Apa yang dimaksud dengan trauma psikologis?

Trauma psikologis adalah jenis kerusakan jiwa yang terjadi sebagai akibat dari peristiwa traumatik. Ketika trauma yang mengarah pada gangguan stres pasca trauma, kerusakan mungkin melibatkan perubahan fisik di dalam otak dan kimia otak, yang mengubah respon seseorang terhadap stres masa depan.

Apa yang dimaksud dengan trauma psikologis ?

Trauma psikologis

Trauma psikologis atau trauma psikis berkaitan erat dengan pengalaman yang dilalui seseorang yang bersifat psikis hingga memberikan dampak yang negatif pada dirinya untuk sekarang dan masa depan. Pengalaman kadang tidak selamanya membawa dampak positif, adakala pengalaman pahit dan buruk juga dapat menimpa seseorang baik itu yang disengaja ataupun tidak disengaja.

Saat pengalaman itu terjadi maka kondisi mental seseorang bisa saja tidak berada pada keadaan siap sehingga akibat buruknya dapat menimbulkan trauma psikologis.

Trauma psikologis yang terjadi mungkin akan terus membayang selama hidup jika individu tersebut tidak menemukan dukungan. Dukungan yang diperlukan biasanya berasal dari keluarga dan teman-teman terdekatnya. Dengan adanya dukungan seseorang dapat mencoba kembali membangun kepercayaan untuk meredakan trauman psikologi yang dialaminya.

Trauma seperti demikian memang memerlukan dukungan bukan bertujuan untuk menyembuhkan secara total. Karena trauma psikologis sulit disembuhkan untuk jangka panjang. Belum lagi trauma tersebut telah ikut merubah sistem kerja otak dan fungsinya.

Namun dukungan tersebut bertujuan untuk merubah hidup masa depan seorang individu menjadi lebih baik dalam menata hidup barunya. Dan diharapkan dia tidak perlu merasa sedih akan trauma psikologi yang dialaminya dahulu.

Secara umum trauma juga memiliki bagian-bagian yang menjelaskan macam-macam trauma psikologis yang dialami seorang individu, berikut ini ulasan mengenai macam-macam trauma psikologis antara lain :

  1. Trauma Pengobatan
    Trauma psikologis pertama adalah trauma pengobatan, dimana trauma ini berhubungan dengan kesehatan. Trauma pengobatan dapat terjadi ketika seseorang mengalami penyakit tertentu yang mengharuskan dirinya melakukan tindakan bedah atau operasi.

    Dalam keadaan yang tidak siap kadang pasien akan mengalami semacam trauma didalam dirinya. Akibat dari trauma psikologis ini pasien menjadi takut untuk ke rumah sakit atau pergi berobat untuk selanjutnya. Hal ini terjadi akibat trauma yang membayang dipikiran karena merasa takut atau terancam untuk mengalami bedah atauu operasi sekali lagi.

    Upaya untuk mengatasi hal ini tentu memerlukan dukungan dari orang-orang terdekat pasien dan juga ahli kesehatan untuk membantu pasien membangun rasa percaya sehingga tidak merasakan ketakutan lagi untuk selanjutnya.

  2. Trauma Duka Cita
    Trauma psikologis yang kedua adalah trauma duka cita, duka cita dapat terjadi ketika seseorang merasa kehilangan orang yang sangat berarti didalam hidupnya. Orang yang sangat berarti tersebut bisa jadi istri, suami, anak, orangtua, kakak atau adiknya. Peristiwa semacam ini kadang dapat mengakibatkan semacam trauma psikologis.

    Rasa kehilangan yang dalam dapat membuat seseorang suka mengurung diri sendiri dan menjadi sangat tertutup. Disisi lain trauma psikologis ini juga membuat individu yang mengalaminya sering membayangkan kehadiran orang yang berarti didalam hidupnya.

    Terkadang kondisi ini juga membuatseorang individu suka berhalusinasi dan berbicara seorang diri, seolah sedang berbicara dengan orang yang hilang dalam hidupnya.

  3. Trauma Bencana alam
    Bencana alam memang suatu kejadian yang tidak terduga sama sekali. Dalam hitungan detik saja bencana alam dapat berubah suatu keadaan kota menjadi lebih mengerikan. Contoh bencana alam adalah banjir bandang, longsor, gempa bumi dan letusan gunung merapi.

    Dalam konteks trauma psikologi keadaan demikian yang terjadi secara tiba-tiba dapat berakibat menimbulkan trauma psikologis bagi sebagian orang.

    Akibatnya seseorang sering merasa mudah terkejut dan ketakutan ketika mendengar suara keras atau getaran pada tanah tiba-tiba.

  4. Trauma menjadi Anak yang diabaikan
    Sejatinya sebagai orang tua kita mengharapkan kehadiran anak. Namun adakalanya karena berbagai macam tuntutan kebutuhan kedua orang tua menjadi sibuk bekerja dan membiarkan akan dirawat oleh orang lain.

    Kondisi ini mungkin tidak begitu berarti pada orang tua. Namun pada seorang anak kondisi ini dapat menimbulkan semacam trauma psikologis. Dimana sang anak merasa diabaikan dan tidak diacuhkan sama sekali. Akibatnya anak sama sekali tidak merasakan kasih sayang dari orang tuanya.

    Selain tidak menerima kasih sayang bentuk pengabaian yang lain adalah tidak menyekolahkan anak, tidak membelikan anak pakaian dan tidak penuh perhatian.

  5. Complex trauma
    Complex trauma biasa juga disebut dengan PTSD (Post Traumatic Stress Disorder). PTSD adalah keadaan dimana mental mengalami serangan panik dikarenakan adanya trauma pengalaman di masa lalu. Pada umumnya, mengalami kejadian traumatis adalah hal yang sangat berat.

    Akan tetapi, sejumlah orang dengan usia lanjut mengidap PTSD setelah menghadapi peristiwa yang menyakitkan atau mengejutkan. Peristiwa tersebut seperti kecelakaan, insiden yang bersangkutan dengan nyawa, atau dalam keadaan perang. Hal ini sangat berpengaruh dalam kelanjutan hidupnya.

    Namun begitu, PTSD bisa disembuhkan dengan berbagai terapi penerimaan diri untuk membuat diri menjadi merasa lebih baik di kemudian hari.

trauma psikologis

Penyebab Trauma Psikologis


Setelah mengetahui macam-macam trauma psikologi, ada juga beberapa penyebab dari timbulnya trauma pada diri seseorang. Ini tentu berkaitan dengan masa lalu yang pernah dialaminya. Berikut ini penyebab umum timbulnya trauma psikologis pada diri seseorang :

Pernah dikhianati

Rasa trauma yang terjadi akibat pengkhianatan juga dapat menjadi salah satu penyebab trauma psikologis. Diaman ini terjadi pada teman bisnis atau pasangan hidup. Salah satu contohnya adalah diselingkuhi dengan orang lain dalam hubungan. Peristiwa semacam ini dapat mengakibatkan hilangnya rasa percaya kepada siapapun juga.

