Uji Klinis Kosmetik Menggunakan Hewan

Pada kegiatan produksi kosmetik terdapat serangkaian uji coba sebelum produk kosmetik tersebut diedarkan. Uji coba tersebut disebut dengan uji klinis kosmetik. Uji klinis kosmetik bisa dilakukan dengan pengaplikasian pada kulit manusia maupun hewan percobaan. Bagaimana uji klinis kosmetik menggunakan hewan?

2 Likes

Sejarah Uji Klinis Menggunakan Hewan di Dunia


Penggunaan hewan sebagai objek penelitian telah lama dilakukan oleh manusia. Menurut artikel oleh Alexander dalam Watson (2009) penelitian pertama terhadap hewan telah dilakukan zaman Yunani kuno, para filsuf alam dan para dokter ingin mengembangkan pengetahuan mereka mengenai fungsi tubuh manusia dan hewan. Tujuan penelitian tersebut untuk mengetahui mengapa bagian tubuh tidak berfungsi dan bagaimana suatu penyakit berkembang serta bagaimana dampaknya bagi manusia dan hewan. Harapan kedepannya adalah dengan menemukan cara pengobatan dan perawatan yang lebih baik lagi.

Testing begins when scientists develop a new chemical that they believe might help treat or cure a disease. Watson (2009)

Penelitian terhadap hewan terus berkembang, pada abad ke-15 di daratan Arab pun para ilmuwan farmasi melakukan uji coba obat-obatan tradisional Arab. Sementara itu di daratan Eropa diluar Romawi, penelitian terhadap hewan dan manusia juga dilakukan oleh beberapa sekolah kedokteran di Italia. Namun Gereja Katolik melarang prosedur otopsi pada tubuh manusia. Sebagai gantinya, prosedur otopsi hanya boleh dilakukan kepada hewan yang digunakan sebagai model fisiologis dan anatomi utama (Herrmann, 2019)

Menurut Herrmann (2019), penelitian terhadap hewan terbukti dapat memberikan kontribusi besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Banyak penemuan dasar dalam ilmu fisiologi ditemukan dari mempelajari hewan, seperti penemuan sirkulasi darah oleh William Harvey tahun 1628 dan penemuan fungsi paru-paru oleh Robert Hooke tahun 1667. Namun beberapa kelompok menentang prosedur penelitian hewan ini. Mereka berpendapat bahwa sebenarnya kemajuan medis dapat diperoleh hanya dengan meneliti dan menguji kepada manusia, sedangkan percobaan pada hewan hanya sebagai bentuk validasi akan penemuan tersebut.

If the product is designed to go inside a person’s body (for example, if it medication is taken by mouth), the scientists will look at its effects on all of the animal organs all over the length of that animal’s entire life. they also see what effects the substance might have on the animal’s offspring. Watson (2009)

Pada abad 17 dan 18, sekolah-sekolah medis di Eropa mengembangkan ilmu tentang hewan (Herrmann, 2019). Berbagai prosedur percobaan hewan semakin kompleks dan invasif. Pada masa itu anestesi dan prosedur anestesi belum ditemukan, sehingga prosedur penelitian dilakukan melalui pembedahan dengan kondisi hewan sadar sepenuhnya. Ini kemudian memicu protes dari berbagai pihak. Salah satu tokoh yang melakukan protes adalah Paus Alexander pada tahun 1713 melalui esai “Against Barbarity to Animals”. Selain itu ada juga Samuel Johnson yang mencela eksperimen hewan pada tahun 1758 dan Thomas Percival menuliskan “A Father’s Instruction” pada tahun 1789 (Herrmann, 2019)

