Apa yang dimaksud dengan Teori Atribusi atau Attribution Theory?

Teori atribusi adalah teori yang memiliki argumentasi mengenai perilaku seseorang. Menurut Ivancevics, teori atribusi merupakan suatu suatu proses di mana individu berusaha untuk menjelaskan alasan dari suatu peristiwa.

Apa yang dimaksud dengan Teori Atribusi (Attribution Theory)?

1 Like

Teori Atribusi (Attribution Theory) merupakan sebuah teori yang diterapkan dalam mengkaji inkonsistensi sikap-perilaku.

Pada umumnya para ahli psikologi berasumsi bahwa orang menetapkan sikap mereka sendiri dengan mempertimbangkan bermacam-macam kognisi dan afeksi dalam kesadaran mereka. Akan tetapi, menurut Ben individu mengetahui sikapnya sendiri bukan melalui peninjauan ke dalam dirinya sendiri, tetapi mengambil kesimpulan dari perilakunya sendiri dan persepsinya tentang situasi.

Implikainya adalah bahwa perubahan perilaku yang dilakukan seseorang memungkinkan timbulnya kesimpulan pada orang tersebut bahwa sikapnya telah berubah. Bila tiba-tiba seseorang menyadari bahwa dirinya belajar psikologi faal setiap malam, maka ia akan mengambil kesimpulan bahwa ia pasti menyukai mata kuliah itu.

Fritz Heider (1946, 1958), seorang psikolog bangsa Jerman mengatakan bahwa kita cenderung mengorganisasikan sikap kita, sehingga tidak menimbulkan konflik. Contohnya, jika kita setuju pada hak seseorang untuk melakukan aborsi, seperti juga orang-orang lain, maka sikap kita tersebut konsisten atau seimbang (balance). Namun jika kita setuju aborsi tetapi ternyata teman-teman dekat kita dan juga orang-orang di sekeliling kita tidak setuju pada aborsi maka kita dalam kondisi tidak seimbang (imbalance).

Akibatnya kita merasa tertekan (stress), kurang nyaman, dan kemudian kita akan mencoba mengubah sikap kita, menyesuaikan dengan orang-orang di sekitar kita, misalnya dengan bersikap bahwa kita sekarang tidak sepenuhnya setuju pada aborsi. Melalui pengubahan sikap tersebut, kita menjadi lebih nyaman.

Intinya sikap kita senantiasa kita sesuaikan dengan sikap orang lain agar terjadi keseimbangan karena dalam situasi itu, kita menjadi lebih nyaman. Heider juga menyatakan bahwa kita mengorganisir pikiran-pikiran kita dalam kerangka ”sebab dan akibat”.

Agar supaya bisa meneruskan kegiatan kita dan mencocokannya dengan orang-orang di sekitar kita, kita mentafsirkan informasi untuk memutuskan penyebab perilaku kita dan orang lain. Heider memperkenalkan konsep ”causal attribution” - proses penjelasan tentang penyebab suatu perilaku.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita bedakan dua jenis penyebab, yaitu internal dan eksternal. Penyebab internal (internal causality) merupakan atribut yang melekat pada sifat dan kualitas pribadi atau personal, dan penyebab external (external causality) terdapat dalam lingkungan atau situasi.

Terkadang kita bertanya kepada diri sendiri mengapa seseorang bertingkah laku tertentu, mengapa seseorang melakukan sesuatu hal atau mengapa orang lain melakukan tindakan tertentu. Manusia selalu cenderung ingin mengetahui sikap atau tingkah lakunya sendiri atau tingkah laku orang lain. Teori atribusi memberikan gambaran yang menarik mengenai tingkah laku manusia. Teori ini memberikan perhatian pada bagaimana seseorang sesungguhnya bertingkah laku.

Teori atribusi menjelaskan bagaimana orang menyimpulkan penyebab tingkah laku yang dilakukan diri sendiri atau orang lain. Teori ini menjelaskan proses yang terjadi dalam diri seseorang sehingga memahami tingkah laku seseorang dan orang lain.

Teori atribusi diperkenalkan oleh Fritz Heider (1958) pertama kali. Menurut Heider, setiap individu pada dasarnya adalah seseorang ilmuwan semu (pseudo scientist) yang berusaha untuk mengerti tingkah laku orang lain dengan mengumpulkan dan memadukan potongan–potongan informasi sampai mereka tiba pada sebuah penjelasan masuk akal tentang sebab–sebab orang lain bertingkah laku tertentu. Dengan kata lain seseorang itu selalu berusaha untuk mencari sebab mengapa seseorang berbuat dengan cara–cara tertentu. Misalkan ada seseorang melakukan pencurian. Sebagai manusia yang ingin mengetahui penyebab kenapa dia sampai berbuat demikian.

