Pernah berjaya lebih dari satu dekade, mengapa Friendster tinggalkan dunia jejaring sosial?

friendster

(Nimas Alfa Darojatin) #1

the-friendster-logo

Friendster merupakan situs pertemanan yang sempat booming di berbagai dunia termasuk Indonesia sekitar pertengahan tahun 2000-an. Para pengguna bisa berbagi foto, video, mengirim pesan dan tentunya yang paling hits adalah menulis testimoni. Bisa dibilang friendster adalah pelopor jejaring sosial di Indonesia. Lalu apa yang menyebabkan Friendster meninggalkan dunia jejaring sosial?


(Wibiansya Analis Febrianto) #2

Friendster adalah jejaring sosial yang sempat menjadi terpopuler di dunia beberapa tahun lalu. Didirikan pada tahun 2002, jejaring sosial ini setahun lebih dulu dari MySpace dan dua tahun lebih tua dari Facebook. Karena itu, Friendster dianggap menjadi pelopor di dunia jejaring sosial. Pada puncak kajayaannya, Friendster memiliki lebih dari 100 juta pengguna dan dilaporkan pengguna paling banyak berada di Asia Tenggara.

Pada bulan Juli 2009 silam, setelah dihantui beberapa masalah teknis dan desain barunya, jejaring sosial ini menghadapi bencana besar. Lalu lintas pengguna Friendster terjun bebas. Bak air bah, penggunanya migrasi ke jejaring sosial Facebook. Perlahan tapi pasti Friendster “mati suri”. Untuk memastikan penyebabnya, baru-baru ini ada sebuah penelitian yang berjudul “Social Resilience in Online Communnities: The Autopsy of Friendster” (Ketahanan Sosial dalam komunitas Online: Sebuah Autopsi terhadap Friendster).

Penelitian dilakukan oleh David Garcia, Paylin Mavrodiev dan Frank Schweitzer dari Swiss Federal Institute of Technology. Ketiganya tertarik untuk mengautopsi Friendster secara digital yang datanya didapat sebelum jejaring sosial itu kehilangan nyawanya. Penelitian ini bisa dijadikan bahan pembelajaran bagaimana sebuah jejaring sosial bisa berhasil dan gagal. “Ketika biaya, waktu dan usaha lebih besar dari manfaat yang didapat dari sebuah jejaring sosial, maka itulah saat yang tepat untuk eksodus.” Kata David Garcia.

Dia menjelaskan, ada satu alasan yang membuat para pengguna menjadi loyal, yaitu struktur pertemanan yang diciptakan antarpengguna jejaring sosial. “Ketahanan suatu jejaring sosial ditentukan oleh jumlah teman dari penggunanya. Jadi, jika sebagian besar pengguna hanya memiliki dua teman, maka jejaring sosial itu akan lenyap. Ketika satu teman kita keluar, maka hanya tersisa satu. Pada akhirnya, kita pu akan meninnggalkan jejaring sosial itu.” Ujar David Garcia.

Pada kenyataannya, kelangungan hidup sebuah jejaring sosial ditentukan oleh dua faktor. Pertama, hubungan antara manfaat dan biaya, dan kedua adalah jaringan pertemanan. Dalam kasus Friendster, desain baru situs menyebabkan besarnya biaya dari manfaat dan jaringan pertemanan yang berkurang drastis.

Setelah memastikan akan menghapus semua foto dan blog milik penggunanya pada 31 Mei 2011 mendatang. Pemilik Friendster yang terbaru mengumumkan kebijakan yang baru. Friendster situs pertemanan yang sempat booming di berbagai dunia, termasuk Indonesia, sekitar 10 tahun lalu kini memastikan akan meninggalkan dunia jejaring sosial. Mereka berubah haluan dalam menatap pasar industri online.

“Kami akan menjadi situs hiburan sosial untuk bermain game dan musik,” tegas Ganesh Kumar Bangah, Group Chief Executive Officer Friendster. Bangah juga sadar diri, persaingan di dunia jejaring sosial membuat mereka harus mundur teratur, sebelum akhirnya dilindas oleh Facebook. Pilihan selanjutnya pun muncul, Friendster ‘Berteman’ dengan Facebook.

Akhir 2009 lalu, MOL Global yang berbasis di Asia telah membeli Friendster. Penyedia jasa solusi pembayaran online asal Malaysia tersebut telah membeli keseluruhan saham Friendster. Berubahnya Friendster ke layanan game dan musik tidak lepas dari bisnis yang dikerjakan oleh MOL. MOL saat ini memiliki lebih dari 500.000 channel pembayaran virtual yang berhubungan dengan pembayaran konten dan layanan di 75 negara di seluruh dunia.

MOL juga memiliki hubungan dengan 70 publisher game online yang memiliki lebih dari 200 judul game. Selain itu, MOL juga memiliki partnership dengan publisher musik, film dan video yang didistribusikannya di seluruh negara. Ya, kini Friendster memang masih ada namun sudah berubah fungsi dan meninggalkan kenangan pengguna lamanya yang mungkin salah satu dari anda.

