Apa yang dimaksud dengan Filsafat postmodernisme ?

postmodernisme

(Gatot Anwar Nasution) #1

Postmodernisme

Postmodernisme merupakan pergeseran wacana di berbagai bidang, seperti seni, arsitektur, sosiologi, literatur dan filsafat. Merupakan reaksi keras terhadap pemikiran modernisme yang terlampau mendewakan rasionalitas, jauh dari kekayaan dunia batin manusia. Para posmodernisme menyerang pilar-pilar filsafat modern, yang menjunjung tinggi rasionalitas dengan mengklaim dorongan-dorongan subjektif-irasional sebagai marjinal, the other.

Apa yang dimaksud dengan Filsafat postmodernisme ?


Apa yang dimaksud dengan Dekonstruksi ?
Bagaimana pandangan Jean-François Lyotard terhadap teori organisasi ?
Bagaimana hubungan antara postmodernisme dan teori organisasi ?
Bagaimana pandangan Paul-Michel Foucault terhadap teori organisasi ?
Bagaimana pandangan Jean-François Lyotard terhadap teori organisasi ?
Bagaimana pandangan Paul-Michel Foucault terhadap teori organisasi ?
(Himawat Aryadita) #2

Postmodernisme awalnya berkembang di benua Eropa, khususnya Prancis dan Jerman. Menurut Hancock dan Tyler (2001), istilah postmodernisme berasal pada akhir abad kesembilan belas ketika digunakan untuk mendeskripsikan bentuk-bentuk khusus dari seni avant-garde yang baru. Butler (2002) menganggap tumpukan batu bata milik Carl Andre, Equivalent VIII (1966), sebagai objek postmodern.

Tumpukan batu bata milik Carl Andre, Equivalent VIII
Gambar Tumpukan batu bata milik Carl Andre, Equivalent VIII (1966)

Karena teori postmodern tidak memiliki fitur untuk mempertahankan dirinya sendiri, maka hal tersebut mengilhami diri kita untuk bertanya tentang konteksnya daripada kontennya (isi); misalnya pertanyaan, "Apa gunanya ini ?. Misalnya,terkait dengan bidang seni, postmodernisme mendorong kita untuk mempertanyakan apa itu seni.

Walaupun istilah postmodern biasanya digunakan dalam bidang seni dan arsitektur, menurut akademisi manajemen postmodern, Boje (1999), istilah postmodern juga sudah terlihat dalam bidang ilmu alam sejak tahun 1960-an dan seterusnya. Best dan Kellner (1997) memberikan tinjauan yang komprehensif terkait dengan perkembangan interdisipliner pada sains postmodern, dengan alasan bahwa banyak perkembangan yang berpusat di sekitar teori chaos dan kompleksitas (lihat, misalnya, Cilliers, 1998).

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa postmodernisme merupakan filsafat zaman sekarang, yang menggambarkan banyak bidang ilmu dan berdampak pada banyak area bidang ilmu yang berbeda-beda.

Pada teori modernisme, terdapat keinginan untuk selalu mendapatkan pencerahan melalu pengembangan teori-teori yang menjelaskan terkait dengan kondisi dunia di sekitar kita. Tema yang selalu berulang dalam postmodernisme adalah penolakan terhadap “meta” narasi dan narasi “utama” dari teori modernisme, dimana hal tersebut memungkinkan untuk mengembangkan dasar rasionalisasi dan generalisasi pada penyelidikan saintifik yang menjelaskan keadaan dunia dari sudut pandang objektivitasnya.

Sebagai contoh, Lyotard (1984) mendefinisikan postmoderen sebagai "ketidakpercayaan terhadap metanarative, dan David Harvey (1984), Antropologi dari Amerika, menyarankan bahwa postmodernisme memerlukan penolakan pada proposisi pengalihan yang berasumsi pada validitas klaim kebenaran mereka sendiri. Secara khusus, Lyotard (1984), Bauman (1989) and Burrell (1997) menyerang “kejatuhan” pencerahan metanaratif sains sebagai sumber perkembangan manusia dan emansipasi melalui kontrol rasional yang berada pada pengetahuan yang reliabel.

Penolakan metanaratif berarti bahwa tidak ada model-model baru pada bentuk organisasi atau teori-teori organisasi. Sebagai gantinya, filsafat postmodern berkonsentrasi lebih banyak pada mengkritisi dan melakukan dekonstruksi terhadap teori-teori yang ada dibandingkan melakukan konstruksi teori yang baru.

Elemen-elemen utama Postmodernisme

Walaupun terdapat banyak ambiguitas, dapat diidentifikasikan empat poposisi utama dalam postmodernisme (Hancock dan Tyler, 2001). Ke-empat proposisi utama tersebut adalah :

  1. Kita tidak dapat berasusmsi bahwa terdapat sesuatu yang dapat dianggap sebagai “alasan murni” atau dengan mendapatkan banyak pengetahuan maka ras manusia akan selalu maju.

  2. Bahasa yang kita gunakan aslinya dibentuk dari apa yang kita lihat dan kita rasakan. Hal ini memberikan kepada kita sebuah framework

  3. Tidak ada yang namanya pengetahuan murni. Apa yang kita lihat dan apa yang kita ketahui bergantung pada konteks tempat kita beroperasi dan bahasa yang tersedia bagi kita.

  4. Kita harus menyadari bahwa terdapat banyak cara pandang yang berbeda dalam situasi apa pun dan bahwa kita harus berusaha untuk menemukan perspektif yang berbeda, terutama mereka yang berasal dari orang-orang yang kurang berkuasa, yang biasanya tidak mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan perspektif mereka.

Contoh Kasus Postmodernisme

Di Hollywood, drama yang disebut Tamara menempatkan penonton dalam posisi yang sangat berbeda dari teater tradisional. Tamara menceritakan sebuah kisah nyata yang diambil dari buku harian Aelis Mazoyer. Ini adalah Italia, 10 Januari 1927, di era Mussolini. Gabriele d’Annunzio, seorang penyair, patriot, perayu wanita, dan seorang revolusioner yang sangat populer dengan orang-orang di bawah tahanan rumah. Tamara, seorang wanita cantik asal Polandia, aristokrat, dan bercita-cita menjadi artis, dipanggil dari Paris untuk melukis lukisan d’Annunzio.

