© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa yang dimaksud dengan kemandirian ?

Kemandirian

Kemandirian menunjukan adanya kepercayaan akan sebuah kemampuan diri dalam menyelesaikan masalah tanpa bantuan dari orang lain. Individu yang mandiri sebagai individu yang dapat menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapinya, mampu mengambil keputusan sendiri, mempunyai inisiatif dan kreatif, tanpa mengabaikan lingkungan disekitarnya.

Apa yang dimaksud dengan kemandirian ?

Dalam bahasa Inggris kemandirian mempunyai dua istilah penyebuatan yaitu independence dan autonomy.

Steinberg mengatakan autonomy mempunyai arti berpikir, merasa dan membuat keputusan yang dibuat oleh diri sendiri, bukan dari kepercayaan orang lain (Russell & Bakken, 2002).

Independence (kemandirian) menurut Otto Rank adalah pembebasan kehendak dari kekuatan-kekuatan dari dalam diri sendiri maupun dari lingkungannya (misalnya dari orangtua) yang selama ini mendominasi, pemilahan kepribadian antara kehendak dan kontrak-kehendak, dan integrasi antara kehendak dan kontrak-kehendak menjadi pribadi yang harmonis.

Perkembangan autonomy tidak berakhir setelah masa remaja. Sepanjang masa dewasa, autonomy terus berkembang setiap kali seseorang tertantang untuk bertindak dengan tingkatan baru dari kemandirian. Autonomy memiliki arti khusus selama tahun-tahun pra-remaja dan remaja karena menandakan bahwa remaja adalah orang independen yang unik dan mampu yang tidak terlalu tergantung pada orangtua dan orang dewasa lainnya (Ruseell & Bakken, 2002).

Berikut beberapa definisi kemandirian menurut beberapa ahli psikologi,

  • Kemandirian merupakan perilaku yang ditandai oleh adanya aktivitas sendiri, kepercayaan diri, inisiatif, dan tanggung jawab. Soetjiningsih (1993)

  • Kemandirian merupakan kepercayaan kepada diri sendiri ataupun perasaan otonomi pada diri sendiri. Wijayanti (2011)

  • Kemandirian (independency) merupakan perilaku yang aktivitasnya diarahkan oleh diri sendiri, tidak mengharapkan pengarahan dari orang lain, dan bahkan mencoba memecahkan atau menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa meminta bantuan kepada orang lain. Bhatia (1977)

Kemandirian seorang individu dapat dilihat dari beberapa sisi, menurut Barnadib, antara lain :

  • Mampu mengambil keputusan
  • Memiliki kepercayaan diri dalam mengerjakan tugas-tugasnya
  • Bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya

Aspek-Aspek Kemandirian


Menurut Soetjiningsih (1993), terdapat empat aspek tentang kemandirian, yaitu :

  • Aktivitas sendiri

    Aspek ini ditunjukkan dari tindakan yang dilakukan atas dorongan diri sendiri, bukan karena dorongan atau tergantung orang lain. Di samping itu, mampu mengendalikan tindakan-tindakannya sendiri dan mampu mengatasi sendiri masalah yang dihadapi.

  • Kepercayaan diri

    Aspek ini mencakup rasa percaya terhadap kemampuan diri sendiri, penerimaan diri, dan memperoleh kepuasan dari usaha yang telah dilakukan.

  • Inisiatif

    Aspek ini mencakup adanya kemampuan untuk bertindak secara orisinil, kreatif, eksploratif, penuh gagasan, dan mampu mengembangkan sikap kritis.

  • Tanggung jawab

    Aspek ini ditunjukkan dari adanya keinginan untuk maju, adanya usaha mengejar prestasi dan tujuan secara bersungguh-sungguh, ulet, penuh ketekunan, dan berani menanggung resiko atas tindakan-tindakan yang telah diambil.

Disisi lain Steinberg (Russell & Bakken,2002) menjelaskan tiga tipe autonomy, yaitu :

  • Emotional Autonomy

    Emotional Autonomy berkaitan denganemosi, perasaan pribadi dan bagaimana kita berhubungan dengan orang-orang di sekitar kita. Selama awal masa remaja, remaja menjadi lebih terlibat dalam hubungan dengan teman-teman. Pada masa remaja akhir, remaja lebih mandiri dan tidak bergantung pada orang tua atau teman sebaya.

