Apa saja penyebab terjadinya Depresi ?

Depresi

Depresi merupakan respon terhadap stres kehidupan. Diantara situasi yang paling sering mencetuskan depresi adalah kegagalan di sekolah atau pekerjaan, kehilangan orang yang dicintai dan menyadari bahwa penyakit atau penuaan sedang menghabiskan kekuatan seseorang. Depresi dianggap abnormal hanya jika dalam kurun waktu yang lama (Atkinson, 1993).

Apa saja penyebab terjadinya Depresi ?

Depresi bukanlah masalah sederhana. Berbagai penelitian telah mengidentifikasi lima bagian berbeda dari hidup anda yang bisa menyebabkan depresi atau membuatnya terus ada. Bagian-bagian ini adalah: situasi anda, pikiran anda, emosi anda, kondisi fisik anda, dan tindakan anda. Kelima bagian ini saling mempengaruhi satu sama lain. Cara anda bertindak akan mengubah situasi anda, cara anda berpikir mengenai diri anda sendiri akan mempengaruhi perasaan anda, perasaan anda akan bisa mempengaruhi kondisi fisik anda, dan seterusnya. Jadi kelima komponen ini menyerupai sebuah lingkaran setan depresi.

depresi

Situasi


Depresi sering diawali dengan situasi yang sulit atau penuh tekanan – hal-hal seperti kehilangan teman atau prestasi jelek di sekolah. Bila upaya anda untuk mengatasi hal ini tidak berhasil, anda bisa saja akan merasa kewalahan dan menjadi putus asa. Kemudian mungkin akan timbul depresi. Beberapa situasi yang akan meningkatkan kemungkian terjadinya depresi adalah

  • Kehilangan pasangan
    Hal ini bisa saja berupa : Kematian seseorang yang anda sayangi, kehilangan seorang sahabat baik, atau memutuskan hubungan dengan seseorang.

  • Konflik dengan orang lain
    Hal ini bisa saja berupa : Sering bertengkar dengan orang tua, konflik dengan teman yang tidak bisa diselesaikan, di bully , atau mempunyai masalah dengan guru di sekolah.

  • Kesepian
    Hal bisa terjadi karena : Anda sangat pemalu, keluarga anda pindah ke daerah lain, atau anda tidak menemukan teman yang mempunyai minat yang sama dengan anda.

  • Prestasi sekolah yang jelek
    Hal bisa terjadi karena : Anda merasa murung dan tidak bisa berkonsentrasi, anda mempunyai masalah belajar, atau pelajaran sekolah terasa sangat berat bagi anda. Kadang masalah di sekolah juga bisa timbul akibat penggunaan rokok, obat, atau alkohol.

Meskipun demikian, depresi tidak hanya disebabkan oleh situasi hidup yang buruk. Ada juga orang yang mengalami depresi meskipun tidak mempunyai masalah dalam hidupnya, sehingga sepertinya depresi tiba-tiba saja muncul. Ketrampilan anti- depresi juga bisa membantu orang-orang semacam ini, membantunya untuk pulih.

Pikiran


Masing-masing dari kita mempunyai cara berpikir sendiri mengenai berbagai situasi dan bagaimana cara kita berpikir akan sangat mempengaruhi apa yang kita rasakan. Remaja yang mengalami depresi seringkali mengalami distorsi negatif dalam cara berpikir mengenai situasi dan dirinya sendiri. Hal ini berarti bahwa sudut pandang yang digunakan cenderung ke arah negatif. Cara berpikir semacam ini cenderung membesar-besarkan situasi yang buruk dan mengesampingkan hal-hal positif yang menyertainya.

  • Pikiran tidak realistis mengenai situasi yang dihadapi
    Hanya bisa melihat masalah yang ada dan tidak mengindahkan hal-hal positif. Bila bertemu dengan seorang teman dan dia hanya mengatakan halo sambil lalu, kemudian menjadikan ini bukti bahwa tidak ada orang yang benar-benar mau berteman dengan anda. Anda tidak memperhatikan bahwa dia megucapkannya sambil tersenyum dengan tulus.

  • Pikiran tidak adil mengenai diri anda sendiri
    Menilai diri anda sendiri dengan keras, menggunakan standar yang terlalu tinggi bagi anda, merendahkan diri sendiri. Setiap kegagalan atau kesalahan yang anda lakukan masuk dengan jelas ke alam pikiran anda – namun anda melebih-lebihkan kegagalan atau kesalahan itu. Bukan hanya itu, anda kemudian melupakan berbagai pencapaian dan prestasi yang pernah anda dapatkan atau hal-hal baik yang pernah anda raih. Nampaknya bagi anda, semua hal positif itu tidak berarti bagi anda.

  • Pikiran tidak realistis mengenai masa depan
    Melebih-lebihkan tentang kemungkinan sesuatu yang buruk akan terjadi, selalu membayangkan yang terburuk, memandang masa depan secara pesimis dan tidak masuk akal. Misalnya, seorang dengan pikiran depresi yang gagal masuk tim sepak bola akan membayangkan bahwa di masa depan dia tidak akan pernah dipilih masuk tim, sebaik apapun dia bermain.

Orang dengan pikiran depresif akan merasa kecil hati atau putus asa bahkan bila semuanya berjalan dengan baik

Emosi


Depresi sering diawali oleh perasaan kecil hati atau kesedihan. Bila hal ini menjadi semakin buruk, maka dia akan semakin merasa ditelan oleh perasaan putus asa.

Banyak penderita depresi yang tidak bisa lagi merasakan kesenangan melakukan hal-hal yang dulunya mereka sukai. Bila depresi menjadi semakin buruk, mungkin akan muncul semacam perasaan kosong atau tumpul, seperti tidak mempunyai perasaan. Seperti sakit yang dirasakan menjadi tak tertahankan lagi sehingga pikiran mematikan semua emosi yang dirasakan.

Anda harus ingat bahwa orang-orang yang mengalami depresi cenderung mempunyai jalan pikiran negatif yang tidak realistis mengenai situasi yang dihadapi dan mengenai dirinya sendiri. Karena emosi yang mereka rasakan didasarkan pada jalan pikiran yang menyimpang ini, maka emosi yang mereka rasakan juga mengalami distorsi negatif dan tidak realistis. Mungkin sulit untuk membayangkan tentang emosi yang tidak realistis. Tapi bayangkan ada seseorang yang berpikir bahwa pesawat itu sangat berbahaya dan percaya bahwa setiap saat pesawat bisa jatuh dari langit. Dia akan merasa sangat ketakutan ketika terbang, tapi ketakutan yang dia rasakan berasal dari pikiran yang tidak realistis dan karenanya merupakan emosi yang tidak realistis.

Kondisi fisik


Depresi seringkali mencakup berbagai masalah fisik. Salah satu diantaranya adalah gangguan tidur – seseorang yang mengalami depresi mengalami kesulitan tidur atau justru tidur terlalu banyak. Selain masalah dengan tidur, remaja yang mengalami depresi juga sering mengeluh tidak mempunyai energi, seperti tidak mempunyai nafsu makan atau selalu merasa lapar. Mereka juga mengalami kesulitan berkonsentrasi dalam mengerjakan tugas sekolah. Dan yang terakhir, beberapa remaja yang mengalami depresi mengalami semacam “ ketidakseimbangan ” dalam kerja sistem sarafnya.

Perubahan fisik yang muncul bersama dengan depresi menjadikan semakin sulit untuk mengatasi masalah ini atau bahkan untuk mempelajari ketrampilan yang terdapat dalam buku ini. Pada beberapa remaja yang mengalami depresi, obat mungkin akan bisa membantu mengatasi gangguan tidur, konsentrasi, dan energi fisiknya, sehingga mereka bisa mempelajari dan mencoba ketrampilan antidepresi dalam buku ini.

Tindakan


Orang-orang yang mengalami depresi cenderung berperilaku yang menyebabkan depresinya menjadi lebih buruk.

Hal ini termasuk:

  • Menarik diri dari keluarga dan teman
    Orang-orang yang mengalami depresi seringkali merasa bahwa orang lain tidak ingin berada di sekitarnya atau mereka tidak suka berada dekat dengan orang lain. Jadi, mereka menarik diri dari teman dan keluarga, menolak untuk menghadiri berbagai undangan, dan tidak berusaha untuk kembali menjalin hubungan.

  • Tidak merawat diri
    Ketika orang mengalami depresi, mereka cenderung untuk tidak peduli dengan apa yang mereka makan atau tentang bagaimana mereka merawat dirinya. Jadi mereka tidak menjaga makannya atau tidak mau berolah raga. Kadang mereka menyalahgunakan alkohol atau obat terlarang. Hal ini menyebabkan mereka secara fisik merasa lemah dan mungkin malu dengan kelemahan dirinya.

  • Tidak melakukan aktivitas yang menyenangkan
    Remaja yang mengalami depresi mungkin akan merasa badannya terlalu lelah atau sama sekali tidak mempunyai motivasi untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang dulu mereka senangi. Mereka mungkin tidak mau lagi melakukan aktivitas-aktivitas menyenangkan seperti berolah raga, mendengarkan musik, membaca atau melakukan hobinya. Tapi inaktivitas bisa menjadi sebuah kebiasaan. Semakin anda menghindari hal-hal yang menyenangkan, anda akan merasa semakin sulit untuk menikmatinya dan semakin enggan melakukannya. Inaktivitas merupakan makanan bagi depresi.