Alih-alih tetap diam dan melihat hanya satu panggung saja, penonton dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil yang mengejar karakter dari satu kamar ke kamar lain, bahkan pergi ke kamar tidur, dapur, dan kamar lain untuk mengejar dan menciptakan cerita yang paling menarik bagi mereka. Jika terdapat selusin panggung dan selusin pendongeng, jumlah alur cerita yang dapat dilacak oleh penonton saat mengejar pengembaraan cerita Tamara adalah 12 faktorial (479.001.600)!

Tidak ada penonton yang dapat mengikuti semua cerita karena aksi ceritanya bersifat simultan, melibatkan karakter yang berbeda di ruangan yang berbeda dan di lantai yang berbeda. Pada pertunjukan, setiap penonton menerima ‘paspor’ untuk kembali lagi dan lagi untuk mencoba mencari tahu lebih banyak jaringan cerita yang saling terkait. Tamara tidak bisa dipahami dalam satu kunjungan. . . dua orang dapat berada di ruangan yang sama dan - tetapi jika mereka datang ke sana dari berbagai ruangan dan urutan karakter - masing-masing dapat berbeda jauh dari percakapan yang sama dengan cerita yang sepenuhnya berbeda.

Didalam Ilmu manajemen, Boje menggunakan Tamara sebagai metafora untuk menggambarkan sebuah organisasi dari perspektif postmodernisme. Boje menunjukkan bagaimana makna dari peristiwa-peristiwa yang ada akan tergantung pada lokalitas, urutan sebelumnya dari cerita-cerita dan transformasi karakter-karakter dalam wacana yang berkeliaran. Misalnya, meskipun manajer dapat duduk bersama didalam sebuah pertemuan, interpretasi dan perspektif mereka mungkin sangat berbeda sebagai hasil dari interaksi dan pengalaman mereka sebelumnya. Masing-masing dari kita hanya dapat memperoleh pandangan parsial dan konteks yang spesifik dari situasi tertentu.

Modernisme dan Postmodernisme

Berikut analisis terkait dengan perbedaan inti antara modernisme dan postmodernisme. Cukup umum, dibeberapa literatur, kedua pemahaman (modernisme dan postmodernisme) tersebut diwakili dalam tabel berikut ini :

MODERNISME POSTMODERNISME
Konsensus (Consensus) Disensus (Dissensus)
Universalitas (Universality) Keberagaman
Generalisasi (Generalizability) Lokalisasi dan Kontekstualisasi (Localization and contextualization)
Totalisasi (Totalizing) Keanekaragaman (Diversity)
Stabilitas (Stability) Kefanaan (Impermanence)
Melakukan penekanan terhadap perbedaan (Suppression of difference) Melakukan pencarian terhadap perbedaan (Pursuit of difference)
Makropolitik (Macropolitics) Mikropolitik (Micropolitics)
Memusatkan (Centering) Menyebarkan (Marginality)
Berkesinambungan (Continuities) Tidak berkesinambungan (Discontinuities)

Sumber : Best and Kellner (1997).

Dengan menghadirkan modernisme dan postmodernisme sebagai hal yang saling berlawanan, hal tersebut akan menjadi lebih mudah untuk membuat perbedaan yang jelas antara keduanya. Pada kenyataannya, penggambaran antara modernisme dan postmodernisme jauh lebih kompleks dibandingkan tabel diatas. Mungkin lebih baik jika kita berpikir bahwa setiap elemen adalah sebuah kontinum (rangkaian kesatuan) dan untuk mengakui bahwa pemahaman seseorang mungkin dapat berada pada poin-poin elemen yang berbeda pada sebuah rangkaian kesatuan, dibeberapa bagian terlihat lebih modernis dan dibeberapa bagian terlihat lebih postmodernis.

Sumber : John McAuley, Joanne Duberley and Phil Johnson, Organization Theory : Challenges and Perspectives, Pearson Education Limited, 2007


(Ardy Satria) #3

Pencetus pemikiran postmodernist, pertama kali adalah Arnold Toynbee pada tahun 1939. Toynbee dianggap sebagai pencetus istilah tersebut dibuktikan dengan bukunya yang terkenal berjudul Study of History. Selain itu, lahirnya konsep postmodernisme adalah dari tulisan seorang Spanyol Frederico de Onis. Dalam tulisannya Antologia de la poesia espanola e hispanoamericana (1934), dia memperkenalkan istilah postmodernisme untuk menggambarkan reaksi dalam lingkup modernisme.

Postmodernisme adalah suatu pergerakan ide yang menggantikan ide-ide zaman modern. Zaman modern dicirikan dengan pengutamaan rasio, objektivitas, totalitas, strukturalisasi/ sistematisasi, universalisasi tunggal dan kemajuan sains.

Poststrukturalisme mengandung arti sebuah gerakan filsafat yang merupakan reaksi terhadap strukturalisme dan membongkar setiap klaim akan oposisi berpasangan,hierarki berjenjang, dan validitas kebenaran universal dan kemudian mengajukan konsep baru dengan menjunjung tinggi permainan bebas tanda serta ketidakstabilan makna dan kategorisasi intelektual.

Postmodern memiliki ide cita-cita, ingin meningkatkan kondisi sosial, budaya dan kesadaran akan semua realitas serta perkembangan dalam berbagai bidang. Postmodern mengkritik modernisme yang dianggap telah menyebabkan sentralisasi dan universalisasi ide di berbagai bidang ilmu dan teknologi, dengan pengaruhnya yang mencengkram kokoh dalam bentuknya globalisasi dunia.

Prinsip postmodernisme adalah meleburnya batas wilayah dan pembedaan antar budaya tinggi dengan budaya rendah, antara penampilan dan kenyataan, antara simbol dan realitas, antara universal dan peripheral dan segala oposisi biner lainnya yang selama ini dijunjung tinggi oleh teori sosial dan filsafat konvensional.

Postmodern secara umum adalah proses dediferensiasi dan munculnya peleburan di segala bidang. Postmodernisme merupakan intensifikasi (perluasan konsep) yang dinamis, yang merupakan upaya terus menerus untuk mencari kebaruan, eksperimentasi dan revolusi kehidupan, yang menentang dan tidak percaya pada segala bentuk narasi besar (meta naratif), dan penolakannya terhadap filsafat metafisis, filsafat sejarah, dan segala bentuk pemikiran totalitas, dan lain-lain.

