Bagaimana kondisi umat Islam di Indonesia saat ini dan dampak bagi bangsa Indonesia?

Pertanyaan diatas muncul karena melihat fenomena umat Islam, dimana merupakan mayoritas di Indonesia, akhir-akhir ini yang begitu “ramai” di Indonesia.

Berikut pandangan Gus Mus terkait kondisi umat Islam di Indonesia saat ini, diambil dari muslimoderat.net.

Beliau menceritakan bahwa sehabis ini para kiai sepuh akan berkumpul di Rembang untuk membahas masalah mutakhir bangsa ini. Terpaksa kiai sepuh akan turun gunung, karena yang muda-muda banyak yang malah tertarik ikutan euphoria. Kenapa? Apa gentar sama takbir-takbirnya?

Lalu Gus Mus melanjutkan dengan menjelaskan makna dari takbir dengan memberikan begitu kecilnya kita dibanding seluruh ciptaan Allah yang Maha Luas. Apa yang mau kita sombongkan? Allah yang Maha Besar itu kok diajak ikut kampanye, diajak ikut ke TPS urusan lima tahunan. Apa ndak kebangeten banget itu?

Beliau cerita pengalamannya bicara berdua dengan Gus Dur sambil tiduran di lantai. Beliau bilang ke Gus Dur, kalau NU dari dulu itu tidak naik-naik pangkatnya, jadi satpam terus. Kalau ada sesuatu yang bahaya, maka NU maju ke depan (seperti sewaktu resolusi jihad, sewaktu DI/TII, PKI, dll).

Tapi begitu bahayanya hilang, NU kembali duduk di pojokan sambil rokokan. Begitu terus, ini gimana Gus? Jawaban Gusdur seperti biasa langsung membuat diskusi berhenti. Allah yarham Gus Dur menjawab: “Apa masih kurang mulia kalau kita bisa jadi satpam nya bangsa ini?” Dan Gus Mus pun terdiam tidak bisa melanjutkan omongannya.

Beliau juga berpesan untuk berhati-hati terhadap yang disebutnya ulama. Ulama memang pewaris para nabi, tapi ulama yang mana? Harus diteliti track record dari yang mengaku ulama tersebut. Umat ini dibingungkan dengan ulama yang ngeluarkan fatwa sembarangan tanpa ilmu dan tanpa mempertimbangkan dampaknya pada masyarakat luas.

Perbedaan pendapat itu biasa, sejak dulu ada. Beliau cerita kalau dulu para kiai ketika berdebat, seberapapun tajamnya sebisa mungkin berusaha agar santri-santrinya tidak tahu. Sehingga sering kalau saling serang itu dengan menggunakan syair-syair berbahasa Arab dengan harapan santri masing-masing tidak ikutan panas.

Lha sekarang ini, pimpinannya ribut, ngajak jamaahnya. Menyedihkan. Lalu saling sebut kubu yang berbeda dengan sebutan munafik, kafir dan lain-lain. Sampai-sampai belakangan ada yang melarang jenazahnya disholatkan. Apa ndak menjijikkan sekali itu? Lha kalau yang sudah meninggal ndak urusan. Itu kan kewajiban yang hidup, yang dosa ya yang hidup bukan yang sudah meninggal. Lalu Gus Mus juga menceritakan kemarahan besar Nabi Saw terhadap salah seorang sahabat yang membunuh seseorang yang mengucapkan La ilaha illa Allah karena mengatakannya munafik.

Yang dibilang ulama jaman sekarang ini mau ikut-ikutan berpolitik, padahal sebenarnya tidak ngerti politik. Dan terus bawa-bawa agama, padahal ya nggak terlalu ngerti agama. Ya apa ndak kacau balau jadinya.

Gusmus berpesan kepada jamaah untuk tidak mengungkapkan sesuatu, menulis sesuatu, atau menshare sesuatu yang dapat dipersepsikan mendukung kelompok pemecah belah itu. Kalau tidak mampu berhujjah melawan, lebih baik diam. Kalau mau tulis, ungkapkan yang baik-baik, hal-hal yang positif, tulis sendiri saja, tidak cuman share tulisan orang lain.

Gus Mus menyampaikan bahwa apa yang terjadi sekarang ini adalah hanya pengulangan sejarah yang lampau sambil mencontohkan kejadian sewaktu zaman khalifah Utsman bin Affan, dimana fitnah-fitnah bertebaran, informasi hoax disampaikan dari mulut ke mulut yang akhirnya memuncak pemberontakan (makar) rakyat terhadap khalifah Utsman yang menyebabkan
terbunuhnya beliau.

