Bagaimana tanggapan kalian dengan "wanita tidak perlu sekolah tinggi-tinggi karena nantinya hanya berakhir di dapur dan mengurus anak"?

Sepakat! Saya pun sangat setuju kalau perempuan juga harus mengutamakan pendidikan pada dirinya. Pendidikan itu dasar dari segala hal yang harus dimiliki oleh setiap orang. Khususnya perempuan yang kelak akan menjadi ibu dan mendidik anak-anaknya, tentu dong perempuan itu harus cerdas dan memiliki ilmu pengetahuan yang mumpuni untuk membesarkan anak-anaknya walaupun tanggung jawab menddik tidak hanya terletak pada ibu namun ayahnya juga. Tetapi saya yakin ibu berkontriibusi lebih besar dari sosok ayah, maka dari itu seorang perempuan hrus tetap menuntut ilmu bahkan sampai maut menjemputnya. Berpendidikan tidak harus kuliah tinggi-tinggi, selama ada ktivitas beajar di sana dan ada guru yang mengajar sah sah saja unuk menuntut ilmu di sana

Jelas tidak setuju.
Pertama, karena pernyataan ini terlalu memojokkan pihak wanita agar ‘legowo’ untuk berakhir di dapur dan mengurus anak tanpa perlu memikirkan cita-cita atau ambisinya.
Kedua, karena pernyataan ini ‘mengganggu’ hak wanita (yang jelas juga manusia) untuk memperoleh pendidikan, setinggi apa pun yang ia mau dan bisa.
Ketiga, sekalipun ada wanita yang memang memilih mengurus dapur, anak, dan/atau segala urusan rumah tangga lainnya dibanding bekerja ketika sudah menikah nanti, tetap saja pendidikan tinggi bertujuan untuk mendapatkan ilmu yang lebih tinggi (banyak), bukan hanya sekadar ‘status’ atau ijazah. Wanita yang berilmu/berpendidikan tinggi tentu memungkinkan dirinya untuk lebih baik dalam mengurus kehidupan rumah tangganya, dan tentu ilmunya juga bisa berguna bagi anak-anaknya.

Saya jelas sangat tidak setuju dengan statement yang mengatakan bahwa wanita tidak harus menempuh pendidikan yag tinggi karena satu dan lain hal yang pasti berkaitan dengan gender, pelabelan yang terbentuk atas konstruksi sosial ini, membuat wanita memiliki ruang gerak yang terbatas, jika saya menemukan atau mendapati perkataan demikian, saya akan mengatakan ‘justru, karena kelak saya akan bertanggung jawab atas nyawa suami dan anak saya, maka saya harus meraih pendidikan setinggi-tingginya agar saya mampu melahirkan dan mendidik mereka dengan baik” memangnya, menjadi seorang ibu rumah tangga di zaman seperti saat ini sebuah tugas yang mudah?, tentu tidak, justru saat ini menjadi ibu rumah tangga ditengah perkembangan zaman yang sudah sangat modern menjadi satu tantangan tersendiri untuk kita para calon ibu hebat diluaran sana.

Kesetaraan gender sudah saat nya lebih dikenalkan kepada masyarakat umum, terutama yang memang awam akan adanya edukasi seperti ini, karena bukan hanya demi kemajuan negara melainkan juga untuk keadilan manusia, yang tidak membedakan feminism dan maskulin.

Kalau aku tentunya sebagai perempuan tidak setuju dengan statement yang sebenernya sudah dari dulu menjadi pembahasan yang tidak pernah selesai. Tentunya di zaman sekarang yang serba canggih, teknologi yang sudah masuk kenegara kita, kemudahan akses informasi, tentunya statement tersebut tidak harus diperdebatkan. Namun memang faktanya masih ada saja beberapa kali terdengar di telinga terlebih biasanya para kaum yang sudah tua. Namun tentu saja tanpa ilmu hidup yang serba tidak pasti ini akan sulit, semuanya serba menggunakan ilmu pengetahuan.

