© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apakah yang dimaksud dengan takut?

Takut, menurut KBBI, mempunyai arti merasa gentar (ngeri) menghadapi sesuatu yang dianggap akan mendatangkan bencana; takwa; segan dan hormat; tidak berani (berbuat, menempuh, menderita, dan sebagainya); gelisah; khawatir

Rasa takut adalah defence mechanism, atau mekanik bela diri. Maksudnya ialah bahwa rasa takut timbul pada diri seseorang disebabkan adanya kecenderungan untuk membela diri sendiri dari bahaya atau hanya perasaan yang tak enak terhadap sesuatu hal.

Menurut Doktor Tony Whitehad , dalam bukunya yang berjudul “Fears and Phobias”, definisi takut adalah sesuatu yang agak kompleks, didalamnya terdapat suatu perasaan emosional dan sejumlah perasaan jasmaniah.

Spielberger menambahkan bahwa ketakutan adalah state anxiety yaitu suatu keadaan/kondisi emosional sementara pada diri seseorang yang ditandai dengan perasaan tegang dan kekhawatiran yang dihayati secara sadar serta bersifat subjektif. Bisanya berhubungan dengan situasisituasi lingkungan yang khusus, misalnya situasi ujian atau tes .

Menurut Gunarsa, 2008, Rasa takut ditimbulkan oleh adanya ancaman, sehingga seseorang akan menghindar diri dan sebagainya. Kecemasan atau anxietas dapat ditimbulkan oleh bahaya dari luar, mungkin juga oleh bahaya dari dalam diri seseorang, dan pada umumnya ancaman itu samar-samar. Bahaya dari dalam, timbul bila ada sesuatu hal yang tidak dapat diterimanya, misalnya pikiran, perasaan, keinginan dan dorongan.

Selain itu,menurut Tallis, 1991, ketidak mampuan mengendalikan pikiran buruk yang berulang-ulang dan kecenderungan berpikir bahwa keadaan akan semakin memburuk merupakan dua ciri penting dari rasa cemas. Segala bentuk situasi yang mengancam kesejahteraan organisme
dapat menimbulkan kecemasan.

Ancaman fisik, ancaman terhadap harga diri, dan tekanan untuk melakukan sesuatu di luar kemampuan, juga menimbulkan kecemasan. Yang dimaksud dengan kecemasan adalah emosi yang tidak menyenangkan, yang ditandai dengan istilah-istilah seperti “kekhawatiran”, “keprihatinan”, dan “rasa takut”, yang kadang-kadang kita alami dalam tingkat yang berbeda-beda.

Kecemasan adalah suatu keadaan tertentu (state anxiety), yaitu menghadapi situasi yang tidak pasti dan tidak menentu terhadap kemampuannya dalam menghadapi objek tersebut. Hal tersebut berupa emosi yang kurang menyenangkan yang dialami oleh individu dan bukan kecemasan sebagai sifat yang melekat pada kepribadian (Ghufron, 2010)

Freud salah satu pakar pertama yang mengfokuskan diri pada makna penting kecemasan membedakan kecemasan objektif dan kecemasan neurotis.

  • Freud memandang kecemasan objektif sebagai respon yang realistis terhadap bahaya eksternal , yang maknanya sama dengan rasa takut.
  • Kecemasan neurotis timbul dari konflik tak sadar dari dalam diri individu karena konflik itu tidak disadari, individu tidak tidak mengtahui alasan kecemasannya.

Orang yang mengalami kecemasan bila menghadapi situasi yang tampak berbeda diluar kendali mereka. Mungkin itu merupakan situasi baru yang harus kita atur dan kita padukan dengan pandangan kita mengenai dunia dan diri kita sendiri. Perasaan tidak berdaya dan tidak mampu mengndalikan apa yang terjadi merupakan pokok dari teori kecemasan.

Rasa takut adalah suatu tanggapan emosi dari diri kita terhadap adanya sebuah ancaman. Takut adalah sebuah mekanisme mendasar untuk mempertahankan/melindungi diri sendiri, merupakan respon dari diri kita terhadap stimulus yang berupa suatu ancaman yang membahayakan.

Beberapa ahli juga mengatakan bahwa takut termasuk dalam salah satu emosi dasar manusia selain bahagia, sedih dan marah.

