Apa yang anda ketahui tentang tokoh Rajapatni Dyah Gayatri ?

raja_nusantara

(Annisa Maulida Zahro) #1

Sosok tokoh Gayatri ini banyak dikenal namun tidak banyak sumber sejarah yang mencatat nama maupun aktifitasnya. Gayatri dikenal sebagai salah satu putri Kertanegara raja Singhasari terakhir. Tidak banyak sumber yang menceritakan tentang biografinya ketika menjadi putri Singhasari.

Putri Kertanegara yang dikenal menjadi istri dari penguasa pertama Majapahit ada 4 orang, yaitu Sri Parameswari Tribuaneswari, Sri Mahadewi Narendraduhita, Sri Jayendradewi Prajnaparamita, dan Sri Rajendradewi Gayatri.

Ada perbedaan menarik mengenai istri Wijaya. Pararaton dan Kidung mengisahkan hanya 2 putri saja yang menjadi istrinya sedangkan Prasasti Sukamrta (1296 M), Prasasti Balawi (1305 M), dan Nagarakretagama menyebutkan 4 istri Wijaya adalah putri Kertanegara.

Silsilah raja Singhasari dan Majapahit yang ternaung dalam pohon dinasti Girindra-rajasa wangsa dapat diperoleh melalui penuturan Nagarakartagama dan Prasasti Mula-Malurung (1255 M). Penemuan prasasti Mula-Malurung semakin memperjelas silsilah raja-raja Singhasari sebagai pendahulu raja-raja Majapahit.

Sumber lain selama ini hanya Pararaton dan Nagarakartagama. Informasi yang diberikan oleh prasasti Mula-Malurung banyak yang memperkuat atau bahkan memperjelas kisah dalam Pararaton, karena tidak semua hal kisah dalam Pararton tergambarkan dengan jelas dan justru beberapa menimbulkan pertanyaan.

Silsilah raja-raja Singhasari menunjukkan bahwa semua cabang dalam keluarga ini pernah memerintah dalam tahta Singhasari. Hal yang menarik bahwa politik perkawinan selain sebagai upaya konsolidasi dan meredam suksesi juga dapat berakibat berlawanan, yaitu penuntutan hak atas tahta. Sebagai contoh adalah tokoh Jayakatwang raja bawahan di Kadiri, ia adalah keturunan dari raja-raja Kadiri dari ayahnya yaitu Sastrajaya, dari pihak ibunya dia adalah keturunan Singhasari, karena ibunya adalah saudara perempuan Wisnuwardhana, jadi masih sepupu dengan Kretanagara. Selain itu ia adalah ipar sekaligus besan Kretanegara karena istrinya adalah saudara Kretanegara dan anaknya adalah menantu Kretanegara.

Sekarang yang menjadi pertanyaan siapakah calon yang dipersiapkan oleh Kertanegara sebagai penggantinya. Baik Pararaton, Nagarakartagama maupun Prasasti Mula-Malurung tidak memperlihatkan hal tersebut.

Jika Kretanegara tidak memiliki seorang putra mahkota maka putri-putrinyalah yang mewarisi tahta. Mungkin saja Wijaya yang keponakan Kertanegara dan mewarisi tahta dari jalur ayah dan kakeknya dianggap pantas menerima hak waris tersebut. Jika benar R. Wijaya awalnya hanya menikahi 2 putri Singhasari kemungkinan besar adalah si sulung Tribhuaneswari (yang mungkin mewarisi tahta) dan Gayatri (yang mungkin sudah diperistri dahulu jika meng- ingat ia yang diangkat sebagai Rajatpatni). Tetapi ini perlu penelaahan lebih lanjut.

Gayatri seorang Rajapatni

Gelar Rajapatni disematkan kepada Gayatri sungguh sebuah tanda tanya besar, seberapa penting kedudukannya dalam istana Majapahit. Rajapatni adalah gelar yang berarti istri utama raja, sekarang apa bedanya dengan prameswari yang disandang oleh Tribhuaneswari. Prameswari adalah kedudukan utama sebagai penghormatan istri utama yang tertua (usia) sedangkan Rajapatni justru mungkin sebagai bupati estri yaitu pemimpin para wanita utama di istana Majapahit, dan mungkin juga adalah istri kesayangan raja, jika mengingat kemungkinan ia adalah istri awal raja.

Model bupati estri ini masih nampak pada keraton-keraton di Jawa hingga sekarang, jabatan ini menempatkan yang bersangkutan semacam patih yang mengurus semua urusan dalam istana. Kedudukannya sangat terhormat, kuat dan menentukan.

Tahta atas Majapahit jatuh pada tangan Jayanegara putra Wijaya dengan Tribhuneswari (hal ini diperkuat oleh prasasti Sukamerta dan Balawi), karena Jayanegara tidak mempunyai anak, maka tahta jatuh pada adik tirinya, yaitu Tribhuwanadewi putri Gayatri.