Diejek orang lain

Perlakuan buruk seperti sering diejek karena fisik atau status ekonomi juga dapat membuat seseorang merasa kehilangan percaya diri. Dimana seseorang merasa tidak berarti bagi orang lain akibat kondisi yang tengah dialaminya. Keadaan ini juga berkaitan dengan penyebab dari trauma psikologis.

Mendapat perlakuan tidak adil

Penyebab dari trauma psikologis selanjutnya adalah sering mendapatkan perlakukan yang tidak adil. Adil disini adalah pembagian yang sama antara dua orang atau lebih. Jangan sampai ada pihak yang merasa mendapatkan perlakuan yang tidak adil, karena perlakukan tersebut jika didapat terus menerus akan menjadi semacam trauma bagi yang mengalaminya.

Sering dimarahi

Perlakuan sering dimarahi oleh orang lain yang lebih besar juga mmberikan dampak trauma bagi seorang anak. Biasanya anak-anak lebih sering dimarahi jika berbuat salah. Hal ini wajar karena bertujuan agar anak tidak mengulangi kesalahan yang sama. Namun yang menjadi trauma adalah saat anak tidak melakukan hal yang salam namun tetap sering dimarahi dan disalahkan.

Dikucilkan oleh lingkungan

Trauma psikologis selanjutnya bisa terjadi karena perasaan yang dikucilkan oleh teman-teman. Perasaan seperti itu kadang membuat seseorang merasa sedih. Perasaan sedih yang mendalam itulah awal dari penyebab trauma psikologis.

Penjelasan mengenai penyebab trauma ini dapat diatasi dengan penerapan dan perlakuan yang baik dari orang lain untuk masa sekarang dan depan.

Sumber : dosenpsikologi

Trauma adalah tekanan emosional dan psikologis pada umumnya terjadi karena adanya kejadian yang tidak menyenangkan atau pengalaman yang berkaitan dengan kekerasan. Kata trauma juga bisa digunakan untuk mengacu pada kejadian yang menyebabkan stres berlebih. Suatu kejadian dapat disebut traumatisbila kejadian tersebutmenimbulkan stres yang ekstrem dan melebihi kemampuan individu untuk mengatasinya (Giller 1999).

Orang bisa dikatakan mempunyai Trauma adalah mereka harus mengalami suatu stres emosional yang besar dan berlebih sehingga orang tersebut tidak bisa mengendalikan perasaan itu sendiri yang menyebabkan munculnya trauma pada hampir setiap orang (Kaplan dan sadock, 1997).

Sejumlah gejala yang dapat menandakan individu dengan pengalaman traumatis. Beberapa gejala yang umum adalah mempunyai kenangan menyakitkan yang tidak mudah dilupakan, mimpi buruk berulang akan kejadian traumatis,dan timbulnya kenangan akan kejadian traumatis ketika melihat hal-hal yang terkait dengan kejadian tersebut. Dari segi kognitif, kenangan akan kejadian traumatis dapat memicu perasaan cemas, ketakutan berlebih, dan perasaan tertekan (American Psychiatric Association, 2013).Pada anak-anak gejala trauma dapat berupa kesulitan tidur, perasaan takut ketika harus tidur sendiri, tidak ingin ditinggal sendirian meskipun untuk waktu singkat, bersikap agresif ketika diajak membahas masa lalu, dan marah secara tiba-tiba.

Penyebab Trauma


Trauma disebabkan oleh kejadian yang begitu negatif hingga menghasilkan dampak berkepanjangan pada stabilitas mental dan emosional individu.Sumber dari kejadian trauma sendiri dapat berupa fisik ataupun psikologis. Beberapa kejadian traumatis yang umum mencakup pelecehan seksual, kekerasan dalam rumah tangga, pengalaman akan bencana alam, penyakit ataupun kecelakaan serius, kematian orang-orang yang dicintai, ataupun menyaksikan suatu bentuk kekerasan (Allen, 2005).

Seorang individu tidak harus berada langsung dan terlibat secara langsung dalam kejadian yang menyebabkan trauma.Individu juga dapat mengalami trauma ketika menyaksikan suatu kejadian buruk dari jarak jauh.

Penyebab Trauma

Dampak Trauma


Salah satu dampak trauma pada individu, terutama anak-anak, terletak pada kemampuan individu untuk membentuk hubungan interpersonal yang positif dan bermakna.Tokoh pengasuh atau orangtua merupakan jendela bagi anak untuk memandang dunia sebagai hal yang aman ataupun berbahaya. Anak yang mengalami kejadian traumatis berupa kekerasan oleh tokoh pengasuh akan memandang dunia sebagai tempat yang berbahaya. Oleh karena itu, anak yang memiliki pengalaman traumatis cenderung bersikap curiga pada orang-orang di sekitar mereka dan mengalami kesulitan dalam membentuk hubungan sosial ataupun romantis.

Selain dampak pada kognisi, kejadian traumatis juga memiliki dampak terhadap fisiologi individu.Ketika berhadapan dengan situasi yang mengingatkan mereka pada kejadian traumatis, individu dapat menunjukkan nafas yang tidak teratur, detak jantung berlebih, ataupun mengalami dampak psikosomatis seperti sakit perut dan kepala(Kolk, Roth, Pelcovitz, & Mandel, 1993).

Anak dengan sejarah kejadian trauma yang kompleks dapat dengan mudah terpancing dan mengeluarkan reaksi berlebih akan stimulus-stimulus yang umumnya tidak berbahaya. Anak tersebut juga akan mengalami kesulitan dalam mengendalikan emosinya (misal sulit menenangkan diri ketika marah) dan seringkali bertindak secara impulsif tanpa memikirkan konsekuensinya. Oleh karena itu, anak yang mengalami trauma dapat berperilaku secara tidak terduga dan ekstrem.Ia dapat bersikap agresif atau malah bersikap kaku dan penurut secara tidak wajar(American Psychiatric Association,2013).

Terdapat bukti yang menunjukkan bahwa anak yang hidup dalam lingkungan traumatis, seperti orangtua yang abusive , dan secara terus menerus berhadapan dengan stres akan mengalami gangguan dalam perkembangannya. Daya tahan tubuh, sistem otak, dan jaringan saraf pada anak tidak akan berkembang sempurna ketika ia beranjak dewasa.(Kaplan, Harold , Sadock, Benjamin, & Grebb, 1997)

Ciri-ciri Trauma


Gejala-gejala tramua pada manusia dapat dikelompokkan sebagai berikut :

  • Gejala fisik bisa seperti gangguan makan, gangguan tidur, disfungsi seksual, energi yang rendah ataupun merasakan sakit terus menerus yang tidak bisa di jelaskan,

  • Gejala Emosional seperti perasaan depresi, putus asa,kecemasan serangan panic, takut, kompulsif dan perilaku obsesif ataupun yang terakhir adalah penarikan diri dari rutinitas normal.