Postmodern dalam bidang filsafat diartikan juga segala bentuk refleksi kritis atas paradigma modern dan atas metafisika pada umumnya dan berusaha untuk menemukan bentuknya yang kontemporer.

Postmodernisme jika diperhadapkan dengan modernisme, memiliki posisi yang beragam. Disatu sisi modernisme dianggap tidak berhasil mengangkat martabat manusia modern. Bahkan mengantarkan manusia ke jurang ketimpangan. Atas dasar kritik ini, maka perlu gerakan dan ide-ide baru yang disebut dengan postmodernisme. Sedang sebagian lagi beranggapan, postmodernisme adalah pengembangan dari modernitas.

Perbedaan pendapat dua kelompok mengenai pemahaman Post-modernisme cukup berbeda secara signifikan. Satu konsep mengatakan bahwa modernisme berseberangan dengan postmodernisme bahkan terjadi paradoks yang kontras. Sedang yang lain menganggap bahwa postmodernisme adalah bentuk sempurna dari modernisme, seperti pijakan tangga yang satu dengan tangga berikutnya secara berurutan. Dalam konsep ini kita tidak dapat masuk jenjang tangga postmodernisme tanpa melalui tahapan tangga modernisme. Akhirnya Postmodernisme dibagi menjadi beberapa bagian, antara lain: Post-Modernism Ressistace, Post-Modernism Reaction, Opposition Post-Modernisme dan Affirmative Post-Modernism.

Di tengah perdebatan dua konsep di atas, terdapat pendapat ketiga yang ingin menengahi dua pendapat yang kontradiktif tadi. Kata “Post” dalam sebutan postmodernisme bukan hanya berarti “setelah” (masa berikutnya), postmodernisme adalah usaha keras sebagai reaksi dari kesia-siaan zaman modernis yang sirna begitu saja bagai ditiup angin. Adapun penyebab dari kesia-siaan zaman modernis adalah akibat dari tekanan yang bersumber dari nalar intelektual manusia yang terus bermetamorfosis. Disinilah postmodernisme muncul sebagai sebuah ide ke dalam kancah perdebatan dengan berbagai lingkup Diskursus dan dengan segala dimensinya.

Lingkup Discourse dan Dimensi Postmodernisme


Kartun Public Discourse
Gambar Kartun Public Discourse

Discourse mengandung arti yakni mekanisme cara mendapatkan pengetahuan, beserta praktek sosial yang menyertainya, bentuk subyektifitas yang terbentuk darinya, relasi berbagai kekuasaan yang ada dibalik pengetahuan dan praktek sosial tersebut serta saling keterkaitan diantara semua aspek.

Fenomena postmodern mencakup banyak dimensi dari masyakat kontemporer. Postmodern adalah suasana intelektual yang bersifat Ide atau ”isme” postmodernisme. Para ahli saling berdebat untuk mencari aspek-aspek apa saja yang termasuk dalam postmodernisme. Tetapi mereka telah mencapai kesepakatan pada satu butir: fenomena ini menandai berakhirnya sebuah cara pandang universalisme ilmu pengetahuan modern.

Postmodem menolak penjelasan yang harmonis, universal, dan konsisten yang merupakan bagian identitas dasar yang membuat kokoh dan tegaknya modernisme. Kaum postmodernis mengkritik dan menggantikan semua itu dengan sikap menghargai kepada perbedaan dan penghormatan kepada yang khusus (partikular dan lokal). Lalu membuang yang universal.

Postmodernisme menolak penekanan kepada penemuan ilmiah melalui metode sains. Metode ilmiah ini merupakan fondasi intelektual dari modernisme untuk menciptakan dunia yang seolah-olah lebih baik pada masa-masa awal masa pencerahan. Metode ilmiah telah mengantarkan modernisme dalam bentuk praktisnya berbagai teknologi.

Dari paparan ini dimaksudkan bahwa ciri dari postmodern adalah melingkupi hal-hal secara konseptual ide yang meliputi :

  • Pertama Ide yang menghendaki penghargaan besar terhadap alam ini sebagai kritik atas gerakan modernisme yang mengeksploitasi alam.

  • Kedua Ide yang menekankan pentingnya bahasa (Hermeneutik, Filologi) dalam kehidupan manusia dengan segala konsep dan analisanya yang kompleks, ini sebagai antitesa atas kondisi modernisme atas kuasa tafsir oleh mesin birokrasi ilmu pengetahuan.

  • Ketiga, Ide besar untuk mengurangi kekaguman terhadap ilmu pengetahuan, kapitaslisme, dan teknologi yang muncul dari perkembangan modernisme. Dengan alasan bahwa semua itu telah melahirkan konstruksi manusia sebagai obyek yang mati dalam realitas kehidupannya. Sehingga menjauhkan manusia dari humanismenya itu sendiri.

  • Keempat, ide pentingnya inklusivitas dalam menerima tantangan agama lain atas agama dominan sehingga terbuka munculnya ruang dialogis. Ini muncul sebagai akibat menjamurnya dan tumbuhkembangnya realitas modernis yang menempatkan ideologi sebagai alat pembenar masing-masing.

  • Kelima sikap yang cenderung permisive dan menerima terhadap ideologi dan juga agama lain dengan berbagai penafsiran.

  • Keenam, secara kasuistik munculnya ide pergeseran dominasi kulit putih di dunia barat.

  • Keenam, merupakan ide-ide cemerlang yang menjadi daya dorong kebangkitan golongan tertindas, seperti golongan ras, gender, kelas minoritas secara sosial yang tersisihkan.

  • Ketujuh Ide tentang tumbuhnya kesadaran akan pentingnya interdependensi secara radikal dari semua pihak dengan cara yang dapat dan memungkinkan terpikirkan oleh manusia secara menyeluruh.

Ciri yang cukup dominan dari postmodern yang telah disebutkan diatas adalah mengacu pada ide besar untuk mengurangi kekaguman dan memberikan kritik terhadap ilmu pengetahuan, dan teknologi, ini berarti menunjukan adanya pergeseran yang siginifikan atas era modernitas menuju era postmodernisme.

Realitas yang cukup jelas bagi gerakan postmodernisme adalah sikapnya dalam memahami fenomena modern yang bernama “pengetahuan”, khususnya yang menyangkut pengetahuan sosial. Ia memperkarakan tentang “Apa itu pengetahuan yang benar” secara genealogis dan arkeologis. Artinya, dengan melacak bagaimana pengetahuan itu telah beroperasi dan mengembangkan diri selama ini.

