Menurut Kalian Apakah Kaum Pria Juga Bisa Menjadi Korban Kekerasan Seksual?

Tentunya kita pernah mendegar berita - berita mengenai pelecehan seksual bukan ? Umumnya berita - berita yang kita dengear mengenai kekerasan seksual hampir semua korbannya adalah kaum wanita dan pelakunya biasanya adalah kaum pria. Tetapi pernahkah kalian mendengar jika seorang pria misalnya mengalami kekerasan seksual ? Misalnya saja, kita tentu masih ingat dengan kasus Reynhard Sinaga yang menjadi terpidana kasus pemerkosaan terhadap 159 pria di Inggris ataupun adanya pengakuan seorang remaja pria yang diperkosa oleh seorang biduan dangdut. Untuk kasus yang kedua ini, warganet terbelah menjadi dua pihak.

Ada pihak yang mencibir dan mengutuk tindakan perkosaan sang biduan terhadap remaja laki - laki tersebut, dan ada juga yang mencibir si korban yang dianggap " mau - mau saja " dan " keenakan " karena mendapatkan kenikmatan seksual. Hai ini tentu menjadi pertanyaan dan perdebatan di kalangan masyarakat.

Lalu menurut youdics sekalin, apakah kaum pria sebenarnya juga bisa mengalami kekerasan seksual sama halnya dengan perempuan menurut pandangan dan opini kalian ? Lalu apa alasannya ?

1 Like

bisa, karena kekerasan seksual juga dapat terjadi dengan laki-laki sebagai korban. Pelakunya pun bisa perempuan atau sesama jenis. kebanyakan laki-laki yang menjadi korrban kasus kekerasan seksual tidak berani untuk malaporkannya karena stigma sebagian masyarakat terkait kekerasan seksual pada laki-laki masih keliru, karena masih banyak yang beranggapan bahwa ‘laki-laki itu kuat’ atau ‘nggak mungkin cowok kena pelecehan seksual’ padahal laki-laki atau perempuan sama-sama bisa menjadi korban.

Ya bisa saja, kebanyakan kasus kekerasan seksual terhadap laki-laki ini terjadi karena penyuka sesama jenis. bisa dilihat dari kasus perbuatan asusial di salah satu pondok pesantren. dengan korban 26 orang santri dan pelakunya oknum pengasuh pondok pesantren tersebut. tak hanya kekerasan seksual, berbagai macam bentuk kekerasan bisa menimpah siapa saja di berbagai kalangan. sehingga ini menjadi perhatian untuk semua kalangan agar dapat menghindari perbuatan tidak terpuji tersebut.

Bisa banget! Alasannya berkaitan dengan maskulinitas, Segala tindakan yang melenceng dari konsep maskulinitas yang dominan akan berpotensi mengundang pelecehan terhadap mereka. Hal utama yang implisit dari kasus pelecehan seksual adalah persoalan dominasi. Pelecehan seksual lebih mungkin terjadi ketika ada relasi kuasa, baik terhadap perempuan maupun laki-laki. Di sisi korban, ada faktor ketidakpahaman mengenai apa saja yang termasuk pelecehan seksual, ke mana harus mencari advokasi, serta pemakluman terhadap tindakan ini dari berbagai level. Selain itu, se-pemerhatianku, biasanya circle pergaulan laki-laki lebih menormalisasi segala tindakan sexual harrasment baik secara verbal maupun fisik dengan dalih “hanya bercanda” . Dulu aku pernah baca thread di twitter, ada seorang laki-laki (normal, tidak mengalami minoritas seksual), bahkan melek isu feminisme mendapatkan sexual harassment dari teman-temannya dengan dalih agar ia (korban) megerti perasaan perempuan jika laki-laki membicarakan fisiknya. Padahal, apapun alasannnya, kekerasan atau pelecehan seksual tidak dibenarkan. Ternyata, pelecehan seksual terhadap laki-laki bukan hanya ditemukan dalam konteks ruang pergaulan. Di tempat kerja, sejumlah data pun menunjukkan bahwa mereka mengalami kejadian tidak pantas ini. US Equal Employment Opportunity Commision (EEOC) has reported that in 2011 terdapat 16,1% kasus pelecehan seksual yang dilaporkan oleh laki-laki, dan duua tahun kemudian, persentase ini bertambah hingga mencapai 17,6%. Selain EEOC, Association of Women for Action and Research (AWARE) juga merilis data terkait pelecehan seksual yang dialami laki-laki. Mereka membuat studi terhadap 500 responden dan 92 perusahaan di Singapura. Salah satu temuannya, sebanyak 21% laki-laki pernah mengalami pelecehan seksual di tempat kerja.