Percobaan pada hewan masih terus dilangsungkan oleh para ilmuwan walaupun telah muncul berbagai protes mengenai penggunaan hewan pada penelitian. Pada abad ke-19, eksplorasi ilmiah di beberapa belahan dunia mengalami peningkatan drastis. Menurut Herrmann (2019), studi mengenai evolusi dan ilmu-ilmu alam banyak melibatkan penelitian terhadap hewan. Kemudian di Prancis seorang tokoh bernama Francoise Magendie memprakarsai sebuah tradisi fisiologi eksperimental yang melibatkan banyak makhluk hidup. Perdebatan mengenai penelitian terhadap hewan mulai muncul secara besar-besaran pada tahun 1860-an. Penelitian secara besar-besaran tersebut selanjutnya menurut Herrmann (2019) menyebabkan munculnya kesadaran pada kalangan masyarakat bahwa meneliti tentang kesehatan dan obat-obatan untuk kepentingan manusia tidak semestinya membahayakan hewan. Masyarakat pun mulai melakukan investigasi terhadap laboratorium penelitian hewan dan mempublikasikannya kepada publik melalui media massa.


Sumber: choosecrueltyfree.org

Kesadaran akan penghentian penggunaan hewan dalam penelitian pada 1860-an tidak menyurutkan kegiatan penelitian dengan subjek uji klinis menggunakan hewan, pada era tahun 1920 hingga 1950 penelitian hewan kembali berkembang pesat untuk menemukan data biologis baru dan untuk menemukan metode penyembuhan baru. Salah satu penelitian yang digunakan dalam penemuan insulin. Perkembangan ini berbanding terbalik dengan penentangan terhadap penelitian hewan (Watson, 2009). Watson (2009) meninjau bahwa hanya segelintir orang yang terlibat dalam mempromosikan agenda anti-pembedahan melalui tulisan di koran-koran seperti A Brief History of Animal Research Debate and the Place of Alternatives oleh Rowan. Herrmann (2019) kemudian menjelaskan bahwa tahun 1950 hingga 1975 atau setelah periode Perang Dunia II, Pemerintah di berbagai negara maju mulai menjadi sponsor utama dalam mendukung penelitian hewan. Contohnya yaitu meningkatnya anggaran National Institutes of Health (NIH) di Amerika Serikat sebesar 10% per tahunnya. Sementara di sektor swasta, penemuan penisilin dan streptomisin menyebabkan eksploitasi penelitian farmasi dalam industri obat-obatan. Secara tidak langsung ini mengakibatkan meningkatnya permintaan laboratorium akan hewan untuk penelitian (Rowan, 2007).

Referensi
  1. Herrmann, Kathrine. 2019. Animal Experimentation: Working Towards a Paradigm Change. Leiden: Brill Publisher

  2. Rowan, N Andrew. 2007. Ending the Use of Animals in Toxicity Testing and Risk Evaluation. Cambridge Quarterly of Healthcare Ethics, DOI: https://doi.org/10.1017/S0963180115000109

  3. Watson, Stephanie. 2009. Animal Testing: Issues and Ethics. New York: The Rosen Publishing Group

1 Like

Penggunaan uji coba hewan berlaku pada berbagai bidang penelitian mulai dari kesehatan hingga astronomi. Uji coba pada hewan juga turut dilakukan dalam industri kosmetik. Hewan-hewan yang digunakan dalam proses uji coba kosmetik yaitu kelinci, hamster, dan tikus. Watson (2009) mengungkapkan bahwa uji coba hewan dalam pembuatan kosmetik biasanya meliputi tes iritasi mata dan kulit, dimana bagian-bagian tersebut menjadi bagian yang paling sering terpapar kosmetik. Mata dari kelinci diteteskan bahan kimia dan kulit kelinci dioleskan bahan kimia setelah kulit mereka dicukur. Tidak hanya itu, hewan-hewan diatas pun turut diberikan makan bahan kimia berbahaya selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan untuk diketahui apakah ada tanda-tanda kemunculan penyakit umum atau bahaya kesehatan tertentu, seperti kanker atau cacat lahir.

animal
Sumber: Watson (2009)

Japan External Trade Organization (2011) menjelaskan mengenai apa saja produk dapat dikatakan sebagai kosmetik yaitu dimaksudkan untuk diterapkan pada tubuh manusia melalui menggosok, menaburkan atau metode lain, yang bertujuan untuk membersihkan mempercantik dan meningkatkan daya tarik, untuk mengubah penampilan atau untuk menjaga kulit dan rambut dalam kondisi baik. Selanjutnya produk kosmetik antara lain, parfum (wewangian), alat make-up (alas bedak, lipstik, dan riasan mata), produk perawatan kulit (krim wajah, lotion kulit, pelembab kulit, dan pembersih kulit), produk perawatan rambut (termasuk sampo, produk perawatan rambut, dan pewarna rambut), dan kosmetik tujuan khusus (tabir surya).


