Apa yang dimaksud dengan perilaku memaafkan (forgiving)?

maaf

(Nicky Setyowati) #1

Maaf mempunyai arti :

  1. pembebasan seseorang dari hukuman (tuntutan, denda, dan sebagainya) karena suatu kesalahan;
  2. ungkapan permintaan ampun atau penyesalan

Oleh karena itu, memaafkan dapat dartikan sebagai memberi ampun atas kesalahan dan sebagainya; tidak menganggap salah dan sebagainya lagi.

Bagaimana perilaku memaafkan dilihat dari sudut pandang psikologi ?


Faktor-faktor apa saja yang dapat membuat seseorang mempunyai perilaku memaafkan (forgiving)?
Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kemampuan memaafkan seseorang ?
Apa saja manfaat dan keuntungan memaafkan kesalahan orang lain bagi diri kita ?
Respon apa saja yang biasa dilakukan seseorang apabila disakiti?
(Desi) #2

Perilaku memaafkan atau forgiveness didefinisikan sebagai “…a complex of prosocial changes in one’s basic interpersonal motivations following a serious interpersonal offense.” (McCullough, 2000) atau perubahan yang kompleks pada motivasi interpersonal individu yang bersifat prososial yang terjadi setelah adanya kesalahan yang dilakukan oleh orang lain.

Rye, dkk (2001) mendefinisikan perilaku memaafkan sebagai menurunnya respons negatif dan meningkatnya respons positif seseorang terhadap orang yang melakukan kesalahan, baik dalam aspek pikiran (kognisi), perasaan (afeksi), maupun perilaku (konasi).

Monteiro (2005) menjelaskan bahwa dalam perilaku memaafkan, perasaan negatif berubah menjadi netral atau positif karena atensi individu tidak lagi berfokus pada aspek negatif dari kesalahan atau orang yang melakukan kesalahan.

Perilaku memaafkan juga didefinisikan sebagai proses perubahan dari orientasi negatif terhadap orang yang melakukan kesalahan menjadi orientasi positif yang dilakukan secara sadar dan sengaja (Arthur, 2010).

Kata sadar dan sengaja tersebut sejalan dengan pernyataan Kearns (2006) bahwa perilaku memaafkan tidak muncul tiba-tiba, melainkan melalui sebuah proses pengambilan keputusan.

Di luar definisi yang telah disebutkan, masih banyak definisi lain mengenai perilaku memaafkan yang dibawa oleh para peneliti di bidang psikologi, namun sebagian besar dari definisi tersebut memiliki benang merah, yakni ketika individu memaafkan, respons mereka terhadap orang yang melakukan kesalahan, yang meliputi pikiran, perasaan, dan tindakan, akan menjadi lebih positif (McCullough, Tsang, & Fincham, 2003).

Perilaku memaafkan diri pribadi (intrapersonal) dan antarpribadi (interpersonal)

Eaton, Struthers, dan Santelli (2006) mengungkapkan bahwa perilaku memaafkan dapat dipahami dari perspektif dalam diri pribadi (intrapersonal) maupun antarpribadi (interpersonal).

Perilaku memaafkan dalam perspektif intrapersonal sering juga disebut dengan self-forgiveness (perilaku memaafkan diri sendiri), sedangkan perilaku memaafkan dalam perspektif interpersonal sering disebut dengan other-forgiveness (perilaku memaafkan orang lain).

Meski penelitian mengenai self-forgiveness tidak terlalu banyak, sebagian besar literatur mengenai perilaku memaafkan mengasumsikan bahwa self-forgiveness dan other-forgiveness melibatkan proses yang sama (Macaskill, 2012). Hanya saja, dalam self-forgiveness, orang yang memaafkan dan yang dimaafkan adalah orang yang sama, yakni individu itu sendiri.

Other-forgiveness seringkali dianggap sebagai proses yang hanya terjadi antara dua orang yang saling mengenal (dyadic process), namun Mullet, Girard, dan Bakhshi (2004) menemukan bahwa dalam proses memaafkan, identitas pihak yang dimaafkan dapat merupakan orang yang diketahui maupun orang yang tidak ketahui atau institusi yang abstrak, seperti gereja atau pemerintah.

