© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa yang dimaksud dengan evaluasi pembelajaran?

Belajar

Belajar adalah suatu perubahan dalam diri individu sebagai hasil interaksi lingkungannya untuk memenuhi kebutuhan dan menjadikannya lebih mampu melestarikan lingkungan secara memadai.

Evaluasi merupakan bagian integral dari seluruh proses pembelajaran. Evaluasi merupakan suatu tahap yang mesti dilewati atau dilakukan. Ia adalah proses penentuan kesesuaian pembelajaran dan tujuan serta target belajar.

Evaluasi pembelajaran adalah suatu proses atau kegiatan untuk mengetahui apakah media yang digunakan dalam proses belajar-mengajar tersebut dapat mencapai tujuan yang telah ditetapkan atau tidak. Mengevaluasi pembelajaran berarti mengkonfrontir kembali antara fungsi dan prinsip dengan hasil yang dicapai dalam pembelajaran. Fungsi utama evaluasi adalah menelaah suatu objek atau keadaan untuk mendapatkan informasi yang tepat sebagai dasar untuk pengambilan keputusan.

Kriteria Evaluasi Pembelajaran


Walker dan Hess memberikan kriteria dalam, me-review pembelajaran yang berdasarkan pada kualitas, antara lain:

Kualitas isi dan tujuan

  • Ketepatan
  • Kepentingan
  • Kelengkapan
  • Keseimbangan
  • Minat atau perhatian
  • Keadilan
  • Kesesuaian dengan situasi peserta didik

Kualitas pembelajaran

  • Memberikan kesempatan belajar
  • Memberikan bantuan untuk belajar
  • Kualitas memotivasi
  • Fleksibilitas pembelajarannya
  • Kualitas tes dan penilaiannya
  • Dapat memberi dampak bagi peserta didik
  • Dapat membawa dampak bagi guru dan pembelajarannya

Model-Model Evaluasi


Untuk evaluasi program atau suatu kegiatan pembelajaran, terdapat beberapa model evaluasi yang dikemukakan oleh para ahli, antara lain :

  • Formatif-Sumatif Evaluation Model
    Model ini dikembangkan oleh Scriven, evaluasi formatif digunakan untuk memperoleh informasi yang dapat membantu memperbaiki program. Evaluasi ini dilakukan ketika program masih berlangsung atau ketika program masih dekat dengan permulaan program. Tujuan evaluasi formatif adalah untuk mengetahui sejauh mana program yang dirancang dapat berlangsung sekaligus mengidentifkasi hambatan. Evaluasi sumatif digunakan untuk menilai kegunaan suatu objek. Evaluasi ini dilaksanakan setelah program berakhir. Tujuan evaluasi sumatif adalah untuk mengukur ketercapaian program.

    Kelebihan dari model evaluasi ini adalah bahwa evaluasi dilaksanakan secara on going evaluation, terutama dalam evaluasi formatif, sehingga selalu ada perbaikan-perbaikan dalam dalam proses pelaksanaan program. Dengan demikian, peluang tercapainya tujuan program akan lebih besar karena adanya upaya-upaya perbaikan tersebut.

    Sedangkan kelemahannya adalah bahwa yang dievaluasi terutama pada program pembelajaran hanya menyangkut hal-hal yang secara terperinci tercantum dalam tujuan seperti standar kompetensi dan kompetensi dasar, sedangkan yang hidden atau tersembunyi bukan menjadi wilayah kajian evaluasi ini.

  • Model Evaluasi CIPP ( Context, Input, Process, Product)
    Model evaluasi CIPP dikembangkan oleh Stufflebeam. Konsep dasar dari model evaluasi CIPP adalah melakukan evaluasi terhadap: context (konteks), input (masukan) , process (proses) dan product (hasil).

    Evaluasi konteks membantu dalam mengembankan tujuan sebuah program. Evaluasi input membantu dalam penyiapan program. Evaluasi proses digunakan untuk menunjukkan pelaksanaan program, dan evaluasi produk merupakan evaluasi terhadap out put sebagai bahan kajian pengambilan kebijakan terhadap program yang sedang dijalankan. Evaluasi model ini sangat tepat untuk mengevaluasi efektivitas pelaksanaan sebuah program.

    The CIPP model emphasizes that evaluations most important purpose is not to prove, but to improve an idea originally put forward. evaluation is thus conceived primarily as a functional activity oriented in the long run to stimulating, aiding, and abetting efforts to strengthen and improve enterprises.

