Apa yang dimaksud dengan munafik?

[Munāfiq atau Munafik]
(https://id.wikipedia.org/wiki/Munafiq)
(kata benda, dari bahasa Arab: منافق, plural munāfiqūn) adalah terminologi dalam Islam untuk merujuk pada mereka yang berpura-pura mengikuti ajaran agama Islam, namun sebenarnya hati mereka memungkirinya.

Dalam Al Qur’an terminologi ini merujuk pada mereka yang tidak beriman namun berpura-pura beriman.

“ Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah”, dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan. Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi) lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti. (Surah Al-Munafiqun 63:1-3)

Berdasarkan hadits, Nabi Muhammad mengatakan: “Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga, yaitu; jika berbicara berdusta, jika berjanji mengingkari dan jika dipercaya berkhianat”.

Kemunafikan dalam bahasa Arab disebut al-nifaq, sering diartikan dengan ‘pengakuan dengan lidah dan pengingkaran dengan hati.’ Al-Ragib al-Asfahani mengartikan nifaq yaitu “masuk ke dalam syariat dari satu pintu dan keluar melalui pintu yang lain”. Ungkapan yang lebih sederhana adalah dikemukakan oleh al- Tabataba’i, bahwa nifaq secara lisan menyatakan iman, tetapi hati menyatakan keingkaran.

Pengertian munafik secara terminologi menurut syariat Islam, munafik adalah orang yang menampakkan sesuatu yang sejalan dengan kebenaran di depan orang banyak, padahal kondisi batinnya atau perbuatan yang sebenarnya tidak demikian. Kepercayaan atau perbuatannya itu disebut nifaq.

Munafik adalah perbuatan yang lahir dan batinnya tidak sama. Secara lahiriah beragama Islam namun jiwanya dan batinnya tidak beriman. Orang-orang seperti ini biasa disebut dengan munafik, munafik adalah orang yang berbuat nifaq. Tidak mudah mengetahui orang yang munafik sebab tindakan mereka tidak menampakkan sebenarnya secara terbuka melainkan secara sembunyi-sembunyi, ibarat musuh dalam selimut.

Ciri-ciri Munafik


Dari beberapa pengertian di atas munafik merupakan penyakit rohani yang sifatnya tidak tampak (batin). Oleh karena itu, yang dapat diketahui hanyalah penjelmaan dari batin tersebut dalam bentuk sikap dan tingkah laku sehari-hari. Di dalam al-Qur’an beberapa ayat yang mengemukakan ciri-ciri orang munafik tersebut, baik ciri fisik maupun non fisik, begitu juga dalam hadis Nabi Muhammad. Di antaranya adalah sebagai berikut:

  • Bersikap ragu-ragu terhadap Islam.19 Hal ini nyatakan Allah dalam QS. al- Hadid/57: 13-14.

image
image

"Pada hari orang-orang munafik laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman, “Tunggulah kami! kami ingin mengambil cahayamu”. (Kepada mereka) dikatakan, “Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)”. Lalu di antara mereka dipasang dinding (pemisah) yang berpintu. Di sebelah dalam ada rahmat dan di luarnya hanya ada azab. Orang-orang munafik memanggil orang-orang mukmin, “Bukankah kami dahulu bersama kamu?” Mereka menjawab “Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri, dan kamu hanya menunggu, meragukan (janji Allah) dan ditipu oleh angan-angan kosong sampai datang ketetapan Allah; dan penipu (setan) datang memperdaya kamu tentang Allah.”