Sumber : Dan Bilsker PhD, Merv Gilbert PhD, David Worling PhD, E. Jane Garland MD, FRCP, Melawan depresi : Ketrampilan anti-depresi untuk remaja, diterjemahkan oleh : Irwan Supriyanto, MD, Ph.D, Departemen Ilmu Kedokteran Jiwa, Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada

Dasar penyebab depresi yang pasti tidak diketahui. Banyak usaha untuk mengetahui penyebab dari gangguan ini. Faktor- faktor yang dihubungkan dengan penyebab dapat dibagi menjadi faktor biologi, faktor genetik, dan faktor psikososial. Ketiga faktor tersebut juga dapat saling mempengaruhi satu dengan yang lainnya (Kaplan, dkk, 1995).

Davison dan Naela (2001) dalam Fausiah dan Widury (2005) membagi penyebab terjadinya depresi ke dalam beberapa sudut pandang. Sudut pandang tersebut yaitu sudut pandang psikologi, sudut pandang kognitif, sudut pandang biologis, dan sudut pandang interpersonal.

Sudut pandang psikologi


Menurut sudut pandang psikologi, penyebab depresi menggunakan pendekatan psikoanalisa. Freud mengemukakan hipotesis bahwa potensi depresi ditumbuhkan sejak masa anak-anak. Proses pembentukan depresi berawal setelah anak mengalami kehilangan seseorang yang sangat dicintainya karena meninggal, perpisahan, atau penarikan afeksi. Kemudian anak tersebut menggabungkan orang yang hilang, dan mengidentifikasi diri dengannya. Periode ini diikuti periode berduka, dimana ia akan mengingat kenangan dari orang yang hilang dan memisahkan diri darinya dengan orang lain tersebut, yang dianggap meninggalkannya dan melepaskan pula ikatan yang tadinya digabungkan. Periode berduka akan menjadi periode berkelanjutan untuk menyiksa diri, menyalahkan diri, dan berakhir pada kondisi depresi.

Sudut pandang kognitif


Pada sudut pandang kognitif terdapat empat pendekatan kognitif untuk menjelaskan tentang depresi, yaitu teori Depresi Beck, teori Learned Helplessness, teori atribusi, dan teori hopelessness.

  • Teori Depresi Beck menjelaskan bahwa depresi terjadi karena pemikiran individu tersebut dibiaskan pada interpretasi negatif. Interpretasi negatif tentang diri seperti gambaran pesimis tentang diri, dunia, dan masa depan. Keyakinan negatif dipicu oleh peristiwa-peristiwa hidup yang negatif seperti asumsi bahwa “saya harus sempurna”. Sikap-sikap negatif akan membuat bias-bias kognitif dan memicu depresi.

  • Teori Learned Helplessness menjelaskan bahwa depresi muncul akibat peristiwa menyakitkan yang tidak dapat dikontrol. Peristiwa yang menyakitkan tersebut diperoleh dari pengalaman hidup yang tidak menyenangkan dan trauma yang gagal dikontrol oleh individu. Kondisi seperti itu akan menghasilkan ketidakberdayaan yang memicu depresi.

  • Teori atribusi merupakan penjelasan yang dimiliki seseorang tentang tingkah laku. Orang akan mengalami depresi apabila mengatribusi peristiwa negatif dengan atribusi global (mengumumkan semua kegagalan). Selanjutnya muncul perasaan tidak berdaya, tidak ada respon yang memungkinkan untuk mengatasi situasi dan terjadilah depresi.

  • Teori hopelessness menjelaskan bahwa munculnya depresi berawal dari adanya peristiwa yang menyakitkan. Selanjutnya akan muncul perasaan tidak ada harapan, tidak ada respon yang memungkinkan untuk mengatasi situasi dan perkiraan. Hasil yang diharapkan tidak akan terjadi dan terjadilah depresi.

Sudut pandang interpersonal


Asumsi sudut pandang interpersonal adalah bahwa individu yang depresi cenderung memiliki hubungan sosial yang kurang baik dan menganggap mereka kurang memberikan dukungan. Sedikitnya dukungan sosial dapat mengurangi kemampuan individu untuk mengatasi peristiwa yang negatif dan membuat mereka rentan terhadap depresi. Asumsi lainnya ialah orang-orang yang depresi cenderung mencari-cari kepastian bahwa bahwa orang lain sungguh-sungguh memperhatikan mereka dan mereka masih kurang puas.

Faktor-faktor pencetus depresi (Beck, 1967 ) adalah :

Stress Spesifik


Stress Spesifik merupakan suatu situasi atau peristiwa yang memiliki kesamaan dengan pengalaman traumatik individu pada masa lalu. Pengalaman traumatik ini telah memperkuat sikap- sikap negatif yang terjalin dalam konstelasi depresi.

Dengan demikian kondisi yang terjadi akan mengaktifkan konstelasi depresi menjadi suatu keadaan depresi. Beberapa tipe stress spesifik yang dapat menimbulkan keadaan depresi adalah :

  • Situasi yang menurunkan harga diri, misalnya gagal ujian, putus cinta, kehilangan pekerjaan, atau diasingkan oleh keluarga.

  • Situasi yang menghambat tercapainya tujuan penting kehidupan atau dilema yang tidak terpecahkan

  • Penyakit (gangguan fisik) atau abnormalitas yang membangkitkan ide-ide mengenai kemunduran fisik dan kematian

  • Rangkaian situasi stress yang bertubi-tubi sehingga mematahkan toleransi terhadap stress

Stress non spesifik


Terkadang depresi tercetus tidak melalui kejadian tunggal yang berlebihan, tetapi melalui rangkaian peristiwa traumatik. Situasi stress non spesifik ini ( Beck,1967) tidak selalu menimbulkan depresi

Faktor-faktor lain


Merupakan faktor-faktor di luar faktor predisposisi di atas, namun mampu mengembangkan mengembangkan depresi. Faktor-faktor ini tidak dapat diidentifikasi secara khusus. Salah satu contohnya adalah ketegangan psikologis yang berkepanjangan.

Model Cognitive of Depression


Selain faktor-faktor umum tersebut, penyebab terjadinya depresi dapat dimodelkan, terutama dilihat dari sisi kognitif, menjadi Model Cognitive of Depression. Model ini terdiri dari tiga konsep khusus, yaitu : Cognitive triad , skema dan proses informasi yang salah.


Gambar Triad Cognitive of Depression

Cognitive triad

Beck (1967) mengungkapkan bahwa depresi dapat dipandang dari serangkaian tiga pola kognitif utama yang diistilahkan dengan cognitive triad , yaitu tiga serangkai pola kognitif utama yang memaksa individu memandang dunia atau pengalaman-pengalamannya, diri, masa depannya secara negatif. Model kognitif menganggap bahwa tanda-tanda dan simtom-simtom lain dari depresi merupakan konsekuensi dari pola kognitif tadi. Pola-pola tersebut adalah sebagai berikut :

  • Pola pertama, menginterpretasikan pengalaman-pengalaman secara negatif.

    Individu secara konsisten menginterpretasikan interaksinya dengan lingkungan sebagai suatu hal yang gagal dan memandang hidup sebagai penuh beban, rintangan atau situasi traumatik. Kognisi juga menunjukkan berbagai penyimpangan dari cara berpikir logis, termasuk kesimpulan yang dipaksakan, terlalu menggeneralisir dan membesar-besarkan masalah. Orang yang depresi biasanya demikian sensitif pada setiap hambatan terhadap kegiatannya mencapai tujuan. Secara otomatis muncul pemaknaan yang negatif terhadap situasi yang dihadapi, meskipun masih memungkinkan untuk memberikan penjelasan yang masuk akal. Individu yang bersangkutan akan menguraikan fakta-fakta sesuai dengan pikiran negatifnya.

  • Pola kedua, memandang diri sendiri secara negatif, tidak sempurna, dan tidak pantas.

    Individu menganggap dirinya sebagai orang yang tidak berharga, kekurangan, dan cenderung memberi atribut pengalaman yang tidak menyenangkan pada diri sendiri. Selanjutnya ia akan menghubungkan dirinya sebagai akibat dari kekurangan fisik, mental, dan moralnya. Keadaan ini cenderung membuat individu menolak dirinya karena kekurangan-kekurangan yang dirasakannya. Ia akan mengkritik dan menyalahkan dirinya atas kesalahan dan kelemahan yang diperbuatnya. Akhirnya, individu kurang mampu memandang dirinya selain dari kekurangannya itu.

  • Pola ketiga, Memandang masa depan secara negatif.

    Individu mengantisipasi bahwa kesulitan-kesulitan yang terjadi sekarang akan terus berlanjut. Melihat kehidupan sebagai hal yang sukar, yang membuatnya menjadi frustrasi. Pandangan individu yang depresi mengenai masa depan diwarnai oleh antisipasinya bahwa kesulitan-kesulitan dan penderitaannya saat ini akan terus berlangsung di masa depan. Bila ia menangani suatu tugas dalam waktu dekat ini, ia mengharapkan dirinya gagal. Para klien yang depresi umumnya menampilkan keterpakuan pada ide-ide mengenai masa depan. Harapan-harapannya selalu diikuti oleh pandangan negatif.