Berangkat dari statement tadi, saya teringat salah satu edukasi yang cukup urgent di negara kita. Yaitu edukasi kesetaraan gender, mengapa? Karena budaya kita sudah melekat dengan seorang perempuan memiliki peran mengurus seluruh pekerjaan domestik, sedangkan laki-laki mencari nafkah. Namun keduanya dianggap timpang, lagi-lagi urusan cita-cita perempuan seperti menjadi hambatan. Maksudnya, mengapa tidak di dukung saja? Biarkan ia sama dengan manusia pada umumnya, sama dalam memiliki ambisi, cita-cita, dan tujuan. Dan urusan domestik seharusnya ada pembagian yang merata, namanya menikah ya tentu saja perihal hidup bersama. Kerja tim yang supportif dan saling membantu. Ya, sedikit agak gedek tetapi jika digaungkan dikira perempuan malah menuntut hehe.

Edukasi itu penting, anak lahir dari rahim perempuan (untuk yang memilih punya anak) sedang untuk memberi ilmu ya tidak hanya ibu tetapi juga peran ayah. Jadi kesimpulannya, jika ayah dan ibu bisa sama-sama pintar bukankah anaknya semakin baik? logikanya, misal ayah saja yang pintar kemudian ibu biasa-biasa saja atau cukup dikatakan tidak respect terhadap ilmu. Sedang ayah sibuk bekerja, pulang-pulang hanya mengistirahatkan lelah, lantas siapa yang menjadi peran sumber ilmu internal anak?

Tidak setuju. Wanita adalah ‘sekolah kehidupan’, ‘tiang negara’. Betapa banyak anak-anak sukses yang dididik oleh para ibu luarbiasa.

Justru untuk menjadi ibu yang super para wanita harus sekolah setinggi-tingginya. Siapa bilang jadi ibu rumahtangga adalah pekerjaan yang mudah? Akan jauh lebih baik jika para ibu mempunyai pendidikan yang mumpuni untuk mencetak generasi berikutnya yang berkualitas.

Saya pribadi tidak setuju dengan statment itu. Wanita sangat perlu sekolah tinggi walaupun nanti nya mungkin akan berakhir di dapur dan mengurus anak. Tapi dengan sekolah tinggi wanita pasti memiliki mindset atau wawasan yang berbeda dengan wanita yang tidak memperhatikan pendidikan. Apalagi perihal mengurus anak, menururt saya cara didik perempuan yang sekolah tinggi akan berbeda dengan yang tidak sekolah, dan nantinya akan berdampak kepada tumbuh kembang anak. Maka dari itu, seorang wanita sangat oerlu sekolah tinggi.

Saya tidak setuju. Karena sebut saja begini, biarpun perempuan sudah berpendidikan tinggi (misal kuliah) dan tidak akan bekerja, namun dengan memiliki ilmu pengetahuan dan pendidikan yang luas makan sebagai istri akan cerdas dalam mengelola rumah tangga, berdiskusi dengan pasangan pun akan semakin luas pandangannya. Ataupun sebagai ibu nantinya akan mendidik anak lebih baik lagi. Terlebih dalam mencapai ilmu pengetahuan dan pendidikan tidak hanya di perguruan tinggi, tapi dapat juga didapatkan dan diraih melalui kursus, kelas parenting dan lainnya.
Kekhawatiran banyak kaum laki-laki (maupun keluarga dari pihak pasangan laki-laki) ketika perempuan berpendidikan tinggi adalah merasa takut ‘kalah’, merasa tidak pantas, takut perempuan akan mendominasi rumah tangga sehingga tidak mau mengurus rumah, ataupun sombong dan tidak mau mendengar suaminya. Padahal segala urusan rumah tangga apabila kedua pasangan cerdas maka akan lebih banyak ditemukan solusi, pendapat dan pandangan yang dapat mempererat hubungan ataupun memudahkan penyelesaian masalah.

