Salah jurusan di semester tengah, berhenti atau lanjut ?

perguruan_tinggi

(Siti Marwiyah) #1

Salah Jurusan

Assalamu’alaikum kawan2.

Saya mau minta pendapatnya. saya mahasiswa semester 5 dan selama saya kuliah saya tidak bisa menyukai jurusan yang saya ambil ini. Padahal jurusan yang saya ambil ini adalah pilihan saya sendiri (alasannya karena jurusan ini dipakai di berbagai bidang jadi prospek kerjanya luas, sebelumnya saya mau ngambil jurusan kimia tapi kurang mengerti dengan prospek kerjanya dan meragukan juga jadi saya menjadi kan kimia sebagai pilihan kedua dan saya diterima di jurusan yang sekarang, yang merupakan pilihan pertama saya di SNMPTN.

Jadi apakah salah jika saya ingin berhenti kuliah karena tidak begitu suka dan tidak pernah suka dengan jurusan sekarang ? mohon saran dan pendapatnya. terima kasih.


(Himawat Aryadita) #2

Diskusi ini sangat menarik karena banyak sekali mahasiswa yang mengalami dilema tentang “salah jurusan”. Di Amerika, sekitar 50% mahasiswa mengalami dilema ini, bahkan di Indonesia, menurut penelitian yang dilakukan oleh Irene Guntur M.Psi., CGA, dari Educational Psychologist of Integrity Development Flexibility (IDF), pada tahun 2014, menyatakan bahwa “sebanyak 87% mahasiswa di Indonesia salah jurusan”.

Kemungkinan besar, banyak mahasiswa yang ketika mengambil jurusan tidak didasarkan pada pemahaman diri yang menyeluruh. Kebanyakan mereka mengambil jurusan hanya berdasarkan prospek pekerjaan, gengsi atau hal-hal lain di luar dirinya sendiri.

Untuk diskusi tentang salah jurusan, secara keseluruhan, dapat diikuti di topik ini dan ini.

Bagaimana apabila perasaan salah jurusan baru dirasakan pada pertengahan semester ?

Kebanyakan orang pasti akan memberikan jawaban bahwa “sudah terlambat” untuk pindah jurusan di semester 6, karena hanya tinggal 1 tahun lagi kita lulus. Tetapi, pada dasarnya, tidak ada aturan dasar yang berlaku umum terkait dengan kapan kita merasa terlambat dalam merasakan hal itu dan berniat untuk merubah jurusan yang ada. Setiap kasus pasti mempunyai perbedaan dan keunikannya masing-masing.

Yang perlu digarisbawahi adalah, jangan panik ketika anda merasakan hal tersebut, karena sangat tidak disarankan untuk mengambil keputusan ketika dalam kondisi panik. Tetaplah tenang, kondisi ini adalah kondisi yang wajar, yang dialami oleh banyak orang. Mungkin beberapa pertimbangan ini dapat membantu anda dalam mengambil keputusan,

  • Apakah anda yakin bahwa jurusan yang anda pilih nantinya benar-benar sesuai dengan minat anda ?

    Orang akan lebih memahami sesuatu ketika dia sudah masuk kedalamnya, tidak hanya sekedar “melihat” dari luar. Bisa jadi, jurusan yang anda “pikir” sesuai dengan anda, tetapi ketika anda telah memasukinya, anda akan mengalami hal yang sama, yaitu merasa “salah jurusan”. Hal itu akan terjadi berulang-ulang, yang bahkan akan membuat diri anda semakin bingung.

  • Apa yang anda inginkan setelah lulus nanti ?

    Mungkin pertanyaan ini terlihat sederhana, tetapi butuh perenungan yang dalam. Mengapa ? Karena anda harus sudah mengetahui dan memahami passion anda sendiri untuk menjawabnya. Ada yang passionnya melakukan bisnis secara mandiri atau meniti karir sebagai profesional. Begitu juga karir sebagai profesional, ada yang karir profesional yang spesifik, tetapi ada juga yang memilih karir profesional secara general.

    Salah satu hal yang menarik adalah, bisa jadi anda “berubah pikiran” terkait dengan bidang keilmuan yang anda geluti ketika nanti anda sudah bekerja, dimana anda akan belajar hal yang baru lagi untuk mengejar karir profesional anda.

    Salah satu contoh yang luar biasa adalah perjalanan karir Lee Iacocca. Beliau adalah lulusan dari Teknik Mesin, baik S1 maupun S2-nya. Kemudian, dia melamar pekerjaan di Ford, berdasarkan bidang ilmu yang dimilikinya. Seiring dengan berjalannya waktu, dia “meminta” untuk merubah karirnya di perusahaan, dari seorang engineer menjadi seorang marketing, karena beliau merasakan lebih “berminat” di bidang tersebut. Akhirnya, beliau menjadi President di perusahaan tersebut.

  • Seberapa jauh anda siap untuk berkorban ?

    Ketika anda memilih untuk pidah jurusan, maka secara “aturan akademik” anda diminta untuk berkorban banyak hal, seperti ; waktu, tenaga, biaya dll. Hal ini dikarenakan bisa jadi mata kuliah yang sudah anda tempuh dengan susah payah, tidak diakui lagi di jurusan yang baru.

    Apabila anda merubah jurusan yang “mirip”, misalnya dari teknik informatika ke sistem informasi, maka “pengorbanan” anda tidak terlalu besar, karena masih banyak mata kuliah yang dapat diakui, tetapi kalau jurusan yang anda pilih berbeda sama sekali, misalnya dari teknik elektro berpindah ke teknik kimia, maka “pengorbanan” anda akan semakin besar.

Pikirkan matang-matang keputusan anda, apabila diperlukan, temui konselor dan pembimbing akademik anda, untuk mendapatkan cara pandang yang berbeda. Sebagai tambahan, penelitian yang dilakukan oleh Gallup di Amerika menemukan bahwa 86% orang Amerika merasa bahwa lulusan perguruan tinggi tidak dipersiapkan untuk sukses di tempat kerja. Hanya 14% yang menyatakan sangat setuju. Selain itu, 89% pemimpin perusahaan menyatakan bahwa lulusan perguruan tinggi tidak memiliki keterampilan dan kompetensi yang diperlukan di tempat kerja. Mungkin itu yang dinamakan Paradoks Perguruan Tinggi.