© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Bagaimana Islam melihat seseorang yang boros dan berlebih-lebihan?

QS. Al-'An`am [6] : 141

Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.

QS. Al-'A`raf [7] : 31

Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.

QS. Al-‘Isra’ [17] : 26

Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.

QS. Al-‘Isra’ [17] : 27

Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.

Bagaimana Islam melihat orang yang boros dan berlebih-lebihan?

Larangan Berlaku Boros dalam Islam

Al-Ragib berkata,

“Isrof adalah melampui batas dalam segala perbuatan yang kerjakan oleh manusia sekalipun hal tersebut lebih mashur, yangberhubungan dengan pengeluaran dalam pembelajaan harta.

Sofyan bin Uyainah berkata,

“Harta yang aku belanjakan bukan dalam ketaatan kepada Allah maka dia termasuk boros sekalipun hal tersebut sedikit.

Allah SWT berfirman:
image

Artinya :

Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Zumar: 53)

Kalimat isrof bisa terjadi pada harta dan yang lainnya, Allah SWT memperingatkan hamba-Nya dari sikap boros dalam firman-Nya:

image

“Dan makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.(QS. Al-‘Arof: 31)

Sebagian ulama salaf berkata, “Allah telah mengumpulkan pola hidup sehat dalam setengah ayat :

image


image

“…dan tunaikanlah haknya di hari saat memetik hasilnya (dengan dikeluarkan zakatnya); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”. (QS. Al-An’am:141)

Atho’ bin Abi Robah berkata

“Mereka dilarang berlaku boros dalam segala hal.

Ibnu Katsir berkata,

“yang artinya janganlah berlebihan dalam makan, sebab akan bisa membahayakan bagi akal dan badan”.

Dari Amr bin Syu’aibdaru bapaknya dari kakeknya RA bahwa Nabi bersabda,

“Makan dan bersedeqahlah dan pakailah pakaian tanpa berlebihan dan sombong”.

Dari Ibnu Abbas RA berkata:

Makanlah sekehendakmu dan pakailah sekehendakmu, dua perkara yang membuatmu salah yaitu boros dan sombong”.

Dari Miqdam bin Ma’di Yakrib RA bahwa Nabi bersabda,

“Tidaklah seorang anak Adam mengisi sebuah bejana yang lebih buruk daripada perut, cukuplah bagi anak Adam itu beberapa suap makanan untuk menegakkan tulang punggungnya, dan jika mesti dilakukan maka hendaklah dia mengambil sepertiga untuk makanannya dan sepertiga untuk minumannya serta sepertiga untuk nafasnya”.

Berlebih-lebihan merupakan tindakan yang tidak didasarkan pada pertimbangan yang rasional, melainkan karena adanya keinginan yang mencapai taraf yang tidak rasional lagi. Biasanya perilaku isrāf (boros) dilakukan semata-mata demi kesenangan sehingga menyebabkan seseorang menjadi boros. Sebagian manusia membelanjakan semua hartanya dalam rangka memuaskan keinginannya. Sebagian dari keinginannya sangat penting bagi kehidupannya, seperti makanan, pakaian, tempat bernaung dan lain sebagainya. Sementara sebagian lainnya perlu untuk mempertahankan atau meningkatkan efisiensi kerjanya. Perilaku semacam ini adalah perilaku isrāf dan tabdzīr.

Adapun perbedaan antara keduanya adalah, jika isrāf menekankan pada berlebih-lebihannya, maka tabdzīr menekankan pada kesia-siaan benda yang digunakan. Lawan dari berlebih-lebihan adalah secukupnya atau sekedarnya yakni hidup sederhana bukan berarti kikir.

Orang sederhana tidak identik dengan ketidakmampuan. Hidup sederhana yaitu membelanjakan harta benda sekedarnya saja. Berlebih-lebihan dalam kepuasan pribadi atau dalam pengeluaran untuk hal-hal yang tidak perlu serta dalam keinginan-keinginan yang tidak sewajarnya juga bisa disebut sikap isrāf. Biaya yang dikeluarkan biasanya lebih besar dari keuntungan yang diperoleh seseorang dari sikap isrāf tersebut. Jika dilihat pada konteks sekarang, mereka yang menerapkan perilaku isrāf ini tidak lain hanyalah untuk mengikuti trend atau bermegah-megahan. Dengan maksud dan tujuan memamerkan yang dimilikinya. Jika semua yang dimilikinya terpenuhi, hal ini bisa berakibat kepada sikap sombong atau berbangga diri.