Apa yang dimaksud dengan Bulimia Nervosa?

Bulimia Nervosa

Bulimia Nervosa merupakan sebuah kondisi sakit kejiwaan yang berhubungan dengan makan. Seseorang dengan kondisi ini tidak akan ragu untuk menikmati segala makanan yang ada di depannya dengan porsi yang banyak dan bahkan berlebihan, namun setelah itu, ia akan berusaha mengeluarkannya dari tubuh alias memuntahkannya secara paksa; bisa juga dengan memakan obat pencahar.

Apa yang dimaksud dengan Bulimia Nervosa ?

Bulimia Nervosa adalah kelainan cara makan yang terlihat dari kebiasaan makan berlebihan yang terjadi secara terus menerus. Bulimia adalah kelainan pola makan yang sering terjadi pada wanita. Kelainan tersebut biasanya merupakan suatu bentuk penyiksaan terhadap diri sendiri.

Gangguan psikologis ini sebenarnya terjadi pada seseorang yang tidak ingin menaikkan berat badannya tapi memiliki nafsu makan yang sangat tinggi. Akibatnya dia tetap makan secara berlebihan tapi setelah itu memasukkan tangan ke mulutnya atau minum banyak air agar semua makanan itu bisa dimuntahkan. Menurut survei, 75% para pengidap Bulimia Nervosa ini melakukan tindakan demikian yang biasa disebut “pembersihan”.

Penderita bulimia juga cenderung diet sangat ketat dan juga olahraga yang berlebihan. Ciri khas penyakit bulimia yaitu kebiasaan mengeluarkan makanan yang dimakan dengan sangat cepat. Membersihkan atau memuntahkan makanan ini diperkirakan sebagai aksi untuk mengurangi rasa benci atau rasa bersalah karena sudah binge. Pasien berobsesi untuk membersihkan diri mereka dari makanan itu, sehingga makanan yang masuk tidak sempat terserap tubuh.

Seorang pasien penyakit bulimia dalam melakukan pesta makan ini, diduga terdorong oleh depresi atau stress terhadap sesuatu yang berhubungan dengan berat badan, bentuk badan ataupun makanan. Mereka menganggap, makan merupakan kegiatan paling menyenangkan dan bisa menghilangkan depresi. Namun kebahagiaan itu hanya berlangsung sementara karena akhirnya mereka kembali membenci makanan serta marah atas kontrol diri terhadap pesta makan yang kurang. Kebencian ini membuat mereka terobsesi untuk membersihkan makanan tersebut dari tubuh.

Aksi pembersihan biasanya berlangsung seketika, namun pada beberapa penderita bulimia melakukan pembersihan pada beberapa periode setelahnya.

Sama halnya dengan anoreksia, bulimia selalu berhubungan dengan kontrol diet ataupun penurunan berat badan. Penderita bulimia biasanya terlalu memperhatikan berat badan, selalu merasa kurang percaya diri dengan berat badan sehingga cenderung melakukan diet berlebih. Bedanya dengan penderita anoreksia, penderita bulimia memiliki berat badan yang lebih stabil sehingga penyakit ini jarang diketahui oleh masyarakat umum.

Ciri-Ciri Bulimia Nervosa antara lain :

  • Beranggapan negatif setiap kali melihat bentuk tubuh sendiri.

  • Terlalu fokus pada bentuk tubuh maupun berat badan sampai-sampai terkadang tak masuk di akal.

  • Selalu merasa kegemukan atau mengalami ketakutan akan gemuk.

  • Tidak mau makan di depan orang lain atau tempat-tempat umum.

  • Tidak terkendali ketika makan, seperti akan terus makan sampai berlebihan dan sakit perut.

  • Sehabis makan selalu langsung ke kamar mandi dan memuntahkan makanan yang telah dilahap dengan jari dimasukkan ke kerongkongan.

  • Mempunyai gusi dan gigi yang rusak.

  • Sehabis makan justru akan meminum obat pencahar atau semacamnya.

  • Mengonsumsi produk herba atau suplemen untuk membuat berat badan turun.

