© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa yang dimaksud dengan self-consistency?

1 Like

KONSISTENSI SEBAGAI BENTUK PENGUASAAN DIRI

Konsistensi adalah serupa tapi tidak sama dengan “kebiasaan”. Dapat dikatakan bahwa konsistensi merupakan anak dari “kebiasaan”.

Kerap kali seseorang menyalahgunakan konsistensi yang ada pada diri mereka sendiri. Sebagai contoh, ketika seseorang selalu melakukan kebiasaan buruk yang ia sendiri tidak tahu mengapa selalu ia lakukan secara “konsisten”, orang tersebut cenderung menerima kebiasaan tersebut sebagai identitas mereka dan memiliki pemikiran “ini memang sudah sifat saya”.

Orang tersebut secara tidak sadar sudah bersifat konsisten untuk melakukan sebuah kebiasaan buruk, yang akhirnya menyebabkan terus berulangnya kebiasaan buruk tersebut.
Bayangkan bila kebalikannya ; setiap kali seseorang melakukan kebiasaan yang baik /bermanfaat, ia secara konsisten menerima bahwa hal tersebut merupakan sebuah sifat dalam dirinya, maka sebuah kemajuan dalam kehidupan orang tersebut pasti akan terlihat.

Ada beberapa poin penting tentang penerapan konsistensi, yaitu:

Satu Peningkatan dapat Membawa Peningkatan Lain

Kinerja yang lebih baik bertumpu pada peningkatan secara terus menerus ( konsisten). Jika kita semua memutuskan dalam diri kita untuk secara konsisten meningkatkan kemampuan kita dalah suatu hal yang menurut kita penting, maka kemungkinan besar kita akan mulai meningkatkan kemampuan personal maupun profesional kita, yang dapat membawa hasil yang bernilai terhadap diri kita maupun orang-orang disekitar kita.

Latihan yang Sempurna

"Latihan secara terus menerus mungkin tidak akan membawa kita kepada kesempurnaan, tetapi membawa kita kepada sebuah latihan yang sempurna, dan latihan yang sempurna dapat membawa kita kepada sebuah kesempurnaan ".

Maksud dari petikan diatas adalah bahwa kita tidak perlu selalu melakukan 100% kemampuan kita setiap saat agar berhasil. Akan tetapi dengan meminimalisir kesalahan setiap kali kita melakukan sesuatu secara konsisten, kita dapat melampaui orang lain yang hanya bekerja 100% .

Kalahkan Diri Sendiri

Hal yang paling penting untuk diingat adalah bahwa kunci dari sebuah penguasaan diri adalah dengan mengalahkan rekor diri sendiri. Konsistensi tidak dilihat dengan membandingkan hasil kita dengan orang lain, melainkan dengan melihat sudah sejauh mana kita berkembang sejak terakhir kali kita melakukan sesuatu hal.

Sumber : https://www.linkedin.com/pulse/20140816081401-98110491-why-consistency-is-the-father-of-personal-and-professional-mastery

2 Likes

Strategic Leader Must be Consistent and Agile in The Same Time

Para pemain terbaik, tentu saja, konsisten. pemimpin yang konsisten bekerja keras dan datang tepat waktu. Mereka menetapkan tujuan untuk diri mereka sendiri dan karyawan mereka. Mereka merencanakan itu semua dengan sangat baik dan mereka sangat tahan akan hal yang dapat menjatuhkannya. Konsumen mengharapkan produk yang konsisten; orang menghargai manajemen yang konsisten.Tetapi jika pemimpin organisasi hanyalah konsisten, mereka berisiko untuk memiliki sifat yang kaku.

Dalam lingkungan yang terus berubah, mereka bisa sangat sulit berjuang untuk beradaptasi dan mereka dapat bergantung pada kebiasaan dan praktik-praktik lama sampai praktek-praktek tersebut menjadi kontraproduktif, mengalihkan mereka dari pekerjaan baru yang lebih penting yang perlu dilakukan. Di sisi lain, pemimpin besar haruslah agile.

Pasar menuntut perusahaan dan orang-orang beradaptasi dan berubah terus-menerus. Dengan satu analisis, 88% dari perusahaan yang muncul dalam daftar Fortune 500 pada tahun 1955 tidak lagi terdaftar pada tahun 2014 (setelah merger, bangkrut, atau jatuh dari daftar). manajer yang harus berpikir secara berbeda melalui karir mereka, bergerak dari kepala penjualan menjadi COO atau dari CFO menjadi CEO.

Para pemimpin ini harus ada setiap diperlukan, dan kelincahan, siap untuk belajar dari orang lain, komunikatif, kolaboratif, dan mau berubah. kombinasi antara konsistensi dan kelincahan membuat pemimpin menjadi sangat strategis, melakukan tujuan organisasi dengan maksimal tetapi dapat mengubah kapan saja ketika diperlukan.

Para pemimpin ini memiliki standar kualitas tinggi, mencapai tujuan, dan mengharapkan konsistensi, tetapi mereka juga terbuka untuk perubahan, mengawasi lingkungan eksternal, dan memahami ketika cara lama bekerja tidak lagi lulus uji pasar di mana mereka bersaing. Mereka tetap saja sampai tidak lagi relevan dan menggabungkan perbaikan terus-menerus dengan ideation dan strategi.

Sebagai pemimpin, kita semua akan dipaksa untuk menyeimbangkan konsistensi dan ketangkasan dalam karir kita dan dalam organisasiyang kita jalani. Apakah Anda melakukannya hari ini? Jika tidak, apakah Anda memahami diri sendiri dan apakah Anda berpikir tentang orang-orang dan proses di sekitar Anda yang dapat membantu memindahkan Anda ke keseimbangan yang lebih besar?