  • Tidak dapat dipercaya dalam memegang amanah, yaitu pembicaraannya mengandung kebohongan, apabila berjanji sering berdusta, dan apabila diserahi amanah, dikhianati. Hal ini diungkap dalam hadis Nabi Muhammad SAW:

"Telah menceritakan kepada kami Sulaiman Abu al-Rabi’ berkata, telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Ja’far berkata, telah menceritakan kepada kami Nafi’ bin Malik bin Abu 'Amir Abu Suhail dari ayahnya dari Abu Hurairah dari Nabi saw., beliau bersabda:“Tanda-tanda munafik ada tiga; jika berbicara dusta, jika berjanji mengingkari dan jika diberi amanat dia khianat”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Munāfiq atau Munafik (kata benda, dari bahasa Arab منافق ,plural Munāfiqūn) adalah terminologi dalam Islam untuk merujuk pada mereka yang berpura-pura mengikuti ajaran agama namun sebenarnya tidak mengakui dalam hatinya. Munafik (المنافك )artinya adalah orang yang nifaq (النفاق ). Nifaq secara bahasa berarti ketidaksamaan antara lahir dan batin. Jika ketidaksamaan itu dalam hal keyakinan, hatinya kafir tetapi mulutnya mengatakan beriman, maka ia termasuk nifaq i’tiqadi.

An-Nifaq sekaliapun telah dikenal dalam bahasa Arab, namun sebagai sebuah istilah Islam dengan makna khusus tidak dikenal oleh bangsa Arab. Karena istilah An-Nifaq muncul setelah Islam hadir dengan kekuatannya yang besar yang mengancam kekufuran dan kemusyrikan disekitarnya. Kata An-Nifaq dalam bahasa arab berasal dari akar kata nȃfaqa-yunȃfiqu-nifȃqan. Kata ini diambil dari kata nafiqȃ, yang berarti salah satu lubang tikus, jika dicari melalui satu lubang, maka tikus itu akan lari dan keluar melalui lubang yang lain.

Muhammad Musa Nasr mengatakan, sejumlah Ulama berpendapat: “AnNifaq” berasal dari “An-Nafaq”, yakni sebuah jalanan di dalam bumi menuju tempat lain, sedang kata nafaqah dan nȃfiqȃ berarti lubang biawak dan tikus. Jika didatangi dari mulut lubang, ia akan menyerang dengan kepalanya. Ibnu Al A‟rabi Rahimahumullah berkata: “Yakhfirul yarbu‟ hufratan Tsumma Yasuddu Bȃbaha Biturȃbiha”, artinya: “Tikus membuat lubang lalu menutup pintu lubangnya dengan tanah”. Tanah untuk menutupi tersebut dinamakan dengan Daamȃ. Lalu ia menggali lubang yang lain yang disebut dengan Naafiqȃ. Ia tidak menembus melainkan hanya melubangi saja sampai halus. Jika ia telah menempatinya, maka ia kembali ke tempat semula lalu memukulnya dengan kepala dan keluar darinya.

Dengan demikian, karakter orang munafik itu menipu, bolak balik, bimbang dan membuat siasat, memperlihatkan sesuatu yang berbeda dengan yang disembunyikan di hati. Inilah sisi kemanusiaan dengan tikus atau biawak. Betapa bahayanya sifat Nifaq jika sudah hinggap pada hati seseorang, di pandang sangat hina di sisi Allah Swt. dan manusia.

Pengertian Munafik


Kata Munafik berarti buat-buat atau pura-pura dan kata masdar nya pula nifâq berarti kepura- puraan yaitu keluar dari keimanan secara diam-diam. Di dalam kamus al- Mu‟jam al-Wajiz menyatakan demikian bahwa munafik berasal dari kata nâfaqa berarti menzahirkan apa yang berlainan dari batin.

Adapun pengertian munafik bisa diartikan dengan kata Nafiqa Lil Yarbû‟ (ىِييَشثُىعُ وفِقَ) yaitu keluar dari lubang persembunyian binatang seperti tikus, dalam hal ini, antara lubang tikus dan kemunafikan memang sejajar. Jika dilihat dari sifatnya, bagian atas (luar) liang tikus tertutup dengan tanah, sedangkan bagian bawah berlubang. Demikian pula kemunafikan yang bagian luarnya adalah Islam dan dalamnya merupakan keingkaran serta penipuan.

Pengertian munafik secara terminologi menurut Syari‟at Islam, munafik adalah orang yang menampakkan sesuatu yang sejalan dengan kebenaran di depan orang banyak, padahal kondisi batinnya atau perbuatan yang sebenarnya tidak demikian. Kepercayaan atau perbuatannya itu disebut nifâq.