Sumber :
Okezone Techno
Viva


(Riska Agustia) #3

Seperti yang kita tahu Friendster dulunya merupakan layanan yang memungkinkan pengguna untuk menghubungi anggota lain, mempertahankan kontak-kontak mereka dan berbagi konten dan media secara online dengan kontak-kontak tersebut. Oleh karena itu, Friendster dianggap sebagai pelopor media sosial. Friendster pernah menjadi situs termahal di jejaring sosial. Bahkan Google pernah ingin membelinya senilai $30 juta pada tahun 2003, namun tidak jadi karena terbebani oleh masalah teknis dan pesaing yang lebih gesit yakni Facebook. Pengguna Friendster akhirnya terus mengalami penurunan, khususnya di AS pada tahun 2006. Sejak saat itu, Friendster seolah berjalan dengan susah payah sepanjang beberapa tahun kedepan. Kemudian, sekitar tahun 2009, desain ulang situs tersebut hancur.

Friendster yang awalnya merupakan layanan situs jejaring sosial, mulai berubah menjadi situs game sosial yang berbasis di Kuala Lumpur, Malaysia pada Juni 2011. Tepat sebelum Friendster diluncurkan kembali sebagai situs game, Internet Archive dari situs ini merangkak kembali dari jaringan mati, meraih snapshot. Garcia dan rekan-rekannya menggunakan snapshot dari pembongkaran yang dikendalikan sebagai dasar untuk penelitian mereka, yang digambarkan baik sebagai arkeolog internet dan autopsi. Apa yang mereka temukan adalah bahwa pada tahun 2009, ternyata Friendster masih memiliki puluhan juta pengguna, tetapi obligasi yang menghubungkan jaringan tidak terlalu kuat. Banyak pengguna tidak terhubung ke anggota lain, dan orang-orang yang telah berteman dengan pengguna datang dengan hanya segelintir koneksi dari diri mereka sendiri. Jadi mereka akhirnya menjadi begitu longgar untuk untuk berafiliasi dengan jaringan, biasanya itu karena antarmuka pengguna baru yang tidak layak.

Sehingga para peneliti ini menyimpulkan bahwa, apa yang dibutuhkan agar memiliki banyak pengguna untuk membangun jejaring sosial yang layak, itu karena mereka harus memiliki koneksi yang kuat. Hal tersebut telah dijadikan pelajaran oleh Facebook yang lebih memperhatikan jenis koneksi pengguna untuk memiliki dan mendorong mereka untuk selalu terhubung ke pengguna lain sebagai fondasi agar media sosial tidak runtuh seperti Friendster.

Sumber :
(http://www.murdockcruz.com/2016/12/09/inilah-mengapa-friendster-kandas-sebagai-jejaring-sosial/#.Wopr1ajFLIU)


(Bavian Adi N) #4

Friendster adalah sebuah Jejaring Sosial pertama, sebelum Facebook dan Twitter. Penemu Friendster adalah seorang programmer berkebangsaan kanada yang bernama Jonathan Abrams, ditahun 2002. Setelah beberapa bulan diluncurkan, pengguna Friendster langsung melonjak hingga 3 juta. Pada tahun 2008, pengguna Friendster mencapai 115 juta pengguna, kebanyakan dari Asia, serta telah mempunyai pemasukan hingga 50 juta dolar.

Tahun 2009 adalah tahun dimana banyak pegguna Friendster yang pindah ke Facebooa. Ada beberapa hal yang membuat Friendster kehilangan penggunanya, diataranya adalah website yang terlalu banyak bug sehingga menjadi lambat, dan akhirnya banyak pengguna yang berpindah ke Facebook. Pada situs Quora.com banyak pendapat yang memberi alasan kenapa friendster bisa kalah dengan Facebook atau MySpace, mulai dari customisasi layout yang terlalu bebas, sehingga pengguna terlalu bebas dalam mengatur tampilan profilenya dan memberi sentuhan yang cukup aneh, selain itu ada juga berpendapat bahwa kesalahan Friendster adalah tidak fokus ke status tiap orang, melainkan lebih ke profile tiap individunya. Padahal orang-orang ingin tahu apa yang sedang dilakukan oleh orang lain. Secara umum, sebenarnya Jejaring Social seperti facebook lebih baik dalam menggunakan teknologi yang ada, serta mempunyai manajemen internal yang tertata. Tidak seperti Friendster yang mempunyai terlalu banyak CEO diawal, sehingga banyak keputusan yang tidak diambil dengan baik. Disisi lain, Facebook juga sudah mengantisipasi lonjakan penggunanya sehingga sudah siap, tidak seperti friendster yang “kaget” saat mendapatkan banyak pengguna, dari sisi arsitektur maupun hardware.

Sumber :


https://www.quora.com/Why-did-Facebook-succeed-where-MySpace-and-Friendster-did-not


(Izza Isma) #5

Friendster merupakan jejaring sosial media yang sukses dan diminati pada masanya. Tepatnya pada tahun 2002 Friendster diluncurkan pertama kali oleh Jonathan Abrams. Namun kini friendster sudah tidak dapat digunakan lagi setelah kemunculan Facebook yang memberikan fitur-fitur jauh lebih menarik dan lengkap daripada Friendster.