Meski demikian, sebagaimana definisi yang telah dijelaskan sebelumnya, perilaku memaafkan merupakan proses yang intraindividual. Dengan kata lain, proses ini hanya melibatkan orang yang memaafkan (forgiver) dan tidak melibatkan orang yang dimaafkan (forgiven). Dalam proses memaafkan, orang yang dimaafkan hanya menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku memaafkan.

Jenis perilaku memaafkan

Monteiro (2005) merumuskan dua jenis perilaku memaafkan yakni perilaku memaafkan yang bersifat situasional (state forgiveness) dan perilaku memaafkan yang bersifat menetap (trait forgiveness).

  • State forgiveness merujuk pada respons seseorang terhadap peristiwa tertentu, sedangkan trait forgiveness merujuk pada kecenderungan untuk memaafkan yang bersifat inheren dan relatif stabil pada diri seseorang (Monteiro, 2005).

  • Trait forgiveness sering juga disebut dispositional forgiveness. Senada dengan hal tersebut, Eaton dkk. (2006) juga mengungkapkan bahwa trait atau dispositional forgiveness merupakan kecenderung individu untuk memaafkan secara umum, sedangkah state forgiveness merupakan perilaku memaafkan terhadap suatu kesalahan tertentu yang spesifik.

Perilaku memaafkan antar-kelompok

Seiring berjalannya waktu, studi mengenai perilaku memaafkan tidak lagi hanya berfokus pada konteks intrapersonal dan interpersonal. Para psikolog sosial sudah mulai mencermati perilaku forgiveness dalam konteks hubungan antarkelompok (Arthur, 2010).

Umumnya, studi mengenai forgiveness antarkelompok dilakukan dalam konteks rekonsiliasi antara kelompok-kelompok yang berkonflik, seperti konflik antara Jerman dan Yahudi (Wohl & Branscombe, 2005), umat Islam dan Kristen di Lebanon (Azar & Mullet, 2002), dan lain sebagainya.

Secara konseptual, perilaku memaafkan dalam hubungan antarkelompok sama dengan perilaku memaafkan dalam hubungan antarpribadi, yakni sama-sama membahas mengenai penurunan perasaan negatif seperti dendam, marah, dan tidak percaya, serta munculnya intensi untuk mengerti, mendekati, dan memperbaiki hubungan dengan orang yang melakukan kesalahan (Cehajic dkk., 2008).

Hanya saja, pada perilaku memaafkan di level antarkelompok, terdapat peran kategorisasi dan identifikasi sosial (Arthur, 2010). Penelitian ini dilakukan untuk melihat hubungan antara identifikasi sosial dan perilaku memaafkan dalam hubungan antarkelompok tersebut.


(Abila Rezfan Azkadina) #3

Memaafkan atau Forgiveness merupakan suatu konstruk multidimensional yang dibangun oleh kontribusi dari berbagai disiplin, termasuk psikologi, teologi, filosofi, sosiologi dan antropologi. Dalam psikologi sendiri, berbagai cabangnya (klinis, perkembangan, sosial, dan kepribadian) juga ikut mengembangkan studi tentang forgiveness (McCullough, Pargament, & Thorensen, 2000).

Oleh karena itu, tidak ada definisi tunggal tentang forgiveness. Keragaman pengertian tentang forgiveness tidak mengenyampingkan konsensus di kalangan para peneliti dan teorisi, yakni bahwa forgivenss harus dibedakan dari pardoning (yang merupakan istilah hukum), condoning (mengandung unsur justifikasi bagi pelanggaran), excusing (pelanggar dianggap memiliki alasan yang bisa diterima dalam perbuatannya), forgetting (ingatan tentang pelanggaran melemah atau tidak lagi dalam kesadaran), dan denying (ketidak-sediaan untuk memahami kerugian yang ditanggung oleh orang lain sebagai akibat perbuatan pelaku).

Enright dan Coyle sendiri medefinisikan forgiveness sebagai kesediaan untuk melepaskan hak sendiri untuk menunjukkan kebencian, penghakiman negatif, dan perilaku tidak peduli terhadap seseorang yang tidak seharusnya merugikan kita, dan bersamaan dengan ini mengembangkan kualitas belarasa, kedermawanan, dan bahkan kasih terhadap pelaku kendati dia sebenarnya tidak berhak menerima kualitas.

Sedangkan bagi Wade, Worthington dan Meyer (2005), forgiveness yang sejati dan tepat mencakup kesanggupan untuk memandang transgresor secara realistik dan inklusif dengan mengakui sisi-sisi baik dan buruk orang tersebut.

