Apa yang dimaksud dengan Mental Blok ?

Mental blok

Mental blok merupakan hambatan pikiran bawah sadar yang akan mengeksekusi apa yang telah dilakukan oleh pikiran bawah sadar. Mental blok inilah yang akan menghambat mental atau secara psikologis akan menyelubungi pikiran seseorang karena kejadian masa lalu atau pengalaman hidup yang tidak menyenangkan atau mengalami sebuah kekeliruan mengenai cara pandang.

Apa yang dimaksud dengan Mental Blok ?

Mental block berasal dari dua suku kata, mental dan blok. Mental adalah sesuatu yang berhubungan dengan jiwa, bathin dan rohani. Sedangkan blok berarti balok atau ganjal, rintangan. Mental blok secara umum diartikan sebagai kondisi jiwa yang meyakini sebuah konsep mental salah, lemah dan kalah. Seperti keyakinan bahwa dirinya sebagai orang yang lemah, malas, miskin, serba tak mampu dan lain-lain. Atau bisa juga diartikan mental blok adalah kondisi mentalitas jiwa yang mempunyai keyakinan salah atas persepsi pada dirinya sendiri.

Proses Terjadinya Mental Blok

Mental blok terbentuk melalui proses pembelajaran mental, ia terbentuk dengan perlahan, bertahap sedikit demi sedikit, pembentukan keyakinan, persepsi dibentuk sebuah sistem informasi, berita, ucapan dan ungkapan-ungkapan negatif dari orang-orang yang ada di sekitarnya, misal bodoh, lemah. Hal ini merupakan virus pemikiran yang berbahaya bagi anak-anak.

Sumber Munculnya Mental Blok

Psikolog Jack Carfield mengadakan penelitian terhadap 100 anak, bahwa diantara rata-rata 460 komentar yang diterima anak perharinya hanya 75 komentar saja yang bersifat positif, adapun mereka yang berpeluang memberikan kontribusi mental blok terhadap jiwa seorang anak adalah: orang tua, saudara, kerabat, teman di sekolah dan di rumah demikian pula termasuk guru di sekolah.

Cara Kerja Mental Blok

Banyak diantara siswa yang terserang mental blok karena keberadan virus ini hampir menyebar ada di mana mana, adapun ciri-ciri dari siswa yang terserang mental blok ini adalah siswa cenderung menjadi pasif, pesimistis, berpandangan negatif terhadap diri sendiri akibatnya hubungan dengan dunia luar menjadi tertutup, susah maju dan berkembang. Mental blok bekerja secara spontan tanpa disuruh.

Mental Blok


Mental blok adalah penekanan atau pengekangan terhadap memori atau pikiran dalam diri seseorang. Mental blok biasanya terjadi karena adanya kepercayaan (belief) dan nilai-nilai (value) yang saling bertentangan di dalam diri kita dan menjadi belenggu pikiran kita. Jika mental block ini tidak di release total, tidak mungkin remaja akan bisa berhasil dalam hidupnya. Semua emosi negatif ini menjadi excess baggage atau beban yang selalu dibawa dalam hidupnya. Umumnya, konflik ini terjadi di antara pikiran sadar ( conscious ) dengan pikiran bawah sadar ( unconcious ) yang telah tertanam sekian lama. Yang perlu diketahui bahwa, saat pikiran sadar dan bawah sadar mulai bertentangan, biasanya pikiran bawah sadarlah yang menjadi pemenang. Arif (2012) menjelaskan bahwa pikiran sadar ( conscious ) menguasai 10-12% dari keseluruhan pikiran kita. Sedangkan pikiran bawah sadar ( subconscious ) menguasai 88-90% dari seluruh kemampuan pikiran kita. Kadang kita melihat masalah hanya di permukaannya saja, padahal permasalahan sesungguhnya ada di pikiran bawah sadar (subconscious).

Mental blok dibagi menjadi dua bagian, yaitu mental block yang terjadi karena pengalaman masa lalu dan ditaruh dimasa lalu dan mental block yang terjadi karena sebuah pengalaman masa lalu atau masa sekarang yang ditaruh dimasa depan. Contohnya: jika dimasa lalu sering dikatakan tidak mampu atau bodoh atau sejenisnya ketika masa muda atau masa kecil, lalu kita memutuskan untuk menjadi orang sukses dan mengikuti training atau membaca buku motivasi.