Menurut saya wanita akan lebih baik jika memiliki jenjang pendidikan yang tinggi dan bisa bekerja secara mandiri sehingga memiliki penghasilan sendiri. Hal itu akan memberikan keuntungan bagi sebuah keluarga nantinya, karena ketika suatu saat nanti jika sang suami sebagai kepala keluarga memiliki masalah dalam pekerjaannya karena suatu kondisi seperti sakit, diberhentikan dari pekerjaannya, atau juga memiliki masalah pada tubuhnya sehingga membuatnya tidak bisa bekerja seperti biasa. Jika hal itu terus terjadi sampai lama dan tidak memiliki pamasukan bagi keluarganya, sang istri bisa menjadi backup untuk menjaga keluarganya tidak makin berantakan karena penghasilan yang dimilikinya dapat menjadi dana cadangan sampai kondisi keluarganya kembali normal.

Selain itu juga seorang wanita yang memiliki pendidikan yang tinggi dan memiliki pengalaman kerja dapat menuntun anaknya untuk membangun karir yang tepat bagi anaknya, dimulai dari membangun bakat dan skill si anak dengan membimbingnya untuk menggapai pendidikan yang sesuai dengan bakat dan passion si anak, sehingga masa depan anaknya lebih tertata. Selain itu karena anak-anak cenderung lebih dekat kepada ibunya, seorang ibu yang memiliki pendidikan yang tinggi akan bisa memberikan nasehat dan masukan yang lebih berbobot kepada anak-anaknya karena memiliki wawasan yang tinggi.

Menurut saya siapa saja dapat mengenyam pendidikan sampai perguruan tinggi termasuk itu seorang wanita. Wanita, kerap kali selalu dikait-kaitkan dengan segala aktivitas rumah tangga dan mengurus anak saja. Namun tanpa disadari banyak wanita karir yang juga mampu memainkan peran sekaligus dalam setiap harinya. stigma-stigma negatif seperti ini akan menjadi sebuah pemicu kebimbangan didalam diri. Selagi seorang wanita bisa menjadi wanita dengan karir yang baik juga dapat mengurus pekerjaan rumah walaupun akhirnya harus membutuhkan bantuan dari suaminya. Sebab menikah bukanlah untuk menjadi siapa yang berkuasa dan siapa dibawah. Melainkan membangun sebuah rumah tangga yang bisa menerima segala kekurangan yang menyatukan dua karakter yang berbeda dalam setiap seluk-beluk masalah yang datang namun dapat diselesaikan dengan kepala dingin tanpa ada pertengkaran.

asumsi seperti ini masih ada dilingkungan sekitar aku, terlebih beberapa temanku juga memiliki spekulasi bahwa sudah kodratnya wanita dibawah suami agar selalu menghormati suami-_-

beberapa temanku yang sudah lulus langsung bekerja dan orientasinya selalu pada pekerjaan dan bukan pada pendidikan ada yang seperti itu.

menjadi sebuah pembahasan diumur 21 belum lamaran, belum tunangan dan belum menikah itu hal yang cukup ramai, disini.

Saya tidak setuju dengan pernyataan di atas mengingat pernyataan tersebut sudah tidak lagi relevan di zaman ini. Saat ini, semua orang, baik laki-laki maupun perempuan, memiliki hak untuk mengenyam pendidikan dan melimpahkan pekerjaan rumah tangga seperti memasak dan mengurus anak kepada perempuan hanyalah usaha untuk mengkotak-kotakan gender. Memasak dan mengurus anak adalah tanggung jawab dari pasangan suami istri yang sudah menikah dan tidak bisa seenaknya dilemparkan ke satu pihak saja. Lagipula jika wanita berakhir di dapur, seorang koki juga begitu bukan? Baik dia laki-laki sekalipun. Dan jika mengurus anak adalah tugas perempuan, untuk apa dia menikah jika suaminya tak ikut ambil bagian dalam mengurus anak? Lebih baik tidak usah menikah daripada harus dikotak-dikotakan seperti itu.