Perasaan-perasaan positf seperti belarasa dan empati dipercaya sebagai kritikal dalam forgiveness. Selain itu, kemampuan untuk mengampuni mempersyaratkan ego strength dan sense of self yang cukup kokoh.

Sebuah model yang membedakan forgiveness dan unforgiveness dikemukakan oleh Worhtington dan Wade (1999).

  • Forgiveness merupakan sebuah proses yang diyakini difasilitasi oleh empati yang membawa pada pilihan untuk menanggalkan unforgiveness dan mengupayakan rekonsiliasi dengan pelanggar.

  • Unforgiveness dipandang sebagai emosi “dingin” (cold) yang dicirikan oleh rasa tidak senang (resentment), kepahitan, dan barangkali juga kebencian, disertaikan dengan motivasi untuk menghindar atau membalas dendam terhadap transgresor.

    Jadi, unforgiveness sebenarnya merupakan kombinasi yang cukup kompleks dari emosi-emosi negatif yang tertahan/tertunda terhadap seseorang yang telah melakukan pelanggaran atau transgresi.

Bila diungkapkan secara segera, emosi-emosi negatif ini berupa kemarahan, ketakutan, atau keduanya (Worthington & Scherer, 2004). Worhtington dan kawan kawan berpendapat bahwa bila seseorang mengampuni, maka emosi-emosi positif yang berdasar pada kasih (misalnya empati, belarasa, simpati, afeksi, cinta altruistik) menggantikan emosi-emosi negatif yang sebelumnya dialami dalam kaitannya dengan transgesor dan perbuatannya.

Worthington (2003) membedakan dua jenis forgiveness , yakni : decisional forgiveness dan emotional forgiveness.

  • Decisional forgiveness merupakan pernyataan yang muncul dari intensi behavioral yang diupayakan oleh individu untuk berperilaku terhadap transgressor seperti dia berperilaku sebelum transgresi terjadi.

    Dengan kata lain, inidividu ini bermaksud untuk membebaskan hutang si transgressor, yakni balasan/hukuman yang seharusnya dia terima sebagai konsekuensi dari pelanggarannya.

    Walaupun individu mampu melakukan tindakan pengampunan jenis ini, namun secara emosional dia masih merasa sakit, dan secara kognitif terlibat dalam bersungut-sungut dan gerutuan (ruminasi), ataupun tergerak (motivasional) untuk menghindar atau melakukan pembalasan.

    Ruminasi sendiri telah ditunjukkan dalam riset dan kajian klinis berhubungan dengan rasa marah, cemas dan depresif. Individu yang melakukan ruminasi akan berpeluang besar terlibat dalam unforgiveness.

  • Dengan demikian, decisional forgiveness yang lebih bersifat behavioral, dibedakan dari emotional forgiveness yang berakar pada emosi. Dalam kontekks ini, forgiveness dapat dipahami sebagai jukstaposisi emosi positif yang berkiblat pada orang lain (positive other-oriented) terhadap unforgiveness yang negatif, yang pada gilirannya akan menetralkan atau menggantikan semua atau sebagian emosiemosi negatif dengan emosi-emosi positif.

Dalam literatur tentang koping, pada umumnya dikenal dua jenis strategi yakni problem-focused dan emotion-focused. Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa satu strategi lebih unggul daripada yang lain, lepas dari konteksnya. Dalam situasi di mana tindakan langsung dimungkinkan, maka problem-focused coping sering dinilai lebih unggul. Namun, apabila tindakan langsung ini amat sulit terjadi, emotion-focused lebih efektif.

Forgiveness sebagai strategi koping dapat membantu individu untuk memodifikasi appraisal-nya tentang makna suatu kondisi atau situasi. Tanpa mengingkari aspek ini, Worthington dan kawan-kawan berpendapat bahwa forgiveness lebih merupakan upaya koping yang berfokus pada emosi.

Kendati terdapat banyak variasi dalam mengartikan forgiveness, banyak peneliti dan teorisi yang sepakat mengenai fitur inti dalam forgiveness: apabila seseorang memaafkan , respons-responsnya (dalam pikiran, perasaan, kehendak untuk berbuat, dan tindakan nyata) terhadap pihak yang melanggar atau merugikan dia menjadi lebih positif atau kurang negatif.