Rasa takut bukan hanya emosi yang normal, tetapi juga emosi yang esensial. Orang yang tidak punya rasa takut justru berada dalam bahaya yang serius, karena rasa takut adalah mekanisme mempertahankan/melindungi diri dari situasi yang mengancam. Sebagian orang mengalami ketakutan lebih dari orang lain.

Takut tidak hanya emosi, bersamaan dengan itu akan muncul juga reaksi pada badan jasmani kita, misalnya keringat dingin, gemetar, otot lemas, pucat, tubuh kaku, dan sebagainya.

Sementara cemas atau khawatir adalah takut akan suatu hal yang belum diketahui secara pasti. Kecemasan berbeda dari rasa takut, dimana rasa takut timbul karena ada penyebab yang jelas (ada fakta yang menunjukkan sebuah keadaan yang benar membahayakan), sedangkan kecemasan timbul dari respon terhadap suatu situasi yang sebenarnya tidak menakutkan, atau hanya rekaan pikiran sendiri (subyektif) dan prasangka pribadi.

Manusia akan merasa cemas dan tegang ketika menghadapi suatu situasi yang mengancam atau stres. Perasaan tersebut merupakan reaksi yang normal terhadap stres.

Gangguan kecemasan adalah sekelompok gangguan di mana kecemasan merupakan gejala utama (gangguan kecemasan umum dan gangguan panik) atau jika seseorang berupaya mengendalikan perilaku maladaptif tertentu (gangguan fobik dan gangguan obsesif-kompulsif).

Menurut Yi-Fu Tuan (1979), rasa takut (fear) merupakan perasaan yang kompleks, yang mencakup di dalamnya dua batasan yaitu bahaya (alarm) dan kecemasan (anxiety). Tanda bahaya tersebut dipicu oleh munculnya keadaan atau lingkungan sekitar yang mengganggu atau mencurigakan. Pada hewan reaksi terhadap hal demikian adalah melarikan diri ataupun bertarung.

Kecemasan adalah sebuah perasaan atau naluri terhadap kemungkinan ancaman atau bahaya, yang dalam bereaksi masih memungkinkan adanya antisipasi. Antisipasi mungkin dilakukan karena pada dasarnya kecemasan timbul justru karena tidak hadirnya keadaan ataupun obyek di sekitar yang dapat dikatakan berbahaya, melainkan hanya memiliki potensi untuk menjadi ancaman bahaya (Yi-Fu Tuan, 1979).

Berdasarkan etimologinya, menurut istilah Inggris Kuno, rasa takut (fear) bukan emosi akibat bencana atau malapetaka, melainkan lebih kepada peristiwa itu sendiri. Penggunaan istilah “fear” dengan penekanan “sense of fear” pertama kali ditemukan pada tulisan abad pertengahan di Inggris tengah yang dibuat oleh circa tahun 1290. Penjelasan yang paling mungkin untuk perubahan makna kata “fear” itu sendiri adalah keberadaan kata “frighten” dalam bahasa Inggris kuno yang juga berarti “menjadi takut” (The American Heritage Dictionary of the English Language, 2000).

Dalam kamus ASAP Directory of Anxiety and Panic Disorder, kecemasan dapat diartikan sebagai reaksi psikologis ataupun biologis terhadap suatu tekanan. Termasuk di dalam kecemasan tersebut adalah rasa khawatir yang berlebihan, yang gejalanya dapat berupa kesulitan untuk mengenal tempat dan berorientasi (cognitive difficulties), terlalu sensitif, pusing, otot tubuh melemah, susah untuk bernafas, detak jantung tidak teratur, berkeringat, dan sensasi lainnya.

Sementara itu, rasa takut menurut Ensiklopedi Indonesia (1987) dapat diartikan sebagai suatu fenomena kejiwaan yang bertautan dengan perasaan hati nurani, yang dapat timbul dalam berbagai tingkatan dan dapat disertai dengan gejala-gejala jasmaniah. Dimulai dari perasaan khawatir ringan, kepanikan, sampai dengan kehilangan akal sehat dalam bertindak. Umumnya rasa takut ini dianggap sebagai naluri untuk menyelamatkan diri.

Kesimpulan dari penjelasan diatas, rasa takut merupakan sebuah fenomena psikologis yang kompleks terhadap disadarinya ancaman bahaya aktual maupun potensi ancaman bahaya di sekitar diri seseorang, yang dianggap dapat mendatangkan bencana atau malapetaka, dan kemudian dapat menghasilkan reaksi maupun gejala-gejala fisik atau jasmaniah.

