Seperti Apa Manfaat Biblioterapi Bagi Kita?

Membaca merupakan kegiatan ringan. Tetapi berat untuk dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Padahal membaca memiliki pengaruh yang besar bagi diri kita. Salah satunya berpengaruh bagi kesehatan mental kita.

Gibbons (1993: 70-71) mendefinisikan membaca sebagai proses memperoleh makna dari cetakan. Membaca merupakan aktivitas yang menghendaki seseorang untuk aktif berpikir. Supaya memperoleh makna dari teks yang dibaca, pembaca harus menyertakan latar belakang “bidang” pengetahuannya, topik, dan pemahaman terhadap sistem bahasa itu sendiri. Tanpa hal-hal tersebut selembar teks tidak berarti apa-apa bagi pembaca.

Mengutip www.inews.id (18/04/2018) yang menyebutkan bahwasanya riset dari University of Sussex, Inggris, membuktikan bahwa membaca sebelum tidur dapat mengurangi stres sebanyak 68 persen. Penelitian ini dilakukan dengan menguji tingkat stres dan denyut jantung saat mencoba berbagai metode santai, seperti mendengarkan musik, berjalan-jalan, membaca, dan menikmati secangkir teh.

Hasilnya, membaca adalah metode terkuat untuk membantu otak dan tubuh kita rileks. Hans Selye, bapak teori stres menjelaskan, stres didefinisikan sebagai respons tubuh terhadap setiap permintaan untuk perubahan yang tidak menyenangkan dalam hidup. Stres dapat berdampak pada kesehatan mental.

Menjaga kesehatan mental menjadi kunci untuk menjalankan hidup yang berkualitas. Mental yang sehat akan memengaruhi perilaku kita sehari-hari. Bila mental kita sehat maka perilaku kita pun akan ikut sehat.

Mental berfungsi untuk mengontrol segala sesuatu yang yang tidak kasat mata pada diri kita supaya tidak menjadi negatif. Diri kita pada dasarnya lebih mudah mengikuti nafsu negatif atau buruk. Mental yang sehat akan berperan dalam mengontrol pengendalian nafsu itu.

Mental sehat akan senantiasa mengarahkan kita pada perilaku-perilaku positif atau baik. Sehingga sebagai manusia kita akan mampu berbuat amal saleh setiap hari dengan mental yang sehat.

Biblioterapi sebagai media terapi kesehatan mental

Menurut Trihantoro, Hidayat, & Chanum (2016) menjelaskan bahwa biblioterapi atau terapi membaca merupakan penggunaan buku atau lainya sebagai alat terapi. Salah satu manfaat penggunaan biblioterapi yaitu dapat membangun konsep diri. Bahan bacaan yang digunakan pada biblioterapi dapat memberikan informasi, memberikan pengetahuan baru mengenai pengalaman atau situasi yang spesifik, memberikan solusi alternatif mengenai suatu masalah, untuk mensimulasikan diskusi mengenai apa masalah yang sebenarnya, sebagai media mengomunikasikan nilai atau norma yang berkaitan dengan permasalahan.

Dahulu, biblioterapi hanya digunakan di rumah sakit sebagai bagian dari servis medis dan hanya digunakan untuk kepentingan terapi seseorang yang mengalami sakit mental. Serta sebagai teknik untuk menyehatkan mental para korban perang dan trauma lainya. Sekarang, biblioterapi tidak hanya digunakan di rumah sakit untuk penanganan medis. Tapi juga dimanfaatkan pustakawan untuk membantu seseorang dengan beberapa permasalahan tertentu termasuk kepada permasalahan moral dan karakter (Anwar, Rejeki, Khadijah, & Sukaesih, 2019).

Untuk menjaga kesehatan mental kita juga harus bahagia. Salah satu sumber kebahagaian adalah dengan membaca buku atau bahan bacaan lainya. Membaca akan membuat otak kita memunculkan reaksi fiksi. Reaksi fiksi adalah usaha otak kita untuk membuat gambaran, deskripsi atau khalayan tentang hal-hal yang kita baca.

Bahkan seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yaitu Ali bin Abi Thalib juga pernah berkata

“Siapapun yang terhibur dengan buku-buku, kebahagiaan tak akan sirna dari dirinya”.

Sehingga pantaslah bila saat ini biblioterapi memanfaatkan buku sebagai media untuk menyehatkan mental manusia.

Menggiatkan diri untuk selalu membaca supaya kesehatan mental terjaga

Peningkatan daya baca perlu dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Sehingga mental masyarakat menjadi sehat. Mental masyarakat yang sehat juga akan mewujudkan kehidupan yang sehat. Selain itu, mental sehat juga akan memengaruhi pola pikir masyarakat dalam menghadapi suatu permasalahan menjadi lebih kreatif dan efektif.

Bahan bacaan di zaman sekarang juga sudah tersedia sangat banyak, baik digital maupun tidak. Sehingga ini memudahkan kita untuk selalu membaca setiap harinya. Aplikasi ebook sekarang tersedia banyak di android. Oleh sebab itu, smartphone yang setiap hari kita pegang bisa menggantikan buku. Tidak ada alasan kita untuk malas membaca.

Banyak ilmu dan manfaat lainya dari kita membaca. Sebelum menggemari baca buku, ada baiknya kita berusaha menemukan buku yang kita sukai terlebih dahulu. Jadi ketika kita membacanya tidak terasa membosankan maupun menjenuhkan.

Ketika kita memulai sebuah kegiatan yang mana itu baru kita coba. Lalu kita tidak menyukainya, maka sulit bagi kita untuk mendapatkan manfaatnya. Kalau kita ingin mendapatkan manfaat dari membaca buku. Kita harus menikmati saat membaca buku itu. Jangan sampai kita justru “bertengkar” dengan hati.

