Apa yang dimaksud dengan Nilai Tambah Ekonomis (Economic Value Added/EVA)?

Nilai Tambah Ekonomis (Economic Value Added/EVA) adalah perbedaan antara laba operasi setelah pajak dengan biaya modalnya.

Apa yang dimaksud dengan Nilai Tambah Ekonomis (Economic Value Added/EVA) ?

Kinerja sebuah perusahaan atau divisi yang merupakan bagian dari perusahaan dapat diukur dari berbagai macam perspektif. Kinerja dapar diukur dengan menggunakan rasio-rasio keuangan dengan cara melakukan perlakuan akuntansi terhadap laporan keuangan yang dibuat oleh perusahaan atau setiap divisi dalam perusahaan tersebut.
Selain dengan rasio keuangan, kinerja sebuah perusahaan atau divisi dalam perusahaan saat ini dapat diukur dengan menggunakan Nilai Tambah Ekonomis (Economic Value Added/EVA).

Konsep Economic Value Added (EVA) pertama kali diperkenalkan oleh G.Bennet Steward III, seorang manajer dari Stern Steward & Co. Dalam bukunya “The Quest For Value” (Harper Bussines, 1991). Konsep Economic Value Added menjadi sistem keuangan yang hangat dewasa ini. Menurut majalah Economist (2 Agustus 1997) lebih dari 300 perusahaan di seluruh dunia telah mengadopsi sistem berbasis Economic Value Added (EVA) untuk mengukur tingkat kinerja yang pada akhirnya akan menunjang pada setiap pengambilan keputusan yang dilakukan.

Amin Widjaja Tunggal (2001) menungungkapkan :

Economic Value Added (EVA) adalah suatu sistem manajemen keuangan untuk mengukur laba ekonomi dalam suatu perusahaan, yang menyatakan bahwa kesejahteraan hanya dapat tercipta jika perusahaan mampu memenuhi semua biaya operasi (operating cost) dan biaya modal (cast of capital).

Sedangkan menurut Paul A. Dierks (2000) :

Economic Value Added or EVA ia a measure of financial performance that combines the familiar concept of residual income with priciples of modern coporate finance spesifically that all the capital has a cost and that earning more that the cost of capital create value for shareholders. Companies consistenly generating high EVAs are top performers that are value highly by shareholders.

Selain itu menurut Frank K. Reilly dan Keith C Brown (2000)

“Economic Value Added (EVA) is an internal management performance measure that compares net operating profit to total cost of capital. Indicates how profitable company projects are as sign of management performance”

Selain pendapat di atas, ada beberapa orang ahli manajemen keuangan yang memberikan pandangan mengenai definisi Economic Value Added.

“An Economic Value Added (EVA) is a residual income measure that substract the cost of capital from the operating profit generated in the business” (Stewart, 1993). Residual Income : the diference between operating income and the minimum dollar return required on campany’s operating assets” (Hansen and Mowen, 1994)

EVA adalah nilai tambah ekonomis yang diciptakan perusahaan dari kegiatan atau strateginya selama periode tertentu. Prinsip EVA memberikan memberikan sistem pengukuran yang baik untuk menilai suatu kinerja dan prestasi keuangan manajemen perusahaan karena EVA berhubungan dengan nilai pasar sebuah perusahaan. (Lisa Linawati Utomo, 1999).

Menurut R.Agus Sartono (2001) “ Perlu dicatat bahwa EVA juga dapat diterapkan pada tingkat divisi atau subsidiari perusahaan “. Sehingga dari pernyataan ini jelas bahwa Konsep Economic Value Added juga dapat diterapkan untuk mengukur kinerja divisi atau anak perusahaan.

Manajemen dapat melakukan banyak hal untuk menciptakan nilai tambah, tapi pada pinsipnya EVA akan meningkat jika manajemen melakukan satu dari tiga hal berikut (Stewart, 1999)

  1. Meningkatkan laba operasi tanpa adanya tambahan modal
  2. Menginvestasikan modal baru ke dalam project yang mendapat tingkat pengembalian lebih besar dari baiay modal yang ada.
  3. Menarik modal dari aktivitas-aktivitas usaha yang tidak menguntungkan.