Dari kata nifâq tersebut, maka al-Raghib al-Asfahâni mengatakan bahwa seorang munafik, bisa terlihat bahwa ia masuk Islam dari pintu satu dan keluar dari pintu lainnya. Dalam Syarah Usul I‟tikad Ahl Sunnah wa al- Jama‟ah mengatakan bahwa nifâq itu adalah kekufuran yaitu mengkufurkan Allah dan menzahirkan keimanan secara terang-terangan. Hal demikian, sama sekali dengan firman Allah swt. dalam Q.S al-Taubah /9: 67

“ Sesungguhnya orang munafik itulah orang-orang fâsiq 78 ”

Maka dengan itu, penulis mengartikan bahwa kemunafikan dimasukkan dalam kategori kekafiran karena pada hakikatnya, prilaku orang munafik adalah kekafiran yang terselubung. Orang-orang munafik pada dasarnya adalah mereka yang ingkar kepada Allah, kepada RasulNya dan ajaran-ajaran Rasulullah, kendatipun secara lahir mereka memakai baju mukmin.

Tingkatan-tingkatan Munafik

Ulama banyak membahas tentang tingkatan-tingkatan munafik. Dalam pandangan syariat Islam, munafik ada dua macam, yaitu munafik i‟tiqad dan munafik amal .

  1. Al-Nifâq al-I‟tiqâdi :

    Pandangan syariat menyatakan bahwa al-nifâq al-i‟tiqâdi yaitu mereka yang menonjolkan keislamannya tetapi pada hakekatnya dia tidak percaya kepada Allah dan Rasul-Nya. Seperti Abdullah bin Ubay dan kawan- kawannya. Mereka termasuk ke dalam golongan kafir, bahkan lebih jahat. Dan orang-orang itulah yang dijanjikan Allah tempatnya di tingkatan paling bawah sekali dalam neraka.

    Menurut Sa‟id Hawa, al-nifâq al-nazhari (Konsepsional) yaitu: bahwa keyakinannya tentang hakekat Islam bertentangan dengan pernyataan keimanannya kepada Islam.

    Menurut Hamdi Ahmad Ibrahim dalam bukunya Karakter Orang- Orang Munafik , bahwa al-nifâq al-i‟tiqâdi itu ada delapan perkara, yaitu:

    • Mereka mengucapkan dua kalimat syahadat sebagaimana firman Allah Ta‟ala dalam Q.S. al-Munâfiqûn /63:1, dan Q.S. al- Baqarah /2:8-9.

    • Mereka memproklamirkan dirinya senantiasa taat terhadap al- Qur‟an dan al-Sunnah, padahal sebenarnya menentang dan bermaksud jahat terhadap keduanya, sebagaimana firman Allah Ta‟ala dalam Q.S. al-Nisa‟ /4: 81, dan Q.S. al-Nûr /24: 27.

    • Mereka melaksanakan shalat namun disertai dengan riya‟, mereka mendirikan shalat dengan bermalas-malasan, mereka suka mengakhirkan shalat samapai waktunya habis, mereka mempercepatkan shalat bagaikan burung gagak mencocok dengan paruhnya dan mereka tidak suka menghadiri shalat jemaah di masjid. Mereka tidak berzikir kepada Allah melainkan sedikit. Hal ini sebagaimana Allah telah berfirman dalam Q.S. al-Nisa‟ /4: 142.

    • Mereka suka bersedekah tetapi karena terpaksa dan di dorong dengan sifat riya‟, sebagaimana firman Allah dalam Q.S. al- Taubah /9: 54, dan Q.S. al-Taubah /9: 98.

    • Mereka suka membaca al-Qur‟an, sebagaimana Nabi bersabda: “Kebanyakan orang-orang munafik dari ummatku adalah para pembaca al-Qur‟an”. (HR. Ahmad, Jilid 2: 175)

    • Mereka suka menghadiri majlis- majlis ta‟lim, akan tetapi mereka tidak mengerti sedikit pun yang disampaikan da‟i, justru mereka suka memperolok dan mengejek apa yang didengarnya. Sebagaimana firman Allah dalam Q.S. Muhammad /47: 16, dan Q.S. al-Taubah /9: 127.