    Antisipasinya mengenai masa depan biasanya merupakan perpanjangan dari pandangannya mengenai keadaan saat ini. Bila indvidu yang depresi ini menganggap dirinya sebagai orang yang ditolak, lemah, maka ia menggambarkan masa depan sebagai orang yang ditolak atau lemah. Kondisi ini memperlihatkan bahwa pandangan tentang keadaan dirinya itu tidak hanya untuk masa depan jangka panjang, melainkan juga jangka pendek. Pada saat individu terbangun di pagi hari, ia akan mengantisipasi bahwa setiap pengalamannya pada hari itu akan merupakan kesulitan yang besar.

Skema dan Proses informasi yang salah

Tiga serangkai pola kognitif tersebut memperlihatkan bahwa individu depresi mempunyai cara berpikir yang serba negatif. Sedangkan simtom-simtom motivasional, emosional dan fisikal yang muncul dapat dianggap sebagai konsekuensi akibat cara berpikir yang serba negatif tersebut.

Dependency dan Interpersonal Dependency


Beck (1979) menyebutkan bahwa dependency merupakan salah satu simtom depresi yang muncul dalam ranah motivasional . Beck (1979) sendiri membagi dependency terdiri atas dua jenis, yaitu constructive dependenc y dan Regressive Dependency.

  • Constructive dependency menurut Beck (1979) didefinisikan sebagai :

    Seeking to learn ways to cope with depression to others; the patient has a problem he is unable to solve without assistance and thus seeks expert help

    Dalam constructive dependency , perilaku mencari arahan dan petunjuk orang lain muncul apabila seorang pasien depresi dihadapkan dengan permasalahan yang memang sulit dipecahkan tanpa bantuan orang lain.

  • Regressive dependency didefinisikan Beck (1979) sebagai :

    Seeking help for something that he is capable of handling himself

    Menurut Beck (1979), regressive dependency merupakan suatu perilaku mencari arahan dan petunjuk dari orang lain, walaupun masalah yang dihadapi oleh pasien depresi sebenarnya bisa diatasi sendiri tanpa bantuan orang lain.

Menurut Beck, salah satu faktor penyebab depresi adalah proses berfikir, seseorang yang depresi memiliki pemikiran menyimpang dalam bentuk interpretasi negatif. Seseorang depresi akan mengembangkan skema negatif, skema yang salah dapat membuat seseorang yang depresi mengharapkan kegagalan sepanjang waktu, skema yang menyalahkan diri sendiri membebani seseorang dengan tanggung jawab atas semua ketidakberuntungan dan skema yang mengevaluasi diri sendiri secara negatif terus-menerus mengingatkan seseorang tentang ketidakberartian dirinya. Skema negatif bersama dengan penyimpangan kognisi, membentuk apa yang disebut dengan triad. Triad depresi merujuk pada penilaian seseorang bahwa tidak dapat menghadapi tuntutan lingkungan (Beck dalam Davidson 2006).

Faktor penyebab timbulnya depresi yang dikemukakan Lubis (2009) yaitu:

  • Faktor Fisik

    1. Faktor Genetik
      Seseorang yang dalam keluarganya diketahui menderita depresi berat memiliki risiko lebih besar menderita gangguan depresi dari pada masyarakat pada umumnya.

    2. Susunan Kimia Otak dan Tubuh
      Beberapa bahan kimia di dalam otak dan tubuh memegang peranan yang besar dalam mengendalikan emosi kita. Pada orang yang depresi ditemukan adanya perubahan akibat pengaruh bahan kimia seperti mengkonsumsi obat-obatan, minum-minuman yang beralkohol, dan merokok.

    3. Faktor Usia
      Berbagai penelitian mengungkapkan bahwa golongan usia muda yaitu remaja dan orang dewasa lebih banyak terkena depresi. Namun sekarang ini usia rata-rata penderita depresi semakin menurun yang menunjukkan bahwa remaja dan anak-anak semakin banyak terkena depresi.

    4. Gender
      Wanita dua kali lebih sering terdiagnosis menderita depresi dari pada pria. Bukan berarti wanita lebih mudah terserang depresi, karena wanita lebih sering mengakui adanya depresi dari pada pria dan dokter lebih dapat mengenali depresi pada wanita.

    5. Gaya Hidup
      Banyak kebiasaan dan gaya hidup tidak sehat berdampak pada penyakit misalnya penyakit jantung juga dapat memicu kecemasan dan depresi.

    6. Penyakit Fisik
      Penyakit fisik dapat menyebabkan penyakit. Perasaan terkejut karena mengetahui seseorang memiliki penyakit serius dapat mengarahkan pada hilangnya kepercayaan diri dan penghargaan diri (self-esteem), juga depresi.

    7. Obat-obatan Terlarang
      Obat-obatan terlarang telah terbukti dapat menyebabkan depresi karena mempengaruhi kimia dalam otak dan menimbulkan ketergantungan.

    8. Kurangnya Cahaya Matahari
      Kebanyakan dari seseorang merasa lebih baik di bawah sinar mataharidari pada hari mendung, tetapi hal ini sangat berpengaruh pada beberapa individu. Mereka baik-baik saja ketika musim panas tetapi menjadi depresi ketika musim dingin. Mereka disebut menderita seasonal affective disorder (SAD).

  • Faktor Psikologis

    1. Kepribadian
      Aspek-aspek kepribadian ikut pula mempengaruhi tinggi rendahnya depresi yang dialami serta kerentanan terhadap depresi. Ada narapidana yang lebih rentan terhadap depresi, yaitu yang mempunyai konsep diri serta pola pikir yang negatif, pesimis, juga tipe kepribadian introvert salah satu aspek kepribadian itu adalah penyesuaian diri. Penyesuaian diri adalah suatu proses yang dipengaruhi oleh banyak faktor, baik berasal dari diri seseorang seperti keluarga, masyarakat, dan luar diri individu seperti lingkungan sosial, antara lain melalui gambaran diri yang positif, hubungan interpersonal yang baik dengan keluarga dan lingkungan sosial, kemampuan mengontrol emosi dan rasa percaya diri.

    2. Pola Pikir
      Pada tahun 1967 psikiatri Amerika Aaron Beck menggambarkan pola pemikiran yang umum pada depresi dan dipercaya membuat seseorang rentan terkena depresi. Secara singkat, dia percaya bahwa seseorang yang merasa negatif mengenai diri sendiri rentan terkena depresi.

    3. Harga Diri (self-esteem)
      Harga diri yang rendah akan berpengaruh negatif pada seseorang yang bersangkutan dan mengakibatkan seseorang tersebut akan menjadi stres dan depresi.

    4. Stres
      Kematian orang yang dicintai, kehilangan pekerjaan, pindah rumah, atau stres berat yang lain dianggap dapat menyebabkan depresi. Reaksi terhadap stres sering kali di tangguhkan dan depresi dapat terjadi beberapa bulan sesudah peristiwa itu terjadi.

    5. Lingkungan Keluarga
      Ada tiga hal seseorang menjadi depresi di dalam lingkungan keluarga yaitu dikarenakan kehilangan orangtua ketika masih anak-anak, jenis pengasuhan yang kurang kasih sayang ketika kecil, dan penyiksaan fisik dan seksual ketika kecil.

    6. Penyakit Jangka Panjang
      Ketidaknyamanan, ketidakmampuan, ketergantungan, dan ketidakamanan dapat membuat seseorang cenderung menjadi depresi.

Menurut pendapat beberapa ahli dan kelimuan, mereka memiliki pandangan tersendiri tentang penyebab gangguan depresi yaitu sebagai berikut:

  • Pandangan Biologis

    Berdasarkan teori biologi ada dua penyebab yang mempengaruhi terjadinya gangguan depresi, yaitu perubahan pada faktor neurokimia dan faktor genetik (Davison, 2000).

    1. Faktor neurokimia pada otak akibat stressor.

      Menurut Taylor (dalam Anggraieni, 2014), secara klinis stres digerakkan oleh sistem saraf simpatis dan sistem endokrin dalam tubuh. Sistem saraf simpatis menstimulasi kelenjer adrenalin untuk mengeluarkan hormon stres yaitu epinephrine, norepinefrin dan kortisol. Menurut pandangan neurofisiologi dalam (Davison, 2000) orang yang mengalami depresi berawal dari ketidakseimbangan zat kimia pada otak. Depresi terjadi akibat stres yang dapat memicu peningkatan produksi hormon stress yaitu kortisol. Hormon stres kortisol ini dapat merusak dan membuat hippocampus menjadi lebih kecil dengan cara menghambat pembentukan sel saraf dan jaringan saraf baru. Hippocampus yang lebih kecil memiliki reseptor serotonin lebih sedikit. Serotonin adalah zat kimia otak yang menenangkan atau dopamin. Dopamin adalah sebuah neurotransmiter yang membantu mengontrol pusat kepuasan dan kesenangan di otak. Dopamin juga membantu mengatur tindakan dan komunikasi antara saraf di otak dengan tubuh yang mendorong untuk beraktivitas.

