Bagaimana pandangan islam tentang cinta ?

pernikahan_islam

(Arinda Dewi Listikowati) #1

Cinta sejati dalam islam

Cinta sejati dalam islam memang selalu dibicarakan dari waktu ke waktu, dari masa ke masa dan tidak ada kata bosan untuk membicarakannya. Cinta sendiri bisa tumbuh seiring berjalannya waktu. Lalu, bagaimana pandangan islam tentang cinta ?


(Denta Ileana Akleema) #2

Kata cinta (mahabbah) berasal dari kata ahabba, yuhibbu, mahabbatan, yang berarti mencintai secara mendalam, atau kecintaan atau cinta yang mendalam. Masuk ke dalam al-mahabbah ini adalah al-‘isyq (rindu). Ada juga yang mengatakan, bahwa al-hubb berasal dari kata habab al- ma’a adalah air bah besar. Artinya, cinta itu merupakan kepedulian yang paling besar dari cita hati.

Dikatakan juga, al-hubb berasal dari kata habb (biji-bijian) yang merupakan bentuk jamak dari habbat. Dan habbat al-qalb adalah sesuatu yang menjadi penompangnya. Dengan demikian, al-hubb atau cinta adalah sesuatu yang tersimpan di dalam qalbu. Dikatakan lagi, kata al-hubb berasal dari kata hibbah, yang berarti biji-bijian dari Padang pasir. Artinya, cinta merupakan lubuk kehidupan, bagaikan benih pada tumbuh-tumbuhan.

Ada juga yang mengatakan, al-hubb berasal dari kata hibb, artinya tempat yang didalamnya ada air, dan manakala ia penuh, tidak ada lagi tempat bagi yang lainnya. Demikian juga, dikala hati dilupai rasa cinta, tak ada lagi tempat di hatinya selain sang kekasih. Demikianlah yang dikemukakan oleh al-Qusyairi dalam Risalahnya.

quotes cinta ali bin abu thalib

Citan menurut Istilah


Ada beberapa defenisi terminologi cinta Ilahi yang dikemukakan oleh para tokoh, diantarannya al-Ghazali memberikan defenisi cinta (Mahabbah) atas cinta adalah kecenderungan naluriah kepada sesuatu yang menyenangkan.

Abu Yazid Al-Bustami (w. 280 H) mengatakan hakikat cinta itu adalah apabila telah terjadi al-ittihad. Menurut Al-Junaid, cinta berarti merasukkan sifat-sifat sang kekasih mengambil alih dari sifat-sifat pencinta. Di sini Al-Junaid menunjukkan betapa hati si-pencinta direnggut oleh ingatan akan sifat-sifat sang kekasih, hingga sang pencinta lupa dan tidak sadar akan sifat-sifatnya sendiri.

Barangkali dalam keadaan inilah, para salik ketika mereka mabuk kepayang terhadap kekasihnya, yaitu Allah SWT, mereka seakan-akan berada di hadirat-Nya. Mereka sudah tidak ingat apa-apa selain Allah SWT semata. Bahkan ketika itu di dalam dirinya tidak membekas sedikit pun perasaan ketergantungan kepada selain AllahSWT.

Sementara Abu Nashr Al-Sarraj Al-Thusi membagi cinta (mahabbah) menjadi tiga tingkatan:

  • Pertama, mahabbah al-‘ammah (orang asmara), yaitu cinta yang timbul dari belas kasih dan kebaikan Allah SWT kepada hamba-Nya.

  • Kedua, mahabbah al-shadiqin wa al- Muhaqqiqin, yaitu cinta yang timbul dari pandangan hati sanubari terhadap kebenaran, keangungan, kemahakuasaan ilmu dan kekayaan Allah SWT.

  • Ketiga, mahabbah al-shiddiqin wa al-arifin, yaitu cinta yang timbul dari penglihatan dari ma’rifat mereka terhadap qadim-Nya kecintaan Allah SWT yang tanpa ‘illat (pamrih).

Demikian pula mereka mencintai Tuhan dengan tanpa ‘illat. Cinta ilahi yang bersih dan tidak ada kekeruhannya adalah hilangnya cinta dari hati dan anggota badan sampai tidak ada cinta sama sekali padanya, dan yang ada semuanya itu hanyalah bi Allah dan li Allah itulah bercinta karena Allah SWT.