Kemduain, mungkin akan timbul suatu pertanyaan “mengapa pelecehan seksualjuga dapat dialami oleh laki-laki?” Pertanyaan ini dijawab oleh pakar Psikologi dari York University, Toronto, Ontario, Romeo Vitelli Ph.D. daam Psychology Today ia mengemukakan bahwa di ranah profesional, baik sesama pekerja maupun atasan, sering mengharapkan laki-laki untuk bertingkah semaskulin mungkin, sehingga hal ini mengakibatkan segala tindakan yang “melenceng” dari konsep maskulinitas yang dominan akan berpotensi mengundang pelecehan terhadap mereka. Namun, sekali lagi, sebagian besar penelitian yang melihat pelecehan seksual berfokus pada wanita, dengan relatif sedikit penelitian yang membahas pria yang dilecehkan. Sebuah studi penelitian baru yang diterbitkan dalam jurnal Psychology of Men and Masculinity mencoba untuk mengatasi kesenjangan ini dan memeriksa beberapa faktor yang dapat meningkatkan kemungkinan pria menghadapi pelecehan di tempat kerja. Dilakukan oleh Kathryn J. Holland dari University of Michigan dan tim peneliti lainnya, penelitian ini mensurvei lebih dari 600 pria dan wanita yang direkrut secara online dan menanyai mereka tentang pengalaman mereka sendiri dengan pelecehan. Selain melihat berbagai cara pria dapat dilecehkan, penelitian ini juga mengeksplorasi beberapa faktor yang dapat meningkatkan kemungkinan pelecehan. Dan hasilnya cukup mengejutkan. Dalam studi tersebut, rata-rata, orang-orang dalam penelitian ini melaporkan mengalami setidaknya satu bentuk pelecehan gender sebagai bagian dari masa kerja mereka. Ini termasuk hal-hal seperti memiliki seseorang yang terkait dengan pekerjaan mereka (apakah rekan kerja, atau pengunjung tempat kerja) terlibat dalam salah satu dari delapan aktivitas pelecehan gender, seperti “Berulang kali menceritakan kisah atau lelucon seksual yang menyinggung”, “Dirujuk ke jenis kelamin orang dalam hal menghina atau menyinggung,” dll. Juga, dalam penelitian ini melaporkan pria mengalami setidaknya satu bentuk pelecehan seksual di muka pada tahun sebelumnya, termasuk kegiatan seperti “Menyentuh dengan cara yang membuat merasa tidak nyaman” atau “Promosi yang lebih cepat atau perlakuan yang lebih baik jika kooperatif secara seksual,” dll.

Berdasarkan bukti-bukti data tersebut cukup kuat membuktikan bahwa pelecehan seksual tidak hanya terjadi pada perempuan, tetapi juga laki-laik.