Fritz Heider, pendiri teori atribusi, mengemukakan beberapa pendapat yang mendorong orang memiliki tingkah laku tertentu yaitu:

  1. Penyebab situasional (orang dipengaruhi oleh lingkungannya);
  2. Adanya pengaruh personal (ingin memengaruhi sesuatu secara pribadi);
  3. Memiliki kemampuan (mampu melakukan sesuatu);
  4. Adanya usaha (mencoba melakukan sesuatu);
  5. Memiliki keinginan (ingin melakukan sesuatu);
  6. Adanya perasaan (perasaan menyukai sesuatu);
  7. Rasa memiliki (ingin memiliki sesuatu);
  8. Kewajiban (perasaan harus melakukan sesuatu); dan
  9. Diperkenankan (diperbolehkan melakukan sesuatu).

Kecenderungan memberi atribusi disebabkan oleh kecenderungan manusia untuk menjelaskan segala sesuatu (sifat ilmuwan manusia), termasuk apa yang ada dibalik perilaku orang lain. Heider mengungkapkan dua jenis atribusi, yaitu:

  1. Atribusi kausalitas (sebab–akibat), yaitu teori yang mempertanyakan apakah perilaku orang lain itu dipengaruhi oleh faktor internal (personal) ataukah faktor eksternal (situasional).

  2. Atribusi kejujuran, yang mempertanyakan sejauh mana pernyataan seseorang menyimpang dari pernyataan umum dan sejauh mana orang tersebut mendapatkan keuntungan dari pernyataan yang diajukan.

Fritz Heider adalah yang pertama menelaah atribusi kausalitas. Menurut Heider, bila mengamati perilaku sosial, pertama–tama menentukan dahulu apa yang menyebabkannya, faktor situasional atau personal; dalam teori atribusi lazim disebut kausalitas eksternal (atribusi eksternal) dan kausalitas internal (atribusi internal). Heider membagi sumber atribusi ini menjadi dua, yaitu :

  1. Atribusi internal atau atribusi disposisional, yaitu tingkah laku seseorang yang berasal dari diri orang yang bersangkutan yang disebabkan oleh sifat–sifat atau disposisi (unsur psikologis yang mendahului tingkah laku).

  2. Atribusi eksternal atau atribusi lingkungan, yaitu tingkah laku seseorang yang berasal dari situasi tempat/lingkungan atau luar diri orang yang bersangkutan.

Bagaimana mengetahui bahwa perilaku orang lain disebabkan faktor internal, dan bukan faktor eksternal?

Menurut Jones dan Nisbett, hal itu dapat memahami motif personal stimuli dengan memperhatikan dua hal. Pertama, memfokuskan perhatian pada perilaku yang hanya memungkinkan satu atau sedikit penyebab. Kedua, memusatkan perhatian pada perilaku yang menyimpang dari pola perilaku yang biasa.

Salah satu pendekatan yang menyediakan dasar untuk memahami hubungan antara persepsi dan perilaku adalah teori atribusi. Teori atribusi berkaitan dengan proses dimana individu menginterpretasikan bahwa peristiwa disekitar mereka disebabkan oleh bagian lingkungan mereka yang secara relatif stabil.

Cara individu mengatasi keraguan dan membangun suatu pola yang konsisten adalah berbeda antara satu individu dengan individu lainnya. Heider menyebut pola–pola persepsi individu sebagai “gaya atribusi”. Dia mengakui berbagai keadaan dapat menyimpulkan berbagai interpretasi bergantung pada gaya atribusinya (style of attribution). Misalnya, seseorang adalah orang yang memiliki sifat optimis dan pemikiran positif maka akan menilai karyawan yang tiba–tiba giat bekerja itu sebagai orang yang ingin memperbaiki dirinya (self–improvement).

Namun jika orang itu percaya, seseorang melakukan sesuatu karena memiliki maksud atau motif tertentu maka dimensi atribusi lainnya akan saling berinteraksi.