Harun Nasution menjelaskan beberapa defenisi cinta (Mahabbah) sebagai berikut:

  1. Memeluk kepatuhan kepada Allah SWT dan membenci sikap melawan-Nya.
  2. Menyerahkan seluruh diri kepada yang di kasihi.

Mengosongkan hati dari segala-galanya, kecuali dari yang dikasihi yang dimaksud dengan yang dikasihi di sini ialah Tuhan. Defenisi-defenisi terminologis cinta Ilahi, sebagaimana yang dikemukakan para tokoh sufi di atas, barangkali merupakan setitik ungkapan perasaan dan pengalaman jiwa yang dikeluarkan melaluai kata- kata yang dapat disentuh. Karena, bila diperhatikan ungkapan itu tidak selamanya dapat disamakan dengan ungkapan yang berupa kata-kata atau huruf. Namun untuk dapat mengerti ungkapan-ungkapan perasaan memang harus diaktualisasikan melaluai kata-kata atau huruf-huruf yang dipahami dan dimengerti oleh orang lain. Oleh karena itu, pada hakikatnya cinta (Mahabbah) meliputi ilham, pancaran dan lupaan-lupaan hati cinta dengan segala perasaan dan keberadaannya.

Dengan makna dan tingkatan-tingkatan ini, menurut ahli tasawuf, cinta itu sebenarnya tidak dapat dijelaskan hakikat dan rahasianya. Cinta itu dapat dirasakan tetapi tidak dapat disifati. Muhyiddin Ibnu Arabi (w. 628 H) seperti dikutip Al-Qusyairi mengatakan, barangsiapa yang mendefenisikan cinta, berarti ia tidak tahu tentang cinta. Siapa yang mengatakan bahwa dia telah puas dengan cinta, berarti ia tidak mengerti tentang cinta. Abu ‘Ali Al-Rudzbari menyatakan cinta adalah kesesuaian dengan keinginan sang kekasih.

Ibnu Abdu Al-Shamad mengatakan cinta itu buta dan tuli, seseorang yang jatuh cinta akan buta terhadap apapun selain kekasihnya. Ia tidak akan melihat selain yang dikasihinya. Syaikh Abu Ali Al-Daqqaq mengatakan cinta adalah kemanusiaan, tetapi hakikatnya adalah kebingungan.

Menurut Masignon dan Mustafa Abdurrasiq, di dalam bahasa Arab al-mahabbah dibicarakan dalam lima macam pengertian.

  • Pertama, al-mahabbah bermakna bersih dan putih. Berdasarkan kata-kata mereka (orang Arab) yang menyebutkan ‘’bersih dan putihnya gigi yang tampak’’ dengan ungkapan ‘’habbaba al-asnam’’.

  • Kedua, al-mahabbah bermakna tinggi dan mulia, sebagaimana kata-kata mereka ‘’hubbaha al-ma’a wa hubbahu’’ (yang lebih tinggi darinya ketika terjadi hujan lebat ). Demikian pula dengan kata-kata ‘’ habbaba al-ka’sa (air meninggi melampaui permukaan gelas).

  • Ketiga, al-mahabbah bermakna suatu kebiasaan, kelaziman dan keteguhan, seperti kata-kata ‘’hubbu al-ba’iru wa ahabbu’’ dialamatkan kepada unta yang tidak mau berdiri.

  • Keempat, al-mahabbah berarti inti sari, seperti kalimat ‘’taubatal al-qalbi’’ (inti hati) yang digunakan untuk menjelaskan bagian dari dalam hati.

Dengan demikian batasan-batasan dan rumusan-rumusan untuk mendefisinikan cinta adalah wajar dan benar, tetapi tidak cukup untuk mengungkapkan hakikatnya. Ia adalah isyarat-isyarat, tanda-tanda dan peringatan-peringatan. Tidak ada defenisi yang sempurna yang meliputi apa yang dirasakan oleh orang yang bercinta. Bagaimanapun juga kalimat yang mereka pergunakan, tidaklah dapat mensifati cahaya kecuali cahaya dan tidak dapat mengambarkan kerinduan kecuali kerinduan itu sendiri.

