Apa yang dimaksud dengan insomnia atau sulit tidur ?

tidur

(Debrilla Ivanadya Pang) #1

Insomnia

Insomnia merupakan gangguan tidur yang ditandai dengan kesulitan dalam memulai atau mempertahankan tidur dan atau tidur yang non-restoratif disertai penurunan waktu tidur. Insomnia merupakan kesulitan memulai, memelihara tidur atau tidur non-restoratif yang disertai berkurangnya fungsi sehari-hari seperti kelelahan, ngantuk di siang hari, gangguan suasana hati, mudah marah, berkurangnya motivasi, energi dan perhatian, konsentrasi menurun, gangguan memori yang terjadi minimal selama empat minggu. Insomnia sering juga disebabkan oleh suatu kondisi penyakit atau masalah psikologis.

Apa yang dimaksud dengan insomnia atau sulit tidur ?


Apa saja jenis-jenis insomnia ?
Bagaimana cara mengatasi sulit tidur atau insomnia ?
Apa saja ciri-ciri atau gejala sulit tidur atau insomnia ?
(thomasdeni81) #4

Insomnia merupakan jenis penyakit gangguan tidur. Menurut DSM-IV dari American Psychiatric Association, ada dua kriteria utama dalam mendiagnosis gangguan tidur, yaitu :

  1. Gangguan tidur terjadi selama lebih dari 1 bulan;
  2. Gangguan tidur menimbulkan rasa gelisah, kelelahan, dan kekhawatiran atau menurunkan fungsi dan peran kerja.

Di sisi lain, ICD-10 dari Organisasi Kesehatan Dunia mendefinisikan insomnia sebagai berikut:

  • Kesulitan untuk tidur dan tetap tidur serta kualitas tidur yang tidak memadai Gangguan tidur terjadi minimal 3 malam per minggu dan, bertahan setidaknya 1 bulan

  • Berpikir tentang efek insomnia sepanjang hari

  • Gangguan tidur menimbulkan stres dan memengaruhi hidup sehari-hari penderitanya

Para peneliti dan penelitian yang berbeda mendefinisikan insomnia dengan cara yang berbeda-beda. Insomnia bisa dikategorikan secara luas menjadi 4 jenis:

  • Kesulitan untuk mulai tidur
    Penderita mengalami kesulitan untuk tidur saat berada di tempat tidur dan membutuhkan waktu lebih dari 30 menit untuk mulai tidur. Penderita akan merasa cemas, gelisah, dan khawatir terhadap sekelilingnya. Hal ini biasa terjadi pada orang yang mengalami gangguan kecemasan.

  • Kesulitan untuk tetap tidur
    Penderita tidak bisa tidur lelap dan seringkali terbangun. Tidak merasa segar setelah tidur. Penderita masih merasa lelah saat bangun tidur, seolah tidak tidur malam sebelumnya.

  • Bangun pagi terlalu awal
    Penderita terbangun 1 hingga 2 jam lebih awal dari waktu bangun biasanya dan tidak bisa tidur lagi. Fenomena ini terjadi lebih dari 3 malam per minggu dan penderitanya merasa lelah, mengantuk, suasana hati yang buruk, dan mudah tersinggung pada siang hari. Hal ini biasa terjadi pada penderita depresi endogen.

Penyebab insomnia


Terdapat dua penyebab utama insomnia: Insomnia primer dan insomnia sekunder. Penyebab insomnia sekunder mencakup: gangguan mental dan suasana hati, penyakit fisik, penyalahgunaan obat, dan gangguan tidur lainnya. Penelitian menunjukkan bahwa prevalensi insomnia meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Bagi orang yang berusia 70 tahun atau lebih, tingkat insomnia bisa mencapai 35%. Insomnia lebih banyak terjadi pada wanita daripada pada pria.

Efek dari insomnia


Insomnia sesekali tidak akan menyebabkan gangguan signifikan bagi tubuh. Namun, jika insomnia tetap terjadi, gangguan tidur ini bisa memberikan dampak buruk pada kesehatan fisik dan psikologis penderitanya. Hal ini bisa memengaruhi kualitas hidup, fungsi kognitif, memori, dan fungsi kerja penderitanya dan bisa memberikan beban sosioekonomi yang signifikan bagi masyarakat.