Penelitian menunjukkan bahwa orang sering kali bersikap tidak logis dan bias dalam menentukan atribusi, yaitu penilaian mengapa orang berperilaku tertentu. Orang tidak selalu objektif dalam menyimpulkan hubungan sebab akibat, baik mengenai diri sendiri maupun orang lain. Individu sering kali terlalu cepat menyimpulkan berdasarkan petunjuk yang tersedia yang biasanya tidak lengkap atau bahkan berdasarkan faktor–faktor emosional saja. Penelitian menunjukkan penilaian yang sudah dimiliki atau tertanam di benak seseorang sebelumnya adalah sulit untuk dilepaskan, tidak peduli betapa pun kuatnya bukti yang ada yang mungkin menyatakan sebaliknya.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa orang dapat mengolah informasi yang diterimanya baik dengan cara logis maupun tidak logis (logical and illogical ways). Cara apa yang akan digunakan bergantung pada motivasinya. Jika motivasi untuk mendukung diri sendiri lebih kuat, misalnya untuk menyelamatkan muka, maka orang cenderung mencari pembenaran bagi dirinya sendiri, hal ini merupakan atribusi situasional. Jika anda terlambat untuk datang pada suatu pertemuan, maka anda akan mencari alasan bagi keterlambatan anda.

Sebaliknya, bila seseorang memiliki motivasi untuk mengontrol keadaan maka terdapat kemungkinan ia menjadi bias terhadap atribusi tanggung jawab personal. Jika pimpinan memberikan pujian terhadap pekerjaan seseorang maka orang itu mungkin akan berpikir bahwa dia adalah satu–satunya orang yang bekerja dengan baik di kantor padahal mungkin pujian itu berlaku bagi semua karyawan di kantor itu.

Atau ketika seseorang membuat atribusi situasional dan orang lain mencoba mengidentifikasi penyebab munculnya perilaku tersebut berasal dari lingkungan atau situasi, seperti “Burhan mencuri uang karena keluarganya kelaparan.” Sedangkan ketika seseorang menggunakan atribusi disposisional, pengidentifikasian penyebab suatu tindakan berasal dari dalam diri sendiri, seperti sifat atau motif pribadi “Burhan mencuri karena dia dilahirkan untuk menjadi pencuri.”

Ketika seseorang mencoba membuat penjelasan mengenai perilaku orang lain, ia akan menunjukkan adanya bias yang umum terjadi, yaitu ia akan cenderung melebih–lebihkan pengaruh sifat kepribadian dan meremehkan kekuatan faktor situasi. Dalam pengertian teori atribusi, mereka cenderung mengabaikan atribusi situasi dan lebih mementingkan atribusi disposisional.

image

Sehingga contoh diatas menggambarkan apa yang disebut dengan “kesalahan atribusi fundamental” (fundamental attribution error) yaitu kecenderungan untuk menyalahkan orang lain sebagai penyebab terjadinya suatu peristiwa, yaitu suatu perasaan bahwa orang secara pribadi bersalah terhadap apa yang terjadi terhadap diri mereka. Singkatnya, orang cenderung menjadi tidak sensitif terhadap berbagai faktor lingkungan atau situasional sebagai penyebab suatu peristiwa atau keadaan jika peristiwa atau keadaan itu menimpa orang lain namun orang akan menjadi lebih sensitif terhadap faktor lingkungan atau situasional jika peristiwa atau keadaan itu terjadi pada diri sendiri.

Dengan kata lain, seseorang cenderung menyalahkan orang lain atas apa yang terjadi pada diri mereka namun dia akan menyalahkan situasi, keadaan atau lingkungan (hal-hal yang berada di luar kontrol kita) atas peristiwa yang menimpa di dirinya. Jika seseorang tidak lulus ujian maka orang lain akan dengan mudah menilai orang itu tidak belajar dengan baik namun jika diri sendiri yang gagal ujian, maka diri sendiri mungkin akan mengatakan bahwa soal ujian itu terlalu sulit. Dengan demikian jelaslah, kehidupan sosial selalu diisi dengan berbagai evaluasi dan atribusi.

Kecenderungan seseorang dalam menjelaskan perilaku orang lain, melebih–lebihkan pengaruh faktor kepribadian, dan meremehkan pengaruh situasi terhadap perilaku. Apakah para penjaga penjara, dalam penelitian mengenai penjara dan tahanan, memang kejam, sedangkan para pelajar yang berperan sebagai tahanan menjadi penakut karena memang temperamen mereka seorang penakut?