Mengingat nama-nama kandungannya yang halus, maka cinta itu adalah rahasia yang tidak dapat diketahuai oleh orang yang bersangkutan dan hidup dengannya. Tiada diketahuai kecuali orang-orang yang memperoleh nur dan hidup untuknya. Mahmud al-Syarif berkata:’

’Barangsiapa yang merasa nikmat dengan pancaran dan kerinduan dan merasakannya, berarti dia menguasai daerahnya dan keberadaanya’’.

Dalam pandangan Iqbal (1876-1938 M), cinta merupakan makan khuldi. Cinta bukan merupakan pencarian mistik yang sia-sia dan samar- samar, juga bukan api birahi yang membara dan mendorong ke pemuasan badani. Bagi Iqbal, cinta adalah sesuatu yang tidak kunjung kenyang, yang memimpin manusia ke jalan kebajikan dan keutamaan.
Dengan demikian cinta kepada Allah SWT akan membawa seseorang hamba kepada jalan-Nya. Demikianlah beberapa gambaran dan defenisi terminologi cinta Ilahi yang dilahirkan oleh para sufi.

quotes cinta ali bin abu thalib

Dasar-dasar Ajaran Cinta


Dasar Syara’

Ajaran cinta memiliki dasar dan landasan, baik di dalam Al-Qur’an maupun Sunnah Nabi SAW. Hal ini menunjukkan bahwa ajaran tentang cinta khususnya dan tasawuf umumnya, dalam Islam tidaklah mengadopsi dari unsur-unsur kebudayaan asing atau Agama lain seperti yang sering ditudingkan oleh kalangan orientalis.

Dalil-dalil dalam Al-Qur’an, Misalnya sebagai berikut: Qs. Al-Baqarah ayat 165

Artinya:Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah SWT mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah SWT. Adapun orang-orang yang beriman Amat sangat cintanya kepada Allah SWT, dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah SWT semuanya, dan bahwa Allah SWT Amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).

Qs. Al-Maidah ayat 54

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, Barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, Maka kelak Allah SWT akan mendatangkan suatu kaum yang Allah SWT mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah SWT, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah SWT, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah SWT Maha Luas (pemberian- Nya), lagi Maha mengetahui.

Qs. Ali-Imran ayat 31

Artinya: Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah SWT mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah SWT Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dalil-dalil dalam hadis Nabi Muhammad SAW, Misalnya sebagai berikut:

Tiga hal yang barang siapa mampu melakukannya, maka ia akan merasakan manisnya iman, yaitu: pertama, Allah SWT dan Rasul- Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya. kedua, tidak mencintai seseorang kecuali hanya karena Allah SWT ketiga, benci kembali kepada kekafiran sebagaimana ia benci dilemparkan ke neraka.

’….Tidaklah seorang hamba-Ku senantiasa mendekati- Ku dengan ibadah-ibadah sunah kecuali Aku akan mencintainya. Jika Aku mencintainya, maka Aku pun menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat menjadi tangannya yang ia gunakan untuk memukul dan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan’’…

’’Tidak beriman seseorang dari kalian sehingga aku lebih dicintainya daripada anaknya, orang tuanya, dan seluruh manusia’’.

Dasar Filosofis

Dalam mengelaborasi dasar-dasar filosofis ajaran tentang ajaran cinta ini, Al-Ghazali merupakan ulama tasawuf yang pernah melakukannya dengan cukup bagus. Menurut beliau, ada tiga hal yang mendasari tumbuhnya cinta dan bagaimana kualitasnya sebagai berikut:

  1. Cinta tidak akan terjadi tanpa proses pengenalan (ma’rifat) dan pengetahuan (idrak). Manusia hanya akan mencintai sesuatu atau seseorang yang telah ia kenal. Karena itulah, benda mati tidak akan memiliki rasa cinta. Dengan kata lain, cinta merupakan salah satu keistimewaan makhluk hidup. Jika sesuatu atau seseorang telah dikenal dan diketahuai dengan jelas oleh seorang manusia, lantas sesuatu itu menimbulkan kenikmatan dan kebahagiaan bagi dirinya, maka akhirnya akan timbul rasa cinta. Jika sebaliknya, sesuatu atau seseorang itu menimbulkan kesengsaraan dan penderitaan, maka tentu ia akan dibenci oleh manusia.