Meningkatkan laba operasi tanpa adanya tambahan modal berarti manajemen dapat menggunakan aktiva perusahaan secara efisien untuk mendapatkan keuntungan yang optimal. Selain itu , dengan berinvestasi ke proyek-proyek yang menerima tingkat pengembalian lebih besar daripada biaya modal yang digunakan berarti manajemen hanya mengambil proyek yang bermutu dan meningkatkan nilai perusahaan.

Economic Value Added (EVA) juga mendorong manajemen untuk berfokus pada proses dalam perusahaan yang menambah nilai dan mengeliminasi aktivitas yang tidak menambah nilai . Perhitungan EVA suatu perusahaan merupakan proses yang kompleks dan terpadu karena perusahaan harus menentukan terlebih dahulu biaya modalnya.

Apabila perusahaan memiliki nilai Tingkat Nilai Tambah Ekonomis (EVA) yang positif , maka dapat dikatakan bahwa manajemen dalam perusahaan tersebut telah menciptakan nilai akan tetapi apabila yang terjadi adalah sebaliknya yaitu jika Economic Value Added (EVA) negatif maka dapat dikatakan bahwa unit bisnis tersebut telah menurunkan atau merusak nilai. Kita dapat menghitung nilai yang diciptakan oleh sebuah perusahaan publik untuk setiap periode waktu dalam arti persentase , kapitalisasi ekuitas atau per share basis.

Aktivitas Penambah Nilai dan Aktivitas Bukan Penambah Nilai (Value Added and Nonvalue Added Activies)


Pemisahan aktivitas yang memiliki nilai tambah (value added) dari aktivitas yang tidak menambah nilai (nonvalue added) diawali dengan proses analisa aktivitas.

Analisis aktivitas adalah “the process of identfying , describing, of evaluating the activities an organization performs”. (Hansen and Mowen, 1994). Analisis ektivitas ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menghilangkan semua aktivitas yang tidak diperlukan dan akhirnya meningkatkan efisiensi semua aktivitas yang diperlukan. Analisis aktivitas dapat berarti pula menambah aktivitas yang value added terhadap sebuah organisasi.

Suatu sistem pengukuran kinerja dalam perusahaan harus dapat memberdakan aktivitas yang menambah nilai dan aktivitas yang tidak menambah nilai. Pembagian ini diperlukan sehingga manajemen organisasi dapat berfokus untuk megurangi biaya-biaya yang timbul akibat aktivitas yang tidak menambah nilai. Pengurangan biaya-biaya akibat aktivitas yang tidak menambah nilai ditujukan untuk peningkatan efisiensi organisasi keseluruhan.

Seperti yang dikemukakan oleh Hansen dan Mowen (1993) yaitu :

Reporting non value added costs seprately encourages managers to place more emphasis on controlling non value added activities. Furthermore , tracking these costs over time permits managers to asses the effectiveness of their activity management program.

Proses penilaian nilai tambah (Value Added Assesment/VAA) di dalam buku oleh William E.Trischler (1996) mengidentifikasikan beberapa langkah yang harus diambil untuk menghilangkan proses bisnis yang tidak perlu, diantaranya adalah :

  1. Management Establishes Business Objectives
    Langkah awal ini sangat penting karena disinilah mmanajemen menentukan dan memnginformasikan visi dan tujuan-tujuan yang ingin dicapai suatu perusahaan kepada seluruh stakeholdernya. Visi ini bersifat luas dan merupakan gambaran kemana para pemimpin perusahaan ingin melangkah. Sedangkan tujuan bersifat spesifik, jelas, dan merupakan sasaran jangka pendek dan jangka panjang. Pada akhirnya tingkat efisiensi suatu proses ditentukan oleh perinsip terpenuhi atau tidaknya kepuasan semua stakeholder , sehingga tugas manajemen adalah untuk memastikan semua tujuan yang direncanakan pada langkah ini diarahkan untuk mencapai prinsip ini.

  2. Identification of Process Stakeholders
    Proses-proses yang terjadi dalam organisasi hendaknya dapat diidentifikasi pada langkah ini. Misalkan proses untuk pemberian persetujuan terhadap transaksi tertentu . Satu tanda tangan mungkin menambah nilai untuk organisasi tersebut, tetapi tanda tangan lain tidak menambah nilai. Menghitung ulang untuk verifikasi pada sesuatu yang sama yang telah dihitung sebelumnya seringkali tidak diperlukan. Menentukan apakah suatu proses menambah nilai atau tidak terhadap organisasi sangalah sulit. Tetapi langkah ini sangat penting agar manajemen tetap berfokus pada keinginan dari para stakeholders, bukan atas kepentingan sendiri.

