Perubahan Iklim Akan Paksa 143 Juta Orang untuk Pindah

Sebuah laporan baru dari Bank Dunia menyebutkan bahwa perubahan iklim akan menciptakan migrasi manusia terbesar dalam sejarah.

Alasannya bukanlah bencana dramatis seperti badai atau banjir, tetapi dampak perubahan iklim yang lebih lambat, seperti kenaikan permukaan air laut dan kekeringan berkepanjangan.

Sebuah laporan baru dari Bank Dunia menyebutkan bahwa perubahan iklim akan menciptakan migrasi manusia terbesar dalam sejarah.

Laporan berjudul Groundswell—Preparing for Internal Climate Migration tersebut memprediksikan bahwa dalam tiga dekade ke depan, sebanyak 143 juta orang di Afrika sub-Sahara, Asia Selatan, dan Amerika Latin akan dipaksa meninggalkan rumah mereka dari pedesaan menuju perkotaan.

Alasannya bukanlah bencana dramatis seperti badai atau banjir, tetapi dampak perubahan iklim yang lebih lambat, seperti kenaikan permukaan air laut dan kekeringan berkepanjangan.

Dalam studi ini, para peneliti memilih tiga negara dengan pertumbuhan jumlah penduduk yang sangat cepat untuk dijadikan studi kasus: Ethiopia, Bangladesh, dan Meksiko.

Secara tidak mengejutkan, mereka menemukan bahwa orang-orang pada tingkat ekonomi terbawahlah yang akan menjadi korban pertama.

Di Ethiopia yang curah hujannya menurun selama beberapa tahun terakhir, penduduk di daerah utara yang berbukit-bukit harus meninggalkan negara tersebut untuk mencari lahan bercocok tanam baru. Sementara itu, pertumbuhan di kota terbesar Ethiopia, Addis Ababa, juga turun karena berkurangnya hujan.

Sebaliknya, naiknya permukaan air laut dan badai yang berulang diprediksi akan mendorong jumlah penduduk di kota-kota besar Bangladesh akibat urbanisasi besar-besaran.

Meksiko yang merupakan negara terkaya di antara ketiganya memang lebih siap dalam menghadapi perubahan iklim, tetapi negara tersebut juga harus berhati-hati terhadap kantung-kantung kemiskinan. Daerah di sekitar Kota Meksiko dan Guatemala yang iklimnya lebih baik bisa menarik datangnya migran iklim dari daerah-daerah lain.

Walaupun terdengar buruk, para peneliti meyakini bahwa ini bukan hasil akhir. Jika kita berusaha untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan membuat perencanaan yang matang, maka migrasi besar-besaran ini akan bisa dikurangi hingga 80 persen menjadi 40 juta orang.

Kristalina Georgieva, CEO Bank Dunia, mengatakan, kita punya waktu yang sempit sebelum efek perubahan iklim memburuk untuk membuat perencanaan menghadapi realita baru ini.

“Langkah-langkah yang diambil kota-kota besar untuk mempersiapkan kedatangan dari daerah pedesaan dan meningkatkan kesempatan untuk belajar dan bekerja akan memberi dividen jangka panjang,” ujarnya.

sumber : https://sains.kompas.com/read/2018/03/22/070500923/perubahan-iklim-akan-paksa-143-juta-orang-untuk-pindah