Zat Kimia dalam Produk Perawatan Kulit yang Harus Dihindari

Pentingnya memperhatikan bahan – bahan apa saja yang terkandung di dalam produk perawatan kecantikan. Apa saja zat yang terkandung dalam produk perawatan kulit harus dihindari karena bisa menyebabkan kulit makin kering.

1 Like
  1. Parabens
    Parabens digunakan sebagai pengawet dalam produk perawatan kulit. Bahan kimia ini biasa terdaftar sebagai Butyl, Methyl, Propyl yang kerap dikaitan dengan gangguan hormon pria dan wanita.

  2. Benzyl Peroksida
    Bahan kimia ini umum digunakan untuk mengobati jerawat. Namun tak jarang menyebabkan iritasi kulit.

  3. Propylene Glycol, Butyl Glycol
    Ini adalah bahan plastik minyak bumi yang diperlukan untuk pembuatan sarung tangan, kacamata dan perlengkapan lainnya. Bahan kimia ini sering dikaitkan dengan iritasi serta risiko kanker kulit.

  4. Pigmen dan pewarna
    Warna dalam perawatan kulit produk atau makeup sintetis cenderung menyebabkan iritasi kulit.

  5. Triclosan
    Triclosan adalah bahan antibakteri sintetik. Bahan ini tidak direkomendasikan digunakan setiap hari karena akan menghilangkan bakteri baik di tubuh sehingga memicu datangnya penyakit.

sumber:

Penggunaan uji coba hewan berlaku pada berbagai bidang penelitian mulai dari kesehatan hingga astronomi. Uji coba pada hewan juga turut dilakukan dalam industri kosmetik. Hewan-hewan yang digunakan dalam proses uji coba kosmetik yaitu kelinci, hamster, dan tikus. Watson (2009) mengungkapkan bahwa uji coba hewan dalam pembuatan kosmetik biasanya meliputi tes iritasi mata dan kulit, dimana bagian-bagian tersebut menjadi bagian yang paling sering terpapar kosmetik. Mata dari kelinci diteteskan bahan kimia dan kulit kelinci dioleskan bahan kimia setelah kulit mereka dicukur. Tidak hanya itu, hewan-hewan diatas pun turut diberikan makan bahan kimia berbahaya selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan untuk diketahui apakah ada tanda-tanda kemunculan penyakit umum atau bahaya kesehatan tertentu, seperti kanker atau cacat lahir.

Japan External Trade Organization (2011) menjelaskan mengenai apa saja produk dapat dikatakan sebagai kosmetik yaitu dimaksudkan untuk diterapkan pada tubuh manusia melalui menggosok, menaburkan atau metode lain, yang bertujuan untuk membersihkan mempercantik dan meningkatkan daya tarik, untuk mengubah penampilan atau untuk menjaga kulit dan rambut dalam kondisi baik. Selanjutnya produk kosmetik antara lain, parfum (wewangian), alat make-up (alas bedak, lipstik, dan riasan mata), produk perawatan kulit (krim wajah, lotion kulit, pelembab kulit, dan pembersih kulit), produk perawatan rambut (termasuk sampo, produk perawatan rambut, dan pewarna rambut), dan kosmetik tujuan khusus (tabir surya).


Sumber: detego.com

Uji coba kosmetik pada hewan mulai dilakukan sejak munculnya perusahaan kosmetik. Menurut Frith (2014), perusahaan kosmetik yang pertama kali berdiri adalah Lever Brothers (Unilever) pada tahun 1837. Kemudian diikuti dengan berdirinya Proctor & Gamble pada tahun 1879. Kedua perusahaan ini pada mulanya hanya menjual sabun. Memasuki era 1920-an barulah produk kosmetik mulai popular diciptakan, seperti lipstik, parfum, dan bedak. Di tahun 1932, ada 4 perusahaan besar yang menguasai industri kosmetik yaitu Proctor & Gamble (P&G), Unilever, Avon, dan L’Oreal. Keempat perusahaan inilah yang hingga saat ini menjadi perusahaan induk bagi ratusan merek kecantikan di dunia.