Kategori-kategori konseptual dengan segala macamnya misalnya tentang “kegilaan”, “seksualitas”, “manusia”, ”gender” dan sebagainya yang biasanya dianggap “natural” itu sebetulnya adalah situs-situs produksi pengetahuan. Hal ini membawa implikasi tumbuhnya gerak mekanisme-mekanisme terselubung sebagai aparatus kekuasaan. Yakni kekuasaan untuk “mendefinisikan” siapa kita, untuk menjelaskan posisi dan kedudukan kita, untuk menggambarkan kita dan mereka, untuk mendeskripsikan yang superior dan inferior dan lain-lain.

Ilmu-ilmu sosial dan ilmu kemanusiaan adalah agen-agen kekuasaan yang demikian itu. Meski kekuasaan itu tidak selalu negatif-repressif melainkan juga kadang positif-produktif (menciptakan kemampuan dan peluang baru). Akan tetapi secara umum kuasa ilmu pengetahuan telah memaksa kita memahami kemodernan bukan lagi sebagai pembebasan. Modernitas atas kuasa ilmu pengetahuan ternyata sebagai proses kian intensif dan ekstensifnya pengawasan (surveillance), lewat “penormalan”, regulasi dan disiplin untuk masing-masing posisi.

Untuk itulah kehidupan dunia harus diselamatkan dari proses kolonialisasi ilmu pengetahuan. Postmodernisme dengan gerakan postkolonialismenya menggempur habis-habisan jerat kuasa pengetahun yang bersembunyi atas nama bendera modernisme. Disinilah bisa kita temukan watak menonjol dari era postmodernisme mengandung kecenderungan diantaranya; mengangkat konsep pluralisme, Mengacu nilai yang bersifat A Historis, penekanan pada konsepsi empiris dalam arti konsep fenomenologi dialektis, dan Penekanan pada nilai individualitas diri manusia sebagai sang otonom sehingga postmodernisme menolak nilai-nilai absolutisme, universalitas, dan homogenitas.

Watak utama postmodernisme tersimpul dalam konsep kritik ideologi besar atas ilmu pengetahuan yang disebut dengan dekonstruksi yang dipelopori oleh Derrida. Konsep dekonstruksi Derrida ini merupakan penyempurnaan dari ide destruksi yang dipelopori oleh Heidegger. Meski diantara derrida ada sejumlah persamaan dan perbedaannya dalam memandang realitas sebagai sebuah inspirasi pemikiran manusia.

Persoalan-Persoalan Postmodernisme


Postmodernisme

Beberapa kecenderungan umum, yang mendasari gerakan postmodernisme yang bisa dianggap sebagai kerangka konseptualisasi, muculnya gerakan postmodernisme adalah persoalan-persoalan yang menyangkut hal - hal sebagai berikut:

  • Segala ‘realitas’ adalah konstruksi semiotis, artifisial dan ideologis.
  • Sikap Skeptis dan kritis diri terhadap segala bentuk keyakinan tentang ‘substansi’.
  • Realitas bisa ditangkap dengan banyak cara (pluralisme).
  • Segala ‘sistem’ konotasi otonom dan tertutup, diganti dengan ‘jaringan’, ‘relasionalitas’ ataupun ‘proses’ yang senantiasa saling-silang dan bergerak dinamis.
  • Segala unsur ikut saling menentukan dalam interaksi jaringan dan proses dalam interelasinya dengan bebagai aspek, tidak hanya sebagai oposisi biner (either-or ) dengan dua sisi saja.
  • Segala hal harus dilihat secara holistik berbagai kemampuan (faculties) lain selain rasionalitas, misalnya, emosi, imajinasi, intuisi, spiritualitas, dan sebagainya.
  • Segala hal dan pengalaman yang selalu dimarginalisasi oleh pola ilmu pengetahuan modern dikembalikan ke tengah menjadi frame pemikiran. Misalnya, gender, feminisme kaum perempuan, tradisi-tradisi lokal, paranormal, agama.

Dalam diskusi lanjutan seringkali kata postmodernisme dan postmodernitas diperdebatkan. Walaupun sebenarnya konseptualisasi ini cukup bisa dimengerti bahwa modernisme berarti isme, pemahaman tentang ranah ide kognitif.

  • Postmodernitas, merupakan istilah yang biasanya digunakan untuk menggambarkan realitas sosial masyarakat post-industri.
  • Postmodernisme dimengerti sebagai wacana pemikiran baru yang menggantikan modernisme. Postmodernisme meluluhlantakkan konsep-konsep (isme-isme) modernisme seperti adanya subyek yang sadar diri dan otonom, adanya representasi istimewa tentang dunia, dan sejarah linier.

Persoalan-persoalan postmodernisme muncul, merupakan gaya atau gerakan di dalam sastra, seni lukis, seni plastik, dan arsitektur. Gerakan ini memperhatikan aspek-aspek aesthetic reflection dari modernitas. Sementara itu postmodernitas dimengertinya sebagai tatanan sosial baru yang berbeda dengan institusi-institusi modernitas.

Postmodernisme prinsipnya adalah sejajar dengan istilah “modernitas yang teradikalisasi” (radicalized modernity) untuk menggambarkan dunia kita yang mengalami perubahan hebat dan sedang melaju kencang tak bisa lagi dikendalikan. Suatu dunia yang tinggal landas (runaway world). Jadi apa yang terjadi sekarang ini adalah “modernitas yang sadar diri”

Postmodernisme memang bagaikan rimba belantara, postmodernisme suatu istilah yang “memayungi” segala aliran pemikiran yang satu sama lain seringkali tak persis saling berkaitan. Dalam postmodernisme gagasan-gagasan seperti “filsafat”,“rasionalitas”, dan “epistemologi” dipertanyakan kembali secara radikal. Masalah persoalan postmodernisme adalah masalah keterbatasan bahasa, khususnya keterbatasan fungsi deskriptif bahasa yang sangat terbatas. Bahasa haruslah dilihat melalui fungsi transformatifnya.

Muncullah metafor mula-mula diperkenalkan oleh Ricoeur—yang dapat menjadi titik terang untuk melihat persoalan-persoalan yang diajukan oleh postmodernisme. Metafor tidak menunjukkan suatu kebenaran absolut, melainkan suatu “kebenaran yang bertegangan” (tensional truth).