  3. The Process Management Team Analyzes Process Step
    Langkah ini merupakan awal dari pemisahan aktivitas atau proses yang menambah nilai kepada pelanggan dan bukan pelanggan. Tujuan manajemen adalah memaksimalkan tingkat efisiensi dan fleksibitas dari proses-proses tersebut untuk pelanggan. Proses yang menambah nilai kepada bukan pelanggan diperlukan juga supaya suatu organisasi berjalan dengan baik sehingga bisa menambah nilai bisnis suatu organisasi. Proses yang menambah nilai bisnis adalah aktivitas yang dilakukan untuk pemenuhan kebutuhan menjalankan bisnis yang hidup. Sedangkan aktivitas yang menambah nilai proses adalah untuk membantu manajemen melakukan perencanaan dan pencegahan di bdiang pekerjaan tertentu dan bertujuan untuk mengoptimalkan efisiensi proses-proses yang telah ditentukan. Manajemen kemudian mengahpuskan semua proses lain yang tidak menambah nilai kepada stakeholder. Pada akhirnya komunikasi yang baik tentang hasil dari Penaksiran Nilai Tambah (Value Added Assesment) ini antar divisi dalam suatu organisasi menjamin terlaksananya tujuan organisasi tersebut.

Indikator Nilai Tambah Ekonomis (Economic Value Added / EVA)


Terdapat beberapa Indikator dalam menilai Nilai Tambah Ekonomis (Economic Value Added / EVA) perusahaan, antara lain :

1 Net Operating Profit After Tax (NOPAT)

Jika dua perusahaan memiliki utang yang berbeda , dan juga perbedaan jumlah pembayaran bunga, perusahaan tersebut memiliki kinerja operasi yang sama tapi berbeda pada penghasilan bersih atau net income , maka perusahaan dengan lebih banyak utang akan memiliki net income yang lebih kecil. Tampak bahwa walaupun angka net income merupakan indikator keuangan yang penting namun angka tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan kinerja sesungguhnya dari operasi perusahaan atau efektivitas kinerja manajer dan karyawannya.

Untuk dapat melakukan evaluasi kinerja manajer secara lebih baik maka dimunculkan suatu formula yaitu laba operasi bersih setelah pajak (Net Operating Profit After Tax/NOPAT).

Menurut Agus Sartono (2001) NOPAT merupakan sejumlah laba perusahaan yang akan dihasilkan jika perushaaan tersebut tidak memiliki utang dan tidak memiliki utang dan tidak memiliki aset finansial. NOPAT dapat didefiniskan pula sebagai :

NOPAT = EBIT (1-tarif pajak)

2 Biaya Modal (Cost Of Capital)

Untuk memenuhi kebutuhan akan kecukupan modal, perusahaan dapat melakukan berbagai cara, salah satunya adalah dengan menggunakan modal asing atau pinjaman. Penggunaan modal asing ini tentunya akan menimbulkan apa yang dinamakan dengan biaya modal yang berasal dari bunga atas modal dari modal asing tersebut.

Biaya modal atau cost of capital adalah tingkat pengembalian minimum yang diharapkan oleh pemegang saham (pemilik) perusahaan dalam investasinya.
Menurut S.David Young yang diterjemahkan oleh Lusy Widjaja (2001)

Biaya modal adalah tingkat dari pengembalian yang diharapkan oleh penyedia dana , jika modal itu diinvestasikan di tempat lainnya, dalam suatu proyek, aktiva, atau perusahaan denganresiko yang sebanding.

Untuk praktisi bidang keuangan, istilah cost of capital digunakan untuk :

  1. Sebagai tarif diskonto (discount rate) untuk membaa arus kas masa mendatang suatu project ke nilai sekarang…
  2. Sebagai tarif minimum yang diinginkan untuk menerima project baru.
  3. Sebagai biaya modal (capital charge) dalam penghitungan Economic Value Added.
  4. Sebagai bandingan (benchmark) untuk menaksir tarif biaya pada modal yang digunakan.

Biaya Modal sangat dipengaruhi oleh hubungan antara resiko dan tingkat pengembalian, dimana semakin besar resiko yang ditanggung oleh investor semakin tinggi pula tingkat pengembalian yang dikehendaki sebelum nilai tambah dapat diciptakan dan semakin tinggi biaya modal yang timbul.