  • Gejala kognitif seperti penyimpangan memori terutama tentang trauma, kesulitan memberikan keputusan, penurunan kemampuan untuk berkonsentrasi, merasa terganggu oleh lingkunga

  • Gejala perkembangan otak yang menyebabkan penderitanya menjadi hiperaktif, impulsif, serta susah memusatkan perhatian.

Beberapa ciri lain seperti mengingat peristiwa masa lalu, gangguan tidur dikarenakan mimpi buruk, cemas, marah, sedih, merasa bersalah, tidak merasakan simpati dan empati, sulit percaya pada orang lain, panik, ketakutan.

image

Trauma adalah menghadapi atau merasakan sebuah kejadian atau serangkaian kejadian yang berbahaya, baik bagi fisik maupun psikologis seseorang, yang membuatnya tidak lagi merasa aman, menjadikan merasa tidak berdaya dan pelan dalam menghadapi bahaya. (Mendatu, 2010)

Menurut Kartini Kartono dan jenny anny andari dalam bukunya “hyglene mental dan kesehatan mental dalam Islam” bahwa trauma atau kejadian traumatis adalah laku jiwa yang dialami seseorang disebabkan oleh suatu pengalaman yang sangat menyedikan atau melukai jiwanya (Kartono, 1989).

Menurut M. Noor H.s, dalam himpunan istilah psikologi memberikan pengertian trauma adalah pengalaman yang tiba-tiba mengejutkan, meningalkan kesan mendalam pada jiwa orang yang bersangkutan.

Dari penjelasan diatas maka dapat disimpulkan trauma adalah luka jiwa ataupun luka berat dari pengalaman-pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan sehingga menyebabkan organisme menderita lahir maupun batin.

Ciri-Ciri Trauma


Menurut pendapat Dadang Hawari ciri-ciri trauma adalah sebagai berikut (Hawari, 2010):

  1. Terdapat stressor yang berat dan jelas yang akan menimbulkan gejala penderitaan yang berarti bagi hampir setiap orang.

  2. Penghayatan yang berulang dari trauma itu sendiri seperti:

    • Ingatan berulang dan menonjol tentang peristiwa itu.
    • Mimpi-mimpi berulang dari peristiwa itu.
    • Timbulnya secara tibatiba perilaku atau perasaan seolah-olah peristiwa trauma itu sedang timbul kembali karena berkaitan dengan suatu gagasan atau stimulus atau rangsangan lingkungan.
  3. Penumpukan respon terhadap atau berkurangnya hubungan dengan dunia luar yang mulai beberapa waktu sesudah trauma, yaitu:

    • Berkurangnya secara jelas minat terhadap satu atau lebih aktivitas yang cukup berarti.
    • Perasaan terlepas atau terasing dari orang lain.
    • Efek (alam perasaan) yang menyempit atau efek depresif seperti murung, sedih putus asa.
  4. Kewaspadaan atau reaksi terkejut berlebihan

  5. Ganguan tidur (disertai mimpi dan gangguan menggelisah)

  6. Daya ingat atau kesukaran konsentrasi

  7. Penghindaran diri dari aktivitas yang membangkitkan ingatan tentang peristiwa trauma itu.

  8. Peningkatan-peningkatan gejala apabila dihadapkan pada peristiwa yang mesimbolkan atau menyerupai peristiwa trauma itu.

Macam-Macam Trauma


Kasus trauma secara umum diidentifikasi oleh Achmanto Mendatu menjadi tiga macam, diantaranya: trauma fisik, trauma post-cult, trauma psikologis. (Mendatu, 2010)

  • Trauma fisik, adalah cedera fisik yang berbahaya bagi keselamatan akibat perubahan fisik, misalnya pengambilan ginjal,patah tulang, pendarahan hebat, putus tangan dan kaki, akiban penganiayaan dan lain-lainnya. Trauma fisik dibagi menjadi dua yaitu:

  • Trauma penetrasi, yaitu tipe trauma berupa teririsnya kulit atau bagian tubuh lainnya oleh sebuah benda. Contoh seperti, teriris pisau, terkena serpihan bom, tertembek peluru, tertusuk panah, dan lainnya.

  • Trauma tumpul, yakni tipe trauma yang disebabkan oleh objek-objek tumpul, concoh seperti terpukul kepalan tanggan, tertabrak motor, dan terbentur.

  • Trauma pos-cult, Adalah persoalan emosional berat yang muncul ketika anggota kelompok pemujaan (cults) atau gerakan religius baru (misalnya aliran taman eden, aliran Joniyah, dan lainnya) mengalami perasaan tidak terlibat atau tidak tergabung.

  • Trauma psikologis, adalah cedera psikologis yang biasanya dihasilkan karena mengadapi peristiwa yang luar biasa menekan atau mengancam hidupnya.

Respon orang yang mengalami trauma


Adapun beberapa tindakan yang dimunculkan oleh seorang yang sedang trauma sebagai reaksi dari kondisi trauma yang dialaminya terlihat dari beberapa aspek, diantaranya aspek emosional, kognitif, dan behavioral. Dibawah ini adalah kemungkinan reaksi dari masingmasing aspek (Mendatu, 2010:28-33):

1. Respon emosional

  • Respon seseorang jika mengadapi traumatik yaitu seperti kesulitan mengontrol emosi.
  • Lebih mudah tersinggung dan marah,
  • Gampang diagitasi dan muda dipanas-panasin,
  • Mood gampang berubah, dari baik keburuk dan sebaliknya terjadi begitu cepat,
  • Panik, cemas, gugu p, dan tertekan,
  • Sedih, berduka, dan depresi,
  • Merasa ditolak dan diabaikan,
  • Takut dan kuatir terhadap efek kejadiannya, peristiwanya akan terjadi lagi, akan menimpa orang-orang terdekatnya,
  • Memberikan respon emosional yang tidak sesuai.
  • Respon kognitif
  • Sering mengalami flasbback, atau mengingat kembali kejadian traumatiknya. Saat mengalaminya, seolah-olah kejadiannya dialami kembali secara nyata.
  • Mimpi buruk.
  • Kesulitan berkomunikasi, mengambil keputusan, dan memecahkan masalah.
  • Kesulitan mengigat dan memaksa melupakan kejadian.
  • Mudah bingung.
  • Menyalakan diri sendiri atau mengambing hitamkan orang lain.
  • Memandang diri sendiri secara negative
  • Merasa sendirian dan sepi
  • Ingin menyembunyikan diri
  • Berpikir untuk bunuh diri
  • Merasa tanpa harapan, merasa kehinlangan harapan akan masadepan
  • Merasa lemah tak berdaya.
  • Kehilangan minat serta aktivitas yang bisa dilakukan.
  • Mengingat kembali kejadian traumatik setiap menemui hal-hal yang ada kaitannya kaitannya dengan traumatik.