Postmodernitas harus dimengerti sebagai gaya berpikir yang curiga terhadap pengertian klasik tentang kebenaran, rasionalitas, identitas, obyektivitas, curiga terhadap ide kemajuan universal atau emansipasi, curiga akan satu kerangka kerja, grand narrative atau dasar-dasar terdalam dalam penjelasan.

Berlawanan dengan norma-norma pencerahan ini, postmodernitas melihat dunia sebagai yang kontigen, tak berdasar, tak seragam, tak stabil, tak dapat ditentukan, seperangkat kebudayaan yang plural atau penafsiran yang melahirkan skeptisisme terhadap obyektivitas kebenaran, sejarah dan norma-norma, kodrat yang terberikan serta koherensi identitas.

Postmodernisme juga dimengerti sebagai gaya kebudayaan yang merefleksikan sesuatu dalam perubahan jaman ini ke dalam suatu seni yang diwarnai oleh ketakmendalaman, ketakterpusatan, ketakberdasaran; seni yang self-reflexive, penuh permainan, ekletik, serta pluralistik. Seni semacam ini mengaburkan batas antara budaya ‘tinggi’ dan budaya ‘pop’, antara seni dan hidup harian. Demikian inilah segala aspek yang mennjadi persoalan-persoalan dalam mendiskusikan posmodernisme.

Kritik Postmodernisme atas Ideologi Ilmu Modern


Postmodernisme

Postmodernisme merupakan suatu fenomena yang menggejala dalam kancah ide dan pemikiran. Kelahiran postmodernisme merupakan akumulasi konkret atas kritik modernisme yang dirasakan kurang memenuhi tuntutan inteletual dalam menyelesaikan problem-problem sosial dan kemanusian.

Di tengah pemikiran dan ide postmodernisme yang carut marut, minimal dapat dikemukakan sejumlah kritik ideologis yang diajukan oleh pemikir postmodernis atas gerakan modernisme,yang mencakup hal-hal sebagai berikut :

  • Pertama, penafik-an atas ke-universal-an suatu pemikiran (totalism). Para penganut postmodernisme beranggapan, tidak ada realita yang bernama rasio universal. Yang ada adalah relativitas dari eksistensi plural. Oleh karenanya, perlu dirubah dengan cara berpikir dari “totalizing” menuju “pluralistic and open democracy” dalam segala aspek kehidupan. Dari sini dapat diketahui, betapa postmodernisme sangat bertumpu pada pemikiran individualisme sehingga dari situlah muncul relativisme dalam pemikiran seorang postmodernis. Ini jelas sangat berbeda dengan konsep metode ilmiah dan gejala ilmu pengetahuan modern yang menitikberatkan pada konseptualisasi dan universalisasi teori.

    Misalnya kita mengenal konsep induksi, deduksi, silogisme dan lain sebagainya yang menjadi acuan pokok untuk menemukan ide universal akan sebuah pengetahuan modern. Disinilah postmodernisme berpendapat semuanya itu hatus ditinggalkan dan ditinjau ulang.

  • Kedua, penekanan adanya pergolakan pada identitas personal maupun sosial secara terus-menerus yang tiada henti. Hal itu sebagai solusi dari konsep yang permanen dan mapan yang merupakan hasil dari kerja panjang modernisme. Postmodernis memberikan kritik bahwa hanya melalui proses berpikirlah yang dapat membedakan manusia dengan makhluk lain. Jika pemikiran manusia selalu terjadi perubahan, maka perubahan tadi secara otomatis akan dapat menjadi penggerak untuk perubahan dalam disiplin lain.

    Postmodernisme menolak segala bentuk konsep fundamental —bersifat universal—yang bernilai sakralitas seolah menempati posisi sebagai tumpuan atas konsep-konsep lain. Manusia postmodernis diharuskan selalu kritis dalam menghadapi semua permasalahan, termasuk dalam mengkritisi prinsip-prinsip dasar-dasar pengetahuan modern yang dianggap baku dan mapan.

  • Ketiga, semua jenis ideologi harus dikritisi dan ditolak. Selayaknya dalam konsep berideologi, ruang lingkup dan gerak manusia akan selalu dibatasi dengan mata rantai keyakinan prinsip yang permanen. Sedang setiap prinsip permanen dengan tegas ditolak oleh kalangan postmodernis. Oleh karenanya, manusia postmodernis tidak boleh terikat pada ideologi permanen apapun, termasuk ideologi agama sekalipun.

  • Keempat, setiap eksistensi obyektif dan permanen harus diingkari. Atas dasar pemikiran relativisme, manusia postmodernis ingin membuktikan tidak adanya tolok ukur sejati dalam penentuan obyektifitas dan hakekat kebenaran,kebenaran agama sekaligus. Ini tentu sangat berbeda dengan paradigma modernisme pada ilmu pengetahuan modern yang sangat menekakan obyektifitas dalam prosesdur ilmiah untuk mendapatkan kebenaran.

    Ungkapan Nietzsche (1844- 1900), “God is Dead”. Atau ungkapan lain seperti “The Christian God has ceased to be believable”, terus merebak dan semakin digemari oleh banyak kalangan di banyak negara Barat, Sebagai bukti atas usaha propaganda mereka yang mengusung tema konsep nihilisme dalam filsafat posmodernisme.

  • Kelima, semua jenis epistemologi harus dibongkar. Kritik tajam secara terbuka merupakan asas pemikiran filsafat postmodernisme. Pemikiran ataupun setiap postulat—yang bersifat prinsip, yang berkaitan dengan keuniversalan, kausalitas, kepastian dam sejenisnya akan diingkari. Berbeda halnya pada zaman Modernis, semua itu dapat diterima oleh manusia modernis. Ini mengandung arti bahwa rencana postmodernisme adalah dalam rangka mengevaluasi kembali segala pemikiran yang pernah diterima pada masa modernisme, dengan cara mengkritisi dan menguji ulang. Meskipun pada prakteknya sulit sekali untuk menemukan kerangka epistemologi yang jelas dari gaya pemikiran posmodernisme itu sendiri.

  • Keenam, postmodernisme memiliki ide besar melakukan pengingkaran penggunaan metode permanen dan paten dalam menilai fakta dan realitas serta ilmu pengetahuan. Jika dilihat secara sepintas, postmodernist cenderung menerapkan metodologi berpikir “asal comot” dengan mainstream pemikiran yang kurang jelas dan tidak beraturan.