Bulimia nervosa merupakan salah satu perilaku makan menyimpang dengan karakteristik mengkonsumsi makanan dalam jumlah besar kemudian memuntahkannya kembali dengan paksa (purging) atau menggunakan obat pencahar atau diuretik, berpuasa atau olahraga yang berlebihan (Brown, 2005). Berbeda dengan penderita anorexia nervosa yang memiliki penurunan berat badan drastis, penderita bulimia nervosa memiliki berat badan yang ideal dengan fluktuasi berat badan yang sangat ekstrim karena pengkonsumsian makanan dalam jumlah besar. Seseorang yang menderita bulimia biasanya memiliki rata-rata berat badan yang sesuai dengan tingginya sehingga penderita bulimia jarang dapat dideteksi dan diketahui orang.

Penderita bulimia nervosa memiliki kebiasaan binge eating (makan dalam jumlah besar) yang terus berulang dengan jumlah makanan yang sangat besar melebihi porsi makan manusia pada umumnya dengan periode waktu dua jam (Read, 1997 dalam Wahlqvist, 1997). Selain itu, penderita bulimia nervosa juga tidak bisa mengontrol keinginan makannya yang sangat besar (Kurnia, 2008). Setelah mengkonsumsi makanan dengan jumlah yang cukup besar biasanya penderita bulimia nervosa merasa bersalah dan mengkompensasikannya dengan berbagai macam cara seperti memuntahkan kembali (purging), olahraga berlebihan atau mengkonsumsi obat pencahar dan diuretik (Read, 1997 dalam Wahlqvist, 1997).

Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders IV (DSM-IV), karakteristik penderita bulimia nervosa diantaranya (Brown, 2005) :

  • Episode berulang binge eating dengan karakteristik:

    • Makan dalam periode waktu yang tetap (contoh: tiap 2 jam) dengan porsi yang lebih besar daripada porsi makan kebanyakan orang dalam periode dan situasi yang sama.
    • Adanya perasaan tidak dapat mengontrol porsi makan pada saat episode tersebut berlangsung (contoh: merasa tidak dapat menghentikan atau mengontrol berapa porsi yang dimakan).
  • Adanya perilaku kompensasi yang berulang kali dilakukan untuk mencegah kenaikan berat badan seperti : muntah yang disengaja, penyalahgunaan laksatif, diuretik, enema atau obat-obatan lainnya, puasa atau olahraga berlebihan.

  • Episode binge eating dan perilaku kompensasi lainnya berlangsung setidaknya dua kali seminggu dalam tiga bulan.

  • Penilaian diri dipengaruhi oleh bentuk tubuh dan berat badan.

  • Gangguan tersebut tidak terjadi secara ekslusif selama episode anorexia nervosa.

DSM-IV juga mengklasifikasikan bulimia nervosa menjadi dua subtype (Brown, 2005), yaitu:

  1. Purging Type

Selama episode bulimia nervosa , penderita secara rutin melakukan pemuntahan yang disengaja atau penyalahgunaan laksatif, diuretik atau enema.

  1. Nonpurging Type

Selama episode bulimia nervosa , penderita secara rutin melakukan perilaku kompensasi lainnya seperti puasa atau olahraga yang berlebihan tetapi tidak melakukan pemuntahan dengan sengaja atau penyalahgunaan laksatif, diuretik, atau enema.

Menurut Wardlaw (1999), penderita bulimia nervosa biasanya menyadari bahwa perilaku mereka tidak normal dan cenderung membuat makanan sebagai pelarian jika berada dalam situasi kritis. Mereka yang menderita bulimia nervosa biasanya memiliki berat badan yang normal, ataupun di atas normal. Pada penderita bulimia nervosa biasanya terdapat siklus tertentu yang berulang. Pada awalnya penderita merasakan kecemasan akan sesuatu yang memberikan efek keinginan makan yang amat besar. Kemudian keinginan itu dipuaskan dengan mengkonsumsi makanan dalam porsi yang sangat besar ( bingeing ), setelah keinginan tersebut terpuaskan, penderita merasa takut gemuk sehingga melakukan pemuntahan ( purging ). Setelah melakukan pemuntahan, ketakutan menjadi gemuk hilang dan bergati menjadi perasaan bersalah karena telah mengkonsumsi makanan dalam porsi banyak, kemudian penderita kembali merasakan kecemasan yang luar biasa dan memuaskannya dengan makanan dalam porsi banyak dan begitu seterusnya seperti tahapan yang dijelaskan sebelumnya.