Mengalami Rasa Takut


Manusia mulai mengalami rasa takut sejak kebutuhan fisiknya terpenuhi. Ia kemudian mulai memberi perhatian dan mempertimbangkan keberadaan hal-hal di luar dirinya terhadap eksitensi dan kelangsungan hidupnya. Hal-hal berupa ketidakpastian akan kelangsungan hidup serta eksistensinya dapat dianggap sebagai ancaman, baik dalam wujud fenomena alam maupun sosial yang menghadirkan kecemasan. Ketidakpastian tersebut menyangkut hal-hal yang tidak dapat sepenuhnya dikendalikan oleh manusia di luar dirinya sendiri, seperti kehidupan alam dan manusia lain.

Pengalaman diri saat meragukan sesuatu dapat dianggap sebagai suatu ketakutan ringan atau kewaspadaan, khususnya sebagai reaksi terhadap seseorang atau sesuatu yang tidak dikenali serta berpotensi membawa bahaya. Sebagai contoh, seseorang mungkin saja meragukan seseorang yang dianggapnya berkelakuan aneh atau tidak biasa. Begitu pula, seseorang dapat saja meragukan keamanan atau kekuatan dari sebuah jembatan tua berkarat yang membentang hampir 100 kaki. Keraguan dapat menjadi sebuah kemampuan menyesuaikan diri, tanda peringatan dini terhadap situasi yang dapat menyebabkan ketakutan dan bahaya yang lebih besar lagi. Mencoba memulihkan keyakinan biasanya dapat mengurangi rasa takut semacam ini, seperti misalnya melakukan, mencoba atau menguji sesuatu berulang-ulang untuk memperoleh keyakinan dari suatu hal (Wikipedia: Fear, 2010).

Berbeda dengan hewan, manusia juga dibekali dengan akal pikiran, emosi, bahkan kemampuan untuk berimajinasi atau berkreasi. Meskipun manusia dapat berpikir dan bertindak untuk mengatasi rasa takutnya, manusia juga cenderung mencitrakan atau bahkan menciptakan rasa takut dari hasil pemikirannya sendiri, misalnya dalam bentuk rasa malu dan bersalah. Oleh sebab itu jangkauan rasa takut manusia dapat bevariasi dan semakin berkembang sesuai kemampuan berpikirnya (Yi-Fu Tuan, 1979).

Selain itu, manusia juga mengembangkan rasa takut tertentu sebagai hasil dari belajar. Hal ini telah dipelajari dalam bidang psikologi sebagai pengondisian yang dimulai dengan eksperimen Little Albert oleh John B. Watson di tahun 1920. Dalam eksperimen ini seorang bocah berusia 11 bulan dikondisikan untuk takut terhadap tikus putih di dalam sebuah laboratorium. Rasa takut tersebut kemudian menyebar menjadi ketakutan terhadap obyek putih lainnya yang menyerupai bulu.

Ketakutan biasanya dianggap sebagai emosi negatif. Hal yang membuat rasa takut jauh dari sesuatu yang mengasikan mungkin adalah ketidakmampuan manusia untuk mengontrol keadaan atau peristiwa (Wikipedia: Fear, 2010)

Sering kali kita tidak siap atau menyadari kapan rasa takut itu akan datang menghampiri. Kita dapat berasumsi tentang bagaimana kita akan bereaksi dalam situasi tertentu, namun hingga situasi tersebut benar terjadi, kita mungkin mendapati bahwa apa yang kita lakukan benar-benar berbeda. Banyak pencari tantangan yang kemudian terdiam membeku saat takut. Hal ini dapat kita lihat dalam aksi olahraga ekstrim atau ajang permainan roller-coaster di taman hiburan.

Pada dasarnya, ketakutan muncul akibat keberadaan hal-hal yang tak dapat sepenuhnya dikontrol maupun diprediksi oleh manusia. Ketidakmampuan manusia dalam memprediksi hal-hal yang akan terjadi menciptakan ketakutan dini yang biasa disebut cemas. Cemas atau takut dapat berkembang sesuai dengan hasil belajar manusia sepanjang pengalaman hidupnya. Meskipun demikian, hasil belajar itu pula yang dapat menjadi peringatan atau tanda untuk mengantisipasi datangnya ancaman atau bahaya sebagai penyebab munculnya berbagai macam rasa takut.

