© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa yang dimaksud dengan Pengetahuan?

Pengetahuan merupakan suatu kegiatan yang mempengaruhi subjek dalam dirinya sendiri; suatu ketentuan yang memperkaya eksistensi subjek, karena pengetahuan itu lebih merupakan kegiatan imanen, kegiatan otoperfektif yang menyempumakan subjeknya sendiri. Pengetahuan adalah suatu kegiatan dan nilai yang subjeknya adalah sekaligus prinsip dan, yang memberikan keuntungan bagi subjeknya karena subjek adalah sekaligus sebab dan yang mengambil keuntungan (beneficiary).

Pengetahuan merupakan suatu aktivitas intensional (bahasa Latin) yang mengandung pengertian bahwa suatu pengada bergerak ke arah suatu pengada yang lain, dalam arti pengetahuan mengeluarkan subjek dari dirinya dan sekaligus memperbolehkan dia mengalasi batas-batasnya. Di dalam pengetahuan juga terdapat aktivitas dari subjek maupun dari objek, dan sebaliknya ada pula pasivitassubjek maupun pasivitas objek. Pengetahuan dapat dipandang sebagai sesuatu yang terjadi di dalam diri subjek, dimana pangkalnya ada pada daya pengetahuan subjek (inteligensi) dan akhirnya juga terdapat di situ. Seseorang memandang pengetahuan sebagai suatu hal yang imanen semata-mata, dan kalaupun keluar (transcendent), maka itu merupakan peranan subjek yang satu-satunya menentukan.

Aliran Subjektivisme temyata mendapat angin kesuburan dari pandangan tersebut. Pengetahuan dilihat oleh aliran ini dengan mengabaikan kenyataan bahwa di dalam pengetahuan tersebut subjek aktif dan objek tetap berbeda, berlainan. Dan berada di luar subjek. Sementara objek tetap memiliki apa yang disebut sifat berubah atau sifat berganti-ganti (alteritas). Di lain pihak, aliran Idealisme cenderung mengabaikan adanya sifat objek selalu berganti-ganti tersebut, sehinggaada pendapat yang ingin mempertahankan objektivitas murni akhirnya terkait dengan aliran Empirisme dan Positivisme.

Pengetahuan bisa dikatakan pula sebagai transsubjektif, dalam arti bahwa pengetahuan merupakan kegiatan yang menjadikan orang keluar dari keterbatasannya dan melewati keakuan subjektivitasnya. Pengetahuan sekaligus bisa dikualifikasikan sebagai “yang mengobjektifkan”, karena lewat pengetahuanlah sesuatu menjadi objectum, atau dapat diartikan apa yang terdapat di hadapan saya yang menawarkan diri kepada saya.

KOMPLEKSITAS PENGETAHUAN MANUSIA

Pengetahuan adalah sesuatu yang berharga, karena pengetahuan adalah kekayaan dan kesempurnaan. Dengan pengetahuan, seseorang akan mendapatkan posisi yang lebih baik dengan kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak memilikinya. Namun, usaha mempelajari pengetahuan yang memiliki sifat dengan jangkauan yang terbuka dan kompleks bukanlah sesuatu yang mudah. Salah satu kesulitannya terkait dengan usaha mengobjektivasikan pengetahuan manusia untuk dapat meraih dan memahami kodratnya dengan teliti, serta mengungkapkannya secara tepat. Karena, untuk mengobjektivasikan suatu realitas apa pun seseorang harus mengambil jarak terhadapnya, menyebabkan hal tersebut sulit untuk dilakukan. Sikap pengambilan jarak terhadap perbuatan atau tindakan mengetahui merupakan hal yang sulit karena dengan itu sekaligus mengambil jarak terhadap realitas. Berkat pengetahuanlah. maka semua yang terdapat di luar dan di dalam suatu subjek dapat menjadi nyata. Namun, bagaimana pengetahuan sendiri dapat menjadi objek dari pengetahuan? Serta bagaimana pengetahuan bisa menjadi dua untuk menempatkan diri di hadapan dirinya sendiri?