2. Respon behavioral

  • Kesulitan mengontrol tindakan
  • Lebih banyak berkonflik dengan orang lain
  • Menghindari kebiasaan lama
  • Menghindari orang, tempat, atau sesuatu yang berhubungan dengan peristiwa traumatik, dan engan membicarakanya.
  • Melamun
  • Kurang memperhatikan diri sendiri
  • Kesulitan melakukan aktifitas sehari-hari
  • Sering menangis tiba-tiba.
  • Sulit belajar atau berkerja
  • Mengalami ganguan tidur seperti sulit tidur, sering terbangun, tidur sangat larut dan bangun siang, tidur berlebihan.
  • Mengalami ganguan makan, yang diantaranya kehilangan selera makan.
  • Gampang terkejut.

3. Respon fisiologis atau fisik

  • Sakit kepala
  • Nyeri
  • Sakit dada atau dada sesak
  • Sulit bernafas
  • Sakit perut
  • Berkeringat berlebihan
  • Gemetar
  • Lemah dan lesu
  • Letih
  • Otot tegang atau kulit dingin
  • Hilang Keseimbangan tubuh atau merasa berguncang

Trauma adalah respons terhadap peristiwa yang sangat menyusahkan atau mengganggu yang membanjiri kemampuan individu untuk mengatasinya, menyebabkan perasaan tidak berdaya, mengurangi rasa diri dan kemampuan mereka untuk merasakan berbagai emosi dan pengalaman.

Itu tidak membeda-bedakan dan menyebar ke seluruh dunia. Survei Kesehatan Mental Dunia yang dilakukan oleh Organisasi Kesehatan Dunia menemukan bahwa setidaknya sepertiga dari lebih dari 125.000 orang yang disurvei di 26 negara berbeda mengalami trauma. Angka itu naik menjadi 70% ketika kelompok itu terbatas pada orang yang mengalami gangguan inti sebagaimana didefinisikan oleh DSM-IV (klasifikasi ditemukan dalam Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental, Edisi ke-4) . Tetapi angka-angka itu hanya untuk contoh yang telah dilaporkan; jumlah sebenarnya mungkin jauh, jauh lebih tinggi.

Meskipun tidak ada kriteria objektif untuk mengevaluasi peristiwa mana yang akan menyebabkan gejala pasca trauma, keadaan biasanya melibatkan hilangnya kontrol, pengkhianatan, penyalahgunaan kekuasaan, ketidakberdayaan, rasa sakit, kebingungan dan / atau kehilangan. Peristiwa tidak perlu naik ke tingkat perang, bencana alam, atau serangan pribadi untuk mempengaruhi seseorang secara mendalam dan mengubah pengalaman mereka. Situasi traumatis yang menyebabkan gejala pasca trauma bervariasi secara dramatis dari orang ke orang. Memang, itu sangat subyektif dan penting untuk diingat bahwa ia lebih ditentukan oleh responsnya daripada pemicunya.

Respons Umum dan Gejala Trauma


Respon terhadap peristiwa traumatis sangat bervariasi di antara orang-orang, tetapi ada beberapa gejala dasar yang umum.

Tanda-tanda emosional meliputi:

  • kesedihan
  • marah
  • penyangkalan
  • takut
  • malu

Ini dapat menyebabkan:

  • mimpi buruk
  • insomnia
  • kesulitan dengan hubungan
  • ledakan emosional

Gejala fisik umum:

  • mual
  • pusing
  • pola tidur yang berubah
  • perubahan nafsu makan
  • sakit kepala
  • masalah pencernaan

Gangguan psikologis dapat meliputi:

  • PTSD
  • depresi
  • kegelisahan
  • gangguan disosiatif
  • masalah penyalahgunaan zat

Gangguan Stres Akut vs. Gangguan Stres Pascatrauma

Tidak setiap orang yang mengalami trauma mengembangkan gangguan stres pasca-trauma (PTSD). Beberapa orang mengembangkan beberapa gejala seperti yang tercantum di atas, tetapi hilang setelah beberapa minggu. Ini disebut gangguan stres akut (ASD).

Jenis-jenis Trauma

Ketika gejalanya berlangsung lebih dari sebulan dan secara serius memengaruhi kemampuan seseorang untuk berfungsi, orang tersebut mungkin menderita PTSD. Beberapa orang dengan PTSD tidak menunjukkan gejala selama berbulan-bulan setelah kejadian itu sendiri. Dan beberapa orang berurusan dengan gejala PTSD dari pengalaman traumatis selama sisa hidup mereka. Gejala PTSD dapat meningkat menjadi serangan panik, depresi, pikiran dan perasaan bunuh diri, penyalahgunaan narkoba, perasaan terisolasi dan tidak mampu menyelesaikan tugas sehari-hari.

Jenis-jenis Trauma


Seperti disebutkan di atas, trauma didefinisikan oleh pengalaman korban. Tetapi ada penggambaran tingkat trauma. Dijelaskan secara luas, mereka dapat diklasifikasikan sebagai trauma ‘T’ besar dan trauma ‘t’ kecil.

Trauma kecil

Trauma ‘t’ kecil adalah keadaan di mana keselamatan tubuh atau nyawa seseorang tidak terancam, tetapi tetap menyebabkan gejala trauma. Kejadian-kejadian ini membuat seseorang kehilangan fungsi dan mengganggu fungsi normal di dunia. Mereka tentu tidak tampak kecil sama sekali ketika mereka terjadi, tetapi sebagian besar akan memiliki waktu yang lebih mudah pulih dari mereka daripada trauma ‘T’ yang besar. Di sisi lain, trauma kecil ‘t’ terkadang diabaikan karena tampaknya dapat diatasi. Ini bisa berbahaya karena efek kumulatif dari trauma atau trauma yang belum diolah dapat melacak seseorang tanpa henti. Contohnya adalah: perubahan hidup seperti pekerjaan baru atau pindah; peristiwa hubungan seperti perceraian, perselingkuhan, atau konflik pribadi yang mengecewakan; penekan kehidupan seperti masalah keuangan, stres kerja atau konflik, atau pertempuran hukum.

Trauma T Besar

Trauma ‘T’ besar adalah pengalaman luar biasa yang menyebabkan kesusahan dan ketidakberdayaan yang parah. Mereka mungkin peristiwa satu kali seperti aksi terorisme, bencana alam, dan kekerasan seksual. Atau, mereka mungkin stres yang berkepanjangan seperti perang, pelecehan anak, penelantaran atau kekerasan. Mereka jauh lebih sulit atau bahkan tidak mungkin untuk dilupakan, namun mereka sering dihindari secara aktif. Misalnya, orang mungkin menghindari pemicu seperti pengingat pribadi, lokasi tertentu, atau situasi seperti tempat ramai atau bahkan sepi. Dan mereka mungkin menentang konfrontasi ingatan akan peristiwa itu. Sebagai mekanisme koping, ini hanya berfungsi begitu lama. Memperpanjang akses ke dukungan dan perawatan memperpanjang penyembuhan.