Macam Rasa Takut


Sebagai fenomena biologis, rasa takut, sebagai contoh, terdapat dalam pola standar fisiologis melintasi waktu dan budaya, namun penyebab, perwujudan, interpretasi dan evaluasinya dapat bervariasi, tidak hanya lintas kebudayaan, bahkan di dalam suatu budaya tertentu sekalipun.

Rasa takut juga dapat merupakan sebuah konstruksi sosial yang lebih luas, dimana hanya terfokus dan dihidupkan oleh hal-hal tertentu, seperti Tuhan atau dewa, wabah penyakit, pencemaran, kekuasaan kekejaman, namun tidak pada hal-hal lainnya. Bagaimanapun, secara umum, rasa takut, baik itu rasa takut menderita sesuatu atau rasa takut melakukan sesuatu, akan membangkitkan naluri untuk menyelamatkan diri, sebagai bentuk pembebasan dari situasi yang membahayakan atau menyulitkan (Newbold, 2006).

Berdasarkan penyebabnya, rasa takut dapat dikelompokan menjadi beberapa kategori sebagai berikut (Newbold, 2006):

  • Rasa takut kehilangan seseorang yang dicintai atau benda milik atau keanggotaan dari sebuah badan / institusi

  • Rasa takut akan kematian, tindak kekerasan, hukuman, kritikan tajam, cedera yang dilakukan seseorang terhadap orang lain atau benda miliknya (dalam kategori ini, lebih dititikberatkan pada kekerasan fisik, namun tidak sepenuhnya)

  • Rasa takut akan hal supernatural atau ajaib atau sangat tidak biasa, akan penolakan dan hukuman dari Tuhan atau dewa, atau secara sederhana ketakutan akan kekuatan Tuhan disekitar kita

  • Rasa takut akan orang lain yang mungkin dapat menimbulkan intervensi pada kepentingan mereka, atau usaha untuk membantu.

Sangatlah jelas bahwa kategori penyebab di atas dapat saling bertumpang tindih satu sama lain hingga batasan tertentu dan tingkat ketakutan pada seseorang dapat bertambah dalam intensitas maupun cakupannya ketika tindakan pencegahan gagal dan ancaman bertambah.

Berdasarkan asal usul penyebabnya, rasa takut dapat dibagi menjadi 2, yaitu (Shadily (ed.), 1987):

  • Yang timbul dengan diketahui penyebab dan asal usulnya. Rasa takut ini muncul karena adanya ancaman atas keselamatan maupun kejadian kongkret yang membawa bahaya. Dan karena dapat diketahui penyebabnya, seseorang dapat mengambil tindakan seperlunya untuk menghindar, menangkis, ataupun mencegah sambil menghilangkan rasa takutnya.

  • Yang timbul tanpa diketahui penyebab dan asal usulnya. Umumnya manusia tidak berdaya atas ketakutan semacam ini. Karena tidak diketahui penyebabnya maka hal tersebut tidak dapat dicegah atau ditiadakan dari kesadaran manusia. Hal inilah yang kemudian disebut phobia.

Dari hal tersebut di atas dapat dilihat bahwa manusia memiliki rasa takut dengan variasi dan tingkatan yang berbeda-beda, mulai dari rasa takut yang sederhana dan dapat diatasi sampai dengan rasa takut yang tidak dapat dicegah maupun diatasi, bahkan cenderung menyebabkan tindakan yang tidak masuk akal. Rasa takut biasa, kecemasan, atau kekhawatiran dapat digolongkan dalam tingkat rasa takut yang dapat diketahui penyebabnya dan dapat diatasi.

Sumber ancaman yang menjadi penyebab rasa takut ini dapat berasal dari:

  • Fenomena alam, yaitu peristiwa-peristiwa alam yang dianggap dapat mengancam eksistensi dan kelangsungan hidup manusia seperti bencana alam, wabah penyakit, dll.

  • Fenomena sosial, yaitu peristiwa-peristiwa terkait hubungan antara manusia satu dengan manusia lain, yang dianggap dapat mengancam keamanan dan kelangsungan hidupnya seperti perang, tindak kriminal, dll.

Sementara itu, phobia tergolong rasa takut yang hingga saat ini belum diketahui penyebabnya secara pasti oleh para dokter dan ahli kejiwaan, sehingga sulit untuk diatasi ataupun diantisipasi.