh (Mader Sylvia S).

Bagian–bagian darah


Bagian utama dari darah adalah plasma, yang meliputi 55% dari darah dan sisanya adalah elemen–elemen gabungan yang terdiri dari sel darah merah, sel darah putih dan trombosit. Rata–rata jumlah darah pada orang dewasa adalah sekitar 5% - 7% dari berat badan (Bernard B. Babior).

  1. Plasma
    Plasma adalah bagian dari darah yang berbentuk cairan, berwarna agak kekuningan dan sekitar 92% persen adalah air, sisanya terdiri dari bermacam-macam garam dan molekul organis.

  2. Sel darah merah
    Pada stiap Imm darah terdapat sekitar 4-6 juta sel darah merah, sel darah merah mengirimkan oksigen karena sel darah merah mengandung hemoglobin (pigmen sistem pernafasan yang menyebabkan sel darah merah berwarna merah). Sel darah merah dibentuk disumsum tulang dan memiliki umur sekitar 120 hari, lalu dihancurkan di hati dan limpa. Diperkirakan sekitar 2 juta sel darah merah dihancurkan setiap detiknya, maka dari itu sejumlah sel darah merah harus diproduksi agar jumlah sel darah merah menjadi seimbang.

  3. Sel darah putih
    Sel darah putih memiliki ukuran yang lebih besar dari pada sel darah merah. Jumlah sel darah putih juga tidak sebanyak sel darah merah, yaitu sekitar 5000-11.000 pada setiap lmm darah. Sel darah putih berfungsi untuk melawan infeksi, sel darah putih merupakan pertahanan tubuh terhadap patogen-patogen yang menyernag tubuh.

  4. Trombosit
    Trombosit dihasilkan dari proses fragmentasi sel yang disebut megakarosit disumsum tulang. Pada setiap lmm darah terdapat sekitar 150.000-
    300.000 trombosit. Trombosit berguna untuk peroses pembekuan darah (Dawson L Helen).

Fungsi Darah


  1. Transportasi
    Darah bergerak dari jantung dan organ-organ lainnya. Darah mengikat oksigen dari paru–paru dan nutrisi dari saluran pencernaan ke jaring–jaring tubuh.

  2. Pertahanan
    Darah mempertahankan tubuh dari serangan berbagai macam pathogen (misal bakteri dan virus). Beberapa sel darah mampu menelan dan menghancurkan pathogen, dan sel lainya dapat memproduksi antibodi. Antibodi membuat phatogen menjadi tidak berbahaya sehingga mudah dihancurk Ketika kita terluka, darah membeku, hal ini mencegah kita kehilangan darah dalam jumlah banyak. Pembekuan darah melibatkan trombosit dan fibrinogen. Jika tidak terjadi pembekuan darah kita dapat mati bahkan dari luka kecil.

  3. Pengaturan
    Darah membantu pengaturan suhu tubuh dengan cara mengambil panas dari otot yang aktif dan menyebarkannya ke tubuh. Jika darah terlalu panas, panas dibuang cara melebarkan pembuluh darah di kulit (Mader Sylvia S).

Sejarah Golongan Darah


Seperti yang diketahui, golongan darah terbagi menjadi 4 yaitu A, B, AB dan O. Penggolongan ini sangat penting untuk kepentingan transfusi darah, dimana tidak semua golongan darah dapat saling menjadi donor ataupun resipien(penerima).

Pembagian golongan darah tidak lepas dari jasa besar seorang ilmuwan berkebangsaan Austria, bernama Karl Landsteiner . Ia lahir di Wina, Austria 14 Juni 1868, anak seorang doktor hukum dan jurnalis terkenal yang meninggal sejak Karl berusia 6 tahun. Landsteiner menikah dengan Helen Wlasto pada 1916. Penemuannya mengenai klasifikasi golongan darah A,B dan O menghantarkannya meraih nobel di bidang kedokteran tahun 1930. Kemudian, Alfred Von Decastello dan Adriano Sturli—kolega Landsteiner—menemukan golongan darah AB.

Tentang Golongan Darah


Penggolongan darah melibatkan dua tipe molekul yaitu antigen dan antibodi. Sistem penggolongan darah yang sering dipakai adalah sistem penggolongan darah ABO. Dalam sistem ABO ada atau tidak adanya antigen tipe A dan tipe B pada sel darah merah menetukan golongan darah orang tersebut. Misalnya jika seseorang memiliki golongan darah A maka pada sel darah merahnya terdapat antigen A.

Pada sistem ABO terdapat empat tipe golongan darah: A, B, AB dan O. Di dalam plasma terdapat antibodi terhadap antigen yang tidak terdapat pada sel darah merah orang tersebut. Antibodi ini disebut anti-A dan anti-B.

Golongan Antigen pada sel darah Antibodi pada
darah merah plasma
A A Anti-B
B B Anti-A
AB A, B -
O - Anti-A dan Anti-B

Pada golongan darah A harus mempunyai anti-B pada plasmanya dan bukan anti- A karena jika terdapat anti-A pada plasmanya maka akan terjadi penggumpalan sel darah merah. Jika terjadi penggumpalan maka sirkulasi darah pada pembuluh darah akan berhenti, ini akan mengakibatkan kerusakan organ. Dan hal tersebut akan diikuti oleh hemolisis (hancurnya sel darah merah) dimana jika dibiarkan akan menyebabkan kematian.

Maka ketika penerima donor menerima darah, plasma pada penerima donor tidak boleh memiliki antibodi yang menyebabkan penggumpalan darah. Oleh karena itu sangat penting untuk mengetahui golongan darah seseorang. Pada saat ini kegiatan donor darah merupakan hal yang harus diperhatikan, bukan hanya karena golongan darah harus cocok tetapi juga karena setiap orang ingin menerima darah yang berkualitas baik dan bebas penyakit.

Salah satu antigen yang penting dalam pencocokan golongan darah adalah Rh. Untuk meguji seseorang memiliki Rh– atau Rh+, darah dicampur dengan antibodi anti-Rh ketika darah Rh+ dicampur dengan antibody anti-Rh maka akan terjadi penggumpalan (Mader Sylvia S).

Jika seorang laki-laki dengan Rh+ menikahi seorang perempuan dengan Rh- maka anaknya kemungkinan akan meninggal pada saat lahir atau anemia serius atau penyakit kuning atau kejang-kejang karena pendarahan di otak. Hal ini bisa diatasi dengan cara mengganti darah secara keseluruhan dengan tipe darah yang aman segera setelah dilahirkan (Vay David Le).