Hardono Hadi (1996) maupun Louis Leahy (1993) mengakui bahwa kesulitan untuk dapat ,mendapatkan dan mememahami suatu pengetahuan memiliki alasan yang kuat. Manusia tidak dapat memandang suatu pengetahuan seperti memandang suatu objek yang terdapat di depan subjek, dan dapat dijangkau oleh pandangan dan tangan manusia.Manusia tidak bisa mempertimbangkan itu semudah mempertimbangkan kegiatan lain yang timbul darinya tetapi yang muncul di luar, seperti mmengisyaratkan sesuatu atau menginginkan sesuatu. Karena diandaikan oleh kegiatan-kegiatan tersebut, maka pengetahuan bukanlah sesuatu yang dapat dengan jelas ditampilkan untuk dapat diketahui.

Seperti yang digambarkan Kees Bartens, karena dianggap sebagai sesuatu yang mustahil dan tidak berguna, para filsuf cenderung meneliti suatu bentuk tertentu dari pengetahuan. Sebagai contoh, M. Merleau-Ponty yang membicarakan persepsi (sebagai dasar fenomenologi) yang mendahului adanya ilmu pengetahuan; atau Immanuel Kant di dalam Kritik der reinen Vernunft (kritik atas rasio murni), yang memperhatikan bagaimana bermacam-macam kegiatan dari pengetahuan tergantung dan saling berinteraksi satu sama lain (Bertens, 1987: 29-50)

Pengetahuan bukanlah sesuatu yang tidak bisa diketahui, meskipun usaha mempelajari pengetahuan manusia demikian kompleks dan sulit, namun. Seperti yang dijelaskan Louis Leahy, pengetahuan bisa mencapai dirinya sendiri karena pengetahuan itu adasampai batas tertentu, jernih bagi dirinya sendiri, karena pengetahuan dapat secara tak terbalas kembali ke dirinya sendiri. Pengetahuan juga dapat mengetahui juga apa yang terjadi dalam dirinya, bersamaan dengan bagaimana seseorang mengetahui suatu objek, yang kemudian dikembalikan untuk mengerti dan didefinisikannya secara memuaskan.

Masalahanya, secara kritis kompleksitas pengetahuan manusiasulit dijangkau secara lengkap, utuh, dan paripurna oleh budi manusia yang terbatas. Dapat digambarkan karena pengetahuan itu dilaksanakan oleh manusia yang sekaligus bersifat daging (badan) dan jiwa, maka pengetahuan itu sekaligus adalah subjek-objek serta objek-subjek, indrawi dan intelektif. Dikatakan indrawi lahir atauindrawi luar jika seseorang mendapatkan pengetahuan secara langsung, melalui penglihatan, pendengaran, pembau, perasaan, serta peraba setiap kenyataan yang mengelilinginya. Pengetahuan disebut sebagaiindrawi batin ketika seseorang mendapatkannya melalui ingatan dan khayalan, baik mengenai apa yang tidak ada lagi atau yang belum pernah ada maupun yang terdapat di luar jangkauannya.

Seperti yang dijelaskan dalam Dictionary of Philosophy:

Nominalism: In "Scholastic philosophy, theory that abstract or general term, or universals. Represent no objective real existents, but are mere words or names, mere vocal utterances “flatus vocis”. Reality is admitted only to actual physical particulars. Universals exist only post res

(Runes. 1975: 211).

Secara jelas dinyatakan universalitas bukanlah entitas-entitas riil, entah di dalam dunia maupun di dalam pikiran, tetapi hanya nama-nama yang menunjuk kelompok atau kelas hal-hal individual. Oleh karena itu, nominalisme merupakan teori yang menyatakan sesuatu tidak mempunyai esensi, dengan demikan manusia hanyalah berupa nama belaka. Tidak ada eksistensi baik di dalam pikiran maupun di dalam dunia benda-benda, yang ada hanya nama atau istilah yang umum dan abstrak.