Komponen biaya modal terdiri dari biaya ekuitas dan biaya hutang. Biaya ekuitas adalah tingkat pengembalian yang dikehendaki investor karena adanya ketidakpastian tingkat laba. Kewajiban membayar bunga dan pokok hutang membuat laba bersih perusahaan lebih bervariasi daripada laba operasi, dan sehingga menyebabkan timbulnya tambahan resiko . Jadi biaya ekuitas ini mencakup adanya resiko bisnis dan resiko finansial.

Resiko bisnis adalah resiko yang berhubungan dengan tidak stabilnya laba atau profit, sedangkan resiko keuangana adalah resiko kesulitan finasial dalam hal pembayaran biaya bunga dan pokok pada hutang.

Biaya hutang adalah tingkat pengembalian yang dikehendaki karena adanya resiko kredit, yaitu resiko perusahaan dalam memenuhi kewajiban pembayaran bunga dan pokok hutang. Dengan kata lain biaya hutang adalah tarif yang dibayar perusahan untuk memperoleh tambahan hutang baru jangka panjang di pasar sekarang.

3 Biaya Modal Tertimbang Rata-Rata (Weighted Average Cost Of Capital/WACC)

Dalam mengukur biaya modal terdapat beberapa cara untuk menghitung berapa biaya modal yang dikeluarkan dari perusahaan atas modal asing yang dimilikinya. Salah satu metode penghitungan biaya modal tersebut memakai metode Biaya Modal Tertimbang Rata-Rata (Weighted Average Cost Of Capital/WACC).

Weighted Average Cost Of Capital atau WACC adalah biaya ekuitas dan biaya hutang masing-masing dikalikan dengan persentase ekuitas dan hutang dalam struktur modal perusahaan. (Lisa Linawati Utomo, 1999:38). Karena biaya bunga (interest) dapat dikurangkan dari penghasilan dalam rangka mennetukan pendapatan kena pajak (interest on debt is tax deductible), maka cost of debt dalam perhitungan WACC adalah after tax cost of debt.

Dalam menghitung suatu WACC perusahaan kita perlu mengetahui hal-hal berikut :

  1. Jumlah utang dalam struktur modal, pada nilai pasar.
  2. Jumlah ekuitas dalam struktur modal , pada nilai pasar.
  3. Biaya utang
  4. Tingkat pajak
  5. Biaya ekuitas

Supaya menambah nilai dalam perusahaan, sebuah investasi atau proyek harus memperoleh tingkat pengembalian yang lebih besar daripada WACC. Strategi manajemen dalam berinvestasi seyogyanya mempertimbangkan ada tidaknya penciptaan nilai tambah ekonomis dari investasi baru tersebut. G. Bennet Stewart (Stewart, 1993) mengidentifikasikan tiga strategi oleh manajemen dalam upaya menciptakan nilai yaitu :

  1. Improve operating eficiency
  2. Achieve profitable growth or
  3. Rationalize and exit unrewarding business : liquidate unproductive capital or curtail investment in unrewarding projects.

Untuk meningkatkan efisiensi operasional, manajemen memisahkan value added activities dari non-value added activities. Proses-proses yang tidak menambah nilai kepada stakeholder, khususnya pelanggan dihilangkan dan memperbaiki proses yang menciptakan nilai sesuai dengan proses penaksiran nilai tambah. Dengan membatasi investasi di proyek-proyek yang kurang menguntungkan diharapkan manajemen dapat menggunakan modalnya secara lebih baik untuk investasi di proyek yang menambah nilai dan tingkat pertumbuhan perusahaan.

Menghitung Tingkat Economic Value Added (EVA)


Dalam menghitung tingkat nilai tambah ekonomis (Economic Value Added/EVA), ada beberapa faktor yang harus dicari atau dihitung terlebih dahulu, seperti : NOPAT dan Cost Of Capital.

Sepeti yang dikatakan oleh S. David Young (2001) :

Sebagaimana telah disebutkan dalam pengertian mengenai Economic Value Added, dimana EVA adalah sama dengan NOPAT dikurangi biaya modal. Biaya modal sama dengan modal yang diinvestasikan perusahaan dikalikan rata-rata tertimbang dari biaya modal. WACC sama dengan jumlah biaya dari setiap komponen modal, utang jangka pendek, utang jangka panjang, dan ekuitas pemegang saham ditimbang berdasarkan proporsi relatifnya dalam struktur modal perusahaan pada nilai pasar.