    • Orang-orang munafik itu senang membangun masjid tetapi mereka menjadikannya sebagai markas tempat mereka mengadakan makar dan mengatur strategi untuk memerangi Allah dan Rasulnya. Hal ini seperti yang ditegaskan dalam Q.S. al-Taubah /9: 107.

    • Sikap lahiriyah mereka mencegah orang lain sehingga mengira mereka sebagai orang-orang yang bertaqwa dan berilmu pengetahuan. Hal ini dinyatakan dalam sabda Nabi Saw. dalam Musnad Ahmad: “Sesungguhnya sesuatu yang paling aku khawatirkan atas umatku adalah setiap orang munafik yang pandai bersilat lidah”.

  2. Al-Nifâq al-„Amali :

    Pandangan syariat menyatakan bahwa al-nifâq al-„amali adalah munafik yang tidak membawa kepada kekafiran yaitu tidak akan menyebabkan seseorang itu keluar dari Islam, tetapi hanya saja pelakunya divonis sebagai orang yang berdosa dan amat merugikan diri serta merusakkan pergaulan.

    Menurut Sa‟id Hawa, al-nifâq al-„amali (Perbuatan): yaitu yang memiliki akhlaq orang-orang munafik dalam memberikan loyalitas kepada orang-orang kafir, berkasih sayang kepada mereka, mendukung perjuangan mereka, menyalahi janji, membiasakan dusta atau berkhianat dan curang.

    Bentuk yang pertama tadi adalah mereka orang munafik menyerupai kafir karena mereka telah mempermainkan keimanannya. Mereka mengatakan dengan lisannya telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, padahal mereka hanya memperolok saja. Karena di hati mereka sesungguhnya telah mengingkari Islam. Padahal hakekat keimanannya itu adalah keyakinan yang letaknya di hati. Mereka telah berdusta dengan lisannya, sehingga syahadah yang mereka ikrarkan sia-sia dan sesungguhnya mereka tidak beriman karena perbuatan tersebut. Dalam hal ini, kemunafikan yang dianggap keluar dari keimanan secara total adalah mencakup kemunafikan yang besar yang menyangkut „aqidah (keyakinan), di mana pelakunya akan menampakkan keislaman serta menyembunyikan kekufuran.

    Adapun bentuk yang kedua yaitu kemunafikan dalam bentuk perbuatan, meskipun kemunafikan „amaliah ini tidak sesuai menyebabkan pelaku-pelakunya keluar dari keimanan secara total tetapi merupakan lorong menuju kekufuran. Dalam bentuk ini, menurut „Aidh Abdullah al-Qarni terdapat 30 sifat-sifat yang menunjukkan prilakunya akan menyebabkan terus kepada kemunafikan, yaitu seperti berikut:

    1. Dusta
    2. Ingkar janji
    3. Melampau batas jika berselisih
    4. Tidak menepati janji
    5. Malas dalam beribadah
    6. Lalai dalam beribadah
    7. Riya‟ dalam beribadah
    8. Tergesa-gesa dalam sembahyang
    9. Melecehkan terhadap sosok para saleh
    10. Mempermainkan al-qur‟an dan al-sunnah
    11. Berlidung di balik sumpah
    12. Terpaksa dalam berinfak
    13. Meremehkan muslim dan mengunggulkan kafir
    14. Membesarkan yang kecil dan mengecilkan yang besar
    15. Berpaling dari takdir
    16. Mengumpat orang-orang saleh
    17. Meninggalkan sembahyang berjemaah
    18. Merusak dengan dalih kebaikan
    19. Penampilan luar bertolak-belakang dengan yang tersembunyi dalam hati
    20. Pengecut terhadap ancaman
    21. Mengajukan alasan dusta
    22. Memasyarakatkan kemungkaran dan melarang perbuatan makruf
    23. Enggan menyumbang kebaikan
    24. Melupakan allah karena sedikit berzikir
    25. Mendustakan tawaran allah
    26. Sibuk memperindahkan penampilan luar melupakan hakikat batin
    27. Agitatif dan congkak
    28. Tidak memahami agama
    29. Malu terhadap manusia, tidak malu dengan Allah ketika bermaksiat
    30. Bergembira ria dengan musibah dan merasa sedih dengan rahmat yang menimpa kaum muslimin