    Postmodernisme seolah tampak menghalalkan segala cara sehingga cenderung bebas nilai. Namun ini perlu disadari bahwa postmodernisme hakekatnya Postmodernisme ingin membuka berbagai penafsiran baru atas kekakuan yang diciptakan oleh paham modern. Era postmodernisme adalah era pemikiran dengan pola penggabungan dari berbagai jenis pondasi pemikiran filosofis. Posmodernist tidak mau terkungkung dan terjebak dalam satu bentuk pondasi pemikiran filsafat. Hal ini dilakukan untuk menentang kaum tradisional yang tidak memiliki pemikiran maju karena mengacu pada satu asas pemikiran saja. Postmodernisme mengakui bahwa apa yang ada sekarang ini adalah apa yang disebut dengan post philosophy, puncak perbedaan dengan filsafat modernis. Dengan jenis filsafat inilah, mereka ingin meyakinkan kaum intelektual bahwa dengan berpegangan prinsip tersebut dapat meraih berbagai hal yang menjadi impian dalam kehidupan era kontemporer.

Dari paparan tersebut tema besar yang diusung oleh kaum posmodernisme adalah kerangka dekonstruktif (perombakan total) atas kuasa ilmu pengetahuan modern yang berbasis rasionalisme, obyektivitas, strukturalis, sistematisasi, totalisasi, universalisasi dan mengenyampingkan nilai-nilai lain yang justru cukup siginifikan mempengaruhi realitas. Hal-hal lain inilah yang dipikirkan oleh postmodernisme sehingga menjadi isu sentral dalam merumuskan kerangka konseptual ide dan pemikirannya.

Teori dan Teroritikus Postmodernisme


Teori sosial postmodern mengalami keterpecahan pendapat dan aliran diantara masing- masing tokohnya. Berkaitan dengan masalah ini posisi utama tokoh-tokoh teoritikus sosial postmodern dikelompokkan dalam kategori sebagai berikut :

  • Postmodernis ekstrem, yang berpendapat bahwa masyarakat modern telah digantikan oleh masyarakat postmodern. Jean Baudrillard adalah pemikir yang sering dikategorikan sebagai kelompok ini, karena ia percaya bahwa masyarakat telah berubah secara radikal. Paul Virilio juga termasuk pemikir yang sering dikategorikan dalam kelompok ini.

  • Postmodernis moderat, yang mengungkapkan bahwa perubahan memang telah terjadi, dan postmodernitas tumbuh-berkembang bersama dengan modernitas. Contoh dari tokoh ini adalah Frederic Jameson, Ernesto Laclau, Chantal Mouffe [1985], David Harvey [1989] serta para feminis postmodern seperti Nancy Fraser, Donna Haraway dan Linda Nicholson.

  • Posisi teoritis, Kelompok ini berpendapat: ketimbang mempersoalkan modernitas dan postmodernitas sebagai era kesejarahan atau waktu, lebih baik melihat modernitas dan postmodernitas sebagai kekuatan yang selalu menjalin hubungan seiring sejalan satu sama lain. Dengah menempatkan postmodernitas secara berkesinambungan berupaya untuk selalu menunjukkan keterbatasan–keterbatasan modernitas. posisi ketiga ini dapat dianggap sebagai alternatif di luar sikap yang mendudukkan modernitas dan postmodernitas dalam kategori waktu. Representasi terpenting dari aliran ini tak lain adalah Jean-Francois Lyotard.

Disamping klasifikasi teoritikus postmodernisme tersebut diatas, maka perlu rincian secara lebih konkret, walaupun untuk menemukan kekonkretan itu sendiri dalam wacana posmodernisme sangat sulit. Ini menyangkut luasnya bidang kajian yang dicakupnya. Mulai dari seni, arsitektur, musik, film, sastra, sosiologi, antropologi, komunikasi, teknologi bahkan sampai pada fashion.

Paradigma teori postmodern terdapat sejumlah teori yang menjadi unsur pembangun dari kokohnya postmodernisme sebagai sebuah gerakan pemikiran dan ide gagasan di tengah-tengah masyarakat. Teori – teori tersebut adalah :

  • Teori dekonstruksi (Derrida),

    Teori dekonstruksi sebagai teori posmodernisme yang memandang realitas sebagai ciptaan, atau ciptaan kembali. Teori ini memposisikan realitas yang akan diketahui atau dipahami sebagai realitas hasil ciptaan atau hasil ciptaan kembali. Disinilah dikatakan bahwa realitas itu sebagai realitas dekonstruksi, yang secara paradigmatis merupakan hasil dekonstruksi postmodernisme atas modernisme.

    Teori dekonstruksi Derrida berposisi sebagai teori utama dalam membentuk postmodernisme. Konsepsi dasar pemikiran dekonstruktif ini adalah ide pemikiran yang menempatkan segala realitas sebagai ditentukan oleh tanda. Tanda tidak memungkinkan untuk dapat menjelaskan segala suasana nya secara utuh untuk itu perlu di gempur dan dipertanyakan kembali secara kritis.

  • Teori estetika resepsi (Jauzz),

    Teori estetika yang mengabstraksikan keindahan yang bersifat konvensional mengenai estetika realisme (modernisme) Barat. Konsep teoretis estetika postmodernisme sampai saat ini yang pernah ada antara lain estetika parodi, simulasi atau duplikasi, kitsh, pastis (pastiche), camp, skizofrenia. Secara teori, teori estetika yang selaras dengan konsep dekonstruksi adalah teori estetika resepsi Hans Robert Jauzz, yang sesungguhnya merupakan bentuk penerapan dari konsep estetika yang di dalam teori dekonstruksi Derrida baru muncul secara implisit.

    Mendiskusikan tentang flasafaj keindahan sangat kompleks. Mengandung nalar intersubyektif yang sangat luar biasa. Estetika senantiasa disusun dan ditentukan oleh sejumlah variabel yang sangat selaras dengan konsep-konsep konotasi,metaforis simbolis dan lain sebagainya.