Terapi untuk Trauma


Tidak ada obat untuk trauma atau perbaikan cepat untuk penderitaan yang terkait dengannya. Tapi ada harapan. Ada berbagai terapi efektif dan akses ke sana tersebar luas. Penyintas trauma yang terbaik dilayani dengan bekerja dengan terapis atau terapi yang berfokus pada trauma atau informasi trauma. Sebagian besar terapis yang terinformasi trauma akan menggunakan kombinasi modalitas terapi.

Terapi untuk Trauma

Alternatif psikoterapi termasuk terapi paparan untuk membantu dengan desensitisasi, Terapi Perilaku Kognitif yang membantu mengubah pola pikir dan perilaku dan terapi pemrosesan ulang seperti Desensitisasi Gerakan Mata dan Pemrosesan Ulang (EMDR) yang memungkinkan korban untuk memproses kembali ingatan dan peristiwa. Terapi somatik yang menggunakan tubuh untuk memproses trauma termasuk Somatic Experiencing dan Sensorimotor Psychotherapy. Hipnosis, perhatian, terapi kraniosakral, yoga yang peka terhadap trauma, terapi seni, dan akupunktur juga dapat membantu. Dan terakhir, banyak orang menggunakan obat-obatan - terutama antidepresan dan obat-obatan anti-kecemasan - yang dapat membuat gejala menjadi kurang intens dan lebih mudah ditangani.

Sumber

https://integratedlistening.com/what-is-trauma/

Shapiro menyatakan trauma merupakan pengalaman hidup yang mengganggu keseimbangan biokimia dari sistem informasi pengolahan psikologi otak. Keseimbangan ini menghalang pemprosesan informasi untuk meneruskan proses tersebut dalam mencapai suatu adaptif, sehingga persepsi, emosi, keyakinan dan makna yang diperoleh dari pengalaman tersebut “terkunci” dalam sistem saraf. Jarnawi menyatakan bahawa trauma merupakan gangguan psikologi yang sangat berbahaya dan mampu merosakkan kasuseimbangan kehidupan manusia.

Cavanagh dalam Mental Health Channel menyatakan tentang pengertian trauma adalah suatu peristiwa yang luar biasa yang menimbulkan luka dan perasaan sakit, tetapi juga sering diartikan sebagai suatu luka atau perasaan sakit berat akibat sesuatu kejadian luar biasa yang menimpa seseorang langsung atau tidak langsung baik luka fisik maupun luka psikis atau kombinasi kedua-duanya. Berat ringannya suatu peristiwa akan dirasakan berbeda oleh setiap orang, sehingga pengaruh dari peristiwa tersebut terhadap perilaku juga berbeda antara seseorang dengan orang lain.

American Psychiatric Association (APA) dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (DSM.IV-TR), menyatakan ledakan trauma merangkumi salah satu atau dua daripada berikut, yaitu:

  1. Seseorang yang mengalami, menyaksikan atau berhadapan dengan kejadian ngeri yang menyebabkan kematian, kecederaan serius atau mengancam fisik diri atau orang lain,

  2. Respon individu terhadap ketakutan, rasa tidak ada harapan, horror (kanak-kanak mungkin mengalami kecelaruan tingkah laku).

Begitu juga hal nya dengan gejala trauma. Cavanagh, dalam Mental Health Channel, mendefinisikan trauma adalah suatu peristiwa yang luar biasa, yang menimbulkan luka atau perasaan sakit: namun juga sering diartikan sebagai suatu luka atau perasaan sakit “berat” akibat suatu kejadian “luar bisa” yang menimpa sesorang, secara langsung maupun tidak langsung, baik luka fisik maupun psikis atau kombinasi dari keduanya. Berat ringannya suatu peristiwa akan dirasakan berbeda oleh setiap orang, sehingga pengaruh dari peristiwa itu terhadap perilaku juga berbeda atara seorang dengan yang lainnya.

Trauma bisa saja melanda siapa saja yang mengalami suatu peristiwa yang luar biasa seperti perang, terjadi perkosaan, kematian akibat kekerasan pada orang-orang tercinta, dan juga bencana alam seperti gempa dan tsunami. Gangguan pasca trauma bisa dialami segera setelah peristiwa traumatis terjadi, bisa juga dialami secara tertunda sampai beberapa tahun sesudahnya. Korban biasanya mengeluh tegang, insomnia (sulit tidur), sulit berkonsentrasi dan ia merasa ada yang mengatur hidupnya, bahkan yang bersangkutan kehilangan makna hidupnya.

Lebih parah lagi, orang yang mengalami gangguan pasca traumatic berada pada keadaan stress yang berkepanjangan, yang dapat berakibat munculnya gangguan otak, berkurangnya kemapuan intelektual, gamgguan emosional, maupun gangguan kemampuan sosial. Selanjutnya Cavanagh membagi trauma ke dalam empat tipe yaitu:

  1. Trauma situasional,
  2. Trauma perkembangan,
  3. Trauma intrapsikis, dan
  4. Trauma eksistensial.

Yang keempat tipe ini berbeda dari sisi kejadian dan juga dari sisi tingkat traumanya.

  1. Pertama, trauma situasional sering terjadi akibat bencana alam, kecelakaan kenderaan, kebakaran, perampokan, perkosaan perceraian, kehilangan pekerjaan, ditinggal mati oleh orang yang dicintai, kegagalan dalam bisnis, tidak naik kelas bagi beberapa siswa, dan sebagainya.

  2. Kedua, trauma perkembangan sering terjadi pada setiap tahap perkembangan, seperti penolakan teman sebaya, kelahiran yang tidak dikehendaki, peristiwa yang berhubungan dengan kencan, berkeluarga dan sebagainya.

  3. Ketiga, trauma intrapsikis, trauma ini sering terjadi akibat kejadian internal seseorang yang memenculkan perasaan cemas yang sangat kuat, seperti munculnya homo seksual, munculnya perasaan benci pada seseorang yang seharusnya dicintai, dan sebagainya.