      Silverthorne (2001) mengatakan bahwa hormon stres kortisol diproduksi secara berlebihan pada orang depresi. Peneliti tersebut percaya bahwa kortisol memiliki efek toksik atau beracun bagi hippocampus. Apabila hippocampus ini mengecil dan rusak maka otak memiliki reseptor serotonin atau dopamin lebih sedikit. Namun ada juga beberapa ahli berteori bahwa penderita depresi terlahir dengan hippocampus yang lebih kecil dan karena itu cenderung untuk menderita depresi.

    2. Faktor Genetik.

      Data genetik yang menyatakan bahwa faktor yang signifikan dalam perkembangan gangguan mood adalah genetik. Pada penelitian anak kembar terhadap gangguan depresi berat, pada anak kembar monozigot adalah 50 %, sedangkan dizigot 10-25 persen.

  • Pandangan Kognitif.

    Salah satu teori psikologi yang menganggap proses-proses berpikir sebagai faktor penyebab depresi adalah Aaron T Beck. Dasar teori ini adalah adanya ide bahwa pengalaman yang sama dapat mempengaruhi dua orang dengan cara yang berbeda. Perbedaan ini disebabkan oleh cara pandang seseorang terhadap suatu peristiwa (Beck, 1985). Beck mengatakan bahwa depresi dapat digambarkan sebagai cognitive triad tentang pikiran negatif terhadap diri sendiri, terhadap lingkungan dan terhadap masa depan. Seorang yang mengalami depresi akan membuat interpretasi yang salah terhadap kenyataan yang ada dengan cara yang negatif, yaitu memfokuskan pada aspek negatif terhadap setiap situasi, harapan yang pesimistis dan putus asa tentang masa depan. Seseorang yang mengalami depresi akan mengkaitkan kemalangannya dengan kekurangan diri dan rasa rendah diri, hal ini yang menyebabkan konsep diri yang positif tertutupi (Beck, 1985).

    Kecenderungan untuk memperbesar-besarkan pentingnya kegagalan kecil adalah suatu contoh dari suatu kesalahan dalam berpikir yang disebut Beck sebagai distorsi kognitif (Beck, 1985). Beck percaya bahwa distorsi kognitif membentuk tahapan-tahapan untuk depresi disaat mengahadapi kehilangan personal atau peristiwa hidup yang negatif. Adapun segitiga kognitif depresi menurut Beck adalah sebagai berikut:

    1. Pandangan negatif tentang diri sendiri, yaitu memandang diri sendiri sebagai individu yang tidak berharga, penuh kekurangan, tidak dapat dicintai dan kurang memiliki keterampilan untuk mencapai kebahagiaan.

    2. Pandangan negatif tentang lingkungan, yaitu memandang lingkungan sebagai memaksakan tuntutan yang berlebihan atau memberikan hambatan yang tidak mungkin diatasi, yang terus menerus menyebabkan kegagalan dan kehilangan.

    3. Pandangan negatif tentang masa depan, yaitu memandang masa depan sebagai tidak ada harapan dan meyakini bahwa dirinya tidak punya kekuatan untuk mengubah hal-hal menjadi lebih baik. Harapan orang ini terhadap masadepan hanyalah kegagalan dan kesedihan yang berlanjut serta kesulitan yang tidak pernah usai.

    Menurut Beck (1985), individu yang mempunyai kecenderungan depresi menunjukkan depressogenic schemata, depessogenic schemata ini bersifat laten, dan bila diaktifkan dengan adanya kejadian yang menekankan akan mengarah pada penyimpangan pola pikir, yang gilirannya akan menimbulkan simtom depresi. Pada penderita depresi informasi atau stimulus yang masuk diproses dengan cara yang menyimpang, mereka cenderung menyesuaikan dengan negative self schematanya Beberapa kejadian yang menekan atau stres dapat menghidupkan kembali keyakinan akan kehilangan yang pernah dialaminya dimasa lampau.

    Kesimpulan dari pandangan Beck adalah bahwa depresi merupakan rangkaian stimulus-kognisi-respon yang saling berkaitan dan membentuk semacam jaringan stimulus-kognitif-respon dalam otak manusia. Proses kognitif akan menjadi faktor penentu dalam menjelaskan bagaimana manusia berfikir, merasa, dan bertindak. Manusia memiliki potensi untuk menyerap pemikiran yang rasional dan irasional. Pemikiran yang irasional inilah yang dapat menimbulkan gangguan psikologis. Pada gangguan depresi, faktor kognitif memegang peranan yang menentukan, kognitif berperan sebagai perantara kejadian yang dialami dengan simtom-simtom depresi. Pada kognitif penderita depresi terdapat pikiran negatif terhadap dirinya sendiri, lingkungan dan masa depan sehingga hal ini dapat mempengaruhi faktor afeksi, behavior dan fisik.

  • Pandangan Spiritual.

    Terdapat berbagai macam perspektif agama dalam memandang depresi dan gangguan mental pada umumnya. Menurut Larson (dalam, Hawari 2002), dalam menganalisa seorang pasien juga harus dilihat dari sisi agamanya, sebab agama dapat berperan sebagai pelindung dari pada penyebab masalah yang dihadapi manusia. Faktor penyebab depresi adalah karena krisis spritual yang dialami oleh individu. Larson berkesimpulan bahwa komitmen agama bermanfaat bagi uapaya pencegahan depresi dan dapat bertindak sebagai kekuatan pelindung dan penyangga seseorang dari resiko menderita depresi. Semakin tinggi motivasi spiritual seseorang maka semakin baik jiwanya, namun semakin rendah motivasi spiritual seseorang maka akan semakin rentan pula seseorang untuk mengalami depresi.

    Najati (2005) menyatakan depresi disebabkan karena proses belajar yang keliru, yakni individu mempersepsikan diri dan lingkungannya secara negatif, serta mengkondisikan kenyataan (situasi yang menekan) yang dihadapinya dengan persepsi negatif tersebut. Sementara Propst (dalam Zulkarnain, 2006) menyatakan bahwa depresi biasanya terjadi pada orang- orang yang tidak memiliki keyakinan yang kuat terhadap Tuhannya. Ketidaksesuaian antara yang diucapkan dan yang dilakukan dalam agama juga dapat menyebabkan kegelisahan dan bentuk depresi yang samar (Clark, 1967). Fenomena kegelisahan atau depresi yang samar ini dikatakan Clark sebagai tahap awal dan prasyarat menuju perkembangan spiritual yang mencakup perubahan dalam ide dan perilaku keberagamaan. Hal ini memunculkan asumsi bahwa penderitaan yang dialami seseorang dapat digunakan sebagai sumber daya untuk meningkatkan keyakinan pada Tuhan. Pada akhirnya, keyakinan tersebut akan membantu individu itu sendiri dalam mengatasi situasi yang menekan. Individu dengan keyakinan agama yang kuat lebih memiliki kepuasan hidup, kebahagiaan personal yang lebih besar dan terkena dampak yang lebih kecil dari kejadian traumatik dibandingkan dengan orang-orang yang tidak mau terlibat dengan agama (Taylor, 1995).

  • Pandangan Psikoanalisa.

    Menurut Freud (dalam Davison, 2000), bahwa potensi depresi ditumbuhkan sejak masa anak-anak. Proses pembentukan depresi berawal setelah anak mengalami kehilangan seseorang yang sangat dicintainya karena meninggal, perpisahan, atau penarikan afeksi. Kemudian anak tersebut menggabungkan orang yang hilang, dan mengidentifikasi diri dengannya. Periode ini diikuti periode berduka, dimana ia akan mengingat kenangan dari orang yang hilang dan memisahkan diri darinya dengan orang lain tersebut, yang dianggap meninggalkannya dan melepaskan pula ikatan yang tadinya digabungkan. Periode berduka akan menjadi periode berkelanjutan untuk menyiksa diri, menyalahkan diri, dan berakhir pada kondisi depresi.

  • Pandangan Behavioristik.

    Teori ini berpandangan bahwa perilaku manusia sangat dipengaruhi oleh kejadian-kejadian di dalam lingkungannya. Perubahan perilaku sangat dipengaruhi oleh paradigma stimulus respons (S-R). Lingkungan yang dimaksud di sini adalah lingkungan objektif dan afektif manusia (Razak, 2013). Teori ini beranggapan bahwa depresi disebabkan oleh keadaan lingkungan sosialnya. Lingkungan sosialnya seakan-akan memaksa individu untuk berbuat diluar batas kemampuannya demi memperoleh tuntutan lingkungannya. Jika tidak berhasil maka akan memperoleh pencitraan negative dan terisolasi dari komunitasnya dan pada akhirnya jiwa menjadi terganggu (Slamet & Markam, 2003).
    Berdasarkan berbagai pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa penyebab depresi dapat dijelaskan melalui berbagai macam pandangan. Secara keseluruhan, depresi dijelaskan karena adanya perubahan pada neurokimia pada otak dan faktor genetik, pengalaman masa lalu, tekanan yang berasal dari lingkungan, kehilangan harga diri, proses berfikir yang melakukan interpretasi yang salah dan menyimpang dari realita dan krisis spiriritual. Jadi dapat disimpulkan bahwa penyebab depresi adalah karena berbagai faktor seperti biologi, kognitif, spiritual, psikososial dan behavior.