  • Teori multikultural (Storey)

    Teori multikultural memuat konsep bahwa dalam hidup ini banyak kultur, dan juga kode budaya. Kode budaya multikultur itu tidak saja berupa keaanekaragaman kode budaya belaka, yang berdiri masing-masing kode budaya dan kultur, akan tetapi juga sebagai kode budaya yang— sebagai proses komunikasi sosial dalam konteks silang budaya—telah pula menjadi kode dan milik semua kultur. Kode budaya telah diterima, dipahami, dan telah menjadi milik semua kultur ini tidak lain merupakan kode multikultur. Teori multikultural ini hakekatnya merupakan bentuk penerapan dari konsep pemikiran utama dalam teori dekonstruksi yakni pluralisme.

  • Teori intertekstual (Kristeva)

    Teori interteks Julia Kristeva memiliki pandangan bahwa teks (fakta) tidak otonom (berdiri sendiri) dan individual (terpisah, terisolir), akan tetapi ada dalam hubungan adanya teks-teks (fakta-fakta) lain. Sifat interteks itu tidak saja secara antarteks (berhubungan antara teks dengan teks yang di luar), tetapi juga intrateks (berhubungan antara teks dengan teks yang sama-sama berada dalam satu teks). Teori ini juga merupakan bentuk aplikasi dari konsep teori implisit yang terdapat dalam teori dekonstruksi Derrida, yaitu konsep teori trace (jejak, bekas, atau silsilah) dan present-abscent (kehadiran ketidakhadiran). Hal ini diterapkan dalam memandang dan memposisikan realitas postmodern.

  • Teori hipersemiotik/hiperealitas (Baudrillard)

    Teori hipersemiotik atau disebut juga hiperealitas Baudrillard—dengan mendasarkan diri pada Umberto Eco—ini menegaskan bahwa realitas adalah palsu, bohong. Dalam hubungan dengan realitas yang diciptakan, hal itu berarti, realitas sengaja dipalsukan demi suatu kepentingan tertentu. Dalam konteks penelitian ini, pemalsuan realitas itu dipandang dalam dua dimensi. Pertama, realitas dipalsukan penguasa yaitu demi kepentingan politik kekuasaannya, dan kedua, realitas palsu itu wujud sebagai realitas palsu pula oleh pihak penentang rezim penguasa.

    Jika pemalsuan realitas oleh rezim penguasa memiliki tujuan melanggengkan kekuasaan, pemalsuan oleh penentang kekuasaan bertujuan membongkar (mendekonstruksi) realitas palsu penguasa sebagai usaha menciptakan (atau mengembalikan) realitas yang seungguhnya yang dianggap sebagai realitas yang benar. Jika pemalsuan oleh rezim penguasa merupakan cara perwujudan politik kekuasaannya, maka pemalsuan oleh penentangnya merupakan cara pembongkaran politik kekuasaan rezim penguasa tersebut.

  • Teori hegemoni (Gramsci)

    Teori hegemoni (dan dominasi) Gramsci, juga merupakan bentuk penerapan dari salah satu konsep teoretis implisit dalam teori dekonstruksi Derrida, tepatnya konsep pemikirannya yang secara postmodernis menentang metanarasi35 yang dimiliki modernisme sebagai realitas universe (semesta) yang menguasai realitas narasi-narasi kecil—karena dianggap the others.

    Teori hegemoni oleh Gramsci dirumuskan sebagai teori pelaksanaan politik kekuasaan otoritarianisme, totalisme, sentralisme suatu rezim penguasa secara konstitusional untuk mencapai tujuan pengukuhan kekuasaan di samping kelancaraan pelaksanaan kekuasaan. Namun, meskipun pelaksanaannya konstitusional, berada di bawah (legitimasi) Undang-undang, diasumsikan masih muncul unsur-unsur tertentu yang mengganggu kelancaran kekuasaan, sebagai manifestasi ketidakpuasaan politis, maka oleh Gramsci teori ini dilengkapi dengan teori dominasi, yakni teori pelaksanaan kekuasaan secara militer untuk menumpas dengan kekerasan unsur-unsur pengganggu jalannya kekuasaan, yang berposisi menjadi pelengkap pelaksanaan kekuasaan hegemoni yang konstitusional. Teori ini merupakan pengungkap atau pembongkar realitas hegemoni (dan dominasi) politik kekuasaan suatu rezim penguasa.

  • Teori konsep postkolonial (E.Said)

    Melalui fenomena hegemoni sebagai indikasi keberadaan fenomena konflik postmodern dan esuai dengan teori dekonstruksi yang dipergunakan sebagai teori utama, serta sesuai dengan paradigma postmodernisme yang melandasi sistem berpikir keseluruhan wacana postmodernisme ini, konflik tersebut sesungguhnya merupakan konflik perlawanan dan perjuangan (sebagai konflik dekonstruksi) kelompok inferior terhadap superior.

    Konflik itu tidak lain adalah konflik postkolonial, yakni dekonstruksi kelompok inferior terhadap cara-cara kekuasaan kolonialisme modern pihak superior sebagai koloni penguasa modern, dengan tujuan membongkar dan menghentikan kolonialisme kekuasaan tersebut, dan menggantikannya dengan cara-cara kekuasaan demokratis postmodern (postdemokrasi).

    Secara spesifik, teori konflik postkolonial ini mendukung teori dekonstruksi dalam mengungkap fenomena konflik wacana modernisme dan postmodern sebagai konflik postkolonial.

Sebagai inti substansi dari paparan diatas kita bisa menemukan sebuah pemahaman yang lebih komprehensip. Diyakini bahwa awal kelahirannya postmodernisme merupakan kritik para teoritikus terhadap arus modernism yang semakin menggusur humanism dari manusia sendiri. Modernisme berbasis materialism dan konsumerisme yang merusak lingkungan dan menguras semangat serta nilai masyarakat.

Posmodernisme merespon terhadap inti filsafat modernism. Nietzsche, mengkritik Modernism (sains) sebagai kecurangan yang mengklaim kebenaran yang tetap, netral dan objektif padahal sesuatu itu adalah tidak bisa dibenarkan. Penjelasan ilmiah bukan penjelasan yang sebenarnya; itu hanya menghasilakan deskripsi yang rumit. Sedangkan Foucault curiga bahwa sains bukan disiplin netral seperti diklaim kaum Modernis, ada banyak teori bersaing dan berkompetisi dalam birokrasi kuasa pengetahuan.