  4. Keempat, trauma eksistensional, trauma ini sering terjadi akibat munculnya kekurang berartian dalam kehidupan.

Webb menyatakan bahwa:

  1. Trauma dinyatakan sebagai kesakitan yang dialami oleh seseorang yang dapat memberi karusakan kepada fisik dan psikologi sehingga membawa kesusahan kepada kehidupan seperti menurunnya tingkat produktifitas dan aktivitas keseharian,

  2. Trauma terjadi karena peristiwa pahit pada fisik dan mental yang menyebabkan kerusakan serta merta kepada tubuh atau kejutan pada otak,

  3. Trauma terjadi karena terdapat kebimbangan yang melampau atau kebimbangan yang traumatik oleh kerusakan fisik dan psikis yang dapat menyebabkan gangguan emosi yang dicetuskan oleh peristiwa pahit yang akut,

  4. Trauma adalah peningkatan gejala tekanan (stress) yang menyebabkan gangguan emosi kepada kanak-kanak atau pelajar sekolah, sehingga menyebabkan perubahan tingkah laku, emosi dan pemikiran,

  5. Trauma juga dikatakan sebagai kecederaan tubuh yang disebabkan oleh tegangan fisik dari luar seperti tembakan, kebakaran, kemalangan, tikaman senjata tajam, luka akibat berkelahi, diperkosa, kelalaian teknologi dan sebagainya.

Sementara itu seorang psikiater di Jakarta, Roan menyatakan trauma berarti cidera, kerusakan jaringan, luka atau shock. Sedangkan trauma psikis dalam psikologi diartikan sebagai kecemasan hebat dan mendadak akibat peristiwa dilingkungan seseorang yang melampaui batas kemampuannya untuk bertahan, mengatasi atau menghindar.

Everly & Lating menyatakan bahwa trauma adalah peristiwa-peristiwa di luar kebiasaan pengalaman manusia pada umumnya, yang terlihat sangat nyata dan jelas dan menyedihkan, sehingga menimbulkan reaksi ketakutan yang hebat, ketidak berdayaan, seram dan lain-lain. Ketegangan trauma biasanya seperti ancaman intergritas fisik yang dirasa seseorang dari seseorang yang sangat dekat. Pasca peristiwa traumatik, kejutan-kejutan yang keras akan menyebabkan terjadinya tekanan traumatik, dan mekanisme tekanan ini akan menguasai individu sehingga merasakan sesuatu tanpa pengharapan.

Menurut MSF- Holland mengartikan trauma adalah suatu peristiwa yang bersifat mengejutkan dan tidak disangka, situasi yang tidak biasa (diluar keseharian), menimbulkan rasa tidak berdaya, mengancam kehidupan, baik secara fisik mahupun emosional. Sedangkan peristiwa traumatis menurut Vikram adalah suatu peristiwa yang menyebabkan ketakutan dalam kehidupan seseorang dan menimbulkan stress yang negatif.

Yule memaknai peristiwa traumatik sebagai

“… an event that is outside the range of usual human experience and that would be markedly distressing to almost anyone, …”.

Selanjutnya Yule dan Hughes menjelaskan bahwa peristiwa yang dapat mencetuskan terjadinya trauma adalah ancaman serius terhadap kehidupan seseorang atau ancaman terhadap fisiknya. Ancaman tersebut terjadi secara alamiah atau karena ulah manusia seperti kecelakaan kapal terbang, tabrakan kereta api, kerusuhan dalam suatu pertandingan olah raga, atau peristiwa yang mengancam keselamatan anak-anak, isteri, suami, maupun kerabat dekat, pemusnahan secara tibatiba terhadap rumah, atau melihat orang lain yang menjadi korban, atau bisa juga melihat terbunuhnya seseorang akibat suatu peristiwa, atau kekerasan.

Rohmad Sarman menyatakan bahwa trauma berasal dari kata Greek yaitu “tramatos” yang berarti luka dari sumber luar. Tetapi kata trauma dapat juga luka dari sumber dalaman yaitu luka emosi, rohani dan fisik yang disebabkan oleh keadaan yang mengancam diri seseorang. Gejala akibat trauma sangat beragam dan mengelirukan.

Trauma menimbulkan kepedihan dan penderitaan yang dapat berpanjangan. Jika orang mengalami trauma karena faktor luaran, maka analisis dan diagnosis proses penyembuhannya relatif lebih mudah dan cepat. Seperti contoh luka bakar, kepedihan dan sakitnya relatif mudah dirawat. Sekalipun luka itu yang kemudian akan berdampak pada dalaman diri orang yang terbakar, ada perasaan ketakutan yang menghantui ketika melihat api.

Untuk lebih jelas lihat beberapa kasus di bawah ini:

  1. Pertama, Rizal adalah seorang pemuda berusia 22 tahun yang tinggal di suatu daerah konflik perkauman. Dalam suatu pertengkaran 5 tahun yang lalu, Rizal melihat ayah dan kakak lelaki tertuanya dibunuh dengan cara dipenggal kepalanya, kemudian dipertontonkan di pasar. Pada waktu peristiwa tersebut terjadi ia bersembunyi ketika rumah mereka diserbu.

    Sejak itu, Rizal selalu dihantui mimpi buruk tentang kematian ayah dan kakaknya, setiap kali melewati pasar tersebut, ia selalu merasa ketakutan dan berkeringat dingin mengingati ditempat itulah dulu kepala ayah dan kakaknya dipertontonkan. Akibatnya Rizal selalu mengelak pasar dan berbagai pusat keramaian lain yang dapat mengingatkannya kembali akan peristiwa tersebut.

  2. Kedua, Vienna adalah seorang wanita berusia 25 tahun. Datang kepada psikolog karena ingin membunuh diri. Saat berusia 10 tahun, ia mengalami peristiwa perkosaan yang dilakukan oleh kakak kandungnya. Itu adalah rahasia yang disimpannya sendiri selama bertahun-tahun. Setelah peristiwa itu terjadi, ia melarikan diri dari rumahnya dan tinggal dengan neneknya, dengan harapan dapat melupakan peristiwa tersebut.

    Akan tetapi semua itu tidak dapat ia lupakan, Vienna tidak pernah berhenti merasa kotor dan berdosa, sehingga perlu dibersihkan. Karena itu, setiap harinya ia mandi berkalikali dan menutup diri dari pergaulan dengan dunia luar. Setiap kali ada laki-laki yang datang bertamu kerumah neneknya (keluarga dan kerabat yang lain) akan membuatnya histeris dan menangis semalaman.

  3. Ketiga, pada tahun 2004, Doddy mengalami luka parah akibat letusan bom yang menyebabkan dia kehilangan mata kirinya dan perlu menggunakan bola mata palsu. Sejak saat itu, ianya selalu merasa ketakutan setiap kali mendengar suara keras dan mudah merasa terkejut. Hal-hal kecil yang tidak disukainya dapat membuatnya marah dengan merentak rentak. Ia tidak dapat tidur pada malam hari karena sering bermimpi buruk. Bila sedang sendiri, ia sering merasa mengalami kilas balik peristiwa letusan yang dialaminya tersebut.