Maka mental blok di masa lalu tidaklah mengganggu selama bila anda jatuh dan mengalami persoalan dan anda langsung berdiri dan tetap melihat masa depan maka hal tersebut tidaklah mengganggu. Baru akan mengganggu jika kita jatuh , kemudian kita menengok ke belakang dan kita menyadari benar “ya” kata orang tua saya dulu bahwa saya bodoh dan sebagainya, maka itu akan menjatuhkan kita lagi. Yang menjadi masalah adalah mental block yang ditaruh di depan misalnya “bila saya kaya nanti saya sombong atau bila saya kaya nanti saya akan menjadi orang yang lupa akan Tuhan. Adapun bentuk-bentuk belief yang menghambat menurut Robert Dilts (dalam Arif 2012) yaitu :

  • Hopelessnes (tidak ada harapan)
    Untuk impian dia maka orang tersebut menjadi tidak ada harapan lagi. Kondisi ini banyak terjadi dengan orang- orang yang selalu beralasan, mengapa saya harus berusaha mati-matian, dia saja tidak bisa apalagi saya. Ini terjadi seakan- akan sudah kalah sebelum berperang.

  • Helplessness (ketidakberdayaan)
    Ini terjadi karena orang ini merasa bahwa dirinya tidak lebih baik daripada orang
    lain. Merasa tidak berdaya walaupun orang lain bisa melakukannya. Misalnya orang itu memang bisa sukses, tetapi beda dengan saya. Karena saya dilahirkan untuk tidak bisa sukses. Orang lain boleh bisa, tetapikan saya orang kecil.

  • Worthlessness (tidak berharga)
    Ini terjadi jika orang merasa bahwa hal itu memang mungkin dilakukan dan bisa dilakukan, hanya dirinya merasa tidak pantas dan tidak layak. Misalnya saya memang mencintai pasangan saya dan saya yakin sebenarnya saya bisa berbaikan dengan pasangan saya. Hanya saya merasa tidak pantas dan tidak layak untuk bersama dia.

Geldard (2011) menjelaskan bahwa cara paling adaptif bagi para individu untuk mengatasi masalah yang timbul adalah mengatasi akibat psikologis dan emosional sesegera mungkin setelah terjadinya peristiwa yang menyebabkan stress. Ketika remaja tidak mampu mengatasi secara efektif peritiwa yang menyebabkan stress dengan kemampuannya sendiri, bantuan konselor akan bisa sangat efektif jika diberikan sedini mungkin. Fungsi kognitif dapat memiliki peran penting dalam berhadapan dengan berbagai peristiwa yang menyebabkan stress. Dengan mempertimbangkan berbagai berbagai hal, proses mengatasi masalah dapat terarah pada sasaran dan fleksibel, tetapi masih memungkinkan ungkapan emosional dalam tingkatan yang pantas.

Mental Block secara bahasa sama dengan Limiting Belief atau Kurang Rasa Percaya Diri merupakan hambatan secara mental psikologis yang menyelubungi pikiran seseorang akibat program negatif yang ada dalamnya.

Mental Block juga merupakan salah satu hambatan seseorang untuk menyampaikan perasaan, kemampuan serta hal-hal lain yang menyangkup pesan verbal. “Bencana/malapetaka selalu datang” yaitu Mental Block rentan terhadap kritik atau terhadap situasi emosional atau mudah merasa terancam.

Jenis-jenis Mental Block

Berdasarkan kurun waktu terjadinya, Mental Block terbagi atas 3 jenis yakni :

  1. Mental Block yang terjadi karena pengalaman masa lalu dan diletakkan dimasa lalu

  2. Mental Block yang terjadi karena pengalaman masa lalu dan diletakkan dimasa depan

Menurut Robert Dilts (1990) mengatakan bahwa berdasarkan kadar psikologi seseorang akibat kurangnya rasa tidak percaya diri terhadap diri sendiri, Mental Block dibagi atas 3 jenis yakni :

  1. Tidak Ada Harapan ( Hopelessness )

Ini terjadi jika seseorang tersebut tidak ada harapan untuk impian dia maka orang tersebut menjadi tidak ada harapan lagi.

  1. Ketidakberdayaan ( Helplessness )

Ini terjadi karena seseorang merasa bahwa dirinya tidak lebih baik daripada orang lain. Merasa tidak berdaya walaupun orang lain bisa melakukannya.

  1. Tidak Berharga ( Worthlessness )

Ini terjadi jika orang merasa bahwa hal itu memang mungkin dilakukan dan bisa dilakukan, hanya dirinya merasa tidak pantas dan tidak layak.