Mengatasi Insomnia


Salah satu cara untuk mengatasi Insomnia adalah dengan melakukan higienitas tidur, yaitu :

  • Pergi tidur dan bangun secara teratur

  • Kurangi waktu yang dihabiskan untuk tidur/istirahat di siang hari

  • Lebih sering berolahraga, namun hindari olahraga yang berat sebelum tidur Lingkungan tidur yang nyaman, termasuk seprai dan bantal yang nyaman, lingkungan yang tenang dan redup, suhu ruangan yang memadai sangatlah penting untuk tidur

  • Minum secangkir susu hangat bisa membantu untuk mempermudah tidur

  • Hindari merasa terlalu lapar atau terlalu kenyang sebelum tidur Hindari minum terlalu banyak air dan hindari minum kopi atau teh atau minuman beralkohol sebelum tidur

  • Aktivitas yang santai, termasuk mendengarkan alunan musik, membaca buku, melakukan olahraga relaksasi, dan mandi air hangat bisa membantu untuk mempermudah tidur

  • Bila tidak tidur, jangan berbaring di tempat tidur

  • Jika mengalami hal-hal atau masalah yang belum terselesaikan sebelum tidur, jangan memikirkannya secara berulang-ulang. Pertimbangkan untuk menuliskan semua hal dan mengatur waktu untuk melakukannya lagi esok hari

  • Matikan lampu saat tidur

  • Jangan membaca, menonton televisi, mendengarkan musik saat berada di tempat tidur

  • Jika tidak bisa tidur setelah 20 menit berbaring di tempat tidur, bangunlah dan cobalah untuk berbaring lagi jika Anda merasa mengantuk lagi

  • Ulangi langkah di atas jika Anda terbangun selama lebih dari 20 menit di waktu tengah malam

  • Terlepas dari kualitas tidur di malam sebelumnya, bangunlah keesokan paginya di jam tertentu yang sudah ditetapkan

  • Hindari tidur di siang hari

Jika metode di atas (higienitas tidur) tidak bisa membantu Anda untuk tidur nyenyak, Anda mungkin perlu berkonsultasi dengan dokter.


(Dinah Lisasari) #5

Insomnia merupakan suatu persepsi dimana seseorang merasa tidak cukup tidur atau merasakan kualitas tidur yang buruk walaupun orang tersebut sebenarnya memiliki kesempatan tidur yang cukup, sehingga mengakibatkan perasaan yang tidak bugar sewaktu atau setelah terbangun dari tidur.

Sebenarnya insomnia bukan merupakan suatu penyakit. Terkadang insomnia hanya merupakan manifestasi dari suatu kondisi fisik seperti kelelahan yang menumpuk karena kurangnya tidur dalam jangka lama atau gejala dari ketidakseimbangan emosional yang sedang dialami seseorang.

Penderita insomnia berbeda dengan orang yang memang waktu tidurnya pendek (short sleepers), dimana pada short sleepers meskipun waktu tidur mereka pendek, mereka tetap merasa bugar sewaktu bangun tidur, berfungsi secara normal di siang hari, dan mereka tidak mengeluh tentang tidur mereka di malam hari.

insomnia

Jenis Insomnia


Berdasarkan waktu terjadinya, insomnia dibagi menjadi 3 tipe, yaitu:

  • Transient insomnia : insomnia yang berhubungan dengan kejadian-kejadian tertentu yang berlangsung sementara dan biasanya menimbulkan stress dan dapat dikenali dengan mudah oleh pasien sendiri. Diagnosis transient insomnia biasanya dibuat setelah keluhan pasien sudah hilang. Keluhan ini kurang lebih ditemukan sama pada pria dan wanita dan episode berulang juga cukup sering ditemukan, faktor yang memicu antara lain akibat lingkungan tidur yang berbeda, gangguan irama sirkadian sementara akibat jet lag atau rotasi waktu kerja, stress situasional akibat lingkungan kerja baru, dan lain- lainnya. Transient insomnia biasanya tidak memerlukan terapi khusus dan jarang membawa pasien ke dokter.

  • Short-term insomnia : Berlangsung kurang dari 3 minggu dan biasanya disebabkan oleh kejadian-kejadian stress yang lebih persisten, seperti kematian salah satu anggota keluarga.

  • Cyclical insomnia ( recurrent insomnia ): Kondisi ini lebih jarang daripada transient insomnia. Kondisi ini terjadi akibat ketidakseimbangan antara tidur dan bangun. Ketidakseimbangan ini dapat terjadi sementara ataupun seumur hidup. Kejadian berulang ini bisa terjadi akibat perubahan fisiologis seperti siklus premenstrual ataupun perubahan psikologik seperti manik depresif, anorexia nervosa, atau kambuhnya perubahan perilaku tertentu seperti kecanduan obat, dan lain sebagainya.