Menurut Brown (2005) bulimia nervosa adalah perilaku makan menyimpang dengan karakteristik penderitanya mengkonsumsi makanan dengan porsi besar dan kemudian melakukan purging berupa muntah secara sengaja, penggunaan obat pencahar, diuretik, enema, dan atau latihan fisik yang berlebih.

Bulimia nervosa pertama kali diungkapkan oleh Gerald Russell di tahun 1979 terhadap 30 orang pasien wanita yang memiliki riwayat anoreksia nervosa. Sebagian besar dari pasien tersebut memiliki berat badan yang normal dan memiliki kebiasaan dalam satu periode, makan dengan porsi sangat besar, lalu melakukan tindakan kompensasi dengan melaparkan diri.

Di bawah ini adalah kriteria untuk mendiagnosis kejadian bulimia nervosa menurut The Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder-IV (DSM-IV) (Brown et al. , 2005). Seseorang dikatakan menderita bulimia nervosa apabila termasuk ke dalam kriteria berikut :

  1. Adanya episode binge yang berulang kali. Episode tersebut mengikuti dua karakteristik berikut ini:
  • Makan dengan periode waktu yang tetap

  • Adanya perasaan tidak dapat mengontrol porsi makan selama episode tersebut

  1. Adanya perilaku kompensasi yang tidak sesuai dilakukan berulang kali dengan tujuan mencegah kenaikan berat badan.

  2. Binge eating dan perilaku kompensasi yang tidak sesuai keduanya dilakukan setidaknya dua kali seminggu dalam tiga bulan.

  3. Evaluasi diri sangat dipengaruhi oleh bentuk tubuh dan berat badan.

  4. Gangguan tersebut tidak terjadi secara eksklusif selama episode anoreksia nervosa.

Tipe Bulimia Nervosa

Menurut DSM-IV terdapat dua tipe spesifik penderita bulimia nervosa. Kedua tipe tersebut adalah :

  1. Purging Type

Selama episode bulimia nervosa, penderita secara reguler melakukan muntah yang disengaja atau menyalahgunakan laksatif, diuretic, atau enema.

  1. Nonpurging Type

Selama episode bulimia nervosa, penderita melakukan perilaku kompensasi tidak sesuai lainnya seperti puasa atau latihan fisik berlebih, tetapi tidak secara reguler melakukan muntah yang disengaja atau menyalahgunakan laksatif, diuretic, atau enema.

Dampak Bulimia Nervosa

Menurut Wardlaw & Hampl (2007), dampak kesehatan pada penderita bulimia nervosa sebagian besar berhubungan dengan muntah yang disengaja, diantaranya:

  1. Gigi menjadi sensitive terhadap dingin, panas, dan asam akibat berulangkali terkena muntah yang bersifat asam. Kelamaan gigi akan mengalami kerusakan, keropos, dan kemudian tanggal atau lepas.

  2. Penurunan kadar kalium darah karena muntah secara reguler dan penggunaan diuretik. Penurunan kadar kalium tersebut dapat mengganggu irama jantung dan dapat menyebabkan mati mendadak.

  3. Pembengkakan kelenjar saliva sebagai efek dari infeksi dan iritasi akibat frekuensi muntah yang tinggi.

  4. Ulserasi perut dan luka di esophagus.

  5. Konstipasi efek dari penyalahgunaan laksatif.

  6. Penggunaan obat yang merangsang muntah dapat berefek racun pada jantung, liver, dan ginjal.

Secara umum, penyebab kematian penderita bulimia nervosa adalah bunuh diri, penurunan kalium darah, dan infeksi yang parah.

Bulimia nervosa (BN) digambarkan dengan episode berulang makan berlebihan (binge eating) dan kemudian dengan perlakuan kompensatori (muntah, berpuasa, beriadah, atau kombinasinya). Makan berlebihan disertai dengan perasaan subjektif kehilangan kawalan ketika makan. Muntah yang dilakukan secara sengaja atau beriadah secara berlebihan, serta penyalahgunaan pencahar, diuretik, amfetamin dan tiroksin juga boleh terjadi.

DSM-IV membagikan BN kepada dua bentuk yaitu purging dan nonpurging. Pada tipe purging, individu tersebut memuntahkan kembali makanan secara sengaja atau menyalahgunakan obat pencahar, diuretik atau enema. Pada tipe nonpurging, individu tersebut menggunakan cara lain selain cara yang digunakan pada tipe purging, seperti berpuasa atau beriadah secara berlebihan.