Humane Society International (2012) melalui website yang dimiliknya yaitu https://www.hsi.org/news-media/tests/ memberikan pemaparan mengenai jenis-jenis hewan yang digunakan sebagai objek uji coba beserta metode uji coba yang dilakukan. Bahan-bahan yang diujicobakan kepada hewan merupakan bahan kimia berbahaya yang terkandung dalam suatu produk kosmetik. Bahan-bahan yang diduga berbahaya bagi manusia justru di uji coba kepada hewan dan tidak jarang membawa penderitaan berujung kematian pada hewan-hewan tersebut.

Bahan-bahan Kosmetik yang Diproduksi melalui Uji Coba Klinis Hewan


  1. Paraben

Paraben biasa digunakan sebagai bahan pengawet dalam shampo, sabun, pelembab, parfum hingga make-up. Paraben menurut Zoe (2018) merupakan salah satu bahan yang memiliki kecenderungan besar untuk membahayakan kesehatan manusia, karenanya bahan ini harus diuji coba dengan hati-hati sebelum dijadikan bahan dasar dalam pembuatan kosmetik. Penggunaan jangka panjang paraben dalam menimbulkan penyakit kanker maupun penyakit organ reproduksi. Tikus menjadi hewan yang paling umum digunakan dalam menguji paraben (CCAC, 2018).

  1. Benzophenone-3 (BP-3)

Benzophenone-3 merupakan salah satu bahan utama dalam pembuatan produk sunscreen dengan kadar paling tinggi 10% dalam setiap produk sunscreen. Hewan yang paling sering digunakan dalam menguji keamanan benzophenone-3 adalah kelinci, tikus, dan marmut (CCAC, 2018).Uji coba dilakukan dengan cara menyuntikkan atau mencampur benzophenone-3 kedalam makanan hewan. Kemudian, untuk menguji dampak benzophenone-3 terhadap kulit dengan cara menyuntikkan bahan tersebut pada kulit kelinci percobaan dan 30 marmut. Mata kelinci percobaan juga disuntikkan bahan ini untuk menguji keamanan benzophenone-3 terhadap mata. Sementara itu, puluhan tikus diberi makan BP-3 selama 2 minggu, kemudian dipantau secara berkala untuk melihat gejala klinis pada tubuh tikus. Setelah penghentian pemberian benzophenone-3, tikus-tikus tersebut dibunuh agar organ-organ dalam tubuh tikus dapat diteliti (CCAC, 2018).

  1. Titanium dioksida

Titanium dioksida pada kosmetik yang berfungsi sebagai pigmen pemutih yang mampu melindungi kulit dari sinar UV (JETRO, 2011). Sebelum digunakan sebagai bahan pembuatan kosmetik, titanium dioksida diuji coba pada hewan seperti tikus dan kelinci. Tujuan uji coba bahan kimia ini untuk mengetahui dampaknya bagi kulit, mata, mulut, alat reproduksi, dan menguji apakah bahan ini bersifat karsinogen. Kelinci albino biasanya dicukur bulunya lalu kulitnya diolesi titanium dioksida dan dibiarkan selama 3 hari untuk dilihat perkembangannya (CCAC, 2018).

  1. Tartrazin

Tartrazin merupakan bahan kimia yang digunakan sebagai salah satu komponen pemberi warna pada lipstik. Tartrazin diuji keamanannya pada anjing, ikan hias, tikus, dan marmut. Sekelompok anjing disuntikkan tartrazine selama dua tahun untuk dilihat efek jangka panjang bahan ini. Kemudian anjing-anjing ini dibunuh untuk diteliti sumsum tulang dan organ dalam mereka. Sementara sekelompok marmut disuntikkan tartrazin di bagian mata dan kulit mereka untuk melihat apakah ada efek iritasi pada marmut (EFSA, 2016).

Referensi
  1. Canadian Council on Animal Care. 2019. β€œCCAC 2018 Animal Data Report,”. https://www.ccac.ca/Documents/AUD/2018-Animal-Data-Report.pdf
  2. Japan External Trade Organization. 2011. Guidebook for Export to Japan. https://www.jetro.go.jp/ext_images/en/reports/market/pdf/guidebook_cosmetics.pdf
  3. Watson, Stephanie. 2009. Animal Testing: Issues and Ethics. New York: The Rosen Publishing Group