Ada pendapat yang menyatakan bahwa Gayatri yang memperoleh hak atas tahta karena ungkapan mangkamangalya atau memerintah atas namanya ketika Tribhuwanadewi naik tahta. Pendapat tersebut menerangkan bahwa Gayatri sebagai istri utama raja pendahulu berhak atas tahta namun karena sudah menjadi bhiksuni Buddhis maka menyerahkan tahtanya pada sang putri, sehingga ia memerintah atas nama ibunya. Setelah sang ibu wafat, maka Tribhuwanadewi menyerahkan tahta pada anaknya sang Hayam Wuruk pada tahun 1350.

Dalam kasus Wijaya-Jayanegara, Boechari menentang pendapat tersebut karena tidak lazim tahta diberikan pada istrinya (Gayatri), biasanya jika seorang raja mangkat tanpa pengganti maka adiknyanyalah yang akan meneruskan tahtanya.

Gayatri dan Masa Akhirnya

Kehidupan dan peranan Gayatri dalam masa akhir hidupnya tidak banyak diberitakan baik oleh prasasti maupun naskah. Mungkin saja peranan beliau sangat besar seperti yang dicoba gambarkan Prof. Drake. Yang jelas ketika ia hidup, suaminya adalah raja Majapahit dan ia adalah Rajapatni, istri utama. Dari rahimnya lahir dua putri, Tribhuwanadewi yang menjadi raja dan adiknya Rajadewi Maharajasa, keduanya menurunkan raja-raja Majapahit dan mungkin orang-orang terkemuka nusantara hingga sekarang.

Tribhuwana dan adiknya serta cucu-cucunya, seperti Hayam Wuruk, Rajaduhitecwari (adik Hayam Wuruk), Paduka Sori (istri Hayam Wuruk, putri Rajadewi) serta adiknya Rajaduhintendudewi berada dalam asuhannya, mungkin juga Gajahmada muda, sebagaimana halnya yang coba direkonstruksi oleh Prof. Drake dalam buku Gayatri.

Setelah meninggal diberitakan bahwa Gayatri dibuatkan arca Prajnaparamita di Prajnaparamitapuri dan didharmakan di Bhayalangu. Apakah Prajnaparamitapuri sama dengan Bhayalangu perlu pemikiran lebih lanjut, karena kita perlu cermat membaca “mwan taiki ri bhayalangӧ ngwanira san sri rajapatnin dinarma” Kata mwan taiki yang diartikan kemudian lagi sekarang apakah tidak menunjukkan bahwa selain Prajnaparamitapuri ada juga Bhayalangu sebagai tempat pendharmaan Gayatri setelah beliau mangkat dan dilakukan upacara sraddha sebagai peringatan kematiannya.

Mengenai arca Prajnaparamita, Munandar (2003) mengasumsikan dengan bagus bahwa arca Prajnaparamita yang berasal dari kompleks Candi Singosari justru pas jika diidentikkan dengan sosok Gayatri. Sedangkan Sidomulyo meragukan dan hampir pasti menolak menyamakan sudharma haji Bhayalango dengan Candi Bhayalango di Tulungagung karena berdasarkan letak kedudukan Bhayalango dalam rute perjalanan Hayam Wuruk yang dikisahkan pada Nagarakretagama justru harus dicari di antara Bangil dan Pasuruan.

Bagaimana menurut anda ?


Apa yang anda ketahui tentang Prabu Jayanagara, raja kedua Kerajaan Majapahit ?
Apa yang anda ketahui tentang Ratu Tribhuwana Wijayatunggadewi : Penguasa keempat kerajaan Majapahit ?
Apa yang anda ketahui tentang Raden Wijaya, Pendiri kerajaan Majapahit ?
Apa yang anda ketahui tentang Ratu Tribhuwana Wijayatunggadewi : Penguasa keempat kerajaan Majapahit ?
(Bhanu Wayan Mehrunisa) #2

NARASI SEJARAH RAJAPATNI DYAH GAYATRI

Tetapi Rajapatni Dyah Gayatri berbeda pandangan dengan Gajah Mada soal Adityawarman. Dalam pandangannya, Adityawarman adalah sosok yang sangat setia pada Majapahit dan sudah banyak berkorban untuk membesarkan Majapahit. Rajapatni Dyah Gayatri tidak setuju dengan keinginan Gajah Mada untuk menyingkirkan Adityawarman.

Rajapatni Dyah Gayatri adalah putri bungsu maharaja terahir Singasari Sri Kertanagara dari permaisuri Bajradewi. Bersama 3 kakak kandungnya, Rajapatni Dyah Gayatri menjadi permaisuri raden Wijaya, pendiri kerajaan Majapahit.

