Mengapa ada banyak orang yang sulit berempati pada korban pelecehan seksual?

image

Kejadian dimana korban pelecehan akhirnya berani mengungkapkan apa yang terjadi pada dirinya dan kemudian banyak orang yang malah menyalahkan korban sudah sangat sering terjadi.

Ada orang, yang sebenarnya tidak mendukung pelaku, tapi tidak juga mendukung korban dengan mengatakan kalimat-kalimat seperti:

“Kok pakai bajunya seperti itu?”
“Kok keluar jam segitu, engga ditemani siapapun lagi?”
“Kok baru dilaporin sekarang?”
“Bukannya wajar, kalau suami ke istri seperti itu?”

Atau ada juga yang malah terang-terangan menyalahkan korban, seperti:

“Salah sendiri pakai baju yang ‘mengundang’!”
“Alaah, cari sensasi aja, padahal kejadiannya udah lama!”
“Diri sendiri juga suka aja, pake lapor segala!”
“Istri durhaka, suaminya sendiri dibilang memperkosa.”

Menurutmu, mengapa orang-orang seperti itu sangat susah untuk berempati dan mendukung korban pelecehan seksual?

5 Likes

Kalau dari kacamata sosiologi, hal ini terjadi karena masih langgengnya budaya rape culture di Indonesia.

Rape culture sendiri adalah sebuah kondisi di mana sebuah lingkungan menganggap sebuah pelecehan atau pemerkosaan adalah lazim dan normal oleh media dan budaya populer. Budaya ini didukung dengan penggunaan bahasa yang misoginis, objektifikasi tubuh perempuan, dan glamorisasi kekerasan seksual.

Beberapa contoh di atas juga contoh dari objektifikasi tubuh perempuan.

Rape culture nggak sebatas fenomena kekerasan seksual, tapi juga budaya melindungi pelaku, menyalahkan korban, dan menuntut korban untuk melindungi diri agar tidak terjadi kekerasan seksual (daripada memfokuskan untuk membenahi perilaku pelaku).

Hal ini menyebabkan munculnya semacam personal responsibility untuk perempuan. Contohnya seperti menjaga pakaian dan menghindari tempat-tempat di mana cenderung terjadi kekerasan seksual.

Rape culture juga mempersulit pelaku untuk diadili, karena masyarakat masih beranggapan bahwa sesuatu bisa dianggap sebagai kekerasan seksual hanya apabila terjadi penetrasi alat kelamin.

Padahal, definisi kekerasan seksual sudah dijelaskan dengan gamblang dalam pasal 1 RUU-PKS (yang entah kapan disahkan juga) sebagai berikut:

Kekerasan Seksual adalah setiap perbuatan merendahkan, menghina, menyerang, dan/atau perbuatan lainnya terhadap tubuh, hasrat seksual seseorang, dan/atau fungsi reproduksi, secara paksa, bertentangan dengan kehendak seseorang, yang menyebabkan seseorang itu tidak mampu memberikan persetujuan dalam keadaan bebas, karena ketimpangan relasi kuasa dan/atau relasi gender, yang berakibat atau dapat berakibat penderitaan atau kesengsaraan secara fisik, psikis, seksual, kerugian secara ekonomi, sosial, budaya, dan/atau politik.

Kesimpulannya: dengan adanya rape culture akan sangat memojokkan korban, menganggap bahwa kekerasan seksual akan selalu ada dan tidak bisa diganggu gugat.

Ada salah satu anekdot yang sangat saya sukai:
image

2 Likes

Ini menarik sekali, tentang rape culture. Aku jadi penasaran, sebenarnya kenapa budaya ini bisa ada dan menyebar di mana-mana :thinking:

Kutipan dari anekdot itu sangat perlu disebarluaskan hahaha…

“Kalau di planet kami ada binatang yang buas dan berbahaya bagi umum, maka yang dikurung adalah binatang itu. Bukannya korbannya.”

Dari artikel yang aku baca, disebutkan kalau empati pada seseorang itu komponennya ada dua.

Pertama, komponen kognitif. Komponen ini adalah perwujudan dari multiple dimensions, seperti kemampuan seseorang dalam menjelaskan suatu perilaku, kemampuan untuk mengingat jejak-jejak intelektual dan verbal tentang orang lain, dan kemampuan untuk membedakan kondisi emosioal dirinya dengan orang lain.

Tingkat kemampuan kognitif ini ada beberapa macam, dan yang cocok untuk topik ini adalah role taking ability, yaitu kemampuan menempatkan diri sendiri kedalam situasi orang lain untuk mengetahui secara pasti pikiran-pikiran dan perasaan orang itu.

Tanpa kemampuan kognitif ini, seseorang akan selalu meleset dalam memahami kondisi orang lain karena dia merasa apa yang dia lihat tidak sesuai dengan realitas yang sebenarnya.