Modal yang diinvestaikan adalah jumlah keseluruhan keuangan perusahaan terlepas dari kewajiban jangka pendek , pasiva yang tidak menanggung bunga, seperti utang, upah yang akan jatuh tempo dan pajak yang akan jatuh tempo. Modal yang diinvestasikan sama dengan jumlah ekuitas pemegang saham , seluruh utang jangka pendek, dan jangka penjang yang menanggung bunga , utang dan kewajiban jangka panjang lainnya.

Lebih singkatnya tingkat Economic Value Added (EVA) suatu perusahaan atau sebuah divisi dalam perusahaan dapat dhitung dengan rumus :

EVA = NOPAT – Capital Charges,

dimana :
NOPAT = EBIT (1-Tax)
Capital Charges = Invested Capital x Cost Of Capital (Amin Widjaja Tunggal 2001)

Invested Capital adalah modal yang diinvestasikan oleh perusahaan atau unit bisnis dalam perusahaan, sedangkan cost of capital dapat dicari atau dihitung dengan menggunakan metode biaya modal tertiimbang rata-rata (Weighted Average Cost Of Capital/WACC).

Sebetulnya banyak para pakar ekonomi yang ikut serta merumuskan cara untuk menghitung EVA akan tetapi dari semua itu rumus di atas adalah rumus yang paling dapat dimengerti dan dipahami serta cukup sederhana untuk dapat diaplikasikan dalam menghitung tingkat nilai tambah ekonomis dalam hal untuk mengukur kinerja perusahaan atau divisi dalam suatu perusahaan.

Keunggulan Economic Value Added (EVA)


Seperti yang telah disebutkan diatas tadi bahwa Economic Value Added atau Nilai Tambah Ekonomis adalah merupakan suatu terobosan baru dalam mengukur tingkat kinerja suatu perusahaan. Biasanya kinerja suatu perusahaan diukur hanya dengan menggunakan perhitungan rasio keuangan biasa. Pengukuran kinerja dan prestasi perusahaan atau unit bisnis dalam perusahaan berdasrkan metode dan pedoman rasio keuangan tidak memberikan indikator yang sebenarnya tentang keberhasilan manajemen.

Adanya distorsi akuntansi dimana manajemen mempunyai kontrol penuh atas metode penialian yang digunakan untuk menyusun laporan keuangan menyebabkan pengukuran kinerja berdasarkan laporan keuangan tidak dapat diandalkan.

Keunggulan yang akan didapat oleh perusahaan yang menerapkan konsep Economic Value Added dalam pengukuran kinerjanya adalah :

  1. EVA dapat menghitung laba ekonomi sebenarnya pada suatu perusahan selama periode tertentu.
  2. EVA mencerminkan residual income yang tersisa setelah semua biaya modal termasuk modal saham, telah dikurangkan.
  3. EVA memberikan pengukuran yang lebih baik atas nilai tambah yang diberikan perusahaan kepada pemegang saham.
    (Agus Sartono, 2001)

Manfaat Economic Value Added (EVA)


Sebagai suatu teori yang baru, konsep Economic Value Added dapat memberikan manfaat bagi para pemakainya, atau perusahaan dan unit bisnis dalam perusahaan yang telah menerapkan konsep EVA dalam pengukuran kinerja.

Menurut Lisa Linawati Utomo (1999) Konsep Economic Value Added tidak hanya digunakan dalam penilaian suatu investasi saja. Konsep Economic Value Added banyak berperan dalam hal goal setting, capital budgeting, performance assesment, dan incentive compensation.

Dalam internal perusahaan, konsep Economic Value Added bermanfaat diantaranya untuk :

  1. Measurement (Pengukuran), dalam hal ini adalah pengukuran tingkat kinerja perusahaan. Dengan mengaplikasikan konsep Economic Value Added, maka perusahaan dapat mengetahui kineranya secara nyata, sehingga perusahaan dapat menetapkan kebijakan yang dapat menambah nilai perusahaan dan menghilangkan kebijakan yang meruisak atau mengurangi nilai perusahaan.

  2. Management System (Sistem Manajemen), sistem manajemen dalam perusahaan akan berubah apabila perusahaan tersebut mengaplikasikan Economic Value Added, karena dengan konsep EVA perusahaan atau unit bisnis dalam perusahaan akan menetapkan kebijakan, prosedur dan metode yang akan menambah nilai perusahaan.