Data Pendukung:

Holland, K. J., Rabelo, V. C., Gustafson, A. M., Seabrook, R. C., & Cortina, L. M. (2016). Sexual harassment against men: Examining the roles of feminist activism, sexuality, and organizational context. Psychology of Men & Masculinity, 17 (1), 17–29. https://doi.org/10.1037/a0039151
Romeo Vitell, Ph.D. 2015. When Men Face Sexual Harassment: A new study looks at the kind of sexual harassment male workers can experience. Retrieved from When Men Face Sexual Harassment | Psychology Today

Tentu bisa saja, menurutku fenomena kekerasan seksual tidak mengenal gender. Baik laki-laki maupun perempuan mereka bisa menjadi korban. Setiap aku membaca berita mengenai kekerasan seksual yang dialami oleh laki-laki biasanya bermula karena pangkat mereka di pekerjaannya lebih rendah, hal ini mungkin akhirnya dijadikan sebagai kesempatan oleh atasannya untuk melancarkan aksinya, seperti hal nya fenomena bullying yang terjadi di lingkungan KPI kemarin, pasalnya si korban juga kena kekerasan seksual yang diakibatkan oleh para seniornya.

Di dalam masyarakat memang masih ada semacam double standard yang menganggap bahwa pria yang mengalami pelecehan seksual adalah hal yang aneh, sementara jika itu terjadi pada wanita maka orang pasti akan percaya. Mungkin karena selama ini, prialah yang sering menjadi pelaku pelecehan seksual maka yang terlihat lebih umum adalah pria melecehkan wanita.

Terkait dengan fenomena “pria melecehkan wanita”, hal ini tidak terlepas dari stereotip lama yang menganggap bahwa laki-laki memiliki nafsu seksual yang lebih besar dari wanita. Label sosial yang ada menganggap pria sebagai gender yang lebih aktif, sementara wanita lekat dengan peran yang lebih pasif (bisa dikaitkan dengan submissive dan dominant). Maka jika pria duluan yang melancarkan “agresi” dengan melecehkan wanita itu lebih terdengar umum dibanding “wanita melecehkan pria”. Pria sebagai korban terasa tidak umum karena itu tadi, pria menurut stereotip, seharusnya yang dominan.

Padahal, pria bisa saja menjadi korban pelecehan, entah itu oleh wanita maupun sesama pria. Stereotip yang menganggap pria dominan dan wanita pasif itu sudah semakin ketinggalan zaman di era modern ini. Baik pria maupun wanita bisa menjadi pasif maupun aktif. Baik pria dan wanita bisa menjadi pelaku maupun korban.

Oh ya, by the way, apa yang menjadi faktor yang mendefinisikan pelecehan/ kekerasan seksual? Consent. Kemauan bersama dari kedua belah pihak. Nah dalam hal ini, jika si pria tidak punya consent atas tindakan tersebut maka itu termasuk pelecehan. Lain halnya jika dia mau. Masyarakat sudah terlanjur menganggap semua pria pasti mau karena pasti keenakan, padahal belum tentu. Tanpa consent, disitulah pria menjadi korban.

Berdasarkan laman www.hallosehat.com pelecehans eksual dibagi menjadi 2, berdasarkan kategori dan perilakunya. Berdasarkan kategorinya, pelecehan seksual dibagi menjadi 5, yaitu:

  • Pelecehan gender
  • Perilaku menggoda
  • Penyuapan seksual
  • Pemaksaan seksual
  • Pelanggaran seksual

Menurut perilakunya, pelecehan seksual dibagi menjadi 10, yaitu:

  • Komentar seksual tentang tubuh
  • Ajakan seksual
  • Sentuhan seksual
  • Graffiti seksual
  • Isyarat seksual
  • Lelucon kotor seksual
  • Menyebarkan rumor tentang aktivitas seksual orang lain
  • Menyentuh diri sendiri secara seksual di depan orang lain
  • Berbicara tentang kegiatan seksual sendiri di depan orang lain
  • Menampilkan gambar, cerita atau benda seksual

Mungkin masyarakat banyak berpikir bahwa laki-laki tidak mengalami pelecehan seksual. Laki-laki juga bisa menjadi korban pelecehan seksual, seperti kasus Reynhard dan karyawan KPI beberapa hari lalu. Itu laki-laki melecehkan laki-laki.