Banyak faktor penyebab depresi yang bisa di jelaskan secara ilmiah. Tetapi, faktor-faktor penyebab depresi tersebut biasanya tidak langsung menyebabkan gangguan terhadap penderitanya, tetapi faktor penyebab tersebut menjadi bahaya laten, yang akan muncul dikemudian hari jika terjadi sesuatu yang bisa menjadi faktor pemicunya.

Gangguan depresi pada umumnya dicetuskan oleh peristiwa hidup tertentu. Kenyataannya peristiwa hidup tersebut tidak selalu diikuti depresi, hal ini mungkin disebabkan karena ada faktor-faktor lain yang ikut berperan mengubah atau mempengaruhi hubungan tersebut (Lumongga, 2009).

Secara garis besar, faktor-faktor penyebab depresi dibagi menjadi faktor fisik dan faktor psikologis. Di bawah ini akan dijelaskan secara rinci faktor-faktor penyebab depresi tersebut.

FAKTOR FISIK

Faktor fisik penyebab depresi terdiri dari:

1. Faktor Genetik

Seseorang yang dalam kelurganya diketahui menderita depresi berat memiliki risiko lebih besar menderita gangguan depresi daripada masyarakat pada umumnya. Gen (kode biologis yang diwariskan dari orang tua) berpengaruh dalam terjadinya depresi tetapi ada banyak gen di dalam tubuh kita dan tidak ada seorangpun peneliti yang mengetahui secara pasti bagaimana gen bekerja dan tidak ada bukti langsung bahwa penyakit depresi yang disebabkan oleh faktor keturunan (McKenzie, 1999).

Pengaruh gen lebih penting pada depresi berat daripada depersi ringan dan lebih penting pada indvidu muda yang menderita depresi daripada individu yang lebih tua. Gen lebih berpengaruh pada orang-orang yang punya periode di mana mood mereka tinggi dan mood rendah atau gangguan bipolar. Tidak semua orang biasa terkena depresi, bahkan ada depresi dalam keluarga, biasanya diperlukan suatu kejadian hidup yang memicu terjadinya depresi (Kendler, 1992).

a. Susunan Kimia Otak dan Tubuh

Beberapa bahan kimia di dalam otak dan tubuh memegang peranan yang besar dalam mengendalikan emosi kita. Pada orang depresi ditemukan adanya perubahan dalam jumlah bahan kimia tersebut. Hormon noradrenalin yang memegang peranan utama dalam mengendalikan otak dan aktivitas tubuh, tampaknya berkurang pada mereka yang mengalami depresi. Pada wanita, perubahan hormone dihubungkan dengan kelahiran anak dan menopause juga data meningkatkan risiko terjadinya depresi (McKenzie, 1999).

2. Faktor Usia

Berbagai penelitan mengungkapkan bahwa golongan usia muda yaitu remaja dan orang dewasa lebih banyak terkena depresi. Hal ini dapat terjadi karena pada usia tersebut terdapat tahaptahap serta tugas perkembangan yang penting, yaitu peralihan dari masa anak-anak ke masa remaja, remaja ke dewasa, masa sekolah ke masa kuliah atau bekerja, serta masa pubertas ke masa pernikahan. Namun sekarang ini usia rata-rata penderita depresi semakin menurun yang menunjukan bahwa remaja dan anak-anak semakin banyak yang terkena depresi. Survey masyarakat terakhir melaporkan prevalensi yang tinggi dari gejala-gejala depersi pada golongan usia dengan dewasa muda 18-44 tahun (Wikinson, 1995).

a. Gender

Adanya perubahan hormonal dalam siklus menstruasi yang berhubungan dengan kehamilan dan kelahiran dan juga menopause yang membuat wanita lebih rentan menjadi depresi. Penelitan Angold (1998) menunjukan bahwa periode meningkatkan risiko deresi pada wanita terjadi ketika masa pertengahan pubertas. Data yang dihimpun oleh World Bank menyebutkan prevalensi terjadinya depresi sekitar 30% terjadi pada wanita dan 12,6% dialami oleh pria (Desjarlis, 1995).

Radloff dan Rae (1979) berpendapat bahwa adanya perbedaan tingkat depresi pada pria dan wanita lebih ditentukan oleh factor biologis dan lingkungan, yaitu adanya perubahan peran sosial sehingga menimbulkan berbagai konflik serta membutuhkan penyesuaian diri yang lebih intens, adanya kondisi yang penuh stressor bagi kaum wanita, misalnya penghasilan dan tingkat pendidikan yang rendah dibandingkan pria, serta adanya perbedaan fisiolog dan hormonal disbanding pria, seperti masalah reproduksi serta berbagai perubahan hormone yang dialami wanita sesuai kodratnya. Lebih jauh lagi jumlah wanita tercatat mengalami depersi biasa juga disebabkan oleh pola komunikasinya.

Menurut Pease dan Pease (2001), pola komunikasi wanita berbeda dengan pria. Jika seorang wanita mendapatkan masalah, maka wanita tersebut ingin mengkomunikasikannya dengan orang lain dan memerlukan dukungan atau bantuan orang lain, sedangkan pria cenderung untuk memikirkan masalahnya, pria juga jarang menunjukan emosinya sehingga kasus depresi ringan dan sedang pada pria jarang diketahui

b. Gaya Hidup

Banyak kebiasaan dan gaya hidup tidak sehat berdampak pada penyakit misalnya penyakit jantung juga dapat memicu kecemasan dan depresi. Tingginya tingkat stress dan kecemasan digabung dengan makanan yang tidak sehat dan kebiasaan tidur serta olahraga untuk jangka waktu yang lama dapat menjadi faktor beberapa orang mengalami depresi (lumongga, 2009). Penelitian menunjukan bahwa kecemasan dan depresi berhubungan dengan gaya hidup yang tidak sehat pada pasien berisiko jantung. Gaya hidup yang tidak sehat misalnya tidur tidak teratur, makan tidak teratur, mengkonsumsi jenis makanan fast food atau makanan yang mengandung perasa, pengawet dan perwarna buatan, kurang berolahraga, merokok dan minum-minuman keras (Hendranata, 2004).

b. Penyakit fisik

Penyakit fisik dapat menyebabkan penyakit. Perasaan terkejut karena mengetahui kita memiliki penyakit serius dapat mengarahkan pada hilangnya kepercayaan diri dan penghargaan diri juga depresi, alasan terjadinya cukup kompleks (Ebrahim, 1987).

c. Obat-obatan

Beberapa obat-obatan untuk pengobatan dapat menyebabkan depersi. Namun bukan berarti obat tersebut menyebabkan depresi, dan menghentikan pengobatan dapat lebih berbahaya daripada depresi.

Menurut McKenzie (1999) ada beberapa obat yang menyebabkan depresi yaitu:

Tablet antieplipsy

Obat anti tekanan darah tinggi

Obat antimalaria-melfloquine (lariam)

Obat antiparkinson

Obat kemotrapi

Pil kontrasepsi

Digitalis

Diuretic (jantung dan tekanan darah tinggi)

Interferon-alfa (hepatitis c)

Obat penenang

Terapi steroid

d. Obat-obatan terlarang

Obat-obatan terlarang telah terbukti dapat menyebabkan depresi karena mempengaruhi kimia dalam otak dan menimbukan ketergantungan. Menurut Brees (2008) di antara obatobatan terlarang yang menyebabkan depresi seperti mariyuana, heroin, kokain, ekstasi, sabu-sabu.

e. Kurang Cahaya Matahari

Kebanyakan orang merasa lebih baik di bawah sinar matahari daripada hari mendung, tetapi hal ini sangat berpengaruh pada beberapa individu. Mereka baik-baik saja ketika musim panas tetapi menjadi depresi ketika musim dingin. Mereka disebut menderita seasonal affective disorder (SAD). SAD berhubungan dengan tingkat hormon yang disebut melatonin yang dilepaskan dari kelenjar pineal ke otak. Pelepasannya sensitifnya terhadap cahaya yaitu memberikan cahaya sebesar 10.000 luc kadang-kadang efektif menghilangkan simtom dari seasonal affective disorder, empat jam terkena cahaya terang dalam sehari dapat mengurangi seresi dalam waktu seminggu (Ebrahim, 1987).

3. FAKTOR PSIKOLOGIS

Ada beberapa faktor psikologis penyebab depresi yaitu:

a. Kepribadian

Aspek-aspek kepribadian ikut mempengaruhi tinggi rendahnya depresi yang dialami serta kerentanan terhadap depresi. Ada indvidu-individu yang lebih rentan terhadap depresi yaitu mempunyai konsep diri serta pola pikir yang negatif, pesimis, juga tipe kepribadian introvert (Retnowati, 1990). Tampaknya ada hubungan antara karakteristik kepribadian tertentu dengan depresi.