Pandangan tersebut mendorong lahirnya aliran Konseptualisme sebagai ekstrem lain yang telah meredusir pluralitas dan kompleksitas realitas kemanusiaan di dalam konsep. Runes lebih lanjut menjelaskan:

Conceptualism: A solution of the problem of universal which seeks a compromise between extreme nominalism (generic concepts are signs which apply indifferently to a number of particulars) and extreme realism (generic concepts refer to subsystem universal). Conceptualism offers various interpretation of conceptual objectivity: (a) the generic concept refers to a class of resembling particulars, (b) the object of a concept is a universal essence pervading the particulars, but having no reality apart from them, © concepts refer to abstracts that is to say, to ideal objects envisaged by the mind but having no metaphysical status

(Runes, 1975: 61)

Menurut Rune, konseptualisme merupakan suatu pemecahan universal dengan cara mengkompromikan ekstrem nominalisme dan ekstrem realism, dimana konsep-konsep abstrak umum di dalam hal-hal particular dilihat sebagai esensi. Konseptualisme menganggap bahwa hal-hal universal ada hanya dalam konsep. universal hanya berada di dalam pikiran bukan di luar pikiran. Perkembangan di kemudian hari menunjukkan bahwa aliran realisme-kritis dan realisme-moderat-lah yang beranggapan bahwa pengetahuan adalah suatu bentuk persatuan antara subjek-objek, dan bukan hanya sekadar pertemuan.

Perkembangan sejarah epistemologi pada Zaman Abad Modem kemudian memperlihatkan bahwa kontroversi itu menggejala di dalam bentuk aliran Positivisme dan aliran Idealisme.Dalam konsep pengetahuan sebagai persatuan antara subjek-objek, dan objek-subjek, juga harus dijelaskan hubungan antara subjek dan objek. Hal tersebut terkait dengan permasalahan antara “Materialisme” dan “Immaterialisme”, yaitu: dimensi material dan dimensi spiritual, induksi dan deduksi, objektif atau subjektif. Pandangan tersebut menyangkut pula kriteria mengenai kebenaran dan masalah kebenaran itu sendiri, dimana pengetahuan bukanlah suatu kemanunggalan yang sempurna, mutlak, dan final, seperti yang diajarkan oleh aliran monisme, pantheisme, atau idea absolut yang diajarkan oleh Plato (F. Sontag. 1970). Pengetahuan dipandang sebagai proses yang terjadi karena subjek memiliki daya untuk mengetahui (daya indra maupun daya intelektual) sementara objek di dalam dirinya juga memiliki daya untuk dirasa dan dimengerti (sensibility and intelligibility).

APA YANG DIANDAIKAN PENGETAHUAN

Mendapatkan pengetahuan bukan hanya merupakan masalah yang bersifat dorongan akademis untuk mencapai suatu kebenaran formal, karena dorongan ini lebih merupakan suatu keprihatinan eksistensial. Manusia bertanya sejauh mana manusia dapat melekat kepada apa yang nyata, bagaimana manusia dapat meyakinkan diri mengenai hubungan aku dirinya dengan ada subjek lainnya?

Secara ontologis manusia berada dalam keraguan terhadap keterbatasan kodratinya. Keterbatasannya itulah yang mendorong, menggerogoti, membakar, serta memekarkan keraguannya sehingga memunculkan adanya pertanyaan-pertanyaan radikal dalam rangka menemukan kebenaran atau kepastian pengetahuan yang sifatnya dinamis dan tak teragukan. Pengetahuan manusia merupakan fungsi dari cara beradanya, dan cara berada manusia pada hakikatnya bersifat temporal. Sebagaimana eksistensi manusia selalu belum terpenuhi, demikian juga pengetahuannya. Pengetahuan merupakan sebuah kenyataan yang tidak selesai. Pengetahuan terus berada dalam proses pembentukan dan penyempurnaan diri secara terus-menerus.

Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indera manusia yakni indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2003).

Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting akan terbentuknya tindakan seseorang. Karena itu berdasarkan pengalaman dan penelitian ternyata perilaku yang didasari dengan pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan (Notoatmodjo,2003).

Menurut pendekatan kontruktivistis, pengetahuan bukanlah fakta dari suatu kenyataan yang sedang dipelajari, melainkan sebagai kontruksi kognitif seorang terhadap objek, pengalaman, maupun lingkungannya. Pengetahuan bukanlah sesuatu yang sudah ada dan tersedia dan sementara orang lain tinggal menerimanya. Pengetahuan adalah sebagai suatu pembentukan yang terus menerus oleh seseorang yang setiap saat mengalami reorganisasi karena adanya pemahaman-pemahaman baru (Pro Health, 2009).

Tingkatan Pengetahuan


Menurut Notoatmodjo (2003) Pengetahuan yang dicakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan yaitu :

1. Tahu

Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Yang termasuk dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima.

Oleh sebab itu tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan, menyatakan, dan sebagainya.

Contoh : dapat menyebutkan tanda-tanda kekurangan kalori dan protein pada anak balita.

2. Memahami (Comprehension)

Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui. Dan dapat menginterprestasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari.

Misalnya dapat menjelaskan mengapa harus makan makanan bergizi.

3. Aplikasi (Application)

Aplikasi diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau konisi real (sebenarnya). Aplikasi ini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip, dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain.

Misalnya dapat menggunakan rumus statistik dalam perhitungan-perhitungan hasil penelitian, dapat menggunakan prinsip- prinsip siklus pemecahan masalah (problem solving cycle) didalam pemecahan masalah kesehatan dari kasus yang diberikan.

4. Analisis (Analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih didalam suatu struktur organisasi tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan karta kerja, seperti dapat menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokan, dan sebagainya.

5. Sintesis (Synthesis)

Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menggabungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang sudah ada.

Misalnya dapat menyusun, dapat merencanakan, dapat meringkaskan, dapat menyesuaikan, dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan yang telah ada.

6. Evaluasi (Evaluation)

Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.

Misalnya dapat membandingkan antara anak yang cukup gizi dengan anak yang kekurangan gizi, dapat menanggapi terjadinya diare disuatu tempat, dapat menafsirkan sebab-sebab mengapa ibu-ibu tidak mau ikut KB.

Pengukuran-pengukuran dapat dilakukan dengan wawancara atau angket menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat kita sesuaikan dengan tingkat-tingkat tersebut diatas (Notoatmodjo, 2003) .

Cara Memperoleh Pengetahuan


Menurut Notoatmodjo (2007), cara memperoleh pengetahuan dikelompokkan menjadi dua yaitu cara tradisional dan cara modern/ilmiah.

Cara Tradisional Untuk Memperoleh Pengetahuan
Cara yang dipakai untuk memperoleh kebenaran pengetahuan,sebelum ditemukannya metode ilmiah atau metode penemuan secara sistematik dan logis. Cara penemuan pengetahuan ini antara lain :

  1. Cara coba salah (trial and error)
    Cara ini telah dipakai orang sebelum adanya kebudayaan, bahkan mungkin sebelum adanya peradaban. Pada saat itu seseorang dalam menghadapi persoalan atau masalah, upaya pemecahannya dilakukan dengan menggunakan kemungkinan dalam pemecahan masalah, dan apabila kemungkinan tersebut tidak berhasil, dicoba kemungkinan yang lain. Apabila kemungkinan kedua ini gagal pula, maka dicoba kembali dengan kemungkinan ketiga dan seterusnya, sampai masalah tersebut dapat terpecahkan. Itulah sebabnya maka cara ini disebut metode coba (Trial) and gagal atau salah (error).

  2. Cara kekuasaan dan otoritas
    Dalam kehidupan manusia sehari-hari, banyak sekali kebiasaan- kebiasaan dan tradisi yang dilakukan oleh orang, tanpa melalui penalaran apakah yang dilakukan tersebut baik atau tidak. Misalnya, mengapa ibu yang sedang menyusui harus minum jamu. Dari sejarah kita ketahui dan kita pelajari bahwa kekuasaan raja zaman dulu adalah mutlak, sehingga apapun yang keluar dari mulut raja adalah kebenaran yang mutlak dan harus diterima oleh masyarakat atau rakyatnya.

    Kebiasaan-kebiasaan ini seolah-olah diterima oleh sumbernya sebagai kebenaran yang mutlak, sumber pengetahuan tersebut dapat berupa pemimpin-pemimpin masyarakat baik formal maupun informal, ahli agama, pemegang pemerintahan dan sebagainya, dengan kata lain pengetahuan tersebut diperoleh berdasarkan pada otoritas atau kekuasaan, baik tradisi, otoritas pemerintah, otoritas atau kekuasaan ahli ilmu pengetahuan.

  3. Berdasarkan pengalaman pribadi
    Pengalaman adalah guru yang baik, demikian bunyi pepatah. Pepatah ini mengandung maksud bahwa pengalaman itu merupakan sumber pengetahuan, atau pengalaman itu merupakan suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan. Oleh sebab itu pengalaman pribadi pun digunakan sebagai upaya memperoleh pengetahuan. Hal ini dilakukan dengan cara mengulang kembali pengalaman yang diperoleh dalam memecahkan masalah yang dihadapi, maka untuk memecahkan masalah lain yang sama, orang dapat pula menggunakan cara tersebut.

  4. Melalui jalan pintas
    Sejalan dengan perkembangan kebudayaan umat manusia. Cara berfikir manusiapun ikut berkembang. dari sini manusia telah mampu menggunakan penalarannya dalam memperoleh pengetahuannya, baik melalui induksi maupun deduksi.

    Induksi dan deduksi pada dasarnya merupakan cara melahirkan pemikiran secara tidak langsung melalui pernyataan-pernyataan yang dikemukakan, kemudian dicari hubungannya sehingga dapat dibuat suatu kesimpulan itu melalui pernyataan-pernyataan khusus kepada yang umum dinamakan induksi. Sedangkan deduksi adalah pembuatan kesimpulan dari pernyataan- pernyataan umum kepada yang khusus. (Notoatmodjo, 2002).

Cara Modern Dalam Memperoleh Pengetahuan

Cara baru atau modern dalam memperoleh pengetahuan pada dewasa ini lebih sistematis, logis dan ilmiah. Cara ini disebut “metode penelitian ilmiah” atau lebih popular disebut metodologi penelitian.

Cara ini mula-mula dikembangkan oleh Francis Balon (1561-1526). Ia adalah seorang tokoh yang mengembangkan metode berfikir induktif. Mula-mula ia mengadakan pengamatan lansung terhadap gejala- gejala alam atau kemasyarakatan kemudian hasil pengamatannya tersebut dikumpulkan dan diklarifikasikan, dan akhirnya diambil kesimpulan umum.

Kemudian metode berfikir induktif yang dikembangkan oleh Francis Balon (1561- 1526) dilanjutkan oleh Deobold Van Dollen (1993) Ia mengatakan bahwa dalam memperoleh kesimpulan dilakukan dengan mengadakan observasi langsung. Dan membuat pencatatan-pencatatan terhadap semua fakta yang berhubungan dengan objek yang diamati.

Pencatatan ini mencakup tiga hal pokok, yaitu:

  1. Segala sesuatu yang positif, yaitu gejala yang muncul pada saat dilakukan pengamatan

  2. Segala sesuatu yang negatif, yakni gejala tertentu yang tidak muncul saat dilakukan pengamatan.

  3. Gejala yang muncul secara graviditasi, yaitu gejala-gejala yang berubah- ubah pada kondisi-kondisi tertentu (Notoatmodjo,2002).

Pengetahuan adalah sebuah hasil yang diperoleh oleh manusia tentang kebenarannya setelah seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek melalui panca indra manusia yang dalam proses penginderaan hasil dari pengetahuan dipengarui oleh faktor persepsi terhadap obyek tersebut.

Pengetahuan atau kognitif merupakan dominan yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (ovent behavior)

Dimensi pengetahuan menurut Anderson dan Krathwohl (2010) ada empat kategori yaitu :

  • Faktual berisi unsur-unsur dasar yang harus diketahui siswa jika mereka akan diperkenalkan dengan satu mata pelajaran tertentu atau untuk memecahkan suatu masalah tertentu.

  • Konsep meliputi skema, model mental atau teori dalam berbagai model psikologi kognitif.

  • Prosedur merupakan pengetahuan tentang bagaimana melakukan sesuatu, biasanya berupa seperangkat urutan atau langkah-langkah yang harus diikuti.