Sumber: detego.com

Uji coba kosmetik pada hewan mulai dilakukan sejak munculnya perusahaan kosmetik. Menurut Frith (2014), perusahaan kosmetik yang pertama kali berdiri adalah Lever Brothers (Unilever) pada tahun 1837. Kemudian diikuti dengan berdirinya Proctor & Gamble pada tahun 1879. Kedua perusahaan ini pada mulanya hanya menjual sabun. Memasuki era 1920-an barulah produk kosmetik mulai popular diciptakan, seperti lipstik, parfum, dan bedak. Di tahun 1932, ada 4 perusahaan besar yang menguasai industri kosmetik yaitu Proctor & Gamble (P&G), Unilever, Avon, dan L’Oreal. Keempat perusahaan inilah yang hingga saat ini menjadi perusahaan induk bagi ratusan merek kecantikan di dunia.

Humane Society International (2012) melalui website yang dimiliknya yaitu https://www.hsi.org/news-media/tests/ memberikan pemaparan mengenai jenis-jenis hewan yang digunakan sebagai objek uji coba beserta metode uji coba yang dilakukan. Bahan-bahan yang diujicobakan kepada hewan merupakan bahan kimia berbahaya yang terkandung dalam suatu produk kosmetik. Bahan-bahan yang diduga berbahaya bagi manusia justru di uji coba kepada hewan dan tidak jarang membawa penderitaan berujung kematian pada hewan-hewan tersebut.

Bahan-bahan Kosmetik yang Diproduksi melalui Uji Coba Klinis Hewan


1. Paraben

Paraben biasa digunakan sebagai bahan pengawet dalam shampo, sabun, pelembab, parfum hingga make-up. Paraben menurut Zoe (2018) merupakan salah satu bahan yang memiliki kecenderungan besar untuk membahayakan kesehatan manusia, karenanya bahan ini harus diuji coba dengan hati-hati sebelum dijadikan bahan dasar dalam pembuatan kosmetik. Penggunaan jangka panjang paraben dalam menimbulkan penyakit kanker maupun penyakit organ reproduksi. Tikus menjadi hewan yang paling umum digunakan dalam menguji paraben (CCAC, 2018).

2. Benzophenone-3 (BP-3)

Benzophenone-3 merupakan salah satu bahan utama dalam pembuatan produk sunscreen dengan kadar paling tinggi 10% dalam setiap produk sunscreen. Hewan yang paling sering digunakan dalam menguji keamanan benzophenone-3 adalah kelinci, tikus, dan marmut (CCAC, 2018).Uji coba dilakukan dengan cara menyuntikkan atau mencampur benzophenone-3 kedalam makanan hewan. Kemudian, untuk menguji dampak benzophenone-3 terhadap kulit dengan cara menyuntikkan bahan tersebut pada kulit kelinci percobaan dan 30 marmut. Mata kelinci percobaan juga disuntikkan bahan ini untuk menguji keamanan benzophenone-3 terhadap mata. Sementara itu, puluhan tikus diberi makan BP-3 selama 2 minggu, kemudian dipantau secara berkala untuk melihat gejala klinis pada tubuh tikus. Setelah penghentian pemberian benzophenone-3, tikus-tikus tersebut dibunuh agar organ-organ dalam tubuh tikus dapat diteliti (CCAC, 2018).