  2. Cinta terwujud dengan tingkat pengenalan dan pengetahuan. Semakin intens pengenalan dan semakin dalam pengetahuan seseorang terhadap suatu obyek, maka semakin besar peluang obyek itu untuk dicintai. Selanjutnya, jika semankin besar kenikmatan dan kebahagiaan yang diperoleh dari obyek yang di cintai, maka semakin besar pula cinta terhadap obyek yang dicintai tersebut.

    Kenikmatan dan kebahagiaan itu bisa dirasakan manusia melalui panca inderanya. Kenikmatan dan kebahagiaan yang dirasakan bukan melalui panca indera, namun melalui mata hati. Kenikmatan rohaniah seperti inilah yang jauh lebih kuat dari pada kenikmatan yang dirasakan oleh panca indera. Dalam konteks inilah, cinta terhadap Tuhan terwujud.

  3. Manusia tentu mencintai dirinya. Hal pertama yang dicintai oleh makhluk hidup adalah dirinya sendiri dan eksistensi dirinya. Cinta kepada diri sendiri berarti kencenderungan jiwa untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya dan menghindari hal-hal yang bisa menghancurkan dan membinasakan kelangsungan hidupnya.

Referensi
  • Harun Nasution, Falsafah dan Mitisisme dalam Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1999).
  • Asfari dan Otto Soekanto, Mahabbah Cinta Rabi’ah Al-Adawiyah, (Yogyakarta: Bentang Budaya, 2000).
  • Reynold A. Nicholson, Tasawuf: Menguak Cinta Ilahiah, (Jakarta: PT. Raja Grafindo, 1993).
  • Muhammad bin Ismail Abu Abdillah al-Bukhari al-Ja’fi, al-Jami’ as-Shahih al- Mukhtashar, (Beirut: Dar Ibnu Katsir, 1987).
  • Muslim bin al-Hajjaj Abu al-Husain al-Qusyairi an-Naisaburi, Sahih Muslim, (Beirut: Dar Ihya at-Turats al-Arabi, tt).
  • Abu Hamid Al-Ghazali, Penj. Abu Asma Anshari, Al-Mahabbah Wa Asy-Syauq.
  • Muhammad Sholikhin, Menjadikan Diri Kekasih Ilahi, (Jakarta: PT. Gelora Aksara Pratama, 2009).
  • Hamka, Tasawuf Perkembangan dan Pemurnian, (Jakarta: Pustaka Panjimas, 1994).
  • Abdul Qasim al-Qusyairi an-Naisaburi, ar-Risalah al- Qusayriyah, ( Dar al-Khair, t. t).
  • Al-Ghazali, Mutiara Ihya ‘Ulumiddin: Ringkasan yang ditulis sendiri oleh sang Hujjat al-Islam, Trj. Irwan Kurniawan, (Bandung: Mizan, 1997).

(Aresha Ravan Arabella) #3

Dalam kamus populer bahasa Indonesia, secara etimologi makna cinta sama dengan kasih-sayang dan rasa kasih, sehingga kata cinta dan kasih-sayang memiliki keterkaitan makna yang erat. Jika Allah mengasihi dan menyayangi hambaNya maka hamba tersebut akan mendapatkan cintaNya, jika orang tua mencintai anaknya, maka ia akan mengasihi dan menyayangi sang anak.

Pemahaman manusia tentang cinta begitu mendalam dan hati mereka sangat gandrung kepadanya, maka sebutan untuk kata cinta sangatlah banyak sebagai ungkapan-ungkapan mereka yang menunjukkan bahwa mereka sedang merasakan cinta.