    Menurut perhatian penulis, penulis setuju dengan menyatakan kesemua 30 sifat perbuatan tadi termasuk dalam bagian kedua, andai saja manusia yang mengaku iman kepada Allah dan melakukan hal demikian, maka itu termasuk dalam nifaq „amaliah. Sebenarnya keyakinan orang munafik itu bisa dilihat dengan perbuatannya karena perbuatan akan mengikuti gerak hati seseorang. Lalu, segala perbuatan orang munafik adalah perbuatan nifaq i‟tiqadi. Demikian hal ini telah dinyatakan dengan panjang di dalam al-Qur‟an dan lebih terperinci lagi terdapat dalam hadis. Penulis akan melampirkan 30 sifat di atas secara terperinci pada bagian belakang. Adapun akibat dari perbuatan mereka tadi, maka mereka tidak akan terlepas dari azab Allah Swt., yaitu: Mereka ditempatkan di Neraka paling bawah (Q.S.al-Nisa‟/4: 145), mereka dilaknati dan mendapat azab yang kekal (Q.S. al-Taubah/9: 68), mereka diazab Allah dengan azab yang pedih di dunia dan akhirat (Q.S. al-Taubah/9: 74).

Ayat al-Qur‟an di atas cukup jelas menerangkan bahwa orang yang melakukan sifat-sifat munafik di atas akan menuju ke neraka. Namun begitu, jika mereka tidak memiliki al-nifâq al-i‟tiqâdi maka mereka tidak akan keluar dari keimanan kepada Allah dan Allah akan memba las atas segala perbuatan yang buruk.

Karakteristik Munafik Dalam Musnad Ahmad


Di dalam al-Qur’an banyak sekali membicarakan mengenai orang- orang munafik, terutama dalam surah-surah panjang yang diturunkan di Madinah. Dalam Surat al-Baqarah , yaitu surah kedua dalam susunan al-Qur‟an, terdapat kisah mengenai sifat-sifat orang yang muttaqin dalam empat ayat, orang kafir dua ayat, namun orang munafik dibicarakan tingkah lakunya yang buruk itu dalam tiga belas ayat. Surat-surat ali-Imrân, an-Nisâ‟, al-Anfâl, at-Taubah, al-Ahzâb, al- Hadîd, al-„Ankabût, al-Fath, al-Tahrîm yang penuh berisi keterangan tentang perangai, kelakuan, kedengkian, pengecut dan kekecilan jiwa orang munafik. 86

Munafik adalah suatu sifat yang paling populer yang telah disebut oleh Rasulullah Saw. dengan 3 tanda. Penulis telah melacak dalam al-Musnad bahwa Imam Ahmad menyebut 4 hadis yang menyatakan hal yang persis demikian.87 Dalam sunan sittah juga meriwayatkan dari sahabat yang sama yaitu Abu Hurairah. Namun demikian, dalam Sunan Ibn Majah saja yang tidak menyebut 3 tanda munafik.

Sulaiman Abu al-Rabi‟ memberitahu kami, ia berkata, Ismail bin Ja‟far memberitahu kami, ia berkata, Nafi‟ bin Malik bin Abi Amir Abu Suhail memberitahu kami, dari ayahnya, dari Abu Hurairah , dari Nabi Saw., beliau bersabda: “Tanda-tanda orang munafik itu tiga, yaitu: apabila berbicara ia dusta, jika berjanji ia menginkari dan jika dipercaya ia khianat.”