    Pada suatu hari, ia ketakutan dan histeris, karena mencium bau masakan isterinya yang hangus. Ia merasa teringat kembali dengan tubuh-tubuh korban bom yang hangus terbakar, akhirnya ia mendatangi psikolog.

Ketiga kasus tersebut, merupakan contoh trauma yang dialami korban, setelah peristiwa traumatik itu terjadi, dalam waktu yang lama mereka masih mengingat dan merasakan peristiwa tersebut se akan-akan kejadian itu baru saja mereka alami dalam kehidupannya. Bila hal ini terjadi berkepanjangan, maka secara fisik dan mental akan merubah perilaku seseorang, oleh karena itu harus ada penanganan yang serius dan berterusan dalam rangka pemulihan trauma.

Brewin et al. menyatakan faktor-faktor yang berisiko untuk mengalami PTSD adalah hidup dalam peristiwa trauma dan bahaya, mempunyai sejarah sakit mental, mendapat cedera, melihat orang cedera atau terbunuh, perasaan seram, tidak berdaya, atau ketakutan yang melampau, tidak mendapat dukungan sosial setelah peristiwa tersebut, berurusan dengan tekanan tambahan setelah peristiwa itu, seperti kesakitan kehilangan orang yang dikasihi, dan kecederaan, atau kehilangan kerja atau rumah.

Gurvits, et al. menyatakan faktor alam sekitar, seperti trauma kanak-kanak, kecederaan kepala, atau sejarah penyakit mental, dapat meningkatkan lagi risiko pada seseorang yang mempengaruhi pertumbuhan otak awal. Sementara itu, Charney menyatakan faktor yang dapat mengurangkan resiko PTSD adalah: Mencari dukungan daripada orang lain, seperti rekan-rekan dan keluarga, mencari group yang mendukung setelah peristiwa traumatik, perasaan yang baik mengenai tindakan sendiri dalam menghadapi bahaya, mempunyai strategi menghadapi keadaan yang buruk, atau mendapatkan pembelajaran dari padanya, karena sebagian mampu untuk bertindak dan merespon setiap kasus walaupun perasaan takut.

Everly berpendapat bahawa untuk benar-benar memahami sifat trauma psikologi dan PTSD, seseorang perlu mengkaji wujud dua faktor pilihan psikologi dan fenomena biologi.

Jenis-Jenis Trauma


Vikram menyatakan ada beberapa jenis trauma yang dikenali, yaitu:

  1. Trauma personal (korban perkosaan, kematian orang tercinta, korban kejahatan, dll), perang dan keganasan,

  2. Trauma mayor (bencana alam, kebakaran, dll), trauma mayor umumnya menyebabkan trauma pada sejumlah besar orang pada waktu yang sama.

Cavanagh mengelompokkan trauma berdasarkan kejadian traumatik yaitu:

  1. Trauma situasional adalah trauma yang disebabkan oleh situasi seperti bencana alam, perang, kemalangan kenderaan, kebakaran, rompakan, perkosaan, perceraian, kehilangan pekerjaan, ditinggal mati oleh orang yang dicintai, gagal dalam perniagaan, tidak naik kelas bagi beberapa pelajar, dan sebagainya;

  2. Trauma perkembangan adalah trauma dan stres yang terjadi pada setiap tahap pekembangan, seperti penolakan dari teman sebaya, kelahiran yang tidak diingini, peristiwa yang berhungan dengan kencan, bekeluarga, dan sebagainya;

  3. Trauma intrapsikis adalah trauma yang disebabkan kejadian dalaman seseorang yang memunculkan perasaan cemas yang sangat kuat seperti perasaan homo seksual, benci kepada orang yang seharusnya di cintai, dan sebagainya;

  4. Trauma eksistensial yaitu trauma yang diakibatkan karena kurang berhasil dalam hidup.

Referensi

Hatta, Kusmawati. 2016. Trauma dan Pemulihannya : Sebuah kajian Berdasarkan Kasus Pasca Konflik dan Tsunami. Banda Aceh : Dakwah Ar-Raniry Press.

Trauma merupakan dampak dari sebuah peristiwa atau akibat dari pengalaman yang sebelumnya sangat mempengaruhi jiwa seseorang yang menimbulkan stress dan lama kelamaan stress akan semakin dalam, sehingga menimbulkan luka yang berkempanjangan dan ketika orang tersebut mengalami kejadian atau stimulus yang sama maka orang tersebut akan mengalami trauma dari peristiwa masa lalu.

Salah satu jenis trauma adalah trauma psikologis. Trauma ini adalah akibat dari suatu peristiwa atau pengalaman yang luar biasa yang terjadi secara spontan (mendadak) pada diri individu tanpa berkemampuan untuk mengontrolnya dan merusak fungsi ketahanan mental individu secara umum, trauma ini dapat menyerang individu secara menyeluruh.

Shapiro menyatakan trauma merupakan pengalaman hidup yang mengganggu kasuseimbangan biokimia dari sistem informasi pengolohan psikologi otak. Kasuseimbangan ini menghalang pemprosesan informasi untuk meneruskan proses tersebut dalam mencapai suatu adaptif, sehingga persepsi, emosi, keyakinan dan makna yang diperoleh dari pengalaman tersebut “terkunci” dalam sistem saraf.

Jarnawi menyatakan bahawa trauma merupakan gangguan psikologi yang sangat berbahaya dan mampu merosakkan kasuseimbangan kehidupan manusia.Cavanagh dalam Mental Health Channel menyatakan tentang pengertian trauma adalah suatu peristiwa yang luar biasa yang menimbulkan luka dan perasaan sakit, tetapi juga sering diertikan sebagai suatu luka atau perasaan sakit berat akibat sesuatu kejadian luar biasa yang menimpa seseorang langsung atau tidak langsung baik luka fisik maupun luka psikis atau kombinasi kedua-duanya.

Cavanagh, dalam Mental Health Channel, mendefinisikan trauma adalah suatu peristiwa yang luar biasa, yang menimbulkan luka atau perasaan sakit: namun juga sering diartikan sebagai suatu luka atau perasaan sakit “berat” akibat suatu kejadian “luar bisa” yang menimpa sesorang, secara langsung maupun tidak langsung, baik luka fisik maupun psikis atau kombinasi dari keduanya. Berat ringannya suatu peristiwa akan dirasakan berbeda oleh setiap orang, sehingga pengaruh dari peristiwa itu terhadap perilaku juga berbeda atara seorang dengan yang lainnya.

Trauma bisa saja melanda siapa saja yang mengalami suatu peristiwa yang luar biasa seperti perang, terjadi perkosaan, kematian akibat kekerasan pada orang-orang tercinta, dan juga bencana alam seperti gempa dan tsunami. Gangguan pasca trauma bisa dialami segera setelah peristiwa traumatis terjadi, bisa juga dialami secara tertunda sampai beberapa tahun sesudahnya. Korban biasanya mengeluh tegang, insomnia (sulit tidur), sulit berkonsentrasi dan ia merasa ada yang mengatur hidupnya, bahkan yang bersangkutan kehilangan makna hidupnya.