  • Behavioral Autonomy

    Behavioral autonomy berhubungan dengan perilaku. Hal ini mengacu pada kemampuan untuk membuat keputusan secara independen dan untuk menindaklanjuti keputusan tersebut dengan tindakan. Sebagai anak muda, gaya berpikir mereka juga tumbuh dan berubah. Mereka menyadari ada banyak cara untuk melihat situasi apa pun, mulai mencari nasihat dari orang lain dan mampu membandingkan satu pilihan dengan pilihan yang lain. Mereka belajar bahwa setiap orang memiliki bias mereka sendiri, dan mereka mulai merasa lebih percaya diri dalam kemampuan mereka untuk mengambil keputusan.

  • Value Autonomy

    Value autonomy berarti memiliki sikap independen dan keyakinan tentang spiritualitas, politik, dan moral. Kemampuan remaja untuk berpikir secara abstrak membantu mereka melihat perbedaan antara situasi umum dan khusus, dan untuk membuat penilaian menggunakan pemikiran tingkat tinggi. Pengembangan otonomi nilai berarti remaja meluangkan waktu untuk mempertimbangkan tata nilai pribadinya. Dengan cara ini, remaja mencapai kesimpulan independen merekasendiri tentang nilai-nilai teori, bukan hanya menerima nilai-nilai teori dari teman atau nilai-nilai yang ditanam untuk mengikuti.

Kata kemandirian berasal dari kata dasar diri yang mendapat awalan ke dan akhiran an yang kemudian membentuk suatu kata keadaan atau kata benda. Karena kemandirian berasal dari kata dasar diri, maka pembahasan mengenai kemandirian tidak dapat dilepaskan dari pembahasan diri itu sendiri, yang dalam konsep Rogers disebut dengan istilah self karena diri itu merupakan inti dari kemandirian (Asrori & Ali, 2011: 109).

Steinberg (dalam Damayanti & Ibrahim, 2011: 155) Kemandirian merupakan kemampuan individu dalam mengelola dirinya, ditandai dengan tidak tergantung pada dukungan emosional orang lain terutama orangtua, mampu mengambil keputusan secara mandiri dan konsekuen terhadap keputusan tersebut, serta memiliki seperangkat perinsip tentang benar dan salah, penting dan tidak penting.

Mu’tadin (dalam Widiantari, 2010: 4) mengatakan bahwa mandiri atau sering juga disebut berdiri di atas kaki sendiri merupakan kemampuan seseorang untuk tidak tergantung pada orang lain serta bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya. Selain itu menurut Mutadin, kemandirian merupakan suatu sikap individu yang diperoleh secara kumulatif selama perkembangan, dimana individu akan terus belajar untuk bersikap mandiri dalam menghadapi berbagai situasi di lingkungan, sehingga individu pada akhirnya akan mampu berpikir dan bertindak sendiri.

Erickson (dalam Desmita, 2010: 185) mengatakan bahwa kemandirian adalah usaha untuk melepaskan diri dari orangtua dengan maksud untuk menemukan dirinya melalui proses pencarian identitas ego, yaitu merupakan perkembangan ke arah individualitas yang mantap dan berdiri sendiri. Kemandirian biasanya ditandai dengan kemampuan menentukan nasib sendiri, kreatif dan inisiatif, mengatur tingkah laku, bertanggung jawab, mampu menahan diri, membuat keputusan-keputusan sendiri, serta mampu mengatasi masalah tanpa ada pengaruh dari orang lain.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kemandirian


Kemandirian bukanlah merupakan pembawaan yang melekat pada diri individu sejak lahir. Perkembangannya juga dipengaruhi oleh berbagai stimulasi yang datang dari lingkungannya, selain potensi yang telah dimiliki sejak lahir sebagai keturunan dari orangtuanya. Menurut Hurlock (dalam Menuk, 2009: 15- 16) adapun faktor-faktor yang mempengaruhi kemandirian adalah sebagai berikut:

  • Keluarga
    Keluarga merupakan lingkungan pertama dan yang paling utama dalam melakukan interaksi sosialnya. Selain itu melalui keluargalah, remaja secara perlahan-lahan dapat membentuk kemandirian dalam dirinya. Faktor yang mempengaruhi dalam lingkungan keluarga, seperti perlakuan orangtua (ayah dan ibu) terhadap anak, jumlah saudara, urutan anak dalam keluarga, dan tingkat pendidikan orangtua.

  • Sekolah
    Sekolah merupakan lingkungan selanjutnya setelah keluarga, dimana anak yang sudah cukup umur akan lebih banyak menghabiskan waktu seharian di sekolah, bergaul dengan teman-teman sebayanya sehingga remaja dapat belajar menjadi lebih mandiri. Faktor yang mempengaruhi dalam lingkungan sekolah, seperti perlakuan guru, dan hubungan dengan teman-teman sebaya.