Adapun sifat munafik yang disebut Rasulullah Saw. dengan 4 perkara. Penulis mengkaji bahwa Sahih al-Bukhâri mengeluarkan 3 hadis yang serupa tapi berlainan perawi, adapun Sahih Muslim , Sunan al-Turmudzi , Abi Daud dan al-Nasâi hanya meriwayatkan satu hadis dan semuanya berlainan perawi dan cara periwayatan mereka dengan gaya bahasa tersendiri. Namun dari penilaian penulis mendapati bahwa semua ahli hadis meriwayatkan dari sahabat yang sama yaitu Abdullah „Amr .

  1. Mengkhianati seseorang, sering berdusta ketika berbicara, mengingkari janji dan melakukan perbuatan keji terhadap musuh

    Muhammad ibn Ja‟far memberitahu kami, telah bercerita Syu‟bah dari Sulaiman dan Ibn Numair , ia berkata, al-A‟masy memberitahu kami, dari Abdillah bin Murrah , dari Masyruq dari Abdullah bin „Amr , sesungguhnya Nabi Saw. bersabda: “barang siapa yang di dalam dirinya terdapat empat perkara sebagai berikut, maka dia adalah orang munafik. Sedangkan siapa yang didalam dirinya terdapat satu perkara diantara empat perkara itu, maka ia menyandang satu sifat dari kemunafikan, sampai dia meninggalkannya. Keempat perkara itu ialah: apabila ia jika berbicara ia dusta, jika berjanji ia mengingkari, dipercaya ia khianat, dan jika bermusuhan ia berbuat keji.”

  2. Memakan harta rampasan, tidak pergi ke masjid dan mencela umat Islam

    Yazid menceritakan kepada kami, bahwa Abdullah Ibn Malik al- Jumahi mengkhabarkan dari Ishaq ibn Bakar ibn Abi al-Furat dari Sa‟id ibn Abi Sa‟id al-Mukbiri dari ayahnya dari Abi Hurairah dari Nabi Saw. telah berkata “Bahwa bagi orang-orang munafik ada tanda- tandanya, mereka berkenalan setelah itu kutuk, dan memberi makan dengan harta rampasan perang yang dicuri dan mereka tidak mendekati masjid kecuali berteduh dan mereka tidak pergi salat kecuali membelakanginya dengan sombong.”

  3. Shalat yang paling berat adalah shalat Subuh dan Isya

    Waki‟ berkata kepada kami, al-A‟masy menceritakan dari Abi Salih dari Abi Hurairah berkata, berkata Rasulullah Saw. “sukakah kamu apabila kamu pulang ke rumahmu lantas kamu mendapati 3 ekor unta yang sedang bunting dan gemuk-gemuk?. Maka 3 ayat yang di bacakan dalam sembahyang lebih baik dari 3 ekor unta yang bunting itu, sesungguhnya sembahyang yang paling berat bagi orang munafik adalah sembahyang isya‟ dan subuh, jika sekiranya mereka tahu fadhilat kedua sembahyang itu, nescaya mereka akan menunaikannya walaupun dalam keadaan merangkak. ”

  4. Bermuka Dua

    Hasyim menceritakan kami, Laits memberitahu Yazid ibn Abi Habib dari „irak dari Abi Hurairah bahwa sesungguhnya telah mendengar Rasulullah Saw. berkata “bahwa seburuk-buruk manusia adalah orang yang bermuka dua, dia datang kepada mereka dengan satu wajah dan pada mereka dengan wajah yang lain.”

  5. Berkata-kata Dengan Berdalilkan al-Qur‟an

    Abu Mu‟awiyah menceritakan, al-A‟masy mengkhabarkan dari Khaitsamah dari Suwaid ibn Ghaflah berkata, berkata Ali Ra. Apabila kamu menceritakan hadis Rasulullah akan satu hadis maka lembutlah satu bagian yang tinggi dari langit yang paling suka kepadaku dari berkata bohong, dan apabila dari selainnya, maka sesungguhnya aku lah lelaki pertama memeranginya dan peperangan itu adalah tipu daya, aku mendengar Rasulullah bersabda “Akan datang suatu kaum di akhir zaman di mana para pemuda pada saat itu berakal buruk mereka berkata dengan ayat-ayat al-Qur‟an, tidaklah imannya melebihi kecuali sekedar pada bibir mulut, barang siapa menjumpai mereka, bunuhlah mereka, maka sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu ganjaran di hari K iamat nanti.”

  6. Orang yang paling dibencinya adalah orang arab

    Abdullah menceritakan kami, Ismâ‟îl Abu Ma‟mar memberitahu kami, Ismâ‟îl ibn „Iyâsh menceritakan dari Zaid ibn Jabirah dari Daud ibn al-Husain dari Abdullah ibn Abi Rafi‟ dari Ali Ra. Berkata, berkata Rasulullah Saw. “tidaklah orang yang paling membenci orang arab melainkan orang-orang munafik.”

  7. Berdebat mengenai al-Qur‟an

    Zaid ibn al-Hubbab menceritakan kami, abu al-Samhi memberitahu Abu Qabil bahwa sesungguhnya Uqbah ibn „amir mendengar beliau bersabda, bahwa sesungguhnya Rasulullah saw. bersabda “Sesungguhnya aku paling takut terjadi ke atas umatku 2 perkara, yaitu al-Qur‟an dan buruh (tukang batu bata), adapun para buruh mencari tanah yang subur dan mengerjakannya dengan mengikuti syahwat, dan mereka sering meninggalkan solat, adapun al- Qur‟an maka orang-orang munafik mempelajarinya hanya untuk berdebat melawan orang beriman.”

Referensi :
  • Muhammad Idris Abdul Rauf al-Marbawi , Qâmus Idrîs al-Marbawi , (Kuala Lumpur: Dar al-Fikr 2006), cet. ke-3, h. 336
  • Ahmad Warson Munawwir, al-Munawwir, Kamus Arab Indonesia , (Yogyakarta: Pondok Pasentren al-Munawwir 1984), h. 1548
  • Kumpulan Bahasa Arab, al-Mu‟jam Al-Wajiz , h. 628
  • Husin ibn Awang, Qâmûs al-Tulâb , (Kuala Lumpur: Dar al-Fikr 1994), cet. ke-1, h.1041
  • M. Quraisy Shihab dan dkk, Ensiklopedia al-Qur‟an: Kajian Kosa Kata Dan Tafsirnya , (Jakarta: Internusa 1997), h. 277
    Ibrahim bin Muhammad bin Abdullah al-Buraiqan, Pengantar Ilmu Studi Aqidah Islam , penerjemah: Muhammad Anis Matta), h. 220
  • al-Raghib al-Asfahâni, Mu‟jam Mufradat Alfaz al-Qur‟an , Beirut: Dar al-Fikr 1986), h. 253
  • Habbatullah ibn al-Hasan ibn Mansur, Syarah Usul I‟tikad Ahl Sunnah wa al-Jama‟ah min al-Kitâb wa al-Sunnah wa Ijma‟ Sahâbat , (Riyadh: Dar al-Tibah 1983, tt), h. 169
  • Fâsiq berarti keluar dari agama dan syariat. Dari keterangan di atas bisa dipahami bahwa nifâq dalam terminologi agama adalah mena mpakkan Islam dan menyembunyikan kekufuran . lihat Ahzami Sami‟un Jazuli, Seri Tafsir Tematik Fiqh al-Qur‟an , (Kg. Melayu Kecil: Kilau Intan 2005), cet. ke-1, h. 148.

Munafik منافق

Mari kita takwil maknanya

  1. mim م ==> makhluk yang berakal (manusia)
  2. nun ن ==> berita
  3. alif ا ==> huruf tambahan untuk memperkuat huruf sebelumnya
  4. fa ف ==> kerusakan
  5. qof ق ==> suatu kaum/masyarakat

Jadi munafik merupakan manusia yang suka menebarkan berita-berita yang bisa membawa kerusakan kepada masyarakat… Hati-hati, jangan sebar HOAX…