Mereka yang berpikir seperti itu berarti menunjukkan bahwa mereka sedang melakukan kesalahan atribusi mendasar. Dorongan untuk menjelaskan tindakan orang lain dari kepribadian begitu kuat, bahkan ketika kita tahu orang tersebut dipaksa untuk melakukan tindakan tersebut.

Orang–orang cenderung mengabaikan atribusi situasional, terutama bila suasana hati mereka sedang baik dan tidak akan berpikir lebih jauh dan kritis mengenai motif–motif orang–orang tersebut, atau ketika mereka sibuk dan teralihkan pikirannya sehingga tidak punya waktu untuk sejenak berhenti dan mempertanyakan kepada diri mereka sendiri, “Mengapa suasana hati Aurelia tidak baik hari ini?” sebaiknya, sering kali orang langsung berupaya menjelaskan kejadian tersebut dengan penjelasan yang paling mudah, yaitu menganggapnya sebagai sifat bawaan, karena dia memang orang yang menyebalkan.

Mereka cenderung tidak berupaya untuk mengetahui apakah Aurelia baru saja bergabung dengan kelompok orang yang mendukung perilaku yang demikian kejam, atau apakah dalam kondisi luar biasa tertekan yang membuatnya menjadi begitu mudah marah pada saat itu.

Dua teori yang paling menonjol dari segi konsep dan penelitian, yaitu teori inferensi terkait (correspondence inference) dari Jones dan Davis. Dan teori ko–variasi Kelley (Kelley’s covariance theory) yang dirumuskan oleh Harold Kelley.

Jones dan Davis, sambil menekankan motivasi internal, memperhatikan cara kita menyimpulkan karakteristik yang selamanya dimiliki seseorang dari perilaku mereka. Mereka menyatakan bahwa seseorang melakukannya dengan memfokuskan perhatian pada tipe tindakan spesifik yang kemungkinan paling informatif. Namun, proses pengambilan kesimpulan lebih menonjol pada saat tindakan individual terjadi dalam kondisi tertentu, yaitu tindakan dipilih secara bebas, tindakan membuahkan hasil yang mungkin tidak dapat dihasilkan oleh tindakan yang lain, dan tindakan dianggap rendah dipandang dari tindakan yang diharapkan secara sosial.

Menurut teori atribusi dari Harold Kelly (1972), kita menyimpulkan kausalitas internal atau eksternal dengan memperhatikan tiga hal:

  1. Konsensus, merupakan tingkatan dimana orang lain menunjukkan perilaku yang sama. Apakah orang lain bertindak sama seperti penanggap;

  2. Konsistensi, merupakan tingkatan dimana seseorang menunjukkan perilaku yang sama pada waktu yang berbeda. Apakah penanggap bertindak yang sama pada situasi lain; dan

  3. Kekhasan/keunikan (distinctiveness), merupakan tingkatan dimana seseorang berperilaku secara serupa dalam situasi yang berbeda. Apakah orang itu bertindak yang sama pada situasi lain, atau hanya pada situasi ini saja.

Proses atribusi menjadi hal yang penting dalam memahami perilaku dari orang lain. Perilaku orang lain dapat diperiksa atas dasar konsensus, konsistensi, dan keunikan. Mengetahui sejauh mana perilaku seseorang menunjukkan kualitas ini dapat sangat bermanfaat dalam membantu memahami perilaku tersebut.


Gambar Atribusi Internal dan Atribusi Eksternal

Kelley sama seperti halnya teori Jones dan Davis, mengembangkan teorinya berdasarkan karya Heider. Bedanya, Jones & Davis menitikberatkan pelaku dalam suatu situasi tertentu sebagai faktor penyebab dari suatu efek. Di sisi lain, Kelley lebih menekankan pada unsur lingkungan atau luar diri individu. Atribusi didefinisikan oleh Kelley sebagai proses mempersepsi sifat–sifat dispositional (yang sudah ada) pada satuan–satuan (entities) di dalam suatu lingkungan (environment).

Kelley membenarkan teori Heider bahwa proses atribusi adalah proses persepsi dan bahwa atribusi bisa ditujukan kepada orang atau lingkungan. Misalnya, Rio senang menonton acara TV tertentu, maka ada dua kemungkinan. Kemungkinan yang pertama adalah ia bisa menyatakan bahwa acara itulah yang memang menyenangkan (atribusi eksternal) dan yang kedua, ia bisa menyatakan bahwa dirinyalah yang memang dalam keadaan senang sehingga ia menyukai program TV tersebut (atribusi internal).