Pikiran, perasaan, motivasi,dan pebuatan negatif yang timbul dan yang sedianya ditujukan pada pelaku serangan/pelanggaran, lama kelamaan menjadi lebih prososial.

Atas dasar ini, McCullough dkk (2000) mendefinisikan forgiveness sebagai intraindividual, prosocial change toward a perceived transgressor that is situated within a specific interpersonal context.


(Abercio Hafizhan Wibowo) #4

Forgiveness memiliki arti terminologis dengan dua hal, yaitu meminta maaf dan memaafkan. McCullough dkk. (1997) mengemukakan bahwa memaafkan merupakan seperangkat motivasi untuk mengubah seseorang untuk tidak membalas dendam dan meredakan dorongan untuk memelihara kebencian terhadap pihak yang menyakiti serta meningkatkan dorongan untuk konsiliasi hubungan dengan pihak yang menyakiti.

Memaafkan, menurut Enright, merupakan sikap untuk mengatasi hal-hal yang negatif dan penghakiman terhadap orang yang bersalah dengan tidak menyangkal rasa sakit itu sendiri tetapi dengan rasa kasihan, iba dan cinta kepada pihak yang menyakiti.

Memaafkan adalah kesembuhan dari ingatan yang terluka, bukan menghapuskan. Ken Hart

Memaafkan juga diartikan sebagai cara mengatasi hubungan yang rusak dengan dasar prososial. Karakter ini berhubungan dengan hubungan yang terjadi antara individu dengan yang lain.

Memaafkan, menurut McCullough, merupakan satu set perubahan-perubahan motivasi dimana suatu organisme menjadi :

  • semakin menurun motivasi untuk membalas terhadap suatu hubungan mitra;
  • semakin menurun motivasi untuk menghindari pelaku;
  • semakin termotivasi oleh niat baik, dan keinginan untuk berdamai dengan pelanggar, meskipun pelanggaran termasuk tindakan berbahaya.

Selanjutnya, Michael E. McCullough memperbaiki definisi ini dengan menambahkan fungsi tambahan: bahwa sistem forgiveness menghasilkan perubahan motivasi, hal ini karena usaha individu selama berevolusi dalam mempromosikan pemulihan hubungan antar individu yang baik untuk mengurangi dampak kerugian interpersonal mengalami keberhasilan.

Definisi fungsional memaafkan yang dipaparkan di atas, dimaksudkan agar korban bisa memaafkan pelaku yang merugikan (yakni dari pengalaman korban, motivasi, dendam, kurang menghindar, dan lebih murah hati) tanpa adanya tekanan atau paksaan sehingga korban bisa memulihkan hubungan dengan sendirinya. Hal ini yang menjadi alasan bahwa manusia modern mampu memaafkan karena nenek moyang manusia ditugaskan meluaskan strategi dan manfaat yang berpotensi memulihkan hubungan.

Dimensi Memaafkan


Dimensi yang terdapat pada forgiveness ini di ambil dari definisi yang dikemukakan oleh Mc Cullough dkk (1998) bahwa forgiveness merupakan proses perubahan tiga dorongan dalam diri individu terhadap transgrensor. Tiga dorongan tersebut adalah avoidance motivations, revenge motivations, benevolence motivation .

  • Avoidance motivations (Motivasi Menjaga Jarak)
    Pada dimensi ini seseorang yang tersakiti akan menarik diri atau menjaga jarak dan berkontak fisik dengan seseorang yang menyakiti. Namun pada tahap memaafkan seseorang akan merasakan berkurangnya keinginan untuk menarik diri terhadap orang yang menyakiti.

  • Revenge Motivations (Motivasi Balas Dendam)
    Dalam hal ini ditandai dengan munculnya dorongan pada diri individu untuk membalas dendam perbuatan yang dialaminya kepada individu lain yang menyakiti.

  • Benevolence Motivations (Motivasi Berbuat baik)
    Pada dimensi ini ditandai dengan berbuat baik kepada pelaku. Dimana korban tidak menghindari dari pelaku dan juga tidak memiliki keinginan untuk membalas perbuatan yang dilakukan oleh pelaku. Dan pada dimensi ini lebih di tunjukkan dengan berbuat baik dan menjalin hubungan kembali dengan pelaku.