Menurut Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, kata cinta ( al-Subb) , memiliki kata yang bersinonim sebanyak 50 kata atau bahkan lebih, diantaranya: al-mahabbah (cinta), al-alâqah (ketergantungan), al- hawâ (kecenderungan hati), ash-shobwah (kerinduan), ash-shobâbah (rindu berat), asy-syaghaf (mabuk kepayang), al-miqâh (jatuh hati), al- wajdu (rindu bercampur sendih), al-kalaf (beben/derita karena cinta), at-tatayyum (pemujaan), al-‘isyq (kasmaran), al-jawâ (yang membara), ad-danaf (sakit karena cinta), asy-syajwu (yang menyedihkan/ merena), asy-syauq (rindu), al-khilâbah (yang memperdaya), al-balâbil (yang menggelisahkan), at-tabârih (yang memberatkan), as-sadam (sesal dan sedih), al-ghamarat (tidak sadar atau mabuk), al-wahal (yang menakutkan), asy-syajan (yang dibutuhkan), al-lâ’ij (yang memedihkan), al-ikhti’âb (yang membuat merana), al-washab (kepedihan), al-ariq (yang membuat tidak bias tidur), al-hanîn (penuh kasih-sayang), al-futûn (cinta yang penuh dengan cobaan), ar-rasîs (gejala cinta), al-wudd (kasih yang tulus), al- khilmi (teman dekat), at-ta’abbud (penghamban), dan al-marhamah (perasaan sayang).

quote cinta menurut Islam

Pendapat lain menyebutkan bahwa kata al-hubb sebenarnya diambil dari kata habbatun , artinya benih. Atau pendapat lain mengatakan bahwa cinta berasal dari kata hubbun yang berarti penopang sesuatu, karena orang yang dimabuk cinta dapat menahan beban berat untuk sesuatu yang dicintainya, sebagimana penopang akan dapat menahan beban sesuatu yang ditopangnya. Dan satu hal yang perlu diketahui bahwa kata cinta dalam bahasa Arab mempunyai dua dialek, yaitu habba dan ahabba.

Kata lain yang bersinonim dengan kata al-hubb yang berarti cinta atau kasih-sayang adalah al-marhamah -kata kerjanya adalah rahima- , yang berarti perasaan sayang, meliputi pengertian cinta kasih, yang menimbulkan kekuatan untuk menahan amarah kepada sesuatu. Kata rahmah atau rahmat adalah asal usul dari kata rahman dan rahim . Sedangkan rahmah itu sendiri berasal dari kata kerja rahima . Keduanya secara bersama atau terkadang secara sendiri-sendiri adalah bagian dari sifat-sifat Allah SWT. Menurut Kamus al-Qur’an al- Mufradat fi al-Gharib al-Qur’an karya Syekh Abu Al-Qasim al- Husayn al-Raghib al-Isfahani –sebagaimana dikutip oleh M. Dawam Rahardjo dalam ensiklopedi al-Qur’an- rahmat artinya : “kelembutan hati yang mengharuskan berbuat kebajikan kepada yang dirahmati.” Sehingga artinya meliputi pengertian cinta kasih.

Cinta adalah perasaan aneh yang merasuki jiwa setiap makhluk yang memberikan ia kekuatan tertentu dalam menciptakan karya-karya untuk dirinya dan makhluk disekitarnya, yang secara bahasa sering diartikan “amat suka” atau “sayang sekali”.

quote cinta menurut Islam

Arti Cinta Secara Terminologi


Menurut Ibnu Hazm yang dikutip oleh Khalid Jamal bahwa cinta adalah ungkapan perasaan jiwa, ekspresi hati dan gejolak naluri yang menggelayuti hati seseorang terhadap yang dicintainya. Ia terlahir dengan penuh semangat, kasih-sayang dan kegembiraan. Pada awalnya cinta itu biasa lalu semakin menguat di dalam jiwa. Demikian lembutnya arti sebuah cinta sehingga tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata, dan cinta hakiki tidak dapat dimengerti kecuali dengan sebuah pengorbanan.

