Apa yang dimaksud dengan model pembelajaran demonstrasi?

Belajar

Belajar suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan dari seseorang, perubahan sebagai hasil dari proses belajar dapat ditunjukan dalam berbagai bentuk seperti perubahan pengetahuan, pemahaman, sikap dan tingkah laku, keterampilan, percakapan, kebiasaan, serta perubahan aspek-aspek yang ada pada individu yang belajar.

2 Likes

Metode demonstrasi merupakan metode yang memperlihatkan kepada anak didik tentang suatu proses atau keadaan tertentu. Menurut Sanjaya (2006) Demonstrasi adalah metode penyajian pelajaran dengan memperagakan dan mempertunjukkan kepada seseorang tentang suatu proses, situasi atau benda tertentu, baik sebenarnya atau hanya sekadar tiruan.

Metode demonstrasi akan membuat perhatian seseorang lebih terpusat pada apa yang disampaikan oleh guru, sehingga proses pembelajaran menjadi lebih menarik.

Siswa akan mengamati secara langsung sehingga memiliki kesempatan untuk membandingkan teori dengan kenyataan.

Sedangkan menurut Djamarah dan Zain (1996), demonstrasi adalah cara penyajian bahan pelajaran dengan memperagakan atau mempertunjukkan kepada seseorang suatu proses, situasi, atau benda tertentu yang sedang dipelajari, baik sebenarnya ataupun tiruan, yang sering disertai penjelasan lisan.

Sebagai metode penyajian, demonstrasi tidak terlepas dari penjelasan secara lisan oleh guru. Walaupun dalam proses demonstrasi peran seseorang hanya sekedar memperhatikan, akan tetapi demonstrasi dapat menyajikan bahan pelajaran lebih konkret. Melalui metode ini seseorang berkesempatan mengembangkan kemampuan mengamati segala benda yang sedang terlibat dalam proses serta dapat mengambil kesimpulan-kesimpulan yang diharapkan.

Proses belajar mengajar dengan menggunakan metode demonstrasi mempunyai kelebihan dan kelemahan

Kelebihannya:

  • Melalui metode demonstrasi terjadinya verbalisme akan dapat dikurangi,

  • Proses pembelajaran akan lebih menarik, dan

  • Siswa akan memiliki kesempatan untuk membandingkan teori dengan kenyataan.

Kelemahannya:

  • Memerlukan persiapan yang lebih matang,

  • Memerlukan peralatan, bahan-bahan dan tempat yang memadai, dan

  • Memerlukan kemampuan dan keterampilan guru yang khusus.

Penerapan metode demonstrasi dalam pembelajaran menjadikan seseorang untuk memperhatikan langsung bahan pelajaran yang dijelaskan guru. Siswa tak hanya mendengar, tetapi juga melihat peristiwa yang terjadi. Siswa juga dapat mencocokkan teori dengan kenyataan sehingga seseorang lebih meyakini kebenaran materi pembelajaran. Namun demonstrasi bisa gagal tanpa adanya persiapan yang memadai sehingga dapat menyebabkan metode ini tidak efektif. Bahkan untuk menghasilkan pertunjukan suatu proses tertentu, guru harus beberapa kali mencobanya terlebih dahulu, sehingga dapat memakan waktu yang banyak. Selain itu penggunaan metode ini memerlukan pembiayaan yang lebih mahal dibandingkan dengan ceramah dan memerlukan kemampuan dan keterampilan guru sehingga guru dituntut untuk bekerja lebih profesional.

Menurut Sanjaya (2006) ada beberapa langkah yang dapat digunakan dalam melakukan metode demonstrasi tersebut, antara lain:

  1. Tahap persiapan
    Hal-hal yang harus dilakukan adalah:

    • Rumuskan tujuan yang hendak dicapai setelah proses demonstrasi berakhir

    • Persiapkan garis besar langkah-langkah demonstrasi yang akan dilakukan, dan

    • Lakukan uji coba demonstrasi.

  2. Tahap pelaksanaan
    Langkah pembukaan:

    • Aturlah tempat duduk yang memungkinkan semua seseorang dapat memperhatikan dengan jelas apa yang didemonstrasikan.