  • Chronic insomnia ( persistent insomnia ) : Berlangsung lebih dari 3 malam setiap minggunya yang terus berlangsung selama lebih dari satu bulan. Dibagi menjadi 2, yaitu insomnia primer dan sekunder.

Dilihat dari sisi etiologi, terdapat 2 macam insomnia, yaitu:

  • Insomnia primer. Pada insomia primer, terjadi hyperarousal state dimana terjadi aktivitas ascending reticular activating system yang berlebihan . Pasien bisa tidur tapi tidak merasa tidur. Masa tidur REM sangat kurang, sedangkan masa tidur NREM cukup, periode tidur berkurang dan terbangun lebih sering. Insomnia primer ini tidak berhubungan dengan kondisi kejiwaan, masalah neurologi, masalah medis lainnya, ataupun penggunaan obat-obat tertentu. Istilah ini ditujukan bagi gangguan tidur yang muncul begitu saja tanpa ada latar belakang suatu kondisi yang spesifik, yang biasanya akibat dari ketidakmampuan untuk menyesuaikan diri dengan pola tidur yang baik.

  • Insomnia sekunder. Insomnia sekunder merupakan gangguan tidur yang disebabkan karena gangguan irama sirkadian, kejiwaan, masalah neurologi atau masalah medis lainnya, atau reaksi obat. Insomnia ini sangat sering terjadi pada orang tua. Insomnia ini bisa terjadi karena psikoneurotik dan penyakit organik. Pada orang dengan insomnia karena psikoneurosis, sering didapatkan keluhan-keluhan non organik seperti sakit kepala, kembung, badan pegal yang mengganggu tidur. Keadaan ini akan lebih parah jika orang tersebut mengalami ketegangan karena persoalan hidup. Pada insomnia sekunder karena penyakit organik, pasien tidak bisa tidur atau kontinuitas tidurnya terganggu karena nyeri organik, misalnya penderita arthritis yang mudah terbangun karena nyeri yang timbul karena perubahan sikap tubuh.

Faktor Risiko


Terdapat beberapa faktor risiko insomnia, yaitu:

  • Emosi. Transient dan recurrent insomnia biasanya disebabkan oleh gangguan emosi. Memendam kemarahan, cemas, ataupun depresi bisa menyebabkan insomnia.

  • Kebiasaan. Penggunaan kafein, alkohol yang berlebihan, tidur yang berlebihan, merokok sebelum tidur dan stress kronik bisa menyebabkan insomnia.

  • Faktor lingkungan seperti bising, suhu yang ekstrim, dan perubahan lingkungan atau jet lag bisa menyebabkan transient dan recurrent insomnia.

  • Usia di atas 50 tahun

  • Jenis kelamin. Insomnia lebih banyak menyerang wanita (20-50% lebih tinggi daripada pria). Wanita lebih sering menderita insomnia karena siklus mentruasinya. 50% wanita dilaporkan menderita kembung yang mengganggu tidurnya 2-3 hari di setiap siklusnya. Peningkatan kadar progesteron menyebabkan rasa lelah pada awal siklus.

  • Episode insomnia sebelumnya.

  • Penyakit kronis yang menyebabkan nyeri (misalnya arthritis), terbatasnya pergerakan (misalnya Parkinson), atau kesulitan bernapas (misalnya COPD).

Gejala Insomnia


Gejala Insomnia

Manifestasi insomnia bisa berupa :

  • Kesulitan untuk jatuh tertidur pada waktu yang normal ( initial insomnia ) Didefinisikan sebagai kesulitan tertidur yang lebih dari 30 menit. Biasanya disebabkan karena tingkat kesadaran yang tinggi yang berhubungan dengan anxietas atau faktor lain.

  • Kesulitan untuk mempertahankan tidur / sering terbangun dari tidur lalu sulit tertidur kembali. Keadaan ini bisa muncul secara ireguler dalam 1 malam atau muncul pada waktu-waktu tertentu, seperti selama fase tidur REM.