Sumber : https://hbr.org/2017/01/the-best-strategic-leaders-balance-agility-and-consistency

1 Like

Konsistensi Diri


Konsistensi adalah kemampuan untuk mengulangi proses secara terus-menerus, dan mendapatkan hasil yang sama setiap waktu. Meskipun tidak secara eksklusif, konsistensi adalah komponen penting dari Kerja Standar.

Mengapa sangat penting untuk memperbaiki secara terus-menerus? Konsistensi dalam proses adalah alasan bahwa perbaikan terus-menerus bekerja untuk semuanya. Stabilitas yang menyediakan fondasi untuk melakukan perbaikan.

Konsistensi adalah dasar dari Standard Kerja. Sebenarnya, itu seperti argumen ayam atau telur. Apakah Standar Kerja bertanggung jawab untuk menciptakan konsistensi atau konsistensi prasyarat untuk Standar Kerja? Jawabannya tidak masala yang terpenting hasilnya tetap sama. Dengan konsistensi dalam Kerja Standard anda, anda mungkin untuk membuat variasi rendah pada output anda. Hal ini menciptakan rasa keandalan dengan pelanggan anda yang membantu loyalitas.

Konsistensi tidak terjadi secara kebetulan. anda harus mengelola semua variabel yang masuk ke dalam proses, memberikan kepemimpinan yang kuat untuk memastikan orang mengikuti proses.

Diri itu merupakan salah satu aspek dari kepribadian. Hal ini diungkapkan Mahmud (2010: 365), “diri itu berasal dari kata self, merupakan salah satu aspek sekaligus inti kepribadian seseorang yang didalamnya meliputi segala kepercayaan, sikap, perasaan, dan cita-cita”. Hal ini berarti seseorang dapat dikenali berdasarkan kepribadian dan tindakan yang diambil. Dalam bertindak, diri tak pernah lepas dari individu dan lingkungan sekitar. Menurut Ahiri (2007: 2), “diri (self) sebagai produk dari interaksi sosial berkembang dari hubungan antar pribadi dan cenderung konsisten”. Jadi, seseorang dalam hidupnya pasti akan mengalami proses interaksi dengan orang lain.

Sikap konsistensi seseorang berpengaruh terhadap perilaku yang dia lakukan. Hal ini senada dengan Gea (2006: 25), “konsisten dapat dimengerti sebagai kesesuaian antara perkataan dan tindakan”. Senada dengan Gea, Robbins (2010: 41), “konsistensi berarti setiap individu berusaha untuk menyelaraskan sikap dan perilaku agar terlihat rasional dan konsisten”. Hal ini berarti bahwa seseorang yang konsisten berarti memiliki sikap tetap, selalu berusaha menyelaraskan perkataan, sikap dan perilakunya.

Konsistensi adalah suatu hal yang kita yakini secara prinsip dan terus menerus kita lakukan. Seperti yang dikemukakan Evertson (2011: 184), “konsistensi berarti mempertahankan ekspektasi yang sama bagi perilaku yang pantas dalam sebuah kegiatan tertentu sepanjang waktu dan bagi seluruh siswa”. Jelaslah bahwa orang yang konsisten tidak terpengaruh oleh perubahan di luar dirinya. Seseorang yang memiliki konsistensi diri tidak akan mudah terpengaruh dengan informasi baru. Ia akan tetap seperti apa yang diyakininya. Seperti yang dikemukakan Besten (2010: 120), “ketetapan hati (konsistensi diri) adalah keteguhan akan tujuan, kehendak, dan minat”. Senada dengan Besten, Sonia mengungkapkan, “konsistensi diri adalah bersikap tetap, berpegang teguh, sesuai dengan apa yang telah ditekadkan terhadap diri kita sendiri”.

Keteguhan dalam menetapi prinsip merupakan salah satu perilaku seseorang yang memiliki sikap konsistensi. Hal ini sesuai dengan Sonia, “perilaku konsistensi diri salah satunya dapat terlihat pada tepatnya seseorang dalam berpikir, tutur bahasa tegas dalam berbicara, konkret dalam bertindak, teguh dalam berprinsip, serta pastinya bersifat korektif”. Jadi, seseorang yang konsisten akan bersikap teguh terhadap prinsip, selalu berusaha untuk mewujudkan tujuannya serta hati-hati dalam bertindak. Seseorang yang memiliki minat dan tujuan tertentu tidak akan berhasil apabila tidak memiliki sikap konsistensi.

Seperti yang dikemukakan Asyiqor (2005: 178), “suatu keinginan tidak akan terarah pada suatu perbuatan dalam mewujudkan niatnya selama tidak mempunyai ketetapan hati yang kuat dan tidak ada keraguan”. Senada pula dengan Darmiko (Kompasiana, 2011), “karya hanya tercipta dari konsistensi diri. Semua pencapaian hasil yang disebut keberhasilan hanya dapat tercipta lewat konsistensi diri”. Jelaslah bahwa konsistensi diri diperlukan seseorang untuk mencapai kehendak, karya, dan tujuannya. Melakukan sesuatu secara konsisten menjadi sesuatu yang sangat penting dalam hidup.

Konsistensi adalah sebuah usaha untuk terus dan terus melakukan sesuatu sampai pada tercapai tujuan akhir. Untuk bisa memiliki konsistensi diri, seseorang harus bisa menjaga irama hati. Nashori (2011: 175) mengemukakan, “konsistensi diri adalah kemampuan untuk menjaga irama hati dan perilaku kita sehingga kita mampu secara terus menerus memberi perhatian terhadap apa yang kita yakini sebagai sesuatu yang berharga”.