Biblioterapi yang awalnya diterapkan kepada klien konseling seorang psikolog dan bagian dari layanan medis di rumah sakit. Bisa kita manfaatkan dan ditiru untuk kehidupan sehari-hari. Membiasakan membaca setiap hari juga termasuk usaha kita untuk selalu menjaga kesehatan mental kita.

Kesehatan mental merupakan anugerah dari tuhan. Oleh sebab itu, kita harus mensyukurinya. Cara kita mensyukuri nikmat berupa kesehatan mental adalah dengan menjaga kesehatan mental itu. Jangan sampai kita justru kufur nikmat dengan mengabaikan nikmat itu sendiri.

Teknik biblioterapi juga harus didampingi dengan terapi spiritual untuk menciptakan mental sehat pada diri seseorang. Terapi spiritual dilakukan dengan meningkatkan intensitas hubungan kita dengan sang kholik. Sehingga kita bisa mendapatkan kesehatan mental atau batin dan kebahagian lahir dalam hidup.

Referensi

  • Anwar, R. K., Rejeki, D. S., Khadijah, U. L., & Sukaesih. (2019). Bibliotherapy Dalam Menumbuhkan Sikap Optimis Pasien. Berkala Ilmu Perpustakaan dan Informasi, 87-100.
  • Irdawati, Yunidar, & Darmawan. (2018). Meningkatkan Kemampuan Membaca Permulaan Dengan Menggunakan Media Gambar Kelas 1 di MIN Buol. Kreatif Tadulako Online , 1-14.
  • Sari, S. P. (2018, April 18). Waspada, Stres Bisa Pengaruhi Kesehatan Mental Anda. Dipetik April 25, 2020, dari iNews.id Lifestyle: https://www.inews.id/lifestyle/health/waspada-stres-bisa-pengaruhi-kesehatan-mental-anda
  • Trihantoro, A., Hidayat, D. R., & Chanum, I. (2016). Pengaruh Teknik Biblioterapi Untuk Mengubah Konsep Diri Siswa. Insight: Jurnal Bimbingan Konseling 5(1), 8-14.
3 Likes

Biblioterapi meruapakan kegiatan dengan media bahan bacaan yang bertujuan untuk mengurangi atau menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi oleh seseorang. Salah satu tipe biblioterapi yaitu tipe pendidikan atau humanistik yang merupakan tipe biblioterapi yang dilaksanakan oleh konselor, guru, dan petugas perpustakaan dalam seting pendidikan. Fasilitatornya adalah pimpinan atau manajer kelompok. Adapun partisipan pada terapi pustaka tipe ini adalah orang yang sehat, misalnya siswa.

biblioterapi dapat memperluas pandangan seseorang tentang perbedaan kondisi manusiawi, sehingga diperoleh pandangan yang luas mengenai perbedaan kondisi yang sifatnya manusiawi. Di samping itu, terapi ini juga membantu membuka wawasan adanya nilai-nilai yang beraneka ragam dapat membangun hidup seseorang.

Biblioterapi juga bermanfaat untuk mengubah konsep diri individu, meningkatkan motivasi diri, menunjukkan jalan menemukan jati diri, membentuk kejujuran diri, ketahanan emosi dan tekanan mental, menunjukkan bahwa dia bukan satu-satunya orang yang mempunyai masalah, menunjukkan bahwa ada lebih dari satu alternatif penyelesaian masalah, menolong seseorang dengan diskusi masalah, membantu merencanakan sebuah langkah kerja dalammenyelesaikan masalah

Aiex menjelaskan terdapat lima tahap penerapan biblioterapi, baik dilakukan secara perorangan maupun kelompok (Olsen, 2006) :

  1. Motivasi. Awali dengan kegiatan pengenalan. Konselor dapat memberikan kegiatan pendahuluan, seperti permainan atau bermain peran, yang dapat memotivasi peserta untuk terlibat secara aktif dalam kegiatan terapi.

  2. Membaca. Berikan waktu yang cukup untuk peserta membaca. Konselor mengajak peserta untuk membaca bahanbahan bacaan yang telah disiapkan hingga selesai. Yakinkan, konselor telah akrab dengan bahan-bahan bacaan yang disediakan.

  3. Inkubasi. Terapis memberikan waktu pada peserta untuk merenungkan materi yang baru saja mereka baca.

  4. Tindak lanjut. Sebaiknya tindak lanjut dilakukan dengan metode diskusi. Lewat diskusi peserta mendapatkan ruang untuk saling bertukar pandangan sehingga memunculkan gagasan baru. Lalu, konselor membantu peserta untuk merealisasikan pengetahuan itu dalam hidupnya.

  5. Evaluasi. Sebaiknya evaluasi dilakukan secara mandiri oleh peserta. Hal ini memancing peserta untuk memperoleh kesimpulan yang tuntas dan memahami arti pengalaman yang dialami.

Ringkasan

Olsen, M. A. (2006). Bibliotherapy: School Psychologists’ Report of Use and Efficacy. Provo: Brigham Young University

Terima kasih atas tambahanya. Membaca memang punya manfaat yang begitu besar. Semoga masyarakat Indonesia gemar membaca.

Ternyata membaca bisa untuk terapi yah :smile:. Baru tahu saya. Soalnya kalo isu membaca biasanya dikaitkan dengan isu intelektualitas. Tapi kali ini saya melihat angle berbeda dalam melihat aktivitas membaca sebagai kegiatan positif.

1 Like