  • Terbangun lebih cepat di pagi hari. ( terminal insomnia )

  • Kondisi ini cukup seirng ditemukan pada orang tua. Merasa tetap lelah dan mengantuk meskipun durasi tidur sudah cukup. Merasa cemas jika sudah mendekati waktu tidur. paling tidak meliputi satu atau lebih dari gejala berikut: terasa letih atau mengantuk di waktu siang menyebabkan kerap tidur di siang hari; gangguan atensi atau perhatian, konsentrasi atau memori; gangguan mood, iritabilita atau sensitif; kurang energi atau motivasi; sakit kepala atau gangguan pencernaan.

Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders-IV (DSM-IV), menunjukkan beberapa gejala dimana seseorang didiagnosis menderita insomnia karena faktor psikologis yaitu:

  • Kesulitan untuk memulai, mempertahankan tidur, dan tidak dapat memperbaiki tidur selama sekurangnya satu bulan merupakan keluahan yang palingbanyakterjadi.

  • Insomnia ini menyebabkan penderita menjadi stres sehingga dapat mengganggu fungsi sosial, pekerjaan atau area fungsi penting yang lain.

  • Insomnia karena faktor psikologis ini bukan termasuk narkolepsi, gangguan tidur yang berhubungan dengan pernafasan, gangguan ritme sirkadian atauparasomnia.

  • Insomnia karena faktor psikologis tidak terjadi karena gangguan mental lain seperti gangguan depresi, delirium.

  • Insomnia karena faktor psikologis tidak terjadi karena efek fisiologis yang langsung dari suatu zat seperti penyalahgunaan obat atau kondisi medis yang umum.

Dampak Insomnia


Dampak Insomnia

Insomnia dapat memberi efek pada kehidupan seseorang, antara lain :

  • Efek fisiologis. Karena kebanyakan insomnia diakibatkan oleh stress, terdapat peningkatan noradrenalin serum, peningkatan ACTH dan kortisol, juga penurunan produksi melatonin.

  • Efek psikologis. Dapat berupa gangguan memori, gangguan berkonsentrasi , irritable, kehilangan motivasi, depresi, dan sebagainya.

  • Efek fisik/somatik. Dapat berupa kelelahan, nyeri otot, hipertensi, dan sebagainya.

  • Efek sosial. Dapat berupa kualitas hidup yang terganggu, seperti susah mendapat promosi pada lingkungan kerjanya, kurang bisa menikmati hubungan sosial dan keluarga.

  • Kematian. Orang yang tidur kurang dari 5 jam semalam memiliki angka harapan hidup lebih sedikit dari orang yang tidur 7-8 jam semalam. Hal ini mungkin disebabkan karena penyakit yang menginduksi insomnia yang memperpendek angka harapan hidup atau karena high arousal state yang terdapat pada insomnia mempertinggi angka mortalitas atau mengurangi kemungkinan sembuh dari penyakit. Selain itu, orang yang menderita insomnia memiliki kemungkinan 2 kali lebih besar untuk mengalami kecelakaan lalu lintas jika dibandingkan dengan orang normal.

Sumber : Nurzakiah binti Zaini, Apa itu insomnia, SMF Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Udayana


(hanaaa) #6

Insomnia merupakan gangguan tidur yang paling sering dikeluhkan karena dapat mempengaruhi pekerjaan, aktivitas sosial dan kesehatan penderitanya.

Iskandar dan Setyonegoro (1985) mengemukakan bahwa

Insomnia adalah sekumpulan kondisi yang mengganggu karena kesulitan untuk tidur atau tetap mempertahankan tidur atau bangun lebih dini sehingga hasil akhirnya tidak mendapat jumlah yang cukup atau kualitas yang baik dari tidur. Insomnia merupakan salah satu gejala dari penyakit gangguan psikiatrik berat (psikosis), gangguan penyalahgunaan obat, gangguan penyakit medik, atau keluhan normal dari orang normal yang dinamakan transient insomnia.

Menurut Hoeve (1992)

Insomnia merupakan keadaan tidak dapat tidur atau terganggunya pola tidur. Orang yang bersangkutan mungkin tidak dapat tidur, sukar untuk jatuh tidur, atau mudah terbangun dan kemudian tidak dapat tidur lagi.

Kaplan dan Sadock (1997) juga mengemukakan bahwa

Insomnia adalah kesukaran dalam memulai atau mempertahankan tidur. Keadaan ini adalah keluhan tidur yang paling sering. Insomnia mungkin sementara atau persisten. Periode singkat insomnia paling sering berhubungan dengan kecemasan atau dalam menghadapi pengalaman yang menimbulkan kecemasan.