Menurut Gordon (dalam Lumongga, 2009), seseorang yang menunjukan hal-hal berikut memiliki risiko terkena depresi:

Mengalami kecemasan tingkat tinggi, seorang pencemas atau mudah terpengaruh

Seorang pemalu atau minder

Seseorang yang suka mengkritik diri sendiri atau memiliki harga diri yang rendah

Seseorang yang hipersensitif

Seseorang yang perfeksionis

Seseorang dengan gaya memusatkan perhatian pada diri sendiri (self-focused).

b. Pola Pikir

Beck (1980) mengatakan gambaran pola pemikiran yang umum pada depresi dan dipercaya membuat seseorang rentan terkena depresi. Seseorang yang merasa negatif mengenai diri sendiri rentan terkena depresi.

c. Harga Diri (self-esteem)

Harga diri merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan perilaku individu. Setiap orang menginginkan penghargaan diri positif terhadap dirinya, sehingga seseorang akan merasa dirinya berguna atau berarti bagi orang lain meskipun dirinya memiliki kelemahan mental dan fisik. Terpenuhinya keperluan penghargaan diri aan menghasikan sikap dan rasa percaya diri, rasa kuat menghadapi sakit, rasa damai, namun sebaiknya apabila keperluan penghargaan diri ini tidak terpenuhi, maka akan membuat seseorang individu mempunyai mentalmental lemah dan berpikir negatif sehingga cenderung terkena depresi (Maslow dalam Petri, 2004).

d. Stres

Kematian orang dicintai, kehilangan pekerjaan, pindah rumah, atau stress berat yang lain dianggap dapat menyebabkan depresi (lumongga, 2009). Orang yang depresi dapat merasa sangat negative dan cenderung mengingat dan melaporkan halhal negativ begitu pula dampak suatu peristiwa terhadap seseorang sulit diramalkan, beberapa orang lebih mampu menanggulangi stress daripada yang lain dan apa yang membuat stress seseorang belum tentu menganggu yang lain (Mckenzie, 1999).

e. Lingkungan Keluarga

Ada beberapa penyebabnya yaitu:

Kehilangan orang tua ketika masih anak-anak. Ada bukti bahwa indivdu yang kehilangan ibu mereka ketika muda memiliki risiko lebih besar terserang depresi. Kehilangan yang besar ini akan membekas secara psikologis dan membuat seseorang lebih mudah terserang depresi tetapi, di satu sisi, mungkn saja membuat orang lebih tabah. Akibat psikologis, sosial, dan keuangan yang ditimbulkan oleh kehilangan orang tua yang lebih penting daripada kehilangan itu sendiri (Lumongga, 2009).

Jenis Pengasuhan. Psikolog menemukan bahwa orang tua yang sangat menuntut dan kritis, yang menghargai kesuksesan dan menolak semua kegagalan membuat anak-anak lebih mudah terserang depresi di masa depan (Lumongga,2009).

Penyiksaan fisik dan seksual Ketika kecil. Penyiksaan fisik atau seksual dapat membuat seseorang berisiko terserang depresi berat sewaktu dewasa (Lumongga, 2009).

f. Penyakit Jangka Panjang

Ketidaknyamanan, ketidakmampuan, ketergantungan, dan ketidakamanan dapat membuat seseorang cenderung menjadi depresi. Kebanyakan orang suka bertemu orang. Orang yang sakit keras menjadi rentan terhadap depresi saat mereka dipaksa dalam posisi di mana mereka tidak berdaya atau karena energi yang mereka perlukan untuk melawan depresi sudah habis untuk penyakit jangka panjang (Lumongga, 2009).

Depresi bukanlah didasarkan pada proses patologi tunggal, tapi memiliki penyebab yang multiple. Faktor-faktor penyebab depresi menurut Birren (1980) dalam Wihartati (2012) disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut;

  1. Faktor individu yang meliputi; Faktor biologis seperti genetik, proses menua secara biologis, penyakit fisik tertentu. Faktor psikologis seperti kepribadian, proses menua secara psikologis. Pada kepribadian introvert akan berusaha mewujudkan tuntutan dari dalam dirinya dan keyakinan, sedangkan kepribadian ekstrovet membentuk keseimbangan dirinya dengan menyesuaikan keinginan-keinginan dari orang lain.

  2. Faktor kejadian-kejadian hidup yang penting bagi individu Kehilangan seseorang ataupun sesuatu dapat menimbulkan depresi. Penyakit fisik juga berhubungan dengan serangan afeksi karena penyakit merupakan ancaman terhadap daya tahan individu, terhadap kemampuan kerjanya, kemampuan meraih apa yang diinginkan dan merupakan ancaman terhadap aktifitas motorik dan perasaan sejahtera individunya.

  3. Faktor lingkungan yang meliputi faktor sosial, faktor budaya, dan faktor lingkungan fisik

Selain faktor depresi menurut Birren (1980), WHO dalam Akmal, dkk, (2010) menyatakan faktor-faktor depresi sebagai berikut:

  1. Adanya ketidak seimbangan neurotransmiter di otak terutama serotonin

  2. Adanya tekanan beban psikis, dampak dari yang berkaitan dengan lingkup pergaulan sosial atau penyakit

  3. Adanya beban kehilangan pasangan hidup kehilangan pekerjaan, pascabencana, dan dampak situasi kehidupan sosial lainya.

Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa ada beberapa faktor yang menyebabkan depresi, diantaranya adalah adalah penuaan secara biologis, penyakit fisik, kepribadian, kehilangan, orang yang dicintai, dan faktor lingkungan dan masih banyak faktor yang lain. Dari beberapa faktor tersebut sakit menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi munculnya depresi.

Dampak Depresi

Depresi mencakup aspek emosional, kognitif, motivasional, dan fisik. Sehingga, akibat yang ditimbulkan karena depresi juga mencakup keempat aspek tersebut. Menurut Afida, dkk (2000) dalam Wihartati (2012) adalah sebagai berikut;

  1. Aspek yang dimanifestasikan pada emosional

    • Perasaan kesal atau patah hati

    • Perasaan negative terhadap diri sendiri

    • Hilangnya rasa puas

    • Hilangnya keterlibatan emosiaonal

    • Kecenderungan menangis diluar kemampuan

    • Hilangnya respon terhadap humor

  2. Aspek depresi yang dimanifestasikan secara kognitif

    • Rendahnya evaluasi diri

    • Citra tubuh yang terdistorsi

    • Harapan yang negatif

    • Menyalahkan dan mengkritik diri sendiri

    • Keragu-raguan dalam mengambil keputusan

  3. Aspek depresi yang dimanifestasikan secara motivasional

    Dampak depresi secara motivasional meliputi pengalaman yang disadari penderita, yaitu tentang usaha, dorongan dan keinginan. Secara motivasional cirri utama yang dimunculkan akibat depresi yaitu adanya sikap regresif motivasi penderita., penderita tampaknya menarik diri dari aktivitas yang menuntut adanya suatu tanggung jawab, inisiatif bertindak., tidak adanya energi yang kuat.

  4. Aspek depresi yang dimanifestasikan secara kognitif

    Aspek depresi yang muncul sebagai gangguan fisik meliputi keghilangan nafsu makan, gangguan tidur, kehilangan libido, dan mengalami kelelahan yang sangat. Sehingga depresi menyebabkan seseorang menjadi hilang smangat dalam diri untuk hidup. Dampak depresi yang lain dikemukakan oleh Akmal, dkk, (2010) yaitu:

    • Indvidu berada pada keadaan emosi yang tertekan dan ditandai dengan perasaan sedih atau hampa yang dalam pengamatan orang lain tampak seperti ingin menangis.

    • Indivudu kehilangan minat atau rasa menikmati pada hampir semua kegiatan keadaan ini terjadi setiap hari, ditandai adanya pengamatan dari orang lain.

    • Individu mengalami penurunan berat badan yang signifikan padahal tidak melakukan diet atau bisa jadi bertambahnya berat badan secara signifikan.

    • Individu mengalami insomnia atau hipersomnia.

    • Individu dilingkupi kegelisahan atau kelambatan pada kemampuan bergerak, berpikir, dan bertindak.

    • Individu mengalami lelah dan kehilangan kekuatan.

    • Individu memiliki perasaan bersalah atau tidak berharga yang berlebihan yang menyebabkan adanya keyakinan semu yang sesungguhnya tidak benar.

    • Individu kesulitan dalam kemampuan berkonsentrasi.

    • Individu berulang kali dihantuai pikiran akan kematian.

    Melihat dari dampak-dampak yang muncul akibat deperesi maka dukungan dari lingkungan yang memberikan motivasi sehingga individu mampu menetralisir depresi yang dialami.

1 Like

Faktor-faktor penyebab depresi dalam dunia psikologi antara lain sebagai berikut:

  • Jenis Kelamin
    Secara umum dikatakan bahwa gangguan depresi lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pada pria. Pendapat-pendapat yang berkembang mengatakan bahwa perbedaan dari kadar hormonal wanita dan pria, perbedaan faktor psikososial berperan penting dalam gangguan depresi mayor ini.