Menurut MSF- Holland mengartikan trauma adalah suatu peristiwa yang bersifat mengejutkan dan tidak disangka, situasi yang tidak biasa (diluar keseharian), menimbulkan rasa tidak berdaya, mengancam kehidupan, baik secara fisik mahupun emosional. Sedangkan peristiwa traumatis menurut Vikram adalah suatu peristiwa yang menyebabkan ketakutan dalam kehidupan seseorang dan menimbulkan stress yang negatif.

Rohmad Sarman menyatakan bahwa trauma berasal dari kata Greek yaitu “ tramatos ” yang berarti luka dari sumber luar. Tetapi kata trauma dapat juga luka dari sumber dalaman yaitu luka emosi, rohani dan fisik yang disebabkan oleh keadaan yang mengancam diri seseorang. Gejala akibat trauma sangat beragam dan mengelirukan. Trauma menimbulkan kepedihan dan penderitaan yang dapat berpanjangan.

Pengertian Trauma

Shapiro menyatakan trauma merupakan pengalaman hidup yang mengganggu kasuseimbangan biokimia dari sistem informasi pengolohan psikologi otak. Kasuseimbangan ini menghalang pemprosesan informasi untuk meneruskan proses tersebut dalam mencapai suatu adaptif, sehingga persepsi, emosi, keyakinan dan makna yang diperoleh dari pengalaman tersebut “terkunci” dalam sistem saraf18. Jarnawi menyatakan bahawa trauma merupakan gangguan psikologi yang sangat berbahaya dan mampu merosakkan kasuseimbangan kehidupan manusia.Cavanagh dalam Mental Health Channel menyatakan tentang pengertian trauma adalah suatu peristiwa yang luar biasa yang menimbulkan luka dan perasaan sakit, tetapi juga sering diertikan sebagai suatu luka atau perasaan sakit berat akibat sesuatu kejadian luar biasa yang menimpa seseorang langsung atau tidak langsung baik luka fisik maupun luka psikis atau kombinasi kedua-duanya. Berat ringannya suatu peristiwa akan dirasakan berbeda oleh setiap orang, sehingga pengaruh dari peristiwa tersebut terhadap perilaku juga berbeda antara seseorang dengan orang lain.

American Psychiatric Association (APA) dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (DSM.IV-TR), menyatakan ledakan trauma merangkumi salah satu atau dua daripada berikut, yaitu:

(1) seseorang yang mengalami, menyaksikan atau berhadapan dengan kejadian ngeri yang menyebabkan kematian, kecederaan serius atau mengancam fisik diri atau orang lain.

(2) respon individu terhadap ketakutan, rasa tidak ada harapan, horror (kanak-kanak mungkin mengalami kecelaruan tingkahlaku).

Trauma bisa saja melanda siapa saja yang mengalami suatu peristiwa yang luar biasa seperti perang, terjadi perkosaan, kematian akibat kekerasan pada orang-orang tercinta, dan juga bencana alam seperti gempa dan tsunami. Gangguan pasca trauma bisa dialami segera setelah peristiwa traumatis terjadi, bisa juga dialami secara tertunda sampai beberapa tahun sesudahnya. Korban biasanya mengeluh tegang, insomnia (sulit tidur), sulit berkonsentrasi dan ia merasa ada yang mengatur hidupnya, bahkan yang bersangkutan kehilangan makna hidupnya. Lebih parah lagi, orang yang mengalami gangguan pasca traumatic berada pada keadaan stress yang berkepanjangan, yang dapat berakibat munculnya gangguan otak, berkurangnya kemapuan intelektual, gamgguan emosional, maupun gangguan kemampuan social. Selanjutnya Cavanagh membagi trauma ke dalam empat tipe yaitu:

(1) trauma situasional

Trauma situasional sering terjadi akibat bencana alam, kecelakaan kenderaan, kebakaran, perampokan, perkosaan perceraian, kehilangan pekerjaan, ditinggal mati oleh orang yang dicintai, kegagalan dalam bisnis, tidak naik kelas bagi beberapa siswa, dan sebagainya.

(2) trauma perkembangan

Trauma perkembangan sering terjadi pada setiap tahap perkembangan, seperti penolakan teman sebaya, kelahiran yang tidak dikehendaki, peristiwa yang berhubungan dengan kencan, berkeluarga dan sebagainya.

(3) trauma intrapsikis

Trauma intrapsikis, trauma ini sering terjadi akibat kejadian internal seseorang yang memenculkan perasaan cemas yang sangat kuat, seperti munculnya homo seksual, munculnya perasaan benci pada seseorang yang seharusnya dicintai, dan sebagainya.

(4) trauma eksistensial.

Trauma eksistensional, trauma ini sering terjadi akibat munculnya kekurang berartian dalam kehidupan.

Jenis-Jenis Trauma

Vikram menyatakan ada beberapa jenis trauma yang dikenali, yaitu:

(1) trauma personal (korban perkosaan, kematian orang tercinta, korban kejahatan, dll) Perang dan keganasan

(2) trauma mayor (bencana alam, kebakaran, dll), trauma mayor umumnya menyebabkan trauma pada sejumlah besar orang pada waktu yang sama.

Gejala – Gejala Trauma

  1. Individu dikatakan mengalami peristiwa trauma bila dari dua hal berikut terjadi, ia merasakan, menjadi saksi, dikonfrontasi dengan peristiwa, terlibat ancaman kematian atau kecelakaan serius, atau ancaman terhadap fisik seseorang atau orang lain. Responnya adalah ketakutan, perasaan tidak tertolong, kengerian atau persepsi dari peristiwa tersebut membuat seseorang dalam emosi.

  2. Individu mengalami kembali peristiwa tersebut secara berulang sehingga terbayang kembali koleksi kejadian yang menyedihkan, tergambar dalam pikiran dan persepsi. Sering mengalami mimpi yang berulang dan membuat stres. Bertingkah seolah-olah peristiwa trauma datang kembali, dan hidup melalui halusinasi atau flashback.

  3. Individu terus-terusan menolak benda/peristiwa yang berhubungan dengan peristiwa trauma, sehingga berusaha sungguh-sungguh untuk menghindari pemikiran, perasaan dan percakapan yang berhubungan dengan trauma, atau juga menghindari tempat, aktivitas yang dapat mengingatkan kembali pada trauma. Selain itu juga individu tidak dapat mengingat kembali aspek penting dari dirinya, ketertarikan, partisipasi dan aktiviti menjadi berkurang, dan merasa terlepas dan terasing dari orang lain.

Referensi

https://repository.ar-raniry.ac.id/id/eprint/2381/1/Trauma%20dan%20Pemulihannya.pdf