Faktor–faktor yang menyebabkan orang lebih cenderung ke atribusi eksternal atau atribusi internal inilah yang menjadi pusat perhatian teori Kelley. Beliau berpandangan bahwa suatu tindakan merupakan suatu akibat atau efek yang terjadi karena adanya sebab. Oleh karena itu, Kelley mengajukan suatu cara untuk mengetahui ada atau tidaknya hal–hal yang menunjuk pada penyebab tindakan, apakah daya internal atau daya eksternal.

Jika semua faktor dipenuhi, maka akan terjadi atribusi eksternal, namun kalau tidak berarti terjadi atribusi internal. Misal dalam contoh tadi kesenangan menonton acara TV tersebut akan dinyatakan sebagai akibat dari keadaan diri Rio sendiri. Dengan kata lain, atribusi eksternal terjadi ditandai dengan kekhususan tinggi, konsistensi tinggi serta konsensus yang tinggi pula. Kalau suatu atribusi memenuhi semua faktor tersebut, maka orang itu akan merasa yakin pada diri. Akan tetapi, kalau salah satu faktor tidak terpenuhi, maka orang tersebut akan membutuhkan informasi dari orang lain. Hal ini menyebabkan Kelley sampai pada teorinya tentang tingkat informasi (information level).

Kekurangan informasi dari seorang individu akan mendorong individu tersebut mencari informasi yang dibutuhkan. Kecenderungan mencari informasi menyebabkan seseorang harus melaksanakan interaksi dengan individu lain. Cara meningkatkan pengetahuan agar individu mempunyai tingkat atribusi yang tinggi menurut Kelley dapat ditempuh dengan dua cara, yakni:

  1. Meningkatkan konsistensi, yaitu dengan meningkatkan kemantapan dari sifat–sifat satuan yang ada dalam lingkungan. Cara ini lazim disebut pendidikan;

  2. Meningkatkan konsensus, ialah meningkatkan kesamaan pandangan kepada individu–individu yang ada di dalam lingkungan. Cara ini biasa disebut persuasi.

Hal yang kedua adalah atribusi kejujuran (attribution of honesty). Sekarang bagaimana kita dapat menyimpulkan bahwa persona stimuli jujur atau munafik. Dalam rangka memperhatikan atribusi kejujuran, menurut Robert A. Baron dan Donn Byrne, kita akan memperhatikan dua hal:

  1. Sejauh mana pernyataan orang itu tentang menyimpang dari pendapat yang populer dan diterima orang.
  2. Sejauh mana orang itu memperoleh keuntungan dari seseorang dengan pernyataannya itu.
Referensi
  • Paul Morrison, Philip Burnard, Caring & Communicating, terjemahan Widyawati, Eny Meiliya, Jakarta: Buku Kedokteran EGC, 2002.
  • John M. Ivancevich, Robert Konopaske, Michael T. Matteson, Perilaku dan Manajemen Organisasi, terjemahan Gina Gania, Erlangga, 2007.
  • Carole Wade, Carol Tavris, Psikologi, Edisi 9, Jakarta: Erlangga, 2008.
  • Morissan, Teori Komunikasi Individu Hingga Massa, Jakarta: Kencana, 2013.
  • John M. Ivancevich, Robert Konopaske, Michael T. Matteson, Perilaku dan Manajemen Organisasi, terjemahan Gina Gania, Erlangga, 2007

Menurut Fritz Heider sebagai pencetus teori atribusi, teori atribusi merupakan teori yang menjelaskan tentang perilaku seseorang. Teori atribusi menjelaskan mengenai proses bagaimana kita menentukan penyebab dan motif tentang perilaku seseorang. Teori ini mengacu tentang bagaimana seseorang menjelaskan penyebab perilaku orang lain atau dirinya sendiri yang akan ditentukan apakah dari internal misalnya sifat, karakter, sikap, dll ataupun eksternal misalnya tekanan situasi atau keadaan tertentu yang akan memberikan pengaruh terhadap perilaku individu (Luthans, 2005).

Teori atribusi menjelaskan tentang pemahaman akan reaksi seseorang terhadap peristiwa di sekitar mereka, dengan mengetahui alasan-alasan mereka atas kejadian yang dialami. Teori atribusi dijelaskan bahwa terdapat perilaku yang berhubungan dengan sikap dan karakteristik individu, maka dapat dikatakan bahwa hanya melihat perilakunya akan dapat diketahui sikap atau karakteristik orang tersebut serta dapat juga memprediksi perilaku seseorang dalam menghadapi situasi tertentu.