    Sebuah diskusi panel yang diselenggarakan oleh American Psychological Association (APA) menyatakan bahwa perbedaan gender sebagian besar disebabkan oleh lebih banyaknya jumlah stres yang dihadapi wanita dalam kehidupan kontemporer.

  • Umur
    Depresi dapat terjadi dari berbagai kalangan umur. Serkitar 7,8% dari setiap populasi mengalami gangguan mood dalam hidup mereka dan 3,7% mengalami gangguan mood sebelumnya.

    Depresi mayor umumnya berkembang pada masa dewasa muda, dengan usia rata-rata onsetnya adalah pertengahan 20. Namun gangguan tersebut dapat dialami bahkan oleh anak kecil, meski hingga usia 14 tahun resikonya sangat rendah.

  • Faktor Sosial-Ekonomi dan Budaya
    Tidak ada suatu hubungan antara faktor sosial-ekonomi dan gangguan depresi mayor, tetapi insiden dari gangguan Bipolar I lebih tinggi ditemukan pada kelompok sosial-ekonomi yang rendah (Kaplan, et al, 2010). Dari faktor budaya tidak ada seorang pun mengetahui mengapa depresi telah mengalami peningkatan di banyak budaya, namun spekulasinya berfokus pada perubahan sosial dan lingkungan, seperti meningkatnya disintegrasi keluarga karena relokasi, pemaparan terhadap perang, dan konflik internal, serta meningkatnya angka kriminal yang disertai kekerasan, seiring dengan kemungkinan pemaparan terhadap racun atau virus di lingkungan yang dapat mempengaruhi kesehatan mental maupun fisik.

Faktor penyebab depresi yang dikemukakan Lubis (2009) yaitu:

  • FaktorFisik

    1. FaktorGenetik
      Seseorang yang dalam keluarganya diketahui menderita depresi berat memiliki risiko lebih besar menderita gangguan depresi dari pada masyarakat pada umumnya.

    2. Susunan Kimia OtakdanTubuh
      Beberapa bahan kimia di dalam otak dan tubuh memegang peranan yang besar dalam mengendalikan emosi kita. Pada orang yang depresi ditemukan adanya perubahan akibat pengaruh bahan kimia seperti mengkonsumsi obat-obatan, minum-minuman yang beralkohol, dan merokok.

    3. FaktorUsia
      Berbagai penelitian mengungkapkan bahwa golongan usia muda yaitu remaja dan orang dewasa lebih banyak terkena depresi. Namun sekarang ini usia rata-rata penderita depresi semakin menurun yang menunjukkan bahwa remaja dan anak-anak semakin banyak terkena depresi.

    4. Gender
      Wanita dua kali lebih sering terdiagnosis menderita depresi dari pada pria. Bukan berarti wanita lebih mudah terserang depresi, karena wanita lebih sering mengakui adanya depresi dari pada pria dan dokter lebih dapat mengenali depresi pada wanita.

    5. Gaya Hidup
      Banyak kebiasaan dan gaya hidup tidak sehat berdampak pada penyakit misalnya penyakit jantung juga dapat memicu kecemasan dan depresi.

    6. Penyakit Fisik
      Penyakit fisik dapat menyebabkan penyakit. Perasaan terkejut karena mengetahui seseorang memiliki penyakit serius dapat mengarahkan pada hilangnya kepercayaan diri dan penghargaan diri (self-esteem), juga depresi.

    7. Obat-obatan Terlarang
      Obat-obatan terlarang telah terbukti dapat menyebabkan depresi karena mempengaruhi kimia dalam otak dan menimbulkan ketergantungan.

    8. Kurangnya Cahaya Matahari
      Kebanyakan dari seseorang merasa lebih baik di bawah sinar mataharidari pada hari mendung, tetapi hal ini sangat berpengaruh pada beberapa individu. Mereka baik-baik saja ketika musim panas tetapi menjadi depresi ketika musim dingin. Mereka disebut menderita seasonal affective disorder (SAD).

  • Faktor Psikologis

    1. Kepribadian
      Aspek-aspek kepribadian ikut pula mempengaruhi tinggi rendahnya depresi yang dialami serta kerentanan terhadap depresi. Ada narapidana yang lebih rentan terhadap depresi, yaitu yang mempunyai konsep diri serta pola pikir yang negatif, pesimis, juga tipe kepribadian introvert salah satu aspek kepribadian itu adalah penyesuaian diri. Penyesuaian diri adalah suatu proses yang dipengaruhi oleh banyak faktor, baik berasal dari diri seseorang seperti keluarga, masyarakat, dan luar diri individu seperti lingkungan sosial, antara lain melalui gambaran diri yang positif, hubungan interpersonal yang baik dengan keluarga dan lingkungan sosial, kemampuan mengontrol emosi dan rasa percaya diri.

    2. Pola Pikir
      Pada tahun 1967 psikiatri Amerika Aaron Beck menggambarkan pola pemikiran yang umum pada depresi dan dipercaya membuat seseorang rentan terkena depresi. Secara singkat, dia percaya bahwa seseorang yang merasa negatif mengenai diri sendiri rentan terkena depresi.

    3. Harga Diri (self-esteem)
      Harga diri yang rendah akan berpengaruh negatif pada seseorang yang bersangkutan dan mengakibatkan seseorang tersebut akan menjadi stres dan depresi.

    4. Stres
      Kematian orang yang dicintai, kehilangan pekerjaan, pindah rumah, atau stres berat yang lain dianggap dapat menyebabkan depresi. Reaksi terhadap stres sering kali di tangguhkan dan depresi dapat terjadi beberapa bulan sesudah peristiwa itu terjadi.

    5. Lingkungan Keluarga
      Ada tiga hal seseorang menjadi depresi di dalam lingkungan keluarga yaitu dikarenakan kehilangan orangtua ketika masih anak-anak, jenis pengasuhan yang kurang kasih saying ketika kecil, dan penyiksaan fisik dan seksual ketika kecil.

    6. Penyakit Jangka Panjang
      Ketidaknyamanan, ketidakmampuan, ketergantungan, dan ketidakamanan dapat membuat seseorang cenderung menjadi depresi.

Depresi adalah gangguan suasana hati (mood) yang ditandai dengan perasaan sedih yang mendalam dan rasa tidak peduli. Semua orang pasti pernah merasa sedih atau murung sesekali, hal tersebut normal. Namun seseorang dinyatakan mengalami depresi, jika sudah 2 minggu merasa sedih, putus harapan, atau tidak berharga.

Gejala Depresi


Ciri-ciri psikologi seseorang yang mengalami depresi adalah:

  • Mengalami kecemasan dan kekhawatiran yang berlebihan
  • Tidak stabil secara emosional
  • Merasa putus asa atau frustasi

Ciri-ciri fisik dari seseorang mengalami depresi adalah:

  • Selalu merasa lelah dan tak bertenaga
  • Mengalami pusing dan rasa nyeri tanpa penyebab yang jelas
  • Menurunnya selera makan

Penyebab Depresi


Faktor fisik penyebab depresi terdiri dari:

1. Faktor Genetik

Seseorang yang dalam kelurganya diketahui menderita depresi berat memiliki risiko lebih besar menderita gangguan depresi daripada masyarakat pada umumnya. Gen (kode biologis yang diwariskan dari orang tua) berpengaruh dalam terjadinya depresi tetapi ada banyak gen di dalam tubuh kita dan tidak ada seorangpun peneliti yang mengetahui secara pasti bagaimana gen bekerja dan tidak ada bukti langsung bahwa penyakit depresi yang disebabkan oleh faktor keturunan (McKenzie, 1999).

Pengaruh gen lebih penting pada depresi berat daripada depersi ringan dan lebih penting pada indvidu muda yang menderita depresi daripada individu yang lebih tua. Gen lebih berpengaruh pada orang-orang yang punya periode di mana mood mereka tinggi dan mood rendah atau gangguan bipolar. Tidak semua orang biasa terkena depresi, bahkan ada depresi dalam keluarga, biasanya diperlukan suatu kejadian hidup yang memicu terjadinya depresi (Kendler, 1992).

2. Susunan Kimia Otak dan Tubuh

Beberapa bahan kimia di dalam otak dan tubuh memegang peranan yang besar dalam mengendalikan emosi kita. Pada orang depresi ditemukan adanya perubahan dalam jumlah bahan kimia tersebut. Hormon noradrenalin yang memegang peranan utama dalam mengendalikan otak dan aktivitas tubuh, tampaknya berkurang pada mereka yang mengalami depresi. Pada wanita, perubahan hormone dihubungkan dengan kelahiran anak dan menopause juga data meningkatkan risiko terjadinya depresi (McKenzie, 1999).

3. Faktor Usia

Berbagai penelitan mengungkapkan bahwa golongan usia muda yaitu remaja dan orang dewasa lebih banyak terkena depresi. Hal ini dapat terjadi karena pada usia tersebut terdapat tahaptahap serta tugas perkembangan yang penting, yaitu peralihan dari masa anak-anak ke masa remaja, remaja ke dewasa, masa sekolah ke masa kuliah atau bekerja, serta masa pubertas ke masa pernikahan. Namun sekarang ini usia rata-rata penderita depresi semakin menurun yang menunjukan bahwa remaja dan anak-anak semakin banyak yang terkena depresi. Survey masyarakat terakhir melaporkan prevalensi yang tinggi dari gejala-gejala depersi pada golongan usia dengan dewasa muda 18-44 tahun (Wikinson, 1995).