    Model CIPP memiliki beberapa kelebihan antara lain: lebih komprehensif, karena objek evaluasi tidak hanya pada hasil semata tetapi juga mencakup konteks, masukan (i nput ), proses, maupun hasil. Selain memiliki kelebihan model CIPP juga memiliki kerbatasan, antara lain penerapan model ini dalam bidang program pembelajaran di kelas mempunyai tingkat keterlaksanaan yang kurang tinggi jika tanpa adanya modifikasi. Hal ini dapat terjadi karena. untuk mengukur konteks, masukan maupun hasil dalam arti yang luar akan melibatkan banyak pihak.

    Secara Ringkas model evaluasi CIPP ini dapat digambarkan sebagai berikut:

    Model Evaluasi CIPP
    Gambar Model Evaluasi CIPP

  • CSE-UCLA Evaluation Model
    Model evaluasi ini dikembangkan oelh Centre for the Study of Evaluation di University of California in Los Angeles. Ciri model ini adalah adanya lima tahap yang dilakukan dalam evaluai, yaitu perencanaan, pengembangan, implementasi, hasil dan dampak. Kelebihan dari model evaluasi ini adalah dapat dengan detail mengevaluasi suatu program pengembangan. Namun, kelemahannya adalah membutuhkan biaya dan waktu yang banyak.

  • Countenance Evaluation Model
    Model ini dikembangkan oleh Stake Kaufman. Model ini menekankan adanya dua dasar kegiatan dalam evaluasi yaitu pada deskripsi ( description ) dan pertimbangan ( judgement ). Menurut Stake model ini dibagi atas tiga fase, yaitu: antecedents ( context ) atau periode sebelum program dilaksanakan, transaction- processes yaitu proses atau transaksi, dan keluaran atau hasil ( output, outcomes ).

    Pada model ini, data tentang input ( antecedents ), proses ( transaction ) dan produk ( output & outcomes ) tidak hanya dibandingkan untuk menetukan kesenjangan antara yang diperoleh dengan yang diharapkan, tetapi juga dibandingkan dengan standar yang mutlak agar diketahui dengan jelas kemanfaatan suatu program.

  • Goal Oriented Evaluation Model
    Goal Oriented Evaluation model ini merupakan model yang muncul paling awal. Objek pengamatan pada model ini adalah tujuan dari program yang sudah ditetapkan jauh sebelum program dimulai. Evaluasi tersebut sudah terlaksana di dalam pelaksanaan program.

  • Discrepancy Model
    Evaluasi model Discrepancy dikembangkan oleh Malcom Provus. Model ini menekankan pada pandangan adanya kesenjangan didalam melaksanakan program. Mengukur adanya perbedaan antara yang seharusnya dicapai dengan yang sudah riil dicapai. Hasil evaluasi digunakan oleh pengambil kebijakan tentang program yang telah dilaksanakan atau ditingkatkan, dilanjutkan, atau bahkan dihentikan.

  • Free Goal Oriented Evaluation Model
    Model ini dikembangkan oleh Michael Scriven. Evaluasi model ini dapat membantu seorang evaluator melihat kegagalan mencapai sebuah program serta mencari efek yang kurang mendukung objektivitas pengembangan program itu. Keunggulan model evaluasi bebas tujuan adalah: lebih mudah menyesuaikan dengan perubahan tujuan, lebih baik dalam mengenal efek samping yang ditimbulkan, kemungkinan terjadinya bisa dalam evaluasi kecil, lebih profesional.

Referensi :

  • Donna M. Mertens, Evaluation theory and Practice (United States of America: The Guilford Press, 2012).
  • Marvin C.Alkin, Evaluation Roots: Tracing Theorist’s Views and Influences( India: Sage Publication, 2004).

Evaluasi pembelajaran adalah suatu proses atau kegiatan untuk menentukan nilai, kriteria judgment atau tindakan dalam pembelajaran. Sedangkan penilaian dalam pembelajaran ialah suatu usaha untuk mendapatkan berbagai informasi secara berkala, berkesinambungan, serta menyeluruh tentang proses dan hasil dari perkembangan yang telah dicapai oleh siswa melalui program kegiatan belajar. Sementara itu, pengukuran merupakan suatu proses atau kegiatan untuk menentukan kuantitas sesuatu yang bersifat numerik.

