Apa yang dimaksud dengan stres ?

Stres

Stres merupakan sistem tanda bahaya dari dalam tubuh yang mempersiapkan tubuh untuk bertindak menghadapi pemicu dari stres tersebut. Stres dapat didefinisikan sebagai suatu reaksi individu terhadap tuntutan atau tekanan yang berasal dari lingkungan atau dari dalam diri sendiri.

Apa yang dimaksud dengan stres ?

Stres,menurut Charles D, Spielberger, dapat diartikan sebagai tekanan, ketegangan atau gangguan yang tidak menyenangkan yang berasal dari luar diri seseorang.

Sedangkan menurut Stranks (2005), stres dapat didefinisikan dalam banyak cara, antara lain :

  • Stres merupakan respon umum untuk menyerang.
  • Stres merupakan pengaruh apa saja yang mengganggu keseimbangan natural dari tubuh yang hidup.
  • Stres merupakan daya dalam tubuh yang dikeluarkan dalam rangka merespon keadaan- keadaan lingkungan tertentu.
  • Stres merupakan respon umum terhadap perubahan lingkungan.
  • Stres merupakan respon psikologis yang terjadi saat gagal mengatasi masalah.
  • Stres merupakan suatu perasaan gelisah yang berlarut-larut, dimana setelah periode waktu tertentu, menimbulkan penyakit.
  • Stres merupakan respon non-spesifik dari tubuh atas tuntutan-tuntutan yang ditimpakan kepadanya.

Secara lebih lengkap, Mason mendeskripsikan stres dalam beberapa cara berbeda saat kata stres itu sendiri digunakan, yaitu :

  • The stimulus : merupakan definisi kita mengenai stressor .
  • The response : merupakan definisi kita mengenai stress reactivity .
  • The whole spectrum of interacting factors : merupakan definisi stres dari Lazarus.
  • The stimulus-response interaction .

Stres dapat dikonsptualisasikan sebagai perbedaan antara pressure (tekanan) dan adaptability (kemampuan menyesuaikan diri). Jadi, stres = pressure - adaptability .

Stressor


Disebutkan dalam Greenberg (2009), stressor adalah suatu stimulus yang memiliki potensi memicu terjadinya ‘ fight-or-flight response ’. Menurut beliau, stressor dimana tubuh kita terlatih untuk menghadapinya adalah juga ancaman bagi keselamatan kita, dan ’ fight-or- flight response ’ merupakan respon alami yang diperlukan tubuh, dan kecepatannya vital bagi pertahanan ( survival ).

Fight-or-flight response” merupakan reaksi stres di dalam tubuh yang mencakup meningkatnya detak jantung, pernafasan, tekanan darah, dan serum kolesterol. Filosofi dari “fight-or-flight response” ini adalah: saat berhadapan dengan suatu ancaman, tubuh mempersiapkan dirinya untuk; apakah akan tetap berada di tempat dan menghadapi ancaman tersebut (fight), ataukah akan kabur/lari menjauhi ancaman tersebut (flight).

Stressor tidak hanya datang dalam bentuk ancaman terhadap keselamatan fisik yang membuat kita mampu mengambil tindakan cepat seperti segera lari atau diam di tempat dan menghadapinya. Terdapat jenis stressor lain dimana kita tidak dapat mengambil tindakan cepat seperti itu karena dianggap tidak pantas ataupun tidak memungkinkan untuk dilakukan. Stressor jenis ini disebut stressor simbolik, contohnya kehilangan status, ancaman terhadap self-esteem , beban kerja yang berlebih, atau terlalu sesak (over crowding).

Dalam hidup ini kita menghadapi beragam stressor . Sebagian diantaranya berkaitan dengan lingkungan (panas, dingin, toxin), sebagian psikologis (depresi, ancaman terhadap self-esteem ), beberapa lainnya sosiologis (kematian orang yang kita cintai, unemployment ) dan filosofis (tujuan hidup, pemanfaatan waktu).

Stress Reactivity


The fight-or-flight response” disebut sebagai stress reactivity. Reaksi ini secara garis besar mencakup meningkatnya ketegangan otot; meningkatnya detak jantung, volume dan output stroke; meningkatnya tekanan darah; meningkatnya rangsangan syaraf; kurangnya saliva (air liur) di mulut; meningkatnya penyimpanan sodium; meningkatnya produksi peluh/keringat; perubahan kecepatan respirasi/pernafasan; meningkatnya serum glukosa; meningkatnya pelepasan asam hidrokolik dalam perut; perubahan gelombang otak; dan meningkatnya urinase. Reaksi ini mempersiapkan kita untuk segera bertindak saat respon seperti itu dibenarkan/dapat dilakukan. Saat kita membangun produk-produk stres yang tidak kita digunakan, reaksi stres ini menjadi tidak sehat. Semakin lama (durasi) fisiologi kita bervariasi dari ukuran dasarnya dan semakin besar (tingkat) varian dari ukuran dasar tersebut, maka semakin cenderung kita mengalami efek illness yang diakibatkan dari stress reactivity ini (Greenberg, 2009).

Dalam hal reactivity ini, Greenberg (2009) menyebutkan bahwa terdapat beberapa perbedaan antara cara pria dan wanita mengatasinya, dimana Shelly Taylor dan para koleganya menemukan bahwa wanita cenderung memperlihatkan aktivitas nurturing yang didesain untuk melindungi diri mereka dan orang lain dalam upayanya mengatasi stres. Aktivitas ini disebut “tend-and-befriend”. Para peneliti berargumen bahwa wanita lebih menggunakan kelompok sosial dalam merespon stres ketimbang pria dan sebaliknya, pria lebih cenderung memperlihatkan “flight-or-fight” dalam merespon stres ketimbang wanita.

Stres merupakan suatu kondisi internal seseorang yang dirasakan membahayakan, tidak terkontrol ataupun kejadian diluar batas kemampuan individu yang disebabkan oleh fisik atau lingkungan dan situasi sosial. Stres merupakan keadaan atau kejadian yang tegang atau melebihi kemampuan individu untuk mengatasinya. (Lazarus & Folkman)

Stres merupakan peristiwa yang dirasakan dapat membahayakan kesejahteraan fisik dan psikologis seseorang. Situasi / peristiwa yang dirasakan membahayakan kesejahteraan individu disebut sebagai penyebab stres dan reaksi individu terhadap situasi stres ini disebut sebagai respon stres. (Atkinson, 2000)

Stres merupakan segala masalah atau tuntutan penyesuaian diri dan karena itu mengganggu keseimbangan kita. Bila kita tidak dapat mengatasinya dengan baik, maka akan muncul gangguan badan taupun gangguan jiwa. (Maramis, 2005)

Selye mengatakan bahwa rangkaian reaksi fisiologis terhadap stressor terdiri dari: reaksi waspada ( alarm reaction ) terhadap adanya ancaman yang ditandai oleh proses tubuh secara otomatis, seperti meningkatnya denyut jantung yang kemudian diikuti dengan reaksi penolakan terhadap stressor ( resistance ) dan akan mencapai tahap kehabisan tenaga ( exhaustion ) jika individu merasa tidak mampu untuk terus bertahan.

Cannon mengatakan bahwa dalam diri setiap individu terdapat suatu keseimbangan ( homeostatis ) dan bila terganggu diperlukan usaha untuk menyesuaikan diri dengan perubahan dan apabila individu mampu menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut maka individu akan kembali pada keadaan seimbang. Individu yang tidak mampu untuk menyesuaikan diri dengan perubahan akan mengalami stres.