3. Titanium dioksida

Titanium dioksida pada kosmetik yang berfungsi sebagai pigmen pemutih yang mampu melindungi kulit dari sinar UV (JETRO, 2011). Sebelum digunakan sebagai bahan pembuatan kosmetik, titanium dioksida diuji coba pada hewan seperti tikus dan kelinci. Tujuan uji coba bahan kimia ini untuk mengetahui dampaknya bagi kulit, mata, mulut, alat reproduksi, dan menguji apakah bahan ini bersifat karsinogen. Kelinci albino biasanya dicukur bulunya lalu kulitnya diolesi titanium dioksida dan dibiarkan selama 3 hari untuk dilihat perkembangannya (CCAC, 2018).

4. Tartrazin

Tartrazin merupakan bahan kimia yang digunakan sebagai salah satu komponen pemberi warna pada lipstik. Tartrazin diuji keamanannya pada anjing, ikan hias, tikus, dan marmut. Sekelompok anjing disuntikkan tartrazine selama dua tahun untuk dilihat efek jangka panjang bahan ini. Kemudian anjing-anjing ini dibunuh untuk diteliti sumsum tulang dan organ dalam mereka. Sementara sekelompok marmut disuntikkan tartrazin di bagian mata dan kulit mereka untuk melihat apakah ada efek iritasi pada marmut (EFSA, 2016).

Referensi
  1. Canadian Council on Animal Care. 2019. “CCAC 2018 Animal Data Report,”. https://www.ccac.ca/Documents/AUD/2018-Animal-Data-Report.pdf
  2. Japan External Trade Organization. 2011. Guidebook for Export to Japan. https://www.jetro.go.jp/ext_images/en/reports/market/pdf/guidebook_cosmetics.pdf
  3. Watson, Stephanie. 2009. Animal Testing: Issues and Ethics. New York: The Rosen Publishing Group
1 Like

Mengapa Uji Coba Kosmetik pada Hewan Banyak Dilakukan?

Uji coba hewan dalam pembuatan kosmetik terbukti berbahaya dan kejam bagi hewan. Namun masih banyak perusahaan kosmetik yang melakukan metode ini dalam menguji keamanan bahan-bahan kosmetik. People for The Ethical Treatment of Animals (2019) merilis daftar nama perusahaan-perusahaan yang melakukan uji klinis kosmetik menggunakan hewan antara lain; Avon, Benefit, Clinique, Estee Lauder, Makeup Forever, Maybelline, OPI, Victoria’s Secret, L’Oreal, MAC Cosmetics, Olay, Pantene, Dove, Armani, Chanel, Revlon, YSL, Bobbi Brown, NARS, Elizabeth Arden, Origins, Mary Kay, Boscia, LA MER, GLAMGLOW, dan Clarins.

Perusahaan-perusahaan kosmetik tersebut diatas memiliki beberapa alasan yang dihimpun dalam People for The Ethical Treatment of Animals (2019) untuk tetap menggunakan metode uji coba hewan. Alasan pertama yaitu muncul dan berkambangnya bahan-bahan baru dalam pembuatan kosmetik. Bahan-bahan baru tersebut belum memiliki data keamanan, sehingga butuh untuk diuji coba keamanannya sebelum dijadikan komponen dalam pembuatan kosmetik. Artinya bahwa uji coba akan tetap terus dilakukan dan tentu saja metode uji coba yang digunakan adalah metode uji coba hewan. Ini karena metode uji coba hewan adalah metode yang sejak lama dijadikan metode utama dalam pengujian bahan-bahan kosmetik. Sementara metode lain seperti metode uji non-hewani tidak pernah dijadikan metode prioritas. Sehingga saat bahan baru ditemukan, perusahaan akan secara otomatis menggunakan metode uji coba hewan untuk menguji keamanan bahan baru.