Bagaimana dengan perempuan? Kenyataannya perempuan juga bisa melecehkan laki-laki. Biasanya banyak saya temukan di kolom komentar instagram laki-laki yang mengunggah fotonya –entah ketika dia berpose seksi ataupun tidak. Contohnya seperti komentar para wanita di instagram milik atelet Jonathan Christie, rahimku hangat lihat kamu, I want to lick that bread, bentuk-bentuk emoji melecehkan dll. Itu juga bentuk pelecehan yang mungkin tidak banyak masyarakat sadari.

Summary

Pelecehan Seksual Juga Dialami Laki-Laki (tirto.id)
Bukan Hanya Pemerkosaan, Ini Berbagai Jenis Pelecehan Seksual (hellosehat.com)

Memang stigma masyarakat kita memiliki pandangan bahwa laki-laki itu jarang atau tidak mungkin jadi korban. Salah satu bukti bahwa laki-laki juga bisa menjadi korban pelecehan seksual yaitu MS yang mengaku telah menerima tindakan perundungan, perbudakan, hingga pelecehan seksual oleh rekan kerja di kantornya sejak ia bekerja di KPI 9 tahun lalu.

Tentu saja. Kekerasan seksual tidak mengenal gender. Terkadang saya juga merasa miris saat laki-laki berusaha speak up tentang pelecehan seksual yang dialami, orang-orang tidak menanggapi itu dengan serius dan menganggap bahwa laki-laki juga senang. Seolah-olah hanya laki-laki saja yang memiliki pemikiran porno, padahal perempuan juga dapat menjadi pelaku kekerasan seksual.
Menurut saya, laki-laki juga mudah mengalami pelecehan seksual, seperti laki-laki yang dipost fotonya secara diam-diam dan dijadikan objek fantasi seksual. Jadi, kekerasan seksual tidak memandang jenis kelamin.

Sejauh yang saya amati, laki-laki juga banyak sekali yang mengalami kekerasa seksual, banyak korban (laki-laki) yang sudah mulai berani speak up dan para pelakunya pun tidak mengenal gender.
contoh kasus kekerasan seksual yang akhir-akhir ini sedang menjadi sorotan banyak media adalah kasus yang ada di lingkungan kerja KPI. Dari kasus tersebut kita bisa mematahkan stigma masyarakat bahwa hanya kaum perempuan yang bisa mengalami kekerasan seksual.

Menurut saya bisa, kekerasan seksual itu tidak melihat dari apa gendernya dan berapa umurnya. Bahkan, sudah banyak sekali lelaki yang menjadi korban kekerasan seksual, contohnya waktu itu ada berita seorang anak pondok dengan pengurus pondoknya itu. Jadi, menurut saya kaum pria juga bisa menjadi korban kekerasan seksual, dan kekerasan seksual itu tidak mengenal gender dan umur.

Iya, dong! Pertanyaan dengan jawaban yang sederhana ini, mah. Aku nggak mau kasih jawaban yang panjang, karena pada dasarnya laki-laki dan perempuan itu sama. Otak penjahat pun sama. Kalau sudah niat melecehkan, tidak peduli gender dan apa pun itu, pasti dilakukan. At the end, mereka hanya mencari-cari alasan. Dan yang menyedihkan adalah terkadang korban laki-laki kurang mendapat dukungan. Orang mengira karena korban berjenis kelamin laki-laki, maka korban seharusnya lebih kuat dan lebih bisa melawan. Apalagi kalau pelakunya adalah perempuan, yang notabene sudah bukan jadi rahasia kalau stigma “laki-laki tidak boleh menyakiti perempuan” sangat kuat–jadi mau melawan bagaimana? Intinya, sederhana saja–laki-laki, perempuan, bahkan transgender–semuanya bisa menjadi korban pelecehan seksual. Semua korban berhak diberi atensi dan perlindungan yang sama.

Tentu saja bisa, kekerasan seksual atau pun perundungan bisa terjadi kepada siapa saja dan kapan pun tanpa memandang gender, namun stigma yang melekat di masyarakat adalah laki-laki adalah pihak yang paling membutuhkan seks dan memiliki nafsu tinggi. Jadi ketika kasus tersebut terjadi kepada laki-laki, masyarakat akan menanggapi biasa saja dan malah berpikir laki-laki tersebut beruntung. Padahal sejatinya tindakan seperti itu bersifat paksaan dan saya yakin tidak ada satu pun orang yang akan menikmatinya.