Menurut Anis Matta, cinta dan kasih-sayang itu sendiri berarti memberi, memperhatikan, merawat dan melindungi. Maka ungkapan dari “aku mencintaimu”, “aku mengasihi dan menyayangimu” adalah kata lain dari “aku ingin memberikanmu sesuatu”, yang ini juga berarti bahwa “aku akan memperhatikan dirimu dan semua situasimu untuk mengetahui apa yang kamu butuhkan untuk tumbuh menjadi lebih baik dan bahagia. Aku akan bekerja keras untuk memfasilitasi dirimu agar dapat tumbuh semaksimal mungkin, aku akan merawat dengan segala kasih sayangku proses pertumbuhan dirimu melalui kebajikan harianku yang akan kulakukan padamu, aku juga akan melindungi dirimu dari segala sesuatu yang dapat merusak dirimu dan proses pertumbuhan itu.

Cinta dalam Islam bukan sebuah kebebasan tanpa batas, bukan pula kemerdekaan tanpa sebuah tanggungjawab. Cinta merupakan metode pendidikan Ilahi yang terkait dengan emosi dan perasaan. Cinta itu membina moral dan menjinakkan insting. Cinta adalah ruh iman dan amal, kedudukan dan keadaan, yang jika cinta ini tidak ada di sana, maka tak ubahnya seperti jasad yang tak memiliki ruh.

Banyak pendapat yang dikemukakan di kalangan ahli bahasa sehubungan dengan definisi cinta, diantaranya:

  • Cinta adalah menuruti kemauan yang dicintai, baik di hadapannya maupun di belakangnya.

  • Cinta adalah kesamaan kehendak antara pihak yang mencintai dan pihak yang dicintai dalam hal selera.

  • Cinta adalah menyajikan pelayanan disertai dengan menjaga kesucian.

  • Cinta adalah banyak berkorban untuk orang yang dicintai dan enggan merepotkannya.

  • Cinta ialah kecemburuan yang muncul dalam kalbu bila kehormatan obyek yang dicintai ada yang melecehkannya, dan cemburu jika kekkasih menduakan.

  • Cinta adalah memelihara kesetiaan. Oleh karena itu tidaklah benar orang yang mengakui cinta kepada seseorang sedang dia tidak memelihara kesetiaannya.

  • Cinta adalah bilamana seseorang melakukan apa yang disukai oleh orang yang anda cintai.

  • Cinta adalah kecenderungan hati kepada kekasih secara total, sehingga membuat seseorang lebih memprioritaskan kekasih di atas kepentingan jiwa, raga, dan harta bendanya: lahir dan batin selalu bersesuaian dengan yang dicintai, namun demikian sang pecinta selalu merasa kecintaannya belum maksimal.

  • Cinta adalah bilamana mengorbankan semua jerih payah demi memuaskan hati yang dicintai.

  • Cinta adalah ketenangan tanpa keguncangan dan keguncangan tanpa ketenangan. Kalbu selalu berguncang dan tidak pernah merasa tenang kecuali dengan sang kekasih, kalbu selalu berguncang karena rindu kepada sang kekasih, dan baru merasa tenang bila berada dengannya.

  • Cinta adalah bilamana sang kekasih terasa lebih dekat oleh orang yang mencintainya daripada jiwanya sendiri.

Bentuk cintapun bermacam-macam, ada cinta kepada Allah, ada juga kepada manusia, bahkan ada juga cinta kepada tanah air, binatang, dan benda-benda tak bernyawa, tergantung dari makna kata cinta yang dimaksud. Cinta kepada manusia berbeda-beda. Ada yang kepada lawan jenis, pasangan suami isteri atau tunangan, kepada anak, ibu, saudara dan manusia yang lain. Yang beraneka ragam itu bermacam-macam pula. Ada yang cepat mekarnya cepat pula layunya, ada yang sebaliknya lambat mekar dan lambat pula layunya atau bahkan tidak layu, ada jug yang cepat tapi lambat layunya, inipun ada yang sebaliknya.

quote cinta menurut Islam

Kekuatan cinta seseorangpun bermacam-macam, demikian masa berlangsungnya. Ada yang tertancap di dalam sanubari, ada bagaikan pohon, yang akarnya terhujam ke bawah dan dipucuknya banyak buah. Cinta semacam ini dapat menjadikan si pecinta terpaku dan terpukau bahkan tidak lagi menyadari keadaan sekelilingnya karena yang dirasakan serta terlihat olehnya hanya sang kekasih. Ada juga yang hanya bertengger di permukan hati; seumur mawar, sekejap saja bertahan lalu layu, tidak mampu menahan rayuan pihak lain atau tidak sabar menahan deritanya.