Cosmetics testing may take place using animals is that a company may be testing new chemical compounds, or testing compounds on a sensitive population such as children or the elderly, to determine whether the substances will cause an allergic reaction if applied to skin, or whether they cause irritation or corrosion of the skin or eyes. National Anti-Vivisection Society (2020)

Alasan kedua yaitu untuk memenuhi standar yang diterapkan oleh Pemerintah China (Yan, 2017). Pasar kosmetik terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat adalah China, sehingga China menjadi prospek yang menarik bagi perusahaan-perusahaan kosmetik dalam melebarkan penjualan global mereka. Pemerintah China menerapkan regulasi bagi perusahaan-perusahaan kosmetik asing yang ingin menjual produk mereka ke China untuk memastikan produk mereka telah teruji keamanannya melalui metode uji coba hewan. Kondisi ini memaksa perusahaan-perusahaan kosmetik yang ingin menjual produk mereka ke China untuk melakukan metode uji coba hewan agar akses ke pasar China dapat ditembus dan keuntungan dapat diraih.

A 2013 estimate by the People for the Ethical Treatment of Animals found that China’s mandatory regulations resulted in companies testing products on as many as 300,000 animals, according to the organization’s senior vice president, Kathy Guillermo, who explained that an animal is killed after a test. Yan (2017)


Sumber: statista.com

Pada grafik menunjukan bahwa angka impor pemerintahan China pada bidang kosmetik mencapai lebih dari 80% sehingga negara-negara pengekspor kosmetik seperti Inggris, Amerika Serikat, Perancis, Korea Selatan, dan Jepang harus mengikuti regulasi yang diterapkan oleh pemerintah China terkait pengujian kosmetik. Dua alasan tersebut diyakini sebagai penyebab masih maraknya pengujian kosmetik pada hewan.

Referensi
  1. Deutsche Forschungsgemeinschaft. 2016. Animal Experimentation in Research. https://www.dfg.de/download/pdf/dfg_im_profil/geschaeftsstelle/publikationen/tierversuche_forschung_en.pdf
  2. National Anti-Vivisection Society. 2020. Cosmetics Testing on Animals. https://www.navs.org/the-issues/animals-used-in-cosmetics-testing/#.X5a6oW4zbIU
  3. Yan, Sophia. 2017. Big Cosmetics Firms Are Selling Products Tested on Animals. CNBC, https://www.cnbc.com/2017/04/19/in-china-big-cosmetics-firms-are-selling-products-tested-on-animals.html

Uji Klinis Hewan Pro dan Kontra


Maksud saya ketika membuka topik ini adalah untuk mengetahui metode yang digunakan perusahaan kosmetik dalam menguji keamanan produk mereka. Setelah membaca beberapa balasan di atas saya menemukan pro dan kontra terhadap penggunaan hewan sebagai uji klinis pada kosmetik. Sebelum mengarah pada konklusi saya ingin memaparkan pro dan kontra pada uji klinis hewan berdasarkan balasan @diah_lutfiani, @bimanantasetyo, dan @nuwafi

tabel
Sumber: Olahan Pribadi

Tabel di atas memberikan pandangan mengenai bagaimana uji klinis menggunakan hewan memberikan dua jenis dampak yaitu positif dan negatif. Meskipun kontra pada tabel ini tidak sebanyak pro, ada aspek hak asasi segala aspek seperti biaya hingga pendidikan seperti sudah tidak memiliki nilai yang pantas untuk diperjuangkan. Hak asasi pada hewan sepatutnya diperjuangkan dan itu adalah fakta.

Seluruh proses uji coba ini menyebabkan rasa sakit luar biasa yang dialami oleh hewan-hewan percobaan. Hewan Hewan tersebut mengalami mata bengkak, kulit berdarah, pendarahan dan kerusakan organ, cacat lahir, kejang-kejang, hingga kematian. Kondisi ini diperparah karena pihak perusahaan tidak menyediakan penghilang rasa sakit atau obat untuk hewan-hewan ini. Bahkan di akhir proses uji coba, hewan-hewan yang sudah terkena penyakit justru dibunuh dengan cara dipenggal kepalanya. Humane Society International About Cosmetics Animal Testing (2013)

Saya sangat menanti diskusi lebih lanjut mengenai topik ini :smile: