Apa iya Impostor Syndrome Selalu Berkonotasi Negatif?

Wah keren ya kemarin abis menang lomba!

Enggak, kok. Lagi beruntung aja

Tentunya, percakapan di atas tidak asing terdengar di telinga kita bukan?.
Beberapa orang terkadang memang merasa bahwa penghargaan yang dicapainya hanya sekadar sebuah kebetulan yang menguntungkan. Beberapa lainnya merasa bahwa dirinya tak cukup pantas untuk mendapat penilaian yang baik. Mereka cenderung merasa bahwa orang lain terlalu menganggap diri mereka lebih pintar dan kompeten dari sebenarnya dan merasa orang lain melebih-lebihkan kemampuannya dalam mencapai prestasi. Tanpa memedulikan seberapa tinggi prestasi maupun pencapaian yang diraih, selalu ada perasaan tidak pantas, perasaan tidak cukup, dan merasa diri sebagai penipu (Kirnandita, 2017). Hal ini disebut dengan Impostor Syndrome.

Namun, di sisi lain bisa saja orang tersebut memang memiliki sifat rendah hati, dimana ia merasa bahwa tidak ada yang perlu dibangga-banggakan atas prestasi yang mereka dapatkan.
Jadi, menurut Youdics, apa iya impostor syndrome selalu identik dengan konotasi negatif? Bagaimana jika orang tersebut memang benar rendah hati?

Referensi:

Kirnandita, P. 2017, 22 Juli. Impostor Syndrome, Gejala si Cerdas yang Tak Merasa Cukup. Tirto.id

2 Likes

Terima kasih atas topik dari @dinarizki

Menurut pandangan umum, iya. Impostor syndrome selalu identik dengan berkonotasi negatif, masyarakat berpandangan bahwa seseorang yang memiliki sindrom ini adalah orang yang tidak bisa bersyukur, tidak menghargai diri sendiri, bahkan berprasangka bila ingin diberi pujian lebih.

Menurut pandangan saya, belum tentu. Berdasarkan ilustrasi dari penulis tentang “pencapaian menang lomba dan dikatakan sedang beruntung” bisa ditarik beberapa kesimpulan.

Ada kemungkinan lawan atau kontenstan yang lebih “pintar” atau “jago” menurut si pemenang lomba tersebut tidak ikut lomba pada saat itu. Sehingga si pemenang merasa “beruntung”.

Atau bisa jadi, seperti penulis katakan, hal tersebut bukanlah pencapaian yang perlu dibangga-banggakan dan si pemenang lomba sebetulnya berkepribadian rendah baik.

Perlu diingat bahwa ukuran kesuksesan seseorang bersifat relatif. Contohnya : Arin memperoleh Peringkat 1 di kelas merasa kurang puas karena tidak mendapat Peringkat Paralel 1 di sekolah.

Dalam ilustrasi tadi, tujuan atau sukses menurut Arin adalah memperoleh peringkat paralel 1 di sekolah, tentunya jika ia dipuji sebagai peringkat 1 di kelas akan menilai pencapaian tadi “biasa saja”.

Mengapa bisa begitu?

Karena pencapaian tadi belum memenuhi tujuan yang ingin dicapai oleh Arin.

Referensi :

Setuju banget dengan tanggapan kak @andinieka

Sedikit tambahan saja ya.
Memang benar beberapa ahli menyebutkan bahwa impostor syndrom mengakibatkan dampak maladaptif dan distress. Tapi ketika ditanyakan apakah impostor syndrom selalu memiliki konotasi negatif, maka saya berpendapat impostor syndrom tidaklah selalu memiliki konotasi negatif.
Impostor syndrom bisa saja bersifat kontotasi yang relatif tergantung bagaimana orang memahaminya.

Bisa jadi impostor syndrom memiliki dampak yang positif bilamana dimaknai dengan konotasi yang positif. Semisal dapat menimbulkan kecemasan. Justru dengan kecemasan itulah akhirnya mampu untuk memacu dan semakin berkembang dalam kesehariannya menuju ke arah lebih baik.

Bayangkan jika orang tanpa kecemasan. Contohnya saja mahasiswa, bukankah nantinya akan menjadikan berleha-leha saja, tidak terpacu untuk lebih berkembang dan merasa bahwa semua nanti akan indah pada waktunya atau ada yang merasa sudah unggul dan nantinya di akhir ia lengah dan menyesal? Bukankah efeknya juga akan sama berbahaya?

Referensi:
Endah, dkk. 2015. PERAN IMPOSTOR SYNDROME DALAM MENJELASKAN
KECEMASAN AKADEMIS PADA MAHASISWA BARU.
Jurnal MEDIAPSI (1)1, 1-9.