4. Gender

Adanya perubahan hormonal dalam siklus menstruasi yang berhubungan dengan kehamilan dan kelahiran dan juga menopause yang membuat wanita lebih rentan menjadi depresi. Penelitan Angold (1998) menunjukan bahwa periode meningkatkan risiko deresi pada wanita terjadi ketika masa pertengahan pubertas. Data yang dihimpun oleh World Bank menyebutkan prevalensi terjadinya depresi sekitar 30% terjadi pada wanita dan 12,6% dialami oleh pria (Desjarlis, 1995).

Radloff dan Rae (1979) berpendapat bahwa adanya perbedaan tingkat depresi pada pria dan wanita lebih ditentukan oleh factor biologis dan lingkungan, yaitu adanya perubahan peran sosial sehingga menimbulkan berbagai konflik serta membutuhkan penyesuaian diri yang lebih intens, adanya kondisi yang penuh stressor bagi kaum wanita, misalnya penghasilan dan tingkat pendidikan yang rendah dibandingkan pria, serta adanya perbedaan fisiolog dan hormonal disbanding pria, seperti masalah reproduksi serta berbagai perubahan hormone yang dialami wanita sesuai kodratnya. Lebih jauh lagi jumlah wanita tercatat mengalami depersi biasa juga disebabkan oleh pola komunikasinya.

Menurut Pease dan Pease (2001), pola komunikasi wanita berbeda dengan pria. Jika seorang wanita mendapatkan masalah, maka wanita tersebut ingin mengkomunikasikannya dengan orang lain dan memerlukan dukungan atau bantuan orang lain, sedangkan pria cenderung untuk memikirkan masalahnya, pria juga jarang menunjukan emosinya sehingga kasus depresi ringan dan sedang pada pria jarang diketahui.

5. Gaya Hidup

Banyak kebiasaan dan gaya hidup tidak sehat berdampak pada penyakit misalnya penyakit jantung juga dapat memicu kecemasan dan depresi. Tingginya tingkat stress dan kecemasan digabung dengan makanan yang tidak sehat dan kebiasaan tidur serta olahraga untuk jangka waktu yang lama dapat menjadi faktor beberapa orang mengalami depresi (lumongga, 2009). Penelitian menunjukan bahwa kecemasan dan depresi berhubungan dengan gaya hidup yang tidak sehat pada pasien berisiko jantung. Gaya hidup yang tidak sehat misalnya tidur tidak teratur, makan tidak teratur, mengkonsumsi jenis makanan fast food atau makanan yang mengandung perasa, pengawet dan perwarna buatan, kurang berolahraga, merokok dan minum-minuman keras (Hendranata, 2004).

6. Penyakit fisik

Penyakit fisik dapat menyebabkan penyakit. Perasaan terkejut karena mengetahui kita memiliki penyakit serius dapat mengarahkan pada hilangnya kepercayaan diri dan penghargaan diri juga depresi, alasan terjadinya cukup kompleks (Ebrahim, 1987).

7. Obat-obatan

Beberapa obat-obatan untuk pengobatan dapat menyebabkan depersi. Namun bukan berarti obat tersebut menyebabkan depresi, dan menghentikan pengobatan dapat lebih berbahaya daripada depresi.

Menurut McKenzie (1999) ada beberapa obat yang menyebabkan depresi yaitu:

  1. Tablet antieplipsy
  2. Obat anti tekanan darah tinggi
  3. Obat antimalaria-melfloquine (lariam)
  4. Obat antiparkinson
  5. Obat kemotrapi
  6. Pil kontrasepsi
  7. Digitalis
  8. Diuretic (jantung dan tekanan darah tinggi)
  9. Interferon-alfa (hepatitis c)
  10. Obat penenang
  11. Terapi steroid

8. Obat-obatan terlarang

Obat-obatan terlarang telah terbukti dapat menyebabkan depresi karena mempengaruhi kimia dalam otak dan menimbukan ketergantungan. Menurut Brees (2008) di antara obatobatan terlarang yang menyebabkan depresi seperti mariyuana, heroin, kokain, ekstasi, sabu-sabu.

9. Kurang Cahaya Matahari

Kebanyakan orang merasa lebih baik di bawah sinar matahari daripada hari mendung, tetapi hal ini sangat berpengaruh pada beberapa individu. Mereka baik-baik saja ketika musim panas tetapi menjadi depresi ketika musim dingin. Mereka disebut menderita seasonal affective disorder (SAD). SAD berhubungan dengan tingkat hormon yang disebut melatonin yang dilepaskan dari kelenjar pineal ke otak. Pelepasannya sensitifnya terhadap cahaya yaitu memberikan cahaya sebesar 10.000 luc kadang-kadang efektif menghilangkan simtom dari seasonal affective disorder, empat jam terkena cahaya terang dalam sehari dapat mengurangi seresi dalam waktu seminggu (Ebrahim, 1987).

Ada beberapa faktor psikologis penyebab depresi yaitu:

1. Kepribadian

Aspek-aspek kepribadian ikut mempengaruhi tinggi rendahnya depresi yang dialami serta kerentanan terhadap depresi. Ada indvidu-individu yang lebih rentan terhadap depresi yaitu mempunyai konsep diri serta pola pikir yang negatif, pesimis, juga tipe kepribadian introvert (Retnowati, 1990). Tampaknya ada hubungan antara karakteristik kepribadian tertentu dengan depresi.

Menurut Gordon (dalam Lumongga, 2009), seseorang yang menunjukan hal-hal berikut memiliki risiko terkena depresi:

  1. Mengalami kecemasan tingkat tinggi, seorang pencemas atau mudah terpengaruh
  2. Seorang pemalu atau minder
  3. Seseorang yang suka mengkritik diri sendiri atau memiliki harga diri yang rendah
  4. Seseorang yang hipersensitif
  5. Seseorang yang perfeksionis
  6. Seseorang dengan gaya memusatkan perhatian pada diri sendiri (self-focused).

2. Pola Pikir

Beck (1980) mengatakan gambaran pola pemikiran yang umum pada depresi dan dipercaya membuat seseorang rentan terkena depresi. Seseorang yang merasa negatif mengenai diri sendiri rentan terkena depresi.

3. Harga Diri (self-esteem)

Harga diri merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan perilaku individu. Setiap orang menginginkan penghargaan diri positif terhadap dirinya, sehingga seseorang akan merasa dirinya berguna atau berarti bagi orang lain meskipun dirinya memiliki kelemahan mental dan fisik. Terpenuhinya keperluan penghargaan diri aan menghasikan sikap dan rasa percaya diri, rasa kuat menghadapi sakit, rasa damai, namun sebaiknya apabila keperluan penghargaan diri ini tidak terpenuhi, maka akan membuat seseorang individu mempunyai mentalmental lemah dan berpikir negatif sehingga cenderung terkena depresi (Maslow dalam Petri, 2004).

4. Stres

Kematian orang dicintai, kehilangan pekerjaan, pindah rumah, atau stress berat yang lain dianggap dapat menyebabkan depresi (lumongga, 2009). Orang yang depresi dapat merasa sangat negative dan cenderung mengingat dan melaporkan hal-hal negatif begitu pula dampak suatu peristiwa terhadap seseorang sulit diramalkan, beberapa orang lebih mampu menanggulangi stress daripada yang lain dan apa yang membuat stress seseorang belum tentu menganggu yang lain (Mckenzie, 1999).

5. Lingkungan Keluarga

Ada beberapa penyebabnya yaitu:

  1. Kehilangan orang tua ketika masih anak-anak. Ada bukti bahwa indivdu yang kehilangan ibu mereka ketika muda memiliki risiko lebih besar terserang depresi. Kehilangan yang besar ini akan membekas secara psikologis dan membuat seseorang lebih mudah terserang depresi tetapi, di satu sisi, mungkn saja membuat orang lebih tabah. Akibat psikologis, sosial, dan keuangan yang ditimbulkan oleh kehilangan orang tua yang lebih penting daripada kehilangan itu sendiri (Lumongga, 2009).
  2. Jenis Pengasuhan. Psikolog menemukan bahwa orang tua yang sangat menuntut dan kritis, yang menghargai kesuksesan dan menolak semua kegagalan membuat anak-anak lebih mudah terserang depresi di masa depan (Lumongga,2009).
  3. Penyiksaan fisik dan seksual Ketika kecil. Penyiksaan fisik atau seksual dapat membuat seseorang berisiko terserang depresi berat sewaktu dewasa (Lumongga, 2009).

6. Penyakit Jangka Panjang

Ketidaknyamanan, ketidakmampuan, ketergantungan, dan ketidakamanan dapat membuat seseorang cenderung menjadi depresi. Kebanyakan orang suka bertemu orang. Orang yang sakit keras menjadi rentan terhadap depresi saat mereka dipaksa dalam posisi di mana mereka tidak berdaya atau karena energi yang mereka perlukan untuk melawan depresi sudah habis untuk penyakit jangka panjang (Lumongga, 2009).