Epidemiologi

Studi epidemiologi tentang gangguan makan berdasarkan populasi, mengungkapkan bahwa prevalensi bulimia nervosa pada remaja telah meningkat dalam beberapa dekade terakhir. Diperkirakan bahwa bulimia memiliki tingkat prevalensi sekitar 1,1% pada anak perempuan dan 0,2% pada anak laki.

Pada pengamatan klinis bahwa kebanyakan pasien dengan bulimia sering terjadi pada wanita remaja atau usia sekolah. Di Amerika Serikat, bulimia diduga mempengaruhi 3-5% dari seluruh penduduk, dengan prevalensi pada wanita umur sekolah dilaporkan setinggi 19%. Sekali lagi, karena sifat rahasia dari gangguan dan keengganan perempuan muda untuk mencari pengobatan, angka pastinya sulit untuk diukur.

Etiologi dan Faktor Resiko

Faktor risiko untuk terjadinya BN antara lain ialah faktor familial seperti obesitas pada orang tua, gangguan afek, dan kritikan dari keluarga tentang berat badan atau kebiasaan makan. Terdapat juga kerentanan genetik pada anak kembar untuk mengalami BN tetapi bagaimana hal ini terjadi tidak begitu jelas .

Gambaran klinis

Komplikasi fisik BN termasuk kelelahan sebagai akibat dehidrasi, gangguan pencernaan yang disebabkan oleh muntah dan penyalahgunaan pencahar, menstruasi yang tidak teratur dan masalah gangguan kesuburan, dan masalah jantung yang diakibatkan oleh penyalahgunan ipecac . Perlu diberi perhatian jika terdapat pembengkakan kelenjar liur yang disebakan oleh muntah-muntah dan erosi enamel yang diakibatkan oleh regurgitasi asam lambung .

Disebabkan oleh perbuatan muntah yang berulang, individu tersebut mengalami ketidakseimbangan elektrolit seperti, hipokalemia, hipokloremia, dan hiponatremia, dan juga boleh menyebabkan alkalosis. Penggunaan pencahar yang berulang boleh menyebabkan asidosis metabolik yang ringan.

Gangguan mood adalah sering pada pasien dengan BN. Kecemasan (anxiety) dan tegang (tension) sering dialami. Kebanyakan pasien dengan BN mengalami depresi ringan dana sesetengah mengalami gangguan mood dan perilaku yang serius seperti cobaan membunuh diri dan penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan terlarang. Biasanya, pasien dengan BN merasa malu dengan perbuatannya sendiri dan cenderung untuk merahasiakannya daripada keluarga dan teman-teman.

Diagnosis

Diagnosis BN menggunakan kriteria diagnostik yang dikemukakan oleh DSM-IV. Kriteria diagnostik BN ialah;

  1. Episode makan berlebihan yang berulang yang dikarakteristikkan dengan konsumsi sejumlah besar makanan dalam waktu yang singkat (selalunya kurang daripada 2 jam) dan perasaan untuk makan tidak terkontrol.
  2. Perilaku kompensasi makan berlebihan yang berulang, seperti memuntahkan kembali, penggunaan pencahar, berdiet keras atau berpuasa secara berlebihan sebagai melawan perbuatan makan berlebihan.
  3. Perbuatan a dan b telah berlangsung sebanyak sekurang-kurangnya 2 kali/minggu selama sekurang-kurangnya 3 bulan.
  4. Perhatian yang berlebihan terhadap bentuk dan berat badan.

Terapi

Untuk mengurangi dan mengeliminasi perilaku makan/muntah, individu tersebut perlu menjalani kaunseling gizi dan psikoterapi, terutama terapi perilaku kognitif (cognitive behavioral therapy (CBT)) atau diberi pengobatan seperti antidepresan seperti fluoksetin, yang merupakan satu-satunya obat yang dibenarkan oleh Food and Drug Administration untuk mengobati BN (11).

CBT merupakan pengobatan psikologis jangka pendek (4-6 bulan) yang berfokus pada perhatian berlebihan pada bentuk dan berat badan, diet yang persisten dan perilaku makan/muntah yang menggambarkan gangguan ini (10).