Teoritikus lain semisal Baudrillard merasa curiga terhadap peran media massa sebagai wujud dari modernisasi yang telah banyak melakukan kebohongan. “Apakah kita benar-benar melihat apa yang terjadi? Siapa mengatakan hal itu? Inilah seolah-olah bahasa yang dapat diwakili untuk menjelaskan kecurigaan Boudrillard. Bahkan ia curiga bahwa perang teluk hanyalah drama layar kaca, tidak benar-benar terjadi. ” Peperangan modern adalah peperangan cyber,”.

Menurut kaum postmodernis semua fenomena modernisme adalah sebuah rekayasa penuh kepentingan dari agenda kapitalisme. Baudrillard melihat kapitalisme sebagai sesuatu yang mengubah manusia menjadi benda. Demikian inilah kritik fundamental atas ideologi pengatahuan modern yang dilakukan oleh Postmodernisme.

Kelompok posmodernisme meyakini bahwa kemajuan modernisme yang tidak terbendung telah membikin dunia kacau balau yang mengakibatkan dampak – dampak problem kemanusiaan yang tiada berujung. Misalnya :

  • Pertama, Pandangan dualistik yang membagi seluruh kenyataan menjadi subyek dan obyek, spiritual dan material, manusia dunia, dsb., telah mengakibatkan obyektivisasi alam secara berlebihan dan pengurasan alam semena-mena. Hal ini telah menyebabkan krisis ekologi global dunia;

  • Kedua, Pandangan modern yang bersifat obyektivitas dan positivitis akhirnya menjadikan manusia seolah menjadi obyek juga, dan masyarakatpun direkayasa sebagai mekanistik mesin. Akibatnya masyarakat cenderung menjadi tidak manusiawi;

  • Ketiga Dalam modernisme ilmu-ilmu positif-empiris diwajibkan menjadi standar kebenaran tertinggi. Sehingga nilai-nilai moral dan religius kehilangan wibawanya. Dampaknya timbullah disorientasi moral religius, yang pada gilirannya mengakibatkan pula meningkatnya kekerasan, keterasingan, depresi mental, dst.:

  • Keempat, Gerakan Materialisme. Materialisme secara ontologis selalu diiringi pula dengan materialisme praktis, yaitu bahwa hidup pun menjadi keinginan yang tak habis- habisnya untuk memiliki dan mengontrol hal-hal material.

  • Kelima, Gerakan Militerisme. Norma-norma religius dan moral di era modern tak lagi berdaya, membendung perilaku manusia, maka norma umum obyektif pun cenderung hilang juga. Akibatnya, kekuasaan yang menekan dengan ancaman kekerasan adalah satu-satunya cara untuk mengatur manusia. Ungkapan paling gamblang dari hal ini adalah militerisme dengan persenjataan nuklirnya telah memporak porandakan peradaban manusia. Inilah fenomena masyarakat modern yang paling mengerikan.

Maka disinilah posisi strategis semangat postmodernisme untuk menyelamatkan manusia dengan segala dunianya dari kekacauan dunia yang lebih parah. Meskipun juga pada tahap tertentu ide-ide besar tentang posmodernisme itu sendiri juga merupakan gaya pemikiran yang penuh kekacauan.

Diakui bahwa postmodenisme pada dasarnya mengalami absurditas secara definisi dan konseptual. Tetapi secara substansi postmodernisme secara umum mengajarkan sebuah dasar pemikiran yang menempatkan sensibilitas budaya secara proporsional dan tanpa nilai absolut.

Dalam kerangka menyandingkan paradigma modernisme dan postmodernisme diperoleh sebuah ilustrasi sebagai berikut:

paradigma modernisme dan postmodernisme

Sumber : Muhlisin, Postmodernisme dan Kritik Ideologi Ilmu Pengetahuan Modern

Referensi
  • Benhabib, Seyla, Epistemologies of Postmodernism:A Rejoinder to Jean - Francois Lyotard,Autum:Telos press, JSTOR,1984
  • Bertens, Hans, The Idea Of The Postmodern Canada,USA:Routledge: 1995
  • Calhoun, Craig, Postmodernism as Pseudohistory:Continuitis In the Complexities of Social Action,Chapel Hill: University of North Carolina.1992
  • Derrida, Jacques , Writing and Difference, Translated, with an introduction and additional notes, by Alan Bass,London :Routledge, 2001
  • Djelantik, A.A.M, ESTITIKA:Sebuah Pengantar, Bandung:Masyarakat Seni Pertunjukkan Indonesia, 1999.
  • Habib, M. A. Rafey, A History of Literary Criticism From Plato to the Present; (Main Street, Malden,USA: Blackwell Publishing, 2005
  • Hassan, Ihab , The Dismemberment of Orpheus: Toward a Postmodern Literature,New York: Oxford University Press, 1982
  • Jencks,Charles, The Language of Post-Modern Architecture, 4th ed. ,London: Academy Editions, 1984
  • Lash, Scoot , Sosiologi Postmodernisme, Jakarta:Kanisius,2004
  • Leahy, Louis, Manusia Sebuah Misteri;sintesa filosofis makhluk paradoks,Jakarta: Gramedia, 1985
  • Lyotard, Jean , The Postmodernisme and Condition, A Report on Knowledge, Oxford:Manchester University press,1984
  • Norris, Christopher , Membongkar Teori Dekonstruksi Jacques Derrida, Yogyakarta:Arruss, 2003
  • O’Donnel, Kevin, Postmodernisme, Yogyakarta: Kanisius,2009
  • Peterson, Nancy J., History, Postmodernism, and Louise Erdrich’s T racks , Autum; JSTOR, 2008.
  • Richhard, Karua Harland, Superstrukturalisme ; Pengantar komprehensip kepada semiotika, strukturalisme dan poststrukuralisme, Yogyarta;Jalasutra, 2006.
  • Rosenberg,Alex, Philosophy of Science;A Contemporary Introduction, New York:Routledge, 2005
  • Siswanto,Joko, Sistem- system Metafisika Barat,Yogyakarta:Pustaka Pelajar, 1998 Slocombe, Will, Postmodern Nihilism: Theory and Literature New york: Routledge, 2006 Sugiharto, Bambang, Postmodernisme Tantangan Bagi Filsafat.,Yogyakarta: Kanisius. 2000.
  • Turner, Bryan S, Teori-teori Sosiologi Modernitas Posmodernitas,Yogyakarta:Pustaka Pelajar. 2000.