  3. Motivation (Motivasi), dengan penerapan EVA, maka setaip stakeholders perusahaan akan termotivasi untuk berlomba menambah nilai perusahaan, karena dengan menambah nilai perusahaan akan mengakibatkan keuntungan yang diperoleh bagi para stakeholder perusahaan itu sendiri.

  4. Mindset (Pola Pikir), pola pikir para stake holder juga akan megalami pergeseran dari hanya mengandalkan laba yang akan diperoleh menjadi nilai yang bertembah dalam perusahaan atas aktivitas-aktivitas penambah nilai bagi perusahaannya.

Menurut Tunggal, Economic Value Added adalah suatu sistem manajemen keuangan untuk mengukur laba ekonomi dalam suatu perusahaan, yang menyatakan bahwa kesejahteraan hanya dapat tercipta jika perusahaan mampu memenuhi semua biaya operasi ( operating cost ) dan biaya modal ( cost of capital ). Suatu perusahaan yang menambah modal usaha dnegan menerbitkan saham di pasar modal dapat dikatakan telah berhasil memaksimalkan dana investor ketika nilai EVA positif. Kondisi ini menandakan perusahaan layak untuk menjadi tempat investasi yang menguntungkan bagi pihak investor di pasar saham.

EVA adalah suatu pengukuran dnegan memperhitungkan secara tepat semua faktor-faktor yang berhubungan dengan penciptaan nilai. Hubungan antara EVA dan nilai perusahaan dapat dijelaskan, bahwa EVA dapat digunakan sebagai alat untuk menilai perusahaan apabila perhitungan EVA hanya pada periode masa kini tetapi juga mencakup periode yang akan datang. Hal ini disebabkan karena EVA pada tahun tertentu menunjukkan nilai sekarang dari total penciptaan nilai selama umur perusahaan tersebut.

Metode EVA pertama kali dikembangkan oleh Steward & Stern, seorang analis keuangan dari perusahaan Stern Steward & co. pada tahun 1993. Konsep Economic Value Added (EVA) mengukur nilai tambah dengan cara mengurangi biaya modal ( cost of capital ) yang timbul akibat investasi yang dilakukan oleh perusahaan. Selain sebagai alat ukur perusahaan, EVA juga dapat digunakan untuk membuat perusahaan lebih fokus terhadap penciptaan niali perusahaan ( creating firm’s value ).

Keunggulan EVA

Menurut Iramani dan Febrian, EVA sebagai penilai kinerja perusahaan mempunyai keunggulan yaitu: EVA dapat digunakan sebagai penciptaan nilai (value creation).20
Ada keunggulan EVA yang lain adalah:

  1. EVA memfokuskan penilaian pada nilai tambah dengan memperhitungkan beban sebagai konsekuensi investasi.
  2. EVA merupakan alat perusahaan dalam mengukur harapan yang dilihat dari segi ekonomis dalam pengukurannya, yaitu dengan memperhatikan harapan penyandang dana secara adil dimana derajat keadilan dinyatakan dengan ukuran tertimbang dari struktur modal yang ada dan berpedoman pada nilai pasar dan bukan pada nilai buku.
  3. Perhitungan EVA dapat dipergunakan secara mandiri tanpa memerlukan data pembanding seperti standar industri atau data perusahaan lain sebagai konsep penilaian.
  4. Konsep EVA dapat digunakan sebagai dasar penilaian pemberian bonus pada karyawan terutama pada divisi yang memberikan EVA lebih sehingga dapat dikatakan bahwa EVA menjalankan stakeholders satisfaction concepts.
  5. Pengaplikasian EVA yang mudah menunjukan bahwa konsep tersebut merupakan ukuran praktis, mudah dihitung dan mudah digunakan sehingga merupakan salah satu bahan pertimbangan dalam mempercepat pengambilan keputusan bisnis.

Kelemahan EVA

Menurut Iramani dan Febrian, EVA mempunyai kelemahan yaitu:

  1. EVA hanya mengukur hasil akhir (result) dan tidak mengukur aktivitas-aktivitas penentu, seperti loyalitas dan tingkat retensi konsumen.
  2. EVA terlalu bertumpu pada keyakinan bahwa investor sangat mengandalkan pendekatan fundamental dalam mengkaji dan mengambil keputusan untuk menjual dan membeli saham tertentu.