Dibanding ketiga kakaknya, Rajapatni Dyah Gayatri dikenal sebagai permaisuri raden Wijaya yang paling dikasihi. Hal itu terjadi karena pernikahannya dengan 4 putri Sri Kertanagara, raden Wijaya hanya memiliki keturunan dari Rajapatni Dyah Gayatri, yaitu dua orang putri bernama Dyah Gitarja dan Dyah Wiyat.

Meski demikian Rajapatni Dyah Gayatri bukan satu satunya permaisuri raden Wijaya yang memiliki keturunan. Raden Wijaya memiliki seorang putra bernama Sri Jayanagara dari perkawinannya dengan putri Malayu bernama Dara Petak.

Setelah raden Wijaya wafat, 1309M, tahta Majapahit diduduki Sri Jayanagara.

Dua putri Rajapatni Dyah Gayatri menjadi ratu di keraton bawahan Majapahit. Dyah Gitarja di Kahuripan dan Dyah Wiyat di Daha Kediri.

Peran besar Rajapatni Dyah Gayatri dalam panggung sejarah Majapahit secara nyata bermula ketika maharaja Majapahit Sri Jayanagara wafat, 1328M, akibat pemberontakan Ratanca. Jayanagara wafat tanpa meninggalkan keturunan. Majapahit tidak memiliki putra mahkota. Majapahit kosong kekuasaan. Dengan cepat Rajapatni Dyah Gayatri mengendalikan pemerintahan meredam segala pergolakan perebutan tahta.

Sebagai mantan permaisuri pendiri Majapahit dan sebagai putri maharaja Singasari Sri Kertanagara, Rajapatni Dyah Gayatri memiliki kedudukan sangat kuat didukung beberapa tokoh terkemuka seperti mahapatih Mpu Krewes dan tokoh muda Gajah Mada. Selain itu mendapat dukungan para pandita terutama Dharmadaksa Kasogatan Dang Acarya Kanakamuni.

Tetapi Rajapatni Dyah Gayatri cukup memahami bahwa dalam tradisi pararaja tanah Jawa, tidak pernah ada seorang Ibu Suri secara resmi naik tahta kerajaan.

Oleh karena itu Rajapatni Dyah Gayatri berniat menobatkan putri sulungnya sebagai maharani Majapahit karena dianggap paling berhak menduduki tahta.

Sebelum penobatan, Rajapatni Dyah Gayatri menggelar pernikahan bagi kedua putrinya. Dyah Gitarja menjadi permaisuri Kertawardhana dan Dyah Wiyat menjadi permaisuri Wijayarajasa.

Setelah menikahan dua putrinya, 1329M, Rajapatni Dyah Gayatri secara resmi menobatkan Dyah Gitarja sebagai maharani Majapahit bergelar Sri Tribhuwanatunggadewi Jayawisnuwardhani.

Rajapatni Dyah Gayatri juga menobatkan dua menantunya sebagai raja di keraton bawahan Majapahit. Kertawardhana sebagai raja di keraton Tumapel dan Wijayarajasa sebagai raja di keraton Wengker.

Setrategi politik perkawinan melalui dua putrinya dengan dua tokoh penting berdarah Singasari dan Majapahit semakin mengukuhkan dirinya sebagai sosok pemersatu.

Tahun 1329M, Tribhuwanatunggadewi mengeluarkan Prasasti Berumbung. Dalam prasasti ini yang menjadi mahapatih Majapahit adalah Mpu Krewes. Gajah Mada belum tercatat sebagai patih Daha.

Sekitar 1330M, Rajapatni Dyah Gayatri meninggalkan keraton Majapahit menuju Mandala Pacira [Goa Pasir desa Junjung Tulungagung] di selatan sungai Brantas karena ingin menjadi seorang Bhiksuni.

Meski demikian, Rajapatni Dyah Gayatri tidak berhenti memikirkan perkembangan Majapahit. Rajapatni Dyah Gayatri ingin Majapahit tumbuh sebagai kemaharajaan besar yang dihormati dunia.

Oleh karena itu, dari mandala Pacira di selatan sungai Brantas, Rajapatni Dyah Gayatri terus membimbing putri sulungnya. Ia senantiasa mencurahkan pikiran dan kebijaksanaannya untuk menjayakan Majapahit.

Kedudukan dan peran penting Rajapatni Dyah Gayatri dalam sejarah Majapahit, tersirat dari pemberitaan kakawin Negarakertagama dimana Prapanca menggambarkannya Bhatara Parama Bhagawati yang menjadi pelindung Majapahit terkemuka. Dalam Prasasti, Rajapatni Dyah Gayatri juga ditulis sebagai pembimbing atau pengawas maharani Tribhuwanatunggadewi Dyah Gitarja.