    • Kemukakan tujuan apa yang harus dicapai oleh seseorang

    • Kemukakan tugas-tugas apa yang harus dilakukan oleh seseorang.

    Langkah pelaksanaan demonstrasi

    • Memulai demonstrasi dengan kegiatan-kegiatan yang merangsang seseorang untuk berpikir,

    • Yakinkan bahwa semua seseorang mengikuti jalannya demonstrasi dengan memperhatikan reaksi seluruh seseorang.

    • Berikan kesempatan kepada seseorang untuk secara aktif memikirkan lebih lanjut sesuai dengan apa yang dilihat dari proses demonstrasi itu.

    Langkah mengakhiri demonstrasi

    • Memberikan tugas-tugas tertentu yang ada kaitannya dengan pelaksanaan demonstrasi dan proses pencapaian tujuan pembelajaran.

Metode demonstrasi memerlukan persiapan sebelum dilakukan di depan kelas dengan melakukan uji coba terlebih dahulu. Ketika pelaksanaannya, guru memberitahu seseorang tentang apa yang harus mereka lakukan misalnya seseorang ditugaskan untuk mencatat hal-hal yang dianggap penting dari pelaksanaan demonstrasi. Kemudian guru memancing pengetahuan seseorang misalnya melalui pertanyaan-pertanyaan yang mengandung teka-teki sehingga mendorong seseorang tertarik untuk memperhatikan demonstrasi. Terakhir guru memberikan tugas yang relevan dalam upaya pencapaian tujuan pembelajaran.

Hal ini diperlukan untuk meyakinkan apakah seseorang memahami proses demonstrasi itu atau tidak. Selain memberikan tugas yang relevan, ada baiknya guru dan seseorang melakukan evaluasi bersama tentang jalannya proses demonstrasi itu untuk perbaikan selanjutnya.

Teori ini diperkenalkan oleh Albert Bandura (1986), seorang pakar social learning, atau observational learning. Metode demonstratif efektif adalah pemanfaatan observasi dan imitasi (peniruan) dalam proses transfer pengetahuan serta informasi yang berlangsung di kelas. Meski sangat tradisional, namun metode ini relatif efektif dalam mencapai tujuan pendidikan yang efisien serta optimal.

Tujuan Utama dari Metode Demonstratif Efektif


Secara singkat, tujuan utama yang diharapkan dari pengaplikasian metode ini adalah mengenalkan pengetahuan dan atau skill (ketrampilan) baru terhadap siswa melalui observasi dan imitasi (peniruan). Metode ini dapat diaplikasikan hampir di setiap mata pelajaran baik mata pelajaran sosial, science maupun bahasa. Untuk aspek-aspek bahasa Inggris seperti writing, spelling, reading comprehension dan lain-lain, materi ini sangat umum dan hampir selalu digunakan karena terlebih untuk materi bahasa asing semacam bahasa Inggris, hampir dapat dipastikan kalau siswa akan kurang mampu memahami dengan baik jika yang digunakan hanya metode pendidikan biasa.

Prosedur Pengaplikasian dari Metode Demonstratif Efektif


Ada tiga prosedur pengaplikasian dari metode demonstratif efektif yakni :

1. Scene Setting

Tahap pertama dari pelaksanaan sebuah strategi mengajar demonstrative. Kelas, situasi maupun kondisinya, harus dibuat sedemikian rupa sehingga memungkinkan strategi ini dilakukan. Atau dengan kata lain, pengaturan suasana dan kondisi kelas harus memungkinkan semua siswa dapat melihat serta mendengarkan dengan baik saat proses demonstratif berlangsung. Tahap ini juga mungkin berhubungan dengan apa yang sudah diajarkan pada anak sebelumnya, serta mungkin dijadikan alat untuk menarik minat dan rasa tertarik mereka.

2. Explaining dan demonstrating materi

Suatu tahapan dimana guru harus terlihat segar dan antusias, menjelaskan serta mendemonstrasikan tiap step atau benda-benda yang diajarkan dengan jelas, guru sesering mungkin memeriksa sejauh mana tingkat pemahaman, serta keseragaman pemahaman siswa atas apa yang telah dijelaskannya, melalui metode feed- back dan key teaching point, dan guru memastikan bahwa semua siswa dapat melihat dengan jelas dan mendengarkan serta jika memungkinkan melibatkan mereka dalam proses belajar mengajar yang sedang berlangsung.

3. Practicing under teacher feed-back

Tahapan dimana siswa di bawah pengawasan guru, diajak mempraktikkan sendiri kemampuan atau pengetahuan baru itu. Guru harus memeriksa, membimbing, dan menemani serta membantu para siswa selama proses ini berlangsung. Sedapat mungkin kesalahan-kesalahan yang terjadi dalam kelas selama proses ini berlangsung harus dikoreksi guru, jika perlu dengan pengulangan proses explaining dan demonstrating seperti sebelumnya. Reviewing adalah me-review apa yang telah diajarkan kepada siswa setelah semua prosedur di atas terlaksana. Jika memungkinkan guru harus menyentuhkan apa yang telah mereka pelajari dengan hal-hal dalam situasi real life.

Prinsip Dasar dalam Pengaplikasian Metode Demonstratif Efektif

Beberapa prinsip dasar yang harus dijadikan pedoman oleh guru dalam pengaplikasian stratgei demonstrative di kelas adalah:

  • Aktifitas belajar harus sedapat mungkin mengakomodir ragam usia, kapabilitas, ketertarikan, dan kebutuhan siswa

  • Materi yang dijelaskan harus benar-benar terjelaskan secara jelas, tahap- tahap yang mudah dimengerti, beserta istilah-istilah yang tidak rumit

  • Demostrasi dalam beragam cara sebaiknya dilakukan

  • Pastikan semua siswa dapat memperhatikan subjek demonstrasi (guru) dengan jelas, serta dapat mendengarkan penjelasan dengan baik

  • Sedapat mungkin libatkan siswa selama proses berlangsung, jangan jadikan siswa sebagai ‘penonton’. Penerlibatan (involment) sangat mempercepat pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan serta menghafal kata-kata benda yang dimaksud oleh guru.

Keunggulan dan Kekurangan Metode Demonstratif Efektif


Metode demonstratif efektif sangat unggul karena sifatnya yang fleksibel, dapat digunakan di hampir setiap mata pelajaran seperti musik, olah raga, ilmu sosial, science dan bahasa. Telebih untuk aspek-aspek bahasa Inggris seperti writing, spelling, reading comprehension dan lain-lain, materi ini sangat umum dan hampir selalu digunakan, karena metode demonstratif adalah metode umum dan umumnya digunakan dalam mengajar.

Melalui metode demonstratif efektif terjadinya verbalisme dapat dihindari, sebab siswa disuruh langsung memperhatikan bahan pelajaran yang dijelaskan. Selain itu proses-proses pembelajaran akan lebih menarik sebab siswa tidak hanya mendengar, tetapi juga melihat pada benda yang dimaksud. Dengan melihat secara langsung siswa akan memiliki kesempatan untuk membandingkan teori dengan kenyataan sehingga kosa kata siswa akan bertambah.

Strategi demonstratif efektif amat terencana dan monoton sehingga strategi ini cenderung menutup mata terhadap potensi belajar yang dimiliki siswa. Jika pengaplikasiannya berlangsung di tangan guru yang kurang kreatif dalam membawakan suatu materi, maka pelajaran akan berlangsung mebosankan dan monoton.

Untuk meng-cover ini guru harus mampu kreatif dalam membawakan materi-materi seperti ini, agar siswa tak merasa bosan di kelas, serta mengikuti materi yang sedang berlangsung dengan antusias. Selain itu, pelaksanaan metode demonstratif efektif memerlukan persiapan yang matang sebab tanpa persiapan yang memadai demonstratif bisa gagal sehingga dapat menyebabkan metode ini tidak efektif lagi.

Kelemahan yang lainnya adalah pada saat demonstratif membutuhkan peralatan, bahan-bahan dan tempat yang memadai, berarti penggunaan metode ini memerlukan pembiayaan yang lebih mahal dibandingkan dengan metode ceramah.

Menurut Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain (2006), metode demonstrasi adalah cara penyajian pelajaran dengan meragakan atau mempertunjukan kepada siswa suatu proses, situasi, atau benda tertentu yang sedang dipelajari, baik sebenarnya atau tiruan yang disertai penjelasan lisan.

Menurut Saiful Sagala dalam buku Abdul Majid (2013) metode demonstrasi adalah petunjuk tentang proses terjadinya suatu peristiwa atau benda sampai pada penampilan tingkah laku yang dicontohkan agar dapat diketahui dan dipahami oleh peserta didik secara nyata.

Menurut Sugihartono dkk., (2007) metode demonstrasi merupakan metode pembelajaran dengan cara memperlihatkan suatu proses atau cara kerja suatu benda yang berkaitan dengan bahan pelajaran.

Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa metode demonstrasi adalah metode pembelajaran dengan cara guru memperagakan, mempertunjukkan dan memperlihatkan suatu proses, situasi, cara kerja suatu benda yang berkaitan dengan bahan pelajaran secara lisan dengan benda asli atau tiruan agar dapat diketahui dan dipahami oleh siswa.

Menurut J.J. Hasibuan dan Moedjiono (2002), metode demonstrasi merupakan metode mengajar yang efektif untuk mengetahui jawaban dari apa dan bagaimana suatu proses dikerjakan. Elin Rosalin (2008) menyatakan demonstrasi merupakan pembelajaran yang dikhususkan untuk materi yang memerlukan peragaan media atau eksperimen.

Dedi Rohendi, Heri Sutarno, dan Mugi Akbar Ginanjar (2010) dalam jurnalnya “Efektifitas Metode Pembelajaran Demonstrasi Terhadap Peningkatan Hasil Belajar Siswa Kelas X Pada Mata Pelajaran Keterampilan Komputer dan Pengolahan Informasi di Sekolah Menengah Kejuruan” menyatakan bahwa demonstrasi merupakan metode mengajar dengan cara memperagakan barang, kejadian, aturan, dan urutan dalam melakukan suatu kegiatan baik langsung ataupun tidak langsung dengan memanfaatkan media pengajaran yang relevan dengan materi yang disampaikan.

Prem Lata Sharma (2006) menyebutkan bahwa demonstrasi merupakan metode yang dapat memenuhi konten materi dan dapat menerjemahkan sebuah materi melalui tindakan langsung. Menurut Manuel Buenconsejo Garcia (2006) demonstrasi merupakan metode yang memberikan kesempatan kepada siswa belajar dari apa yang dicontohkan.

Menurut K. Jaya Sree (2004) demonstrasi berarti menampilkan, demonstrasi menampilkan dan mengilustrasikan fenomena dan aplikasi yang abstrak. Demonstrasi memberikan pengalaman yang nyata kepada siswa, dengan bantuan beberapa perantara atau alat peraga berupa film, slides, OHP atau micro-projector.

Metode demonstrasi juga memberikan keterangan apa saja yang dibutuhkan siswa untuk menciptakan sesuatu, misalnya apa yang dibutuhkan untuk membuat sebuah program atau merakit komputer, menjalankan aplikasi, serta melakukan kegiatan sehari-hari lainnya. Demonstrasi dapat dilakukan oleh guru atau seorang demonstrator (bukan guru) bahkan seorang siswa yang memperagakan atau memperlihatkan suatu proses kepada seluruh kelas.

Tipe Dasar Metode Demonstrasi

Ada lima tipe dasar dasar demonstrasi, dimulai dari yang sederhana hingga yang kompleks menurut Sredl dan Rothwell, 1998 yang dikutip oleh Prem Lata Sharma (2006: 228-229) dalam bukunya Adult Learning Methods:

  1. Instructor . Memiliki tugas untuk mempertunjukkan dan menjelaskan.

  2. Participant Volunteer . Siswa yang secara sukarela mendemonstrasikan tugas, proses, atau kebiasaan dan kemudian didiskusikan.