Menurut pakar evaluasi, Dr. Basrowi, tujuan evaluasi pada dasarnya digolongkan ke dalam empat kategori berikut:

  1. Memberikan umpan balik terhadap proses belajar mengajar dan mengadakan program perbaikan bagi siswa.

  2. Menentukan angka kemajuan masing- masing siswa yang antara lain dipakai sebagai pemberian laporan kepada orang tua.

  3. Penentuan kenaikan tingkat atau status, dan lulus tidaknya.

  4. Menempatkan siswa dalam situasi belajar mengajar yang tepat, misalnya dalam penentuan program studi atau jurusan dengan tingkat kemampuan dan karakteristik lain.

Fungsi evaluasi di dalam pendidikan tidak dapat dilepaskan dari tujuan evaluasi itu sendiri. Evaluasi sebagai suatu tindakan atau proses, secara umum memiliki tiga fungsi pokok, yaitu mengukur kemajuan, menunjang penyusunan rencana, dan memperbaiki atau melakukan penyempurnaan kembali.

Atau fungsi evaluasi secara umum, lebih rincinya adalah sebagai berikut:

  • Untuk mengetahui kemajuan dan perkembangan serta keberhasilan siswa setelah mengalami atau melakukan kegiatan belajar selama jangka waktu tertentu.

  • Untuk mengetahui tingkat keberhasilan program pengajaran.

  • Untuk keperluan Bimibingan dan Konseling (BK).

  • Untuk keperluan pengembangan dan perbaikan kurikulum sekolah yang bersangkutan.

Secara khusus fungsi evaluasi dalam dunia pendidikan dapat dilihat dari beberapa segi, yakni :

1. Fungsi Psikologis

Kegiatan evaluasi dapat dilihat dari sisi pendidik/ guru, dan peserta didik/ siswa. Bagi siswa, evaluasi secara psikologis akan memberikan pedoman atau pegangan batin bagi mereka untuk mengenal kapasitas dan statusnya di tengah- tengah kelompok atau kelasnya. Misalnya, dengan dilakukannya evaluasi hasil belajar siswa, maka para siswa akan mengetahui dirinya termasuk dalam kelompok berkemampuan tinggi, rata- rata, atau rendah. Sedangkan bagi guru, secara psikologis evaluasi dapat menjadi pedoman dalam menentukan berbagai langkah yang dipandang perlu dilakukan selanjutnya, misalnya menggunakan metode mengajar tertentu, hasil belajar siswa menunjukkan peningkatan.

2. Fungsi Sosiologis

valuasi berfungsi untuk mengetahui apakah siswa sudah cukup mampu untuk terjun ke masyarakat. Mampu disiniberarti bahwa siswa dapat berkomunikasi dan beradaptasi terhadap seluruh lapisan masyarakat.

3. Fungsi Didaktik-Metodis

Bagi siswa evaluasi dapat memberikan motivasi untuk memperbaiki, meningkatkan, dan mempertahankan prestasi siswa. Bagi guru, evaluasi berfungsi untuk membantu guru dalam menempatkan siswa pada kelompok tertentu sesuai dengan kemampuan dan kecakapannya masing- masing serta membantu guru dalam usaha memperbaiki proses pembelajarannya.

4. Fungsi Administratif

Evaluasi berfungsi untuk memberikan laporan tentang kemajuan siswa kepada orang tua, pejabat pemerintah yang berwenang, kepala sekolah, guru- guru, dan siswa itu sendiri, memberikan berbagai bahan keterangan (data),dan memberikan gambaran secara umum tentang semua hasil usaha yang dilakukan oleh instutisi pendidikan.

5. Fungsi Selektif

Evaluasi berfungsi untuk:

  • Untuk memilih siswa yang dapat diterima di sekolah tertentu.

  • Untuk memilih siswa yang dapat naik kelas atau tingkat berikutnya.

  • Untuk memilih siswa yang seharusnya mendapat beasiswa.

  • Untuk memilih siswa yang sudah berhak meninggalkan sekolah, dan sebagainya.

Lebih jauh, Wina Sanjaya mengemukakan beberapa fungsi evaluasi, yaitu:

  • Sebagai umpan balik bagi siswa.

  • Untuk mengetahui proses ketercapaian siswa dalam menguasai tujuan yang telah dicapai.

  • Memberikan informasi untuk mengembangkan program kurikulum.

  • Digunakan oleh siswa untuk mengambil keputusan secara individual, khususnya dalam menentukan masa depan sehubungan dengan pemilihan bidang pekerjaan.

  • Menentukan kejelasan tujuan khusus yang ingin dicapai oleh para pengembang kurikulum.

  • Umpan balik untuk semua pihak yang berkepentingan dengan pendidikan di sekolah.