  • Metakognitif merupakan pengetahuan tentang pemahaman umum, seperti kesadaran tentang sesuatu dan pengetahuan tentang pemahaman pribadi seseorang.

Tingkatan Pengetahuan


Menurut Bloom, tingkatan pengetahuan di bagi menjadi enam tahap yaitu :

  1. Pengetahuan (knowledge) ialah kemampuan untuk menghafal, mengingat, atau menggulangi informasi yang pernah diberikan.

  2. Pemahaman (comprehension) ialah kemampuan untuk menginterprestasi atau mengulang informasi dengan menggunakan bahasa sendiri.

  3. Aplikasi (application) ialah kemampuan menggunakan informasi, teori dan aturan pada situasi baru.

  4. Analisis (analysis) ialah kemampuan mengurai pemikiran yang kompleks dan mengenau bagian-bagian serta hubungannya.

  5. Sintesis (synthesis) ialah kemampuan mengumpulkan komponen yang sama guna membentuk satu pola pemikiran yang baru.

  6. Evaluasi (evaluation) ialah kemampuan membuat pemikiran berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan.

Menurut Soekidjo Notoatmodjo (1993) pengetahuan yang dicakup di dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan, yakni :

  • Tahu (Know)
    Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Contoh: Dapat menyebutkan tanda-tanda kekurangan kalori dan protein pada anak balita.

  • Memahami (Comprehension)
    Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Misalnya dapat menjelaskan mengapa harus makan makanan yang bergizi.

  • Aplikasi (Application)
    Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenar-benarnya). Aplikasi di sini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip, dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain. Misalnya dapat menggunakan rumus statistik dalam perhitungan-perhitungan hasil penelitian.

  • Analisis (Analysis)
    Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu obyek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam struktur organisasi tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja, seperti dapat menggambarkan (membuat bagan) membedakan, memisahkan, mengelompokkan, dan sebagainya.

  • Sintesis (Synthesis)
    Sintesis adalah kemampuan untuk menyususn formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada. Misalnya, dapat menyusun, dapat
    merencanakan, dapat meringkaskan, dapat menyesuaikan, dan sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah ada.

  • Evaluasi (Evaluation)
    Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau obyek. Misalnya, dapat membandingkan antara anak yang cukup gizi dengan anak yang kekurangan gizi, dapat menafsirkan sebab-sebab mengapa ibu-ibu tidak mau ikut KB, dan sebagainya.

Menurut Anderson dan Krathwohl, dimensi proses kognitif terdiri atas beberapa tingkat yaitu :

  • Remember (mengingat) adalah kemampuan memperoleh kembali pengetahuan yang relevan dari memori jangka panjang.

  • Understand (memahami) adalah kemampuan merumuskan makna dari pesan pembelajaran dan mampu mengkomunikasikannya dalam bentuk lisan, tulisan maupun grafik. Siswa mengerti ketika mereka mampu menentukan hubungan antara pengetahuan yang baru diperoleh dengan pengetahuan mereka yang lalu.

  • Apply (menerapkan) adalah kemampuan menggunakan prosedur untuk menyelesaikan masalah. Siswa memerlukan latihan soal sehingga siswa terlatih untuk mengetahui prosedur apa yang akan digunakan untuk menyelesaikan soal.

  • Analyze (menganalisis) meliputi kemampuan untuk memecah suatu kesatuan menjadi bagian-bagian dan menentukan bagaimana bagian- bagian tersebut dihubungkan satu dengan yang lain atau bagian tersebut dengan keseluruhannya. Analisis menekankan pada kemampuan merinci sesuatu unsur pokok menjadi bagian-bagian dan melihat hubungan antar bagian tersebut.

  • Evaluate (menilai) mencakup kemampuan untuk membentuk suatu pendapat mengenai sesuatu atau beberapa hal, bersama dengan pertanggungjawaban pendapat itu yang berdasar kriteria tertentu. Adanya kemampuan ini dinyatakan dengan memberikan penilaian terhadap sesuatu.

  • Create (berkreasi) didefinisikan sebagai menggeneralisasi ide baru, produk atau cara pandang yang baru dari sesuatu kejadian.