Fase-fase Memaafkan


Sebelum terjadi proses memaafkan ada beberapa fase yang dilalui oleh seseorang ketika memaafkan individu lain. Proses memaafkan merupakan proses yang terjadi secara perlahan dan memerlukan waktu.

Menurut Robert Enright dan Fitzgibbons‟s (2000) fase yang harus dilewati dalam proses memaafkan diantaranya yaitu :

  1. Fase pembukaan (Uncovering Phase)
    Fase ini meliputi pertentangan terhadap rasa sakit emosional yang terjadi akibat dari peristiwa menyakitkan yang dialami oleh individu. Pada fase ini individu akan mengalami dan merasakan luka yang benar-benar dirasakan saat terjadinya peristiwa tersebut.

  2. Fase pengambilan keputusan (Decision phase)
    Pada fase ini seseorang mendapatkan pemahaman yang sesuai tentang pemaafan dan pada fase ini individu memutuskan untuk memberikan pemaafan dengan dasar pemahaman yang telah di dapatkannya. Dan korban menyadari bahwa keputusan yang diambil untuk memaafkan menguntungkan bagi diri individu dan juga membaiknya kembali hubungan.

  3. Fase tindakan (Work Phase)
    Pada fase ini dalam diri individu terjadi pembentukan perspektif berpikir yang baru (reframing) dan memulai untuk berpandangan lebih positif terhadap pelaku, sehingga menghasilkan perubahan positif yang terjadi pada diri sendiri, orang lain dan juga hubungan.

  4. Fase pendalaman (Deepening phase)
    Pada fase ini seseorang akan menemukan makna bagaimana rasanya sebuah penderitaan, merasakan hubungan lebih terhadap pelaku, serta berkurangnya emosi negatif dalam diri, sehingga menjadikan individu mengetahui sesungguhnya makna dari sebuah penderitaan dalam diri jika tidak mampu untuk memaafkan.

Dari fase-fase yang dilalui oleh korban ini akan menjadikan individu mampu untuk benar-benar memaafkan setelah mengalami empat tahap dalam proses memaafkan ini.
Dalam buku yang berjudul Forgive And Forgot: Healing The Hurts We Don‟t Deserve, karya Smedes (1984), menjelaskan bahwa terdapat empat tahap dalam pemberian maaf diantaranya yaitu:

  1. Tahap pertama yaitu membalut sakit hati
    Yang dimaksud dengan membalut sakit hati pada tahap ini adalah meredakan sakit hati dan menghilangkan kebencian yang dirasakan oleh seseorang agar tidak menjadi penyakit dalam hati yang pada akhirnya dapat menghancurkan ketenangan dan kesenangan dalam kehidupan seseorang.

  2. Tahap kedua yaitu meredakan kebencian
    Kebencian merupakan perasaan tidak senang yang dirasakan oleh seseorang terhadap sakit hati yang mendalam, dan kebencian dalam diri seseorang membutuhkan penyembuhan. Dengan kebencian segala hal akan menjadi lebih buruk, apapun yang dilakukan oleh orang yang dibenci akan tetap buruk dihadapan korban. Kebencian tidak hanya melukai orang yang dibenci namun juga melukai diri sendiri yang membenci. Untuk itu berusaha memahami alasan orang yang menyakiti dan introspeksi diri terhadap perlakuan yang menyakitkan agar dapat mengurangi kebencian tersebut.

  3. Tahap ketiga yaitu upaya penyembuhan diri.
    Ketika seseorang tidak mudah melepaskan kesalahan orang lain untuk lebih mudah nya dapat dilakukan dengan melepaskan kesalahan orang tersebut dari dalam dirinya. Melepaskan kesalahan dalam ingatan hal ini diartikan bahwa diri sendiri dituntut agar mampu melupakan kesalahan orang lain di masa lampau. Memaafkan merupakan pelepasan perasaan sakit hati terhadap diri sendiri maupun orang lain atas kesalahan yang telah dilakukan.

  4. Tahap empat yaitu berjalan bersama
    Terdapat ketulusan antara orang yang disakiti dengan orang yang menyakiti. Dan berjanji untuk berjalan bersama serta melupakan kesalahan yang telah dilakukan sehingga dapat berjalan bersama antar keduanya untuk memperbaiki hubungan kedepan dan bisa berjalan normal seperti semula.