Ingat beliau dulu juga dilarang oleh umat waktu itu untuk dishalatkan di Masjid Nabawi, sehingga akhirnya dishalatkan di rumah beliau sendiri. Karena itu, pelajarilah sejarah, karena seringkali sejarah itu berulang.

Gus Mus juga berpesan bahwa pada setiap shalawatan, sebaiknya didahului dengan kisahSyama’il ar-Rasul Saw, dijelaskan tentang kepribadian beliau SAW. Jadi umat itu tahu bagaimana akhlaq Nabi saw. sehingga bisa jadi dasar untuk menilai apakah yang mengaku-ngaku ulama itu memang pantas disebut para pewaris Nabi atau tidak.

Allah SWT dalam Al-Quran dari awal sampai akhir tidak pernah memuji fisik Rasulullah (walaupun fisik dan ketampanannya sempurna), tidak pernah memuji ilmu Rasul Saw (walaupun ilmunya tak ada yang menandingi). Allah hanya memuji keluhuran akhlaq beliau SAW (wa innaka la ‘alaa
khuluqin adziem).

Oleh karena itu jadikan akhlaq sebagai dasar utama penilaian. Karena itulah tujuan diutusnya Nabi kita shallahu alaihi wa sallam kepada kita semua.

Berikut video lengkapnya,

1 Like

Sudah saatnya umat Islam di Indonesia bersatu, tanpa terpecah-pecah dalam ber-sosial di masyarakat dan ber-negara.

Betapa sering “pertengkaran-pertengkaran” antar umat Islam di Indonesia dipertontonkan di muka publik. Bagaimana televisi dan sosial media begitu “vulgar” menyajikan perdebatan-perdebatan yang tidak berujung, dan yang lebih parahnya lagi, malah cenderung untuk menjatuhkan lawan bicaranya.

Bahkan, “pertengkaran” tersebut sudah masuk kedalam kelompok-kelompok kecil sosial. Bagaimana pesan-pesan di aplikasi kirim pesan banyak diisi pertengkara-pertengkaran hanya karena berbeda pendapat dalam melihat sesuatu.

Salah satu faktor yang membuat kondisi tersebut terjadi adalah karena faktor politik. Politik Kekuasaan tepatnya. Dimana politik kekuasaan lebih cenderung untuk hanya memikirkan bagaimana cara merebut kekuasaan yang ada, tanpa mempedulikan dampak-dampak yang muncul akibat cara-cara mereka dalam meraih kekuasaan tersebut.

Menurut Gus Mus, terdapat tiga model politik yang ada, yaitu, Politik Kebangsaan, Politik Kerakyatan dan Politik Kekuasaan.

Politik kebangsaan. Politik ala NU selalu berpikir tentang bangsa Indonesia. Bermula dari pikiran sederhana bahwa Indonesia adalah rumah kita. Oleh karena itu, politik kebangsaan adalah suatu hal penting untuk menjaga NKRI yang mutlak sebagai orang NU.

“Yang dipikirkan NU itu Indonesia. Dulu ketika Gus Dur diturunkan kenapa tidak menggerakkan rakyat (Nahdliyin) yang berjumlah lebih dari 60 juta orang. Itu berapa kali lipat penduduk Arab Saudi. Kalau Gus Dur mengerahkan rakyat itu, kayak apa Indonesia? Politik kebangsaan mengalahkan politik kekuasaan,” ujarnya.

Politik Kerakyatan. Politik ini, kata Gus Mus, yang sudah jarang-jarang dijalankan oleh orang-orang NU. Ia memamparkan bahwa politik kerakyatan itu politik yang membela rakyat. “Kalau menjadi anggota dewan ya betul-betul menjadi wakil rakyat betul, jangan mewakili diri sendiri. Wakil rakyat kok mewakili diri sendiri,” sindirnya disambut tawa hadiri yang memenuhi serambi masjid dan alun-alun.

Politik kekuasaan atau politik praktis. Ini yang bagi Gus Mus merupakan hal yang sangat sepele, paling hanya 5 tahun.

Hindari Politik kekuasaan, terutama apabila sampai menghalalkan segala cara untuk meraihnya. Lebih utamakan Politik Kerakyatan dan Politik Kebangsaan dalam ber-politik di Indonesia, merupakan salah satu cara untuk mencegah umat Islam di Indonesia tercerai berai.

Mengutip dari tulisan diatas, gunakan cara-cara yang baik dalam ber-adu ergumentasi dan pemikiran, sehingga perbedaan yang ada akan membawa kedalam kebaikan, bukannya membawa ke keburukan.

1 Like