Mereka yang berusaha menjelaskannya, menggunakan berbagai ungkapan bahkan bahasa. Ada yang menggunakan bahasa moral, ada juga dengan bahasa sosiologi, atau biologi, tapi tidak sedikit pula yang menjelaskan dengan bahasa filsafat atau tasawuf. Belum lagi bahasa pemuda yang sering berbeda pandangannya dengan pandangan orang dewasa yang berpengalaman, sehingga bermacam-macam penjelasan ditemukan dalam berbagai leteratur, termasuk leteratur keagamaan. Secara umum orang berkata bahwa cinta adalah kecenderungan hati kepada sesuatu. Kecenderungan ini boleh jadi disebabkan lezatnya yang dicintai atau karena manfaat yang diperoleh darinya bisa juga lahir dari naluri pecinta seperti cinta ibu kepada anaknya, seorang anak kepada keluarganya, guru kepada muridnya, atau seorang hamba kepada Tuhan-Nya

Perasaan cinta adalah dinamika jiwa yang tersimpan dalam hati seseorang berupa perasaan ingin selalu bersama dengan orang yang dia kagumi atau orang yang dia sayangi, menimbulkan semangat ingin selalu memberi, merawat, melindungi, serta memberikan pengorbanan dengan segenap kemampuan dan penuh ketulusan, dengan harapan ada pertumbuhan dan perkembangan di dalam jiwa orang yang dicintainya.

Dalam sebuah Hadits Qudsi yang dikutip oleh Musthafa Dieb Al-Bugha dan M. Sa’id Al-Khim, dalam bukunya Al-Wafi , bahwa Alah SWT. memberikan gambaran tentang makna dan hakikat cinta sejati yang berbunyi:

Artinya: Dari Abu Hirairah RA. Berkata: Rasulullah SAW bersabda, bahwa Allah SWT befirman: Barangsiapa memusihi wali-Ku, maka kuizinkan ia diperangi. Tidaklah hamba-ku mendekatkan diri kepada- Ku dengan suatu amal lebih Kusukai daripada jika ia mengerjakan amal yang kuwajibkan kepadanya. Hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengaran yang ia mendengar dengannya, menjadi penglihatan yang ia melihat dengannya, menjadi tangan yang ia memukul dengannya, sebagai kaki yang ia berjalan dengannya. Jika ia meminta kepada-Ku pasti Kuberi dan jika ia meminta perlindungan kepada-Ku pasti kulindungi. ( HR. Bukhari )

Demikian hadits di atas menjelaskan hakikat dan tabiat cinta yang dicontohkan oleh Allah kepada makhluk-Nya, lalu kemudian dikaruniakan-Nya pada setiap makhluk dalam menjalani kehidupan ini dengan penuh rasa cinta, yang berarti bahwa ketika mencintai segala sesuatu, maka harus ada konsekuensi dari rasa cinta tersebut, dalam menggapai kebertumbuhan bagi orang yang dicintai dengan kebersamaan yang tercipta menuju cita-cita cinta.

Referensi
  • Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, Taman Jatuh Cinta dan Rekreasi Orang-Orang Dimabuk Rindu , Penerjemah: Bahrun Abu Bakar Ihzan Zubaidi, (Bandung: Irsyad Baitus Salam, 2000).
  • M. Dawam Rahardjo, Ensiklopedi Al-Qur’an (Tasfir osial Berdasarkan Konsep-Konsep Kunci) , (Jakarta: PARAMADINA, 1996).
  • Khalid Jamal, Ajari Aku Cinta (Renungan Cerdas Menggapi cinta sejati) , Penerjemah: Budiman Mustofa, (Surakarta: Ziyaad Books, 2007).
  • Ibul Qayyim Al-Jauziyah, Madarijus salikin , Penerjemah: Kathur Suhardi, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 1998).
  • Musthafa Dieb Al-Bugha dan M. Sa’id Al-Khim, Al-Wafi (Syarah Hadits Arba’in Imam Nawaei) , Penerjemah: Iman Sulaiman, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2002).