Faktor terjadinya Mental Block

Berkaitan dengan faktor terjadinya Mental Block, secara umum peneliti melihat bahwa faktor yang terjadi terbagi menjadi dua faktor yakni :

1. Traumatik

Trauma sering dijadikan alasan seseorang dalam melakukan suatu hal dalam masa depan. Trauma tidak saja terjadi akibat pengalaman masa lalu.

2. Respon Negatif

Mental Block seseorang tidak hanya terjadi akibat traumatik namun terkadang ada seseorang pemberani ketahanan mental yang kuat karena pembentukan karakter yang baik dari keluarga.

Penanganan Mental Block

Secara teori penanganan Mental Block terbagi atas beberapa cara yakni :

1. Terapi Kognitif ( Cognitive Therapy )

Premis dasar terapi kognitif adalah cara individu merasa atau berperilaku sebagian besar ditentukan oleh penilaian mereka terhadap peristiwa. Aaron Beck merupakan seorang psikiater, penemu dan pengembang terapi kognitif (CT).

2. Ego State Therapy

Terapi Ego State tersebut dapat dilakukan secara sadar dengan bantuan imajinasi yang sangat luar biasa. Pasalnya klien akan dituntut untuk membayangkan masalah yang mengakibatkan Mental Block yang ada dalam dirinya.

3. Rational Emotive Therapy

Terapi Rasional Emotif adalah terapi konseling yang berasumsi bahwa berpikir dan emosi bukan proses tetapi justru saling bertumpangtindih dan dalam prakteknya kedua hal tersebut saling berkaitan.

4. Terapi Hipnosis ( Hypnotheraphy )

Hipnosis adalah penembusan faktor kritis pikiran sadar diikuti dengan diterimanya suatu pemikiran atau sugerti tertentu.

5. Positive Journal Inventory

Membuat Journal Positive Inventory bisa dilakukan dengan menulis dibuku dengan bentuk dan dibuat garis seperti huruf T. Membuat journal tersebut membantu seseorang untuk melihat seberapa positif atau negatif dalam melihat hari-hari yang sudah dilalui.

6. Visualisasi

Visualisasi merupakan mencari tahu apa saja Mental Block seseorang serta ditulis dikertas dan digantikan dengan menuliskan kata gantinya dengan kalimat positif dan ditambahkan dengan kalimat “karena” lalu buat alasannya.

7. Meta Mind State

Meta Mind State adalah terapi imajinasi dimana klien akan mengimajinasikan Mental Block dalam bentuk nyata yang ada ditangan klien tersebut lalu memberikan sugesti untuk tidak akan mengingat Mental Block tersebut serta berjanji akan berubah untuk kehidupan yang lebih baik.

8. Eye Movement Integration

Terapi ini adalah sebuah teknik yang juga sangat baik dan sangat cepat dalam membersihkan Mental Block. Cara melakukannya adalah dengan membuat kotak dari tempat anda berdiri hingga kedepan.

Mental block, terdiri dari dua kata dalam bahasa Inggris ‘mental’ dan ‘block.’ ‘Mental’ adalah sesuatu yang berkaitan dengan keadaan psikologis manusia, sedangkan ‘block’ mempunyai arti sesuatu yang menghalangi, menghambat, atau merintangi. Dari pengertian kata per kata tersebut secara singkat bisa dikatakan bahwa mental block merupakan penghambat psikologis manusia.

Mental block ini juga merupakan salah satu faktor yang paling dikambinghitamkan karena memberikan sumbangsih terbesar dalam merosotnya karakter dan budi pekerti luhur siswa-siwa Indonesia. Semua orang tahu bahwa karakter seseorang sangatlah ditentukan dari keadaan di alam bawah sadarnya (unconcious mind). Sebuah studi menyatakan bahwa alam bawah sadar mempunyai pengaruh sebesar 85 % terhadap kontrol diri manusia.

Mengatasi ‘mental block’ tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Metode konseling melalui guru BK yang sering ditemui di sekolah-sekolah pun dirasa kurang efektif. Hal ini disebabkan karena, metode konseling haruslah difasilitasi oleh seseorang yang benar-benar mengerti kepribadian siswanya. Jika tidak, siswa tidak akan merasa nyaman untuk mencurahkan permasalahannya kepada sang guru. Selain itu, metode ini hanya akan menjadi sia-sia bila tidak dibarengi dengan tindak lanjut dan koordinasi dari pihak orang tua siswa sendiri.