  3. Full participation . Seluruh siswa yang ada diminta untuk mendemonstrasikan dan selanjutnya satu atau seluruh siswa diminta untuk mendiskusikan pengalaman mereka selama praktik.

  4. Job Instruction Training (JIT). Tipe ini digunakan untuk menjelaskan langkahlangkah demonstrasi seperti dibawah ini:

  • Instructor memperkenalkan atau memberikan tugas dan mendemonstrasikannya.

  • Siswa memberikan penjelasan tentang tugas yang diberikan dan mendemonstrasikannya.

  • Instructor memberikan feedback terhadap kinerja siswa dalam menjelaskan dan mendemonstrasikan tugas yang diberikan, dan selanjutnya instructor akan memberikan tugas yang lain lagi.

  • Ketiga langkah di atas akan diulang kembali pada pemberian tugas selanjutnya.

  1. Behavior Modeling . Tipe ini membutuhkan langkah-langkah dari demonstrasi:
  • Pendidik/ guru memperkenalkan topik dan “model” yang efektif dan tidak efektif dalam bertingkah laku.

  • Pendidik/ guru mempertunjukkan video atau film yang mensimulasikan kondisi lingkungan kerja dan “model” yang efektif dan tidak efektif dalam bertingkah laku.

  • Siswa mendiskusikan tindakan dan kemudian menperagakannya pada diri mereka sendiri.

  • Pendidik/ guru dan siswa memberikan evaluasi pada demonstrasi yang dilakukan.

Hal yang harus diperhatikan Metode Demonstrasi

Menururt J.J. Hasibuan dan Moedjiono (2006) dalam bukunya Proses Belajar Mengajar, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan dalam merencakan demonstrasi yang efektif:

  1. Merumuskan dengan jelas keterampilan apa yang diharapkan dicapai oleh siswa setelah dilakukan demonstrasi.

  2. Mempertimbangkan kefektifan dan kewajaran dari metode yang digunakan untuk mencapai tujuanyang telah dirumuskan.

  3. Kemudahan untuk mendapatkan sarana dan prasarana yang diperlukan untuk demonstrasi serta sarana dan prasarana tersebut telah dicoba terlebih dahulu agar tidak mengalami kegagalan selama proses demonstrasi berlangsung.

  4. Jumlah siswa yang mengikuti kegiatan belajar mengajar.

  5. Menetapkan langkah-langkah yang akan dilaksanakan.

  6. Memperhitungkan waktu yang dibutuhkan disertai dengan waktu bagi siswa untuk mengajukan pertanyaan dan komentar selama dan sesudah demonstrasi.

  7. Memastikan bahwa:

  • Keterangan yang disampaikan dapat didengar dengan baik oleh siswa

  • Siswa dapat melihat dan mengamati alat yang digunakan untuk demonstrasi dengan jelas

  • Siswa diminta membuat catatan selama kegiatan demonstrasi berlangsung.

  1. Adanya penilaian kemajuan siswa, dapat berupa diskusi setelah dilakukan demonstrasi atau siswa melakukan apa yang telah didemonstrasikan.

Langkah-langkah melakukan Metode Demonstrasi

Langkah-langkah dalam melakukan demonstrasi adalah sebagai berikut:

  1. Merumuskan tujuan tentang kemampuan yang akan dicapai siswa dengan jelas.

  2. Mempersiapkan peralatan yang dibutuhkan.

  3. Memastikan peralatan dalam kondisi baik dan dapat berfungsi.

  4. Menyusun langkah-langkah yang akan dikerjakan.

  5. Memperhitungkan alokasi waktu yang dibutuhkan.

  6. Mengatur tata ruang kelas yang memungkinkan siswa dapat melihat apa yang diperagakan dengan jelas.

  7. Menetapkan apakah perlu diadakannya waktu untuk siswa bertanya, memberikan penjelasan panjang lebar kepada siswa, serta seberapa penting siswa mencatat selama dilakukannya demonstrasi.