  • Media komunikasi massa
    Melalui media massa, remaja dapat menjadi lebih cepat mandiri, karena dari media massa dapat diperoleh segala macam informasi. Misalnya: koran, majalah, dan televisi.

  • Agama
    Agama juga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kemandirian. Misalnya: sikap terhadap agama yang terlalu kuat, dimana remaja dapat menjadi mandiri melalui sikapnya yang sangat kuat terhadap agama yang dianutnya, sehingga remaja tersebut tidak gampang untuk terpengaruh oleh orang lain dan memiliki keyakinan yang kuat pada agama yang dianutnya.

  • Pekerjaan atau tugas yang menuntut sikap pribadi tertentu
    Ketika remaja dihadapkan oleh beberapa pekerjaan ataupun tugas-tugas, secara tidak langsung dapat mempengaruhi kemandiriannya, dimana remaja tersebut dituntut untuk lebih bertanggung jawab dalam menyelesaikan semua pekerjaan dan tugasnya tanpa bantuan dari orang lain.

Kemandirian berasal dari kata “ independence ” yang diartikan sebagai suatu kondisi dimana seseorang tidak tergantung kepada orang lain dalam menentukan keputusan dan adanya sikap percaya diri (Chaplin, 1996). Kemandirian ( self-reliance ) adalah kemampuan untuk mengelola semua yang dimilikinya sendiri yaitu mengetahui bagaimana mengelola waktu, berjalan dan berfikir secara mandiri, disertai dengan kemampuan dalam mengambil resiko dan memecahkan masalah. Dengan kemandirian tidak ada kebutuhan untuk mendapat persetujuan orang lain ketika hendak melangkah menentukan sesuatu yang baru. Individu yang mandiri tidak dibutuhkan yang detail dan terus menerus tentang bagaimana mencapai produk akhir, ia bisa berstandar pada diri sendiri. Kemandirian berkenaan dengan pribadi yang mandiri, kreatif dan mampu berdiri sendiri yaitu memiliki kepercayaan diri yang bisa membuat seseorang mampu sebagai individu untuk beradaptasi dan mengurus segala hal dengan dirinya sendiri (Parker, 2006).

Menurut Erikson kemandirian adalah usaha untuk melepaskan diri dari orang tua dengan maksud untuk melepaskan dirinya dengan proses mencari identitas ego yaitu perkembangan kearah individualitas yang mantap untuk berdiri sendiri (dalam Monks, 2006). Menurut Gea (2002) mandiri adalah kemampuan seseorang untuk mewujudkan keinginan dan kebutuhan hidupnya dengan kekuatan sendiri.

Parker juga bependapat bahwa kemandirian juga berarti adanya kepercayaan terhadap ide-ide diri sendiri. Kemandirian berkenaan dengan menyelesaikan sesuatu hal sampai tuntas. Kemandirian berkenaan dengan hal yang dimilikinya tingkat kompetensi fisikal tertentu sehingga hilangnya kekuatan atau koordinasi tidak akan pernah terjadi ditengah upaya seseorang mencapai sasaran. Kemandirian berarti tidak adanya keragu-raguan dalam menetapkan tujuan dan tidak dibatasi oleh kekuatan akan kegagalan (Parker, 2006, hlm: 226).

Tahap-tahap Kemandirian


Menurut Parker tahap-tahap kemandirian bisa digambarkan sebagai berikut (dalam Qomariyah, 2011) :

  • Tahap Pertama, Mengatur kehidupan dan diri mereka sendiri.
    Misalnya: makan, kekamar mandi, mencuci, membersihkan gigi, memakai pakaian dan lain sebagainya.
  • Tahap Kedua, Melaksanakan gagasan-gagasan mereka sendiri dan menetukan arah permainan mereka sendiri.
  • Tahap Ketiga, Mengurus hal-hal didalam rumah dan bertanggung jawab terhadap:
    • Sejumlah pekerjaan rumah tangga, misal: menjaga kamarnya tetap rapi, meletakkan pakaian kotor pada tempat pakaian kotor, dsb
    • Mengatur bagaimana menyenangkan dan menghibur dirinya sendiri dalam alur yang diperkenankan.
    • Mengelola uang saku sendiri: pada masa anak ini harus kesempatan untuk mengatur uangnya sendiri seperti membelanjakan seperti yang diinginkan.
  • Tahap Keempat, Mengatur dirinya sendiri diluar rumah, misalnya: di sekolah, di masyarakat, dsb
  • Tahap Kelima, Mengurus orang lain baik didalam maupun diluar rumah, misalnya menjaga saudara ketika orang tua sedang diluar rumah.