Kedua, komponen afektif. Ini merupakan kemampuan untuk menyelaraskan perasaan dan pengalaman emosional kita pada orang lain. Tapi akurasi setiap orang pada empati afektif ini berbeda beda, ada yang sangat baik, sehingga dia bisa dengan mudah untuk merasakan kondisi orang lain. Ada juga yang kurang baik. Akurasi yang tidak tepat ini bisa menimbulkan seseorang malah memperhatikan yang lain.

Belum diketahui secara pasti dari kedua komponen ini mana yang lebih menonjol pada diri seseorang.

Komponen empati yang tadi kita dapatkan dari sejak kita masih bayi. Dan disebutkan kalau pola pengasuhan orang tua berpengaruh terhadap pengembangan komponen empati tersebut.

Jadi kalau kita belum bisa, atau sulit berempati pada peristiwa naas orang lain, ya karena kemampuan ini belum kita tingkatkan dan sedari kecil tidak diasah.

Menurut saya sih bukan kurang berempati pada korban pelecehan seksual sih lebih kepada pemikiran masyarakat bahwa ketika terjadi sebuah pelecehan seksual biasanya yang salah tidak hanya pelaku namun korban.

Nah salah satu opini yang sering sekali saya dengar adalah ini, orang lain pasti akan menyalahkan korban karena tidak bisa menutup diri. Namun kenyataannya tidak semua yang memakai baju tertutup juga akan aman dari pelecehan seksual. Sebenarnya sih kalau dilihat dari beberapa kasus, yang salah memang bukan korban tapi pelaku. Karena menurut saya toh meskipun memakai baju tertutup tidak menutup kemungkinan terhindar dari pelecehan seksual.

Mindset itu yang harus diperbaiki di masyarakat, karena tidak akan ada kata pelecehan seksual kecuali korban benar-benar terganggu. Dalam artian korban tidak meminta, bisa dibilang orang yang hobby melakukan pelecehan seksual menurut saya karena itu penyakit. Dia sudah terbiasa berbuat yang kurang baik, sehingga akan berlanjut terus menerus. Karena pelecehan seksual dilakukan oleh pelaku dalam keadaan dia sadar dan paham bahwa hal yang dilakukan itu tidak baik.

1 Like

Sepemikiran!
Pada umumnya masyarakat akan berfikir seperti itu, tidak hanya pelaku yang salah namun korban juga. Entah si korban terlalu menggoda atau melakukan hal-hal yang mengundang adanya pelecehan seksual. Kita perlu melihat sesuatu dari berbagai sudut, bukan berarti menyalahkan korban loh ya. Tapi saya kira perlu adanya pemikiran dari berbagai sudut pandang.

Tapi disisi lain kita juga tidak bisa menyalahkan korban sepenuhnya, karena terkadang pakaian tertutp tidak menjamin pelaku tidak melakukan pelecehan. Otak pelaku yang perlu diperbaiki jika ada kejadian seperti itu. Korban tidak menggoda namun pelaku tetap ada pemikiran untuk melaukan aksi pelecehannya. Jika boleh mengunpat saya pengen sekali mengunpat pelaku secara langsung, geram sekali saya melihat orang seperti itu. Meluapkan nafsunya keada pelaku yang tidak tahu apa-apa dan tidak menggoda seakan-akan ingin dilecehkan.

Ahir-akhir inipun saya melihat berita bahwa korban pelecehan tidak hanya orang dewasa, namun telah merambah ke anak-anak. Sebenarnya otak macam apa sih yang ada di pelaku? Geram sekali, tidak punya hati dan akal sehat si pelaku tersebut. Sampai anak kecil dijadikan korban pelecehannya.

Waow ini adalah pembahasan yang sangat menarik. Pertama saya akan berbaik sangka, mungkin orang-orang yang tidak berempati itu tidak pernah menjadi korban sehingga dia tahu bagaimana besarnya rasa trauma yang diderita. Pun dia tidak pernah menyaksikan orang-orang sekelilingnya menjadi korban sehingga dia juga tidak pernah melihat bagaimana kesulitan yang dialami korban setelah mengalami pelecehan.

Kedua masih mereka masih menganut budaya patriaki, dimana perempuan yang lazim menjadi korban dianggap “pantas” menerima perlakuan tersebut. Tubuh perempuan bukan sesuatu hal yang perlu diberi perlindungan. Ada celetukan yang pernah saya dengar ketika pembegalan payudara terjadi di lingkungan kami “halah enggak hilang juga kok” katanya.

Sedangkan laki-laki yang menjadi korban pelecehanpun tidak akan mendapat empati sebab patriaki tadi. Laki-laki dianggap selalu menikmati ketika pelecehan/pemerkosaan terjadi. Laki-laki selalu dianggap sebagai manusia berotak kotor yang seharusnya merelakan dirinya dilecehkan secara seksual.