Terlebih lagi kasus-kasus seperti ini biasanya terjadi kepada anak laki-laki atau mereka yang masih dibawah umur, yang masih belum mengerti betul tentang sex education. Dengan kepolosan mereka ini yang biasanya dimanfaatkan oleh pelaku, entah itu wanita atau sesama jenis untuk melancarkan aksi bejatnya.

Bisa. Menurutku pribadi, kekerasan seksual adalah tindakan kriminal yang tidak mengenal gender, hanya saja, kekerasan seksual terhadap perempuan ibaratnya lebih “terlihat” dibandingkan dengan laki laki. Padahal aku yakin, banyaknya pun hampir sama. Di antara keluhan dan pengakuan perempuan-perempuan yang sempat mengalami pelecehan seksual, pernyataan dari laki-laki lebih jauh terpendam, walau tak bisa dipungkiri korban perempuan juga banyak yang memendam. Selain karena kepedulian lebih diarahkan kepada perempuan yang dari waktu ke waktu telah mengalami perlakuan seksis dan merendahkan, alasan lain wacana tentang pelecehan laki-laki tak begitu mengemuka adalah karena tidak banyak dari mereka yang mau angkat suara terkait hal ini.

“Saya malas membicarakan hal ini karena saya tahu, di luar sana ada perempuan-perempuan yang menerima pelecehan lebih parah dari saya. Saya nggak mau mengalihkan perhatian orang dari situ [kondisi pelecehan terhadap perempuan], ” demikian pengakuan salah seorang pekerja media, sebut saja Gio (26).

Laki-laki ini bercerita bahwa lehernya pernah dicium seorang laki-laki tanpa persetujuan. Saat kejadian, orang-orang di sekitar hanya menganggap hal tersebut candaan belaka. Untuk marah pun Gio tidak mampu karena ia merasa situasinya tidak mendukung. Thats the point, bercanda. Dalih bercanda itu yang membuat orang berpikir lelaki tidak mungkin mendapat sexual assault, padahal dibalik candaan itu, ada tindakan yang sangat terpuji sedang terjadi.

Referensi

Pelecehan Seksual Juga Dialami Laki-Laki

Tentu saja bisa. Karena, kekerasan seksual bisa terjadi oleh siapapun, kapanpun, dan dimanapun. Oleh karena itu kita harus tetap waspada dan membekali diri dengan ilmu pengetahuan mengenai cara pencegahan hingga cara mengatasinya.
Pelecehan juga dialami oleh para pria, contohnya pun dapat dilihat di akun media sosial para atlet pria yang berwajah rupawan dan para idol K-Pop, terdapat banyak wanita yang menuliskan kata-kata yang kurang pantas hingga masuk kedalam pelecehan secara verbal.
Walaupun perempuan lebih rentan akan terjadinya kekerasan seksual, hal itu tidak menjamin bahwa pria tidak bisa menjadi korban.

Kekerasan seksual merupakan salah satu bentuk kejahatan yang banyak terjadi di masyarakat. Kekerasan seksual seperti pelecehan atau bahkan pemerkosaan. Kekerasan seksual memang sering terjadi pada korban perempuan. Pelaku pelecehan melakukan kekerasan seksual dengan berbagai macam motif atau alasan misalnya nafsu, perampokan, atau pembunuhan.

Namun, tidak dipungkiri juga bahwa kekerasan seksual juga dialami oleh laki-laki. Seperti kasus yang baru saja terjadi di salah satu lembaga negara di Indonesia. MS (inisial) merupakan korban kekerasan seksual. Beberapa korban pelecehan seksual lebih memilih untuk diam karena takut dengan ancaman pelaku atau stigma masyarakat. Namun MS memilih untuk tidak bungkam terkait pelecehan yang dialaminya.