Berdasarkan Prasasti Palungan 1330M, Gajah Mada tercatat sebagai patih Daha. Berdasarkan Prasasti Tuhanyaru 1323M, yang menjadi patih Daha adalah Dyah Puruseswara. Tahun 1329M, Gajah Mada belum sebagai patih Daha. Dapat ditafsirkan Gajah Mada naik sebagai patih di keraton Daha menggantikan kedudukan Dyah Puruseswara antara tahun 1329M-1330M.

Karena Rajapatni Dyah Gayatri adalah pembimbing maharani Tribhuwanatunggadewi, kuat dugaan naiknya Gajah Mada sebagai patih Daha atas perintahnya.

Kakawin Negarakertagama memberitakan pada tahun 1331M terjadi perang Sadeng dan Keta. Serat Pararaton juga memberitakan perang Sadeng atau Pasadeng.

Kiranya mengetahui kabar kepergian Rajapatni Dyah Gayatri dari keraton, beberapa daerah berupaya melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit. Sadeng dan Keta melakukan perlawanan.

Tetapi semuanya berhasil dihancurkan pasukan Majapahit yang dipimpin Gajah Mada dan Tuhan Waruju [Adityawarman].

Serat Pararaton mengisahkan cukup panjang perang Sadeng yang juga diikuti Rakryan Kembar.

Berdasarkan Serat Pararaton, semua tokoh yang berjasa besar menghancurkan Sadeng, mendapat penghargaan. Kembar sebagai Menteri Araraman, Gajah Mada sebagai Angabehi, Lembu Peteng [Identik dengan Tuhan Waruju atau Adityawarman] sebagai menteri keraton berpangkat Tumenggung. Jaran Bhaya, Demang Bucang, Gagak Minge, Jenar, Jalu, Arya Rahu, semua mendapat kedudukan tinggi.

Pergolakan yang terjadi di daerah telah mengancam kesatuan Majapahit. Majapahit membutuhkan sosok kuat, berwawasan luas, dan sangat setia pada negara untuk menjaga kesatuan Majapahit dan terutama meneruskan gagasan penyatuan Nusantara yang pernah dilakukan Sri Kertanagara maharaja Singasari.

Berdasarkan pertimbangan itu, kiranya Rajapatni Dyah Gayatri memutuskan untuk mengganti Mahapatih Majapahit Mpu Krewes yang sudah sepuh. Pilihan itu jatuh kepada Gajah Mada. Sangat mungkin Rajapatni Dyah Gayatri mengetahui siapa sebenarnya Gajah Mada.

Terpilihnya Gajah Mada sebagai mahapatih Majapahit karena merupakan putra raden Wijaya dari isteri selir. Gajah Mada putra pendiri Majapahit.

Setelah mendapat amanat Rajapatni Dyah Gayatri, pada 1334M, Gajah Mada dinobatkan sebagai Mahapatih Amangkubhumi Majapahit oleh maharani Sri Tribhuwanatunggadewi.

Dalam upacara penobatan itu, Gajah Mada mengumandangkan Sumpah Palapa, bertekad menyatukan Nusantara sebagaimana amanat Rajapatni Dyah Gayatri.

Berdasarkan pemberitaan Serat Pararaton, Sumpah Palapa yang dikumandangkan Gajah Mada mendapat hinaan dari beberapa menteri seperti Kembar, Warak, dan Jabung Terewes. Bahkan Lembu Peteng [Adityawarman] ikut meremehkan Gajah Mada.

Rupa rupanya penobatan Gajah Mada sebagai Mahapatih Amangkubhumi Majapahit memunculkan pertikaian di kalangan Istana yang menyebabkan gugurnya beberapa tokoh seperti Kembar dan Warak ditangan Gajah Mada.

Meski mendapat halangan, Gajah Mada tetap teguh dalam sumpahnya, tetap berusaha mengemban amanat besar dari Rajapatni Dyah Gayatri untuk menyatukan Nusantara di bawah bendera Majapahit. Bersama Adityawarman, Gajah Mada giat melancarkan penaklukkan ke negeri negeri di Nusantara. Bhumi Malayu diserbu. Meski meraih banyak kemenangan, tetapi pasukan Gajah Mada sempat dipukul mundur pasukan dari kesultanan Samudera Pasai. Gajah Mada pulang ke Majapahit. Selanjutnya menggempur pulau Bali [1343M].

Setelah berhasil menaklukkan pulau Bali, nama Adityawarman semakin mashur karena kepahlawanannya dalam medan perang. Kegagahan Gajah Mada tenggelam oleh kepahlawanan Adityawarman.

Ini yang membuat gundah seorang Gajah Mada. Gajah Mada kawatir suatu saat Adityawarman mengambil alih kekuasaan Majapahit yang sedang dipegang Tribhuwanatunggadewi. Gajah Mada tau jika Adityawarman berdarah Singasari dan Malayu. Ibunya bernama Dara Jingga dan ayahnya adalah mahamentri hino Dyah Adwayabrahma, putra selir Sri Kertanagara.

Atas nama kejayaan Majapahit, Gajah Mada berniat menyingkirkan Adityawarman.

Tapi Gajah Mada tidak dapat secara leluasa menjalankan keinginannya karena di Majapahit masih ada sosok agung bernama Rajapatni Dyah Gayatri.

Gajah Mada kemudian menghadap Rajapatni Dyah Gayatri di Mandala Pacira.

Tetapi Rajapatni Dyah Gayatri berbeda pandangan dengan Gajah Mada soal Adityawarman. Dalam pandangannya, Adityawarman adalah sosok yang sangat setia pada Majapahit dan sudah banyak berkorban untuk membesarkan Majapahit. Rajapatni Dyah Gayatri tidak setuju dengan keinginan Gajah Mada untuk menyingkirkan Adityawarman.

Sampai ahirnya, untuk menyelesaikan konflik antara Gajah Mada dan Adityawarman, Rajapatni Dyah Gayatri memerintahkan kepada maharani Majapahit untuk menobatkan Adityawarman sebagai maharaja di Bhumi Malayu.

Pada tahun 1350M, Rajapatni Dyah Gayatri wafat di Mandala Pacira sebagai seorang biksuni Boddha

Sebelum wafat, Rajapatni Dyah Gayatri memberi amanat kepada Tribhuwanatunggadewi untuk menyerahkan tahta Majapahit kepada putra mahkota Hayam Wuruk.

Maharani Tribhuwanatunggadewi menjalankan amanat Rajapatni Dyah Gayatri, turun tahta menyerahkan kekuasaan Majapahit kepada Hayam Wuruk yang berusia 16 tahun [ lahir 1334M]. Dia sendiri kembali bersemayam di keraton Kahuripan menjadi pembimbing maharaja Majapahit.

Setelah dinobatkan sebagai maharaja Majapahit, Hayam Wuruk memerintahkan persiapan pembangunan candi pendharmaan untuk Rajapatni Dyah Gayatri. Daerah Boyolangu [Tulungagung] ditetapkan sebagai tempat pendarmaan itu. Tanahnya disucikan oleh pendita Sri Jinana Widhi.

Sebagaimana tercatat dalam Negarakertagama, pada tahun 1362M berlangsung upacara Sraddha mengenang 12 tahun wafatnya Rajapatni Dyah Gayatri. Pada perayaan itu sekaligus dilangsungkan penempatan abu jenazah Rajapatni Dyah Gayatri dan arca perwujudan bernama Pradjnaparamita sebagai penghormatan kepada Rajapatni Dyah Gayatri, perempuan Ardanareswari yang kewibawaan dan kebijaksanaannya mengayomi Majapahit.

Ditulis oleh : Siwi Sang


(Barrah Arawinda Roan) #3

Gayatri Rajapatni, Perempuan di Balik Kejayaan Majapahit karya Earl Drake

Tugas seorang bermoral adalah mengenali suatu tujuan yang mulia dan setia pada tujuan tersebut. [Gayatri Rajapatni]

Arak-arakan menyambut Pangeran Wijaya dan pasukannya memasuki batas kota, mereka disambut oleh para menteri Jayakatwang dan diantarkan ke Daha, ibukota Kediri. Sementara itu di bangsal perempuan Keraton Kediri, Gayatri yang mendengar kedatangan Pangeran Wijaya untuk menyerahkan diri; penasaran dengan rencana apa yang akan dilakukan oleh kakak iparnya. Ia menerobos kerumunan warga di bibir jalan dan berdiri di deretan depan menunggu lewatnya perarakan.

Pangeran Wijaya yang tampan melangkah gagah, mengedarkan pandangan menyapu ke segala penjuru hingga hinggap pada sepasang mata belia yang juga sedang memandanginya. Mata mereka beradu sepersekian detik hadirkan seulas senyum di bibir Pangeran Wijaya, kini ia yakin adik iparnya Putri Gayatri selamat dari pertikaian di Singhasari. Tanpa mereka sadari, sebuah harapan diam-diam terajut di antara dua hati. Harapan yang bangkitkan gairah seiring datangnya sebuah pesan yang disampaikan pengawal Pangeran Wijaya dan menggetarkan sanubari Gayatri seperti yang dituliskan kembali dalam buku hariannya:

“Katakan kepada Putri agar jangan putus asa. Kakak sulungnya selamat dan kini tinggal di penampungan sementara kami di Madura. Kita harus tetap tenang sampai bisa kembali membangun kekuatan dan merebut kembali kerajaan. Untuk saat ini, biarkan Putri Gayatri, tinggal di sini sampai kami bisa menyelamatkan dan membawanya ke pangkuan sang Pangeran”

Asa perlahan bersemi dalam diri Gayatri untuk membangun kembali cita-cita sang ayahanda mewujudkan sebuah kerajaan pemersatu Nusantara. Dyah Dewi Gayatri Kumara Rajassa, putri bungsu dari empat orang anak perempuan Krtanagara, Raja Agung Singhasari. Gayatri yang dekat dengan sang ayah, sejak usia lima belas tahun menaruh minat yang tinggi pada tata negara, hukum, agama, teater dan yoga; sehingga sering menjadi teman diskusi raja membahas kelangsungan negara. Gayatri selamat dari penyerangan besar-besaran yang dilakukan oleh pasukan Jayakatwang dari Kerajaan Kediri ke Singhasari pada 1292 yang menewaskan ayahanda dan ibundanya. Kakak sulungnya Tribhuwana, istri dari Pangeran Wijaya kabur dari istana menyusul suaminya ke medan laga sedang dua kakaknya yang lain Mahadewi istri Pangeran Ardaraja putera Jayakatwang dan Jayendradewi dijadikan sandera dan dibawa ke Kediri.

Ketika istana Singhasari diserang oleh pasukan Kediri, Gayatri sedang asik belajar di kamar belakang sehingga luput dari pembantaian. Untuk menyamarkan dirinya Gayatri berganti nama menjadi Ratna Sutawan, menanggalkan baju kebesaran istana dan berpura-pura menjadi puteri pegawai rendahan keraton. Bersama Sodrakara pengasuhnya, mereka ikut diboyong ke Kediri menjadi tawanan dan ditempatkan di bangsal perempuan Keraton Kediri. Sebelum meninggalkan istana, ia meminta ijin kepada Sodrakara agar diantarkan melihat jasad orang tuanya untuk memberi sembah terakhirnya.

Ia raih tangan ayahnya yang dingin dan bersumpah akan mengabdikan diri untuk mengenangnya dan merawat apa yang telah diwariskannya. Sejenak kepedihan yang dalam menguasai dirinya, setelah itu ketakutan. Bagaimana ia bisa bertahan hidup seorang diri?

Sejak pertemuannya kembali dengan Pangeran Wijaya, mereka menyusun rencana untuk membangun kembali sebuah dinasti baru dengan seorang pemimpin baru yang tetap mengusung visi Krtanagara untuk mempersatukan kerajaan-kerajaan di Jawa lewat pertemuan rahasia di Daha, Kediri. Di hutan Tarik, Pangeran Wijaya mulai menyusun strategi dan membangun basis Majapahit dengan bantuan sekutunya dari Madura.

Mereka mempersiapkan penyerangan ke Kediri dengan bersekutu dengan pasukan Cina Mongol yang mendarat di Jawa pada 28 Maret 1293. Kediri akhirnya ditaklukkan pada 29 April 1293, Gayatri pun diselamatkan oleh Wijaya dan dibawa ke Majapahit. Beberapa minggu setelah dinobatkan menjadi raja Majapahit, Wijaya yang bergelar Krtarajasa Jayawardhana mempersunting Gayatri dan menganugerahinya gelar Rajapatni, Pendamping Raja.

Suasana negeri perlahan menjadi kondusif, Wijaya dan Gayatri bahu membahu membangun kerajaan baru Majapahit yang wilayahnya meliputi Kediri, Madura, Singhasari dengan ibukota Majapahit. Perhatian mereka tertuju pada kesejahteraan rakyat, memulihkan hubungan kebudayaan dan ekonomi dengan negeri jiran seperti India dan Cina. Gayatri yang cerdas nan bijaksana, menjadi penasihat dan pendamping raja yang senantiasa memberikan pandangan baru kepada Wijaya.

Gayatri atau Rajapatni, adalah yang termuda dan tercantik diantara mereka, laksana mutiara cemerlang yang menarik cinta dan simpati semua orang. Hubungannya dengan sang raja laksana Uma dan dewa Shiwa. Ia melahirkan dua puteri, yang tak lain adalah muara kebahagiaan.

Sayang kebahagiaan mereka tak bertahan lama, awan duka menyelimuti Majapahit. Wijaya mendadak menghadap sang Budha di usia 46 tahun karena penyakit tumor ganas yang menyerangnya. Karena ketiadaan putera dari Gayatri, sebagai pengganti Wijaya, Jayanagara puteranya dari Dara Petek, puteri Melayu yang tak pernah diakui sebagai ratu diangkat menjadi raja. Jayanegara yang masih muda, berusia 16 tahun dengan watak yang keras memerintah tanpa memperhatikan aspirasi rakyatnya.

Selama pemerintahan Jayanagara terjadi banyak pemberontakan, namun berhasil ditumpasnya dengan tangan besi dan terjun langsung ke medan perang. Pada masa pemerintahannya Jayanagara membentuk pengawal elit istana dimana salah seorang perwira seniornya berasal dari rakyat biasa. Karena jasanya dalam menumpas pemberontakan di kalangan istana, Gadjah Mada sang perwira senior ini mendapat kepercayaan raja dan karirnya pun menanjak tajam.

Gayatri yang pandai membaca karakter, mamahami bahwa kapasitas intelektual seseorang lebih penting untuk dinilai daripada asal-usul kelas sosialnya. Di mata Gayatri, Gadjah Mada yang cerdas dan menaruh minat pada seni pemerintahan; membuatnya terkesan. Tanpa sepengetahuan raja, diam-diam Gayatri mendekati Gadjah Mada, membuatnya merasa nyaman untuk menjalin komunikasi dengannya dan kedua putrinya. Gayatri terpanggil untuk menempa dan membimbing Gadjah Mada yang dikuasai jiwa muda yang menggebu-gebu. Perlahan Gayatri mulai mengendalikan dan menyusupkan doktrin ideologi serta kebijakannya ke dalam diri perwira muda yang gagah berani dengan pendekatan kekeluargaan tanpa disadari oleh Gadjah Mada.

Hubungan yang tidak harmonis antara Gayatri dan Jayanagara kian meruncing saat Jayanagara memaksa ingin menikahi dua adik tirinya, putri Gayatri dan Wijaya. Gayatri menggunakan pengaruhnya dan bersekongkol dengan Gadjah Mada untuk mengenyahkan Jayanagara. Dengan memanfaatkan konflik dan selisih paham yang terjadi diantara penghuni istana, Gadjah Mada mengatur siasat untuk menghilangkan raja tanpa menggunakan tangannya. Sebuah kebijakan yang sebenarnya memberatkan hati Gayatri yang sempat dibayangi rasa bersalah, namun harus dilakukan. Lewat sebuah operasi tumor yang gagal, Jayanagara dihabisi oleh sahabatnya Tancha ahli bedah yang tersulut emosinya karena berita perselingkuhan raja dengan istrinya yang disampaikan oleh Gadjah Mada.

Sudah menjadi kehendak Rajapatni yang agung bahwa mereka harus menjadi pemimpin besar dunia, yang tiada tandingan. Puteri, menantu dan cucunya menjadi raja dan ratu. Dialah yang menjadikan mereka penguasa dan mengawasi semua tindak-tanduk mereka.

Sepeninggal Jayanagara, Gayatri mengangkat putrinya Tribhuwana menjadi penguasa Majapahit. Darinya lahir putera mahkota Hayam Wuruk, lelaki pertama penguasa Singhasari dan Majapahit setelah kakeknya Kertanagara. Seiring dengan pergeseran singgasana, Gadjah Mada pun diangkat menjadi Mahapati Majapahit. Berkat kepiawaian Gadjah Mada yang menjadi utusan Majapahit dalam bernegosiasi, Bali pun berhasil melebur ke dalam wilayah kekuasaan Majapahit. Menjelang usia senja, ada kekhawatiran Gayatri dengan sikap keras kepala, agresif dan ketidaksabaran yang menggebu-gebut dalam diri sang Mahapatih bila tak ada yang bisa meredam dan mengimbanginya, terlebih jika dirinya telah tiada.

Sebelum tutup usia, Gayatri telah memikirkan langkah-langkah apa yang perlu dipersiapkan demi kelanjutan pemerintahan di Majapahit. Kepada putrinya Tribhuwana dan Gadjah Mada dia menyarankan untuk membentuk dewan penasihat baru bagi putera mahkota, pemimpin masa depan. Mengusulkan kepada kedua putri dan menantunya untuk membentuk dewan keluarga yang akan membimbing dan membantu Hayam Wuruk memahami seluk beluk kehormatan dinasti. Menyarankan Gadjah Mada untuk pensiun sebagai Mahapati saat Hayam Wuruk berusia 21 tahun dan memintanya membantu mencari dan membina calon penerus yang cakap dalam periode lima tahun mendatang.

Gayatri Rajapatni, perempuan ningrat yang bersahaja dan rendah hati yang lebih banyak berada di belakang layar. Namanya tak banyak diangkat sehingga kurang bahkan tak dikenal dalam catatan perjalanan sejarah bangsa ini. Dialah pemberi inspirasi, penasehat dan guru spiritual bagi para pemimpin Majapahit. Dan dari tangannyalah lahir para pemimpin Majapahit yang tangguh.

Gayatri meninggal dengan tenang pada 1350 di usia 76 tahun sejalan dengan rencananya, di saat sang putri Tribhuwana turun dari singgasana dan menyerahkan kekuasaan kepada putera mahkota Hayam Wuruk.

Jiwaku kini tentram, aku bahagia menyaksikan negeri tercinta memasuki era perdamaian, kemakmuran dan pesatnya kebudayaan. Tapi janganlah terlena dengan keberlimpahan masa kini sehingga mengabaikan tugas dan tanggung jawab rohani. Mereka yang bergelimang kemewahan mungkin bakal lupa bahwa dunia yang mereka tempati adalah fana dan senantiasa dirongrong pertarungan antara “pengawal kebajikan” dan “utusan iblis”….Aku mendoakan agar para penguasa sanggup menjadi teladan yang arif dengan menyebarkan welas kasih untuk semua makhluk dan mendorong pengkhayatan akan nilai-nilai abadi.

Kejayaan Majapahit berakhir pada 1389 seiring perebutan kekuasaan pasca kematian Hayam Wuruk karena ketiadaan penerus tahta yang jelas.


(Calya Puri Navisha) #4

“Adalah watak Rajapatni Gayatri yang agung, sehingga mereka menjelma pemimpin besar sedunia, yang tiada tandingannya. Putri, menantu, dan cucunya menjadi raja dan ratu. Dialah yang menjadikan mereka penguasa dan mengawasi semua tindak tanduk mereka (Negarakrtagama, Bab 48)

Gayatri adalah putri bungsu dari Krtanegara, Raja Singhasari. Setelah serbuan yang dilakukan oleh kerajaan Kediri terhadap kerajaan Singhasari dan mengakibatkan orang tuanya meninggal, Gayatri memiliki tekad untuk membangun kembali kerajaan Singhasari yang luluh lantak oleh serangan Jayakatwang, raja Kediri. Bersama dengan Raden Wijaya, Gayatri menyusun strategi untuk membangun sebuah tatanan pemerintahan di atas sisa kejayaan kerajaan Singhasari.

Putri yang digambarkan sebagai sosok Prajnaparamita atau Dewi Kebijaksanaan Tertinggi ini berhasil melahirkan pemimpin, bukan saja yang lahir dari rahimnya, tapi juga dari kebijaksanaan dan akal budi yang terasah.

Gayatri adalah sosok di belakang nama besar Raden Wijaya, suaminya, Gadjah Mada, mahapatihnya, Ratu Tribhuwana, putri sulungnya, dan cucunya, Raja Hayam Wuruk.

Gayatri Rajapatni lebih memilih untuk tidak menjadi raja Majapahit saat Jayanegara wafat, alih-alih menjadikan putrinya, Tribhuwana Tunggadewi, untuk menjadi raja. Langkah bijak tersebut diambil karena berbagai alasan, salah satunya karena Gayatri tidak ingin sengketa internal di masa lalu berlanjut, mengingat ia adalah putri raja Singhasari. Alasan lainnya adalah karena Gayatri telah memasuki masa bhiksuka.

“Pada masa itu tidak diperkenankan bagi seseorang untuk kembali kepada masa sebelumnya, kecuali terdapat alasan yang sangat mendesak. Dan Gayatri adalah penganut agama yang taat, sehingga norma itu tentu saja sangat diperhatikannya,” tukas Adrian Perkasa, alumni Departemen Ilmu Sejarah FIB Universitas Airlangga.

Gayatri dengan kearifannya lebih memilih menjadi “ibu suri” dan memastikan kerajaan Majapahit dijalankan oleh orang-orang yang tepat. Seperti bagaimana ia menjadikan seorang Gadjah Mada yang seorang rakyat biasa menjadi Mahapatih. Ia tidak hanya menuruti kehendak egonya semata untuk menjadi pemimpin, tetapi ia memikirkan masa depan kerajaan Majapahit. Gayatri dengan lelaku hidupnya sungguh telah memberikan inspirasi nyata bagi perempuan bahkan di masa kini.

Satu hal penting yang dapat kita panuti dari sejarah hidup Gayatri Rajapatni bagi perempuan di era kekinian adalah perempuan masih dapat berkiprah untuk menjadikan masa depan kehidupannya lebih baik tanpa harus menunjukkan eksistensi dirinya di depan khalayak. Bagaimana caranya? Yaitu dengan menjadi ibu yang melahirkan generasi-generasi terbaik. Tentunya menjadi ibu yang bertanggung jawab atas kualitas anak-anak yang dilahirkannya bukanlah tugas yang ringan. Gayatri Rajapatni telah membuktikannya bahwa dengan menekan ego pribadinya ia tidak hanya mampu melahirkan pemimpin yang hebat di masanya, tetapi juga membawa Majapahit ke masa keemasannya.

Sebagai penghormatan untuk Rajapatni Dyah Gayatri, Raja Hayam Wuruk menggelar upacara besar-besaran yakni Upacara Srada. Seluruh pegawai istana, pemuka kerajaan, rayat, juga para raja dari berbagai negeri datang berbondong-bondong ke Majapahit untuk menghadiri upacara tersebut (Purwadi, Jejak Nasionalisme Gajah Mada, 2004).