Fritz Heider juga menyatakan bahwa kekuatan internal (atribut personal seperti kemampuan, usaha dan kelelahan) dan kekuatan eksternal (atribut lingkungan seperti aturan dan cuaca) itu bersamasama menentukan perilaku manusia. Dia menekankan bahwa merasakan secara tidak langsung adalah determinan paling penting untuk perilaku. Atribusi internal maupun eksternal telah dinyatakan dapat mempengaruhi terhadap evaluasi kinerja individu, misalnya dalam menentukan bagaimana cara atasan memperlakukan bawahannya, dan mempengaruhi sikap dan kepuasaan individu terhadap kerja. Orang akan berbeda perilakunya jika mereka lebih merasakan atribut internalnya daripada atribut eksternalnya.

Menurut Dayakisni (2006) Atribusi merupakan proses dilakukan untuk mencari sebuah jawaban atau pertanyaan mengapa atau apa sebabnya atas perilaku orang lain ataupun diri sendiri. Proses atribusi ini sangat berguna untuk membantu pemahaman kita akan penyebab perilaku dan merupakan mediator penting bagi reaksi kita terhadap dunia sosial. Sarwono (2009) atribusi merupakan analisis kausal, yaitu penafsiran terhadap sebab-sebab dari mengapa sebuah fenomen menampilkan gejala-gejala tertentu. Baron (2004) atribusi bearti upaya kita untuk memahami penyebab di balik perilaku orang lain, dan dalam beberapa kasus, juga penyebab dibalik perilaku kita sendiri.

Atribusi merupakan suatu proses penilaian tentang penyebab, yang dilakukan individu setiap hari terhadap berbagai peristiwa, dengan atau tanpa disadari. Atribusi terdiri dari 3 dimensi yaitu;

  1. lokasi penyebab, masalah pokok yang paling umum dalam persepsi sebab akibat adalah apakah suatu peristiwa atau tindakan tertentu disebabkan oleh keadaan internal (hal ini disebut sebagai atribusi internal) atau kekuatan eksternal (atribusi eksternal);

  2. stabilitas, dimensi sebab akibat yang kedua adalah berkaitan dengan pertanyaan apakah penyebab dari suatu peristiwa atau perilaku tertentu itu stabil atau tidak stabil. Dengan kata lain stabilitas mengandung makna seberapa permanen atau berubah-ubahnya suatu sebab;

  3. pengendalian, dimensi ini berkaitan dengan pertanyaan apakah suatu penyebab dapat dikendalikan atau tidak dapat dikendalikan oleh seorang individu. (dalam Nurhayati, 2005).

Tujuan melakukan proses atribusi


Ada dua macam asumsi tentang tujuan proses atribusi :

  1. Proses atribusi mempunyai tujuan untuk memperoleh pemahaman terhadap dunia. Kesimpulan-kesimpulan dibuat untuk memahami lingkungan dan memprediksi kejadian-kejadian di masa yang akan datang.

  2. Proses atribusi yang dipelajari secara alami dan mempunyai tujuan untuk menjelaskan tindakan-tindakannya sendiri serta berusaha untuk mengendalikan tindakan-tindakan orang lain yang mempunyai hubungan interpersonal dekat dengan dirinya.

Model-model proses atribusi


  1. Model Heider
    Analisa secara sistematik tentang bagaimana orang menginterprestasikan sebab perilaku orang lain pada awalnya dilakukan oleh Heider (dalam Hudaniah, 2006). Heider mengemukakan bahwa masing-masingdari kita dalam interaksi sehari-hari dengan orang lain akan bertingkah laku mirip seorang ilmuwan.

    Dalam menginterprestasi perilaku orang lain, orang menggunakan prinsip-prinsip kausal yang naluriah dan commonsense psikologi dalam memutuskan apakah perilaku orang lain diatribusikan pada faktor disposisi internal atau tidak.

    Menurut model Heider, perilaku seseorang dapat disimpulkan disebabkan oleh kekuatan-kekuatan internal (termasuk disposisi). Kekuatan-kekuatan lingkungan terdiri dari faktor situasi yang menekan, sehingga memunculkan perilaku tertentu. Kekuatan-kekuatan internal ( personal forces ) dilihat sebagai hasil dari kemampuan ( ability ), power dan usaha yang ditunjukkan seseorang.