Dari kasus MS membuktikan bahwa kekerasan seksual dapat terjadi pada perempuan ataupun laki-laki. Pikiran dan stigma masyarakat tentang laki-laki yang menjadi korban kekerasan seksual sering tidak dipercaya. Pasalnya laki-laki dianggap lebih kuat dibandingkan perempuan sehingga tidak wajar jika mereka menjadi korban kekerasan seksual. Realitanya laki-laki pun dapat menjadi korban kekerasan seksual.

tentu saja semua orang bisa saja menjadi korban kekerasan seksual baik itu perempuan atau laki-laki. Penyebab adanya kekerasa seksual pada laki-laki kemungkinan karena adanya penyimpangan orientasi seksual dimana orang itu memiliki ketertarikan dengan sesama jenis. Munculnya stigma bahwa laki-laki tidak mungkin menjadi korban kekerasan seksual di latarbelakangi oleh anggapan bahwa laki laki dianggap lebih kuat daripada perempuan.

Padahal bisa saja laki-laki mengalami kekerasan seksual ketika ia masih anak-anak, karena anak kecil masih belum tau apa-apa, tidak memiliki kehati-hatian yang tinggi dan mudah tergoda dengan janji atau sesuatu yang akan diberikan oleh orang lain. Bahaya nya lagi ketika orang terdekat bisa saja menjadi pelaku kekerasan seksual, karena sudah dekat maka timbulah rasa aman dan tingkat kewaspadaan pun menjadi berkurang.

Sangat bisa, bahkan belakangan ini sering terjadi. Mengapa seperti tidak ada kasus seperti itu? karena hal segelintir atau bahkan tidak ada yang berani melapor maupun speak up bahwa ia adalah korban peleceha seksual. Bahkan hal semacam ini juga terjadi pada wanita yang biasanya banyak menjadi korban pemerkosaan.

Stigma masyarakat yang jarang percaya bahwa pria juga bisa menjadi korban pemerkosaan juga menjadi salah satu penyebab, mungkin segelintir orang saat membaca judul diskusi ini akan bertanya dalam hati " hah memangnya ada ya? ". Jika seorang pria mengaku pun bahwa ia adalah korban, maka beberapa orang bahkan polisi akan memandang sebelah mata ceritanya dan menganggapnya seperti angin lalu. Jika ia bercerita kepada teman nya tak jarang mereka akan menjawab " yasudah lah bro ". Sangat miris.

Yap, menurut saya laki-laki juga bisa menjadi korban kekerasan seksual. Namun selama ini banyak yang beranggapan bahwa korban kekerasan seksual selalu perempuan dan anak-anak, lalu laki-laki selalu menjadi pelakunya. Hal tersebut merupakan suatu anggapan yang salah. Pelaku pelecehan seksual bisa siapa saja terlepas dari jenis kelamin, umur, pendidikan, nilai-nilai budaya, nilai-nilai agama, warga negara, latar belakang, maupun status sosial. Pada kenyataanya, kekerasan seksual juga dapat terjadi dengan laki-laki sebagai korban. Pelakunya pun bisa perempuan atau sesama jenis.

Mengapa laki-laki dapat mengalami kekerasan seksual serupa dengan perempuan? Menurut pakar psikologi dari York University,Toronto, Ontario, Romeo Vitelli Ph.D. mengemukakan argumennya dalam Psychology Today bahwa di ranah profesional, baik sesama pekerja maupun atasan, sering mengharapkan laki-laki untuk bertingkah semaskulin mungkin. Segala tindakan yang melenceng dari konsep maskulinitas yang dominan akan berpotensi mengundang pelecehan terhadap mereka. Kasus kekerasan seksual lebih mungkin terjadi ketika ada relasi kuasa, baik terhadap perempuan maupun laki-laki. Di sisi korban, ada faktor ketidakpahaman mengenai apa saja yang termasuk pelecehan seksual, ke mana harus mencari advokasi, serta pemakluman terhadap tindakan ini dari berbagai level.