Popularitas Friendster yang semakin menurun disertai hadirnya Facebook, membuat pengguna Friendster beralih menggunakan jejaring sosial buatan Mark Zuckerberg tersebut. Hal itu disebabkan fitur-fitur Friendster yang kalah saing dengan Facebook, tidak terjaminnya keamanan akun pengguna, perubahan testimoni menjadi komentar dan tidak mampu membendung atau mengatasi fake user dan spam.

Pada awal tahun 2004, Friendster berkeinginan untuk membeli Facebook, tetapi tawaran akuisisi Abrams tidak cukup untuk menarik minat Mark Zuckerberg dan timnya saat itu. Enam tahun kemudian, Facebook dan Friendster terlibat dalam kesepakatan akuisisi. Bukannya Friendster yang membeli Facebook, melainkan Facebook yang membeli portofolio penuh dari Friendster terkait paten social networking senilai USD 40 juta.

Di tengah semakin menurunnya Friendster, pertama kali situs Friendster ditutup pada tahun 2009. kemudian di tahun yang sama dibeli oleh MOL Global, perusahan asal Malaysia dan resmi berubah fungsi menjadi platform sosial game online. Sempat bertahan selama lima tahun sebagai platform sosial game, pertumbuhan bisnis Friendster tak kunjung meningkat yang akhirnya berujung pada ketidakmampuan perusahaan untuk menaikkan pendapatan. Mungkin karena sebab itulah pihak pengelola Friendster memutuskan untuk menghentikan semua kegiatan operasional pada situs Friendster.

Referensi :


(Mardiani Putri Agustini) #6

Friendster adalah perusahaan yang dikelola oleh Friendster Inc. didirikan pada tahun 2002 berkantor pusat di Silicon Valley, California, Amerika Serikat. Pendirinya adalah Jonathan Abrams, yang sekaligus sebagai kreator dari Friendster. Pengguna Friendster menggunakan situs tersebut untuk mencari teman kencan, berkenalan, bahkan belajar HTML dasar untuk menghias halaman profil mereka. Hingga kini Friendster dianggap pioneer dan kakek dari media sosial.

Friendster harus berdarah setelah muncul Facebook di tahun 2004. Seperti dilaporkan situs Mashable pada 2014, Jonathan Abrams mengungkapkan bahwa Friendster memiliki kendala dalam hal teknologi. Sebelum muncul jejaring sosial Facebook, Friendster sudah ingin mengciptakan news feed untuk lingkungan kampus atau layanan yang dinamakan “Friendster College”. Tidak hanya itu, Friendster juga berencana menciptakan tools “Friendster social graph”, termasuk platform untuk berbagi playlist musik.

Bahkan Friendster pada 2003 mendapatkan tambahan dana USD13 juta, namun para investor tidak fokus dalam meningkatkan pelayanan tersebut. Tersendatnya layanan tersebut untuk menjaga basis pengguna berakhir pada menurunnya pangsa pasar Friendster. Popularitas Friendster yang turun serta hadirnya Facebook, membuat pengguna beralih menuju jejaring sosial Facebook.

Pada 2011 Friendster kemudian beralih menjadi situs game. Namun akun Friendster sebagai media sosial masih bisa diakses dengan password lama sampai 27 Juni 2011. Lewat dari tenggat itu, semua data pengguna beserta foto-foto dihapus secara permanen. Namun, peralihan ini pun tidak bertahan lama karena pada 14 Juni 2015 situs Friendster benar-benar dihapus untuk selamanya.

Referensi:
https://www.cekaja.com/info/selain-yahoo-ini-lima-perusahaan-besar-yang-kini-bangkrut/

https://mashable.com/2014/02/03/jonathan-abrams-friendster-facebook/


(Dorothy Gabriel) #7

Friendster memang sempat menikmati masa jayanya pada tahun tersebut. Bahkan jumlah pengguna aktif per Juni 2008 mencapai 37,1 juta orang. Pada angka tersebut mayoritas pengguna Friendster berasal dari Asia. Namun, sangat disayangkan kesuksesannya tersebut tidak dapat bertahan lama sebagai sebuah media sosial sejak kemunculan MySpace, Facebook, dan lain-lain (terutama Facebook). Karena menurut saya, Friendster belum betul-betul memuaskan apa yang penggunanya inginkan dalam bermedia-sosial.

Dan menurut sepengamatan saya, Friendster ini meninggalkan dunia jejaring sosial karena fokusnya bukan lagi sebagai platform media sosial, melainkan beralih sebagai platform sosial game online (ini terjadi setelah Friendster dibeli taipan yang berasal dari Malaysia). Friendster kurang memikirkan strategi prioritasnya. Terima kasih.

Sumber:

https://tirto.id/mengenang-friendster-dan-media-sosial-jadul-yang-lain-csMe
http://tekno.kompas.com/read/2015/06/19/08260067/Situs.Friendster.Tutup.Lagi