  2. Teori inferensi korespondensi
    Edward jones dan koleganya (dalam Hudaniah, 2006) mempelajari pengaruh kekuatan disposisional dan lingkungan pada atribusi kausal. Mereka menganalisa kondisi-kondisi yang memunculkan atribusi disposisional, atau apa yang mereka sebut dengan istilah inferensi korespodensi, yaitu kasus dimana pengamat memutuskan bahwa disposisi khusus dari actor ( persin stimuli ) adalah penjelasan yang cukup masuk akal bagi perilaku atau tindakan actor.

  3. Teori Kelley atribusi kausal
    Atribusi kausal, memfokuskan diri pada pertanyaan apakah perilaku seseorang berasal dari faktor internal atau eksternal. Untuk menjawab pertanyaan ini ada beberapa aspek yang mesti dipertimbangkan, yaitu consensus, konsistensi, dan distingsi.

Ketika terdapat dua atau lebih kemungkinan faktor penyebab suatu perilaku, kita cenderung untuk mengabaikan peran salah satu dari antaranya hal ini dikenal sebagai suatu efek discounting . Ketika suatu penyebab yang memfasilitasi munculnya suatu perilaku dan penyebab yang mengeliminasi terjadinya suatu perilaku, keduanya sama-sama hadir namun perilaku tersebut tetap muncul, kita member nilai tambah pada faktor yang memfasilitasi lahirnya perilaku tadi, hal ini disebut augmenting .

Atribusi sering kali keliru. Satu dari tipe kesalahan paling sering terjadi adalah bias korespondensi, yaitu kecenderungan untuk menjelaskan perilaku seseorang sebagai cerminan dari disposisinya, padahal faktor situasionalnya juga hadir. Kecenderungan ini lebih kuat terjadi di masyarakat dengan latar budaya barat.

Dua jenis dari kesalahan atribusi lainnya adalah efek actor pengamat, yaitu kecenderungan untuk mengatribusi perilaku lebih pada faktor eksternal daripada faktor internal, dan bias mengutamakan diri sendiri, yaitu kecenderungan untuk mengatribusi perilaku positif kita pada faktor internal, dan perilaku negatif kita pada faktor eksternal. (Baron, 2004).

Referensi

Menurut Fritz Heider sebagai pencetus Teori Atribusi merupakan teori yang menjelaskan tentang perilaku seseorang. Teori Atribusi menjelaskan mengenai proses bagaimana kita menentukan penyebab dan motif tentang perilaku seseorang. Teori ini mengacu tentang bagaimana seseorang menjelaskan penyebab perilaku orang lain atau dirinya sendiri yang akan ditentukan apakah dari internal misalnya sifat, karakter, sikap ataupun eksternal misalnya tekanan situasi atau keadaan tertentu yang akan memberikan pengaruh terhadap perilaku individu (Luthans, 2005).

Teori Atribusi menjelaskan tentang pemahaman akan reaksi seseorang terhadap peristiwa di sekitar mereka, dengan mengetahui alasan-alasan mereka atas kejadian yang dialami. Teori atribusi dijelaskan bahwa terdapat perilaku yang berhubungan dengan sikap dan karakteristik individu, maka dapat dikatakan bahwa hanya melihat perilakunya akan dapat diketahui sikap atau karakteristik orang tersebut serta dapat juga memprediksi perilaku seseorang dalam menghadapi situasi tertentu.

Fritz Heider juga menyatakan bahwa kekuatan internal (atribut personal seperti kemampuan, usaha dan kelelahan) dan kekuatan eksternal (atribut lingkungan seperti aturan dan cuaca) itu bersamasama menentukan perilaku manusia. Dia menekankan bahwa merasakan secara tidak langsung adalah determinan paling penting untuk perilaku. Atribusi internal maupun eksternal telah dinyatakan dapat mempengaruhi terhadap evaluasi kinerja individu, misalnya dalam menentukan bagaimana cara atasan memperlakukan bawahannya, dan mempengaruhi sikap dan kepuasaan individu terhadap kerja. Orang akan berbeda perilakunya jika mereka lebih merasakan atribut internalnya daripada atribut eksternalnya.

Referensi

Sumber : http://eprints.ums.ac.id/37499/3/05.%20BAB%20II.pdf