© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa yang dimaksud dengan Mental Blok ?

Mental blok

Mental blok merupakan hambatan pikiran bawah sadar yang akan mengeksekusi apa yang telah dilakukan oleh pikiran bawah sadar. Mental blok inilah yang akan menghambat mental atau secara psikologis akan menyelubungi pikiran seseorang karena kejadian masa lalu atau pengalaman hidup yang tidak menyenangkan atau mengalami sebuah kekeliruan mengenai cara pandang.

Apa yang dimaksud dengan Mental Blok ?

Mental block berasal dari dua suku kata, mental dan blok. Mental adalah sesuatu yang berhubungan dengan jiwa, bathin dan rohani. Sedangkan blok berarti balok atau ganjal, rintangan. Mental blok secara umum diartikan sebagai kondisi jiwa yang meyakini sebuah konsep mental salah, lemah dan kalah. Seperti keyakinan bahwa dirinya sebagai orang yang lemah, malas, miskin, serba tak mampu dan lain-lain. Atau bisa juga diartikan mental blok adalah kondisi mentalitas jiwa yang mempunyai keyakinan salah atas persepsi pada dirinya sendiri.

Proses Terjadinya Mental Blok

Mental blok terbentuk melalui proses pembelajaran mental, ia terbentuk dengan perlahan, bertahap sedikit demi sedikit, pembentukan keyakinan, persepsi dibentuk sebuah sistem informasi, berita, ucapan dan ungkapan-ungkapan negatif dari orang-orang yang ada di sekitarnya, misal bodoh, lemah. Hal ini merupakan virus pemikiran yang berbahaya bagi anak-anak.

Sumber Munculnya Mental Blok

Psikolog Jack Carfield mengadakan penelitian terhadap 100 anak, bahwa diantara rata-rata 460 komentar yang diterima anak perharinya hanya 75 komentar saja yang bersifat positif, adapun mereka yang berpeluang memberikan kontribusi mental blok terhadap jiwa seorang anak adalah: orang tua, saudara, kerabat, teman di sekolah dan di rumah demikian pula termasuk guru di sekolah.

Cara Kerja Mental Blok

Banyak diantara siswa yang terserang mental blok karena keberadan virus ini hampir menyebar ada di mana mana, adapun ciri-ciri dari siswa yang terserang mental blok ini adalah siswa cenderung menjadi pasif, pesimistis, berpandangan negatif terhadap diri sendiri akibatnya hubungan dengan dunia luar menjadi tertutup, susah maju dan berkembang. Mental blok bekerja secara spontan tanpa disuruh.

Mental Blok


Mental blok adalah penekanan atau pengekangan terhadap memori atau pikiran dalam diri seseorang. Mental blok biasanya terjadi karena adanya kepercayaan (belief) dan nilai-nilai (value) yang saling bertentangan di dalam diri kita dan menjadi belenggu pikiran kita. Jika mental block ini tidak di release total, tidak mungkin remaja akan bisa berhasil dalam hidupnya. Semua emosi negatif ini menjadi excess baggage atau beban yang selalu dibawa dalam hidupnya. Umumnya, konflik ini terjadi di antara pikiran sadar ( conscious ) dengan pikiran bawah sadar ( unconcious ) yang telah tertanam sekian lama. Yang perlu diketahui bahwa, saat pikiran sadar dan bawah sadar mulai bertentangan, biasanya pikiran bawah sadarlah yang menjadi pemenang. Arif (2012) menjelaskan bahwa pikiran sadar ( conscious ) menguasai 10-12% dari keseluruhan pikiran kita. Sedangkan pikiran bawah sadar ( subconscious ) menguasai 88-90% dari seluruh kemampuan pikiran kita. Kadang kita melihat masalah hanya di permukaannya saja, padahal permasalahan sesungguhnya ada di pikiran bawah sadar (subconscious).

Mental blok dibagi menjadi dua bagian, yaitu mental block yang terjadi karena pengalaman masa lalu dan ditaruh dimasa lalu dan mental block yang terjadi karena sebuah pengalaman masa lalu atau masa sekarang yang ditaruh dimasa depan. Contohnya: jika dimasa lalu sering dikatakan tidak mampu atau bodoh atau sejenisnya ketika masa muda atau masa kecil, lalu kita memutuskan untuk menjadi orang sukses dan mengikuti training atau membaca buku motivasi.

Maka mental blok di masa lalu tidaklah mengganggu selama bila anda jatuh dan mengalami persoalan dan anda langsung berdiri dan tetap melihat masa depan maka hal tersebut tidaklah mengganggu. Baru akan mengganggu jika kita jatuh , kemudian kita menengok ke belakang dan kita menyadari benar “ya” kata orang tua saya dulu bahwa saya bodoh dan sebagainya, maka itu akan menjatuhkan kita lagi. Yang menjadi masalah adalah mental block yang ditaruh di depan misalnya “bila saya kaya nanti saya sombong atau bila saya kaya nanti saya akan menjadi orang yang lupa akan Tuhan. Adapun bentuk-bentuk belief yang menghambat menurut Robert Dilts (dalam Arif 2012) yaitu :

  • Hopelessnes (tidak ada harapan)
    Untuk impian dia maka orang tersebut menjadi tidak ada harapan lagi. Kondisi ini banyak terjadi dengan orang- orang yang selalu beralasan, mengapa saya harus berusaha mati-matian, dia saja tidak bisa apalagi saya. Ini terjadi seakan- akan sudah kalah sebelum berperang.

  • Helplessness (ketidakberdayaan)
    Ini terjadi karena orang ini merasa bahwa dirinya tidak lebih baik daripada orang
    lain. Merasa tidak berdaya walaupun orang lain bisa melakukannya. Misalnya orang itu memang bisa sukses, tetapi beda dengan saya. Karena saya dilahirkan untuk tidak bisa sukses. Orang lain boleh bisa, tetapikan saya orang kecil.

  • Worthlessness (tidak berharga)
    Ini terjadi jika orang merasa bahwa hal itu memang mungkin dilakukan dan bisa dilakukan, hanya dirinya merasa tidak pantas dan tidak layak. Misalnya saya memang mencintai pasangan saya dan saya yakin sebenarnya saya bisa berbaikan dengan pasangan saya. Hanya saya merasa tidak pantas dan tidak layak untuk bersama dia.

Geldard (2011) menjelaskan bahwa cara paling adaptif bagi para individu untuk mengatasi masalah yang timbul adalah mengatasi akibat psikologis dan emosional sesegera mungkin setelah terjadinya peristiwa yang menyebabkan stress. Ketika remaja tidak mampu mengatasi secara efektif peritiwa yang menyebabkan stress dengan kemampuannya sendiri, bantuan konselor akan bisa sangat efektif jika diberikan sedini mungkin. Fungsi kognitif dapat memiliki peran penting dalam berhadapan dengan berbagai peristiwa yang menyebabkan stress. Dengan mempertimbangkan berbagai berbagai hal, proses mengatasi masalah dapat terarah pada sasaran dan fleksibel, tetapi masih memungkinkan ungkapan emosional dalam tingkatan yang pantas.