Peran Komunikasi dalam Membangun Kesehatan Mental Selama Pandemi COVID-19

Manusia merupakan makhluk sosial yang sangat erat hubungannya dengan interaksi sosial, terutama komunikasi. Komunikasi yaitu suatu kata yang mencakup segala bentuk interaksi dengan orang lain yang berupa percakapan biasa, membujuk, mengajar dan negosiasi (Nurjaman dan Umam, 2012). Menurut Berelson dan Stainer (1964), komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi, gagasan, emosi, keahlian dan lain-lain. Melalui penggunaan simbol-simbol seperti kata-kata, gambar-gambar, angka-angka dan lain-lain. Pada dasarnya, manusia akan menjalin suatu hubungan antar sesamanya secara alamiah. Setiap tindakan yang melibatkan orang lain akan terciptanya suatu interaksi, baik komunikasi verbal maupun non verbal. Komunikasi verbal dapat berupa percakapan ataupun sapaan, sedangkan komunikasi non verbal dapat berupa senyuman ataupun salaman. Hal ini menjadikan komunikasi sangat mutlak diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Komunikasi adalah sesuatu hal yang dibutuhkan agar manusia bisa memenuhi kebutuhan dasar mereka, yaitu kebutuhan fisik, kebutuhan atas keamanan, kebutuhan sosial, kebutuhan untuk dihargai, dan kebutuhan untuk aktualisasi diri. Namun demikian, melakukan komunikasi pada masa-masa ini mengalami beberapa kendala terkait dengan pandemi yang sedang melanda dunia.

Pada akhir tahun 2019, sebuah virus yang menyebabkan penyakit menular berbahaya telah menginfeksi warga di Wuhan, China. Awal Januari 2020, National Health Commission China mengidentifikasi sebuah jenis corona virus baru yang kemudian dibagikan sekuen genetiknya kepada negara-negara lain untuk mengembangkan istrumen diagnosis (WHO, 2020). Pada 2 Maret 2020, pemerintah Indonesia mengumumkan kasus pertama Corona virus desease 2019 (Covid 19) di Indonesia. Tingkat penyebaran Corona virus desease sangat cepat, sehingga berbagai kebijakan yang bertujuan untuk memutus mata rantai COVID-19 pun diterapkan. Beberapa himbauan yang digunakan pemerintah untuk mengurangi penyebaran COVID-19 antara lain, stay at home, physical distancing, cuci tangan, menggunakan masker, dan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), WFH ( Work from Home ).

Kebijakan ini tentu memunculkan dampak yang luar biasa di berbagai sektor, mulai dari pendidikan, ekonomi, politik dan agama. Perubahan perilaku sosial terjadi secara drastis terlebih lagi jika dikaitkan dengan kebutuhan manusia untuk berkomunikasi. Perubahan itu menimbulkan ketidaknyamanan dan gejolak sosial di masyarakat. Sebelum pandemi COVID-19, komunikasi non verbal dianggap stimulus dalam berkomunikasi. Namun, pandemi COVID-19 menghambat terjadinya komunikasi non verbal. Seperti tersenyum hanya dapat dilihat dari kerutan di ujung mata akibat tertutup oleh masker. Salaman dan berpelukan bahkan dianggap berbahaya selama pandemi COVID-19. Himbauan stay at home mengakibatkan kita sulit bertatap muka secara langsung.

Relasi sosial yang terbatas dan banyaknya waktu luang menimbulkan perasaan kehilangan, kesendirian dan kesepian yang berpotensi memperburuk emosi individu. Beberapa bentuk gangguan mental yang mungkin terjadi akibat adanya physical distancing adalah kesepian, kecemasan, depresi, penyalahgunaan obat terlarang, dan kekerasan domestic (Galea, Merchant, & Lurie, 2020). Sebenarnya perubahan emosi, seperti khawatir, cemas dan stres merupakan salah salah satu bentuk mekanisme pertahanan diri atau tanda bahwa ada perubahan atau ancaman yang kita hadapi. Perubahan emosi ini ditandai dengan gejala perasaan yang berubah-ubah ( mood swing ), keinginan untuk tidak melakukan apapun yang berkelanjutan, dan pola makan yang berubah drastis. Bermain gadget terus menerus atau bolak-balik scroll timeline yang sebenarnya tidak ada urgensi keperluan menjadi suatu penolakan dari tubuh kita untuk menyadari adanya perubahan emosi yang terjadi. Apabila perubahan rasa emosi berlebihan, maka akan menganggu kondisi psikologis individu, seperti mengalami depresi. Penurunan tingkat ekonomi juga dapat menjadi pemicu yang rentan menimbulkan gangguan psikologis lebih hebat dibandingkan COVID-19 itu sendiri.

Gangguan mental akibat COVID-19 terlihat dalam hasil penelitian Wang (2020) yang melibatkan 1.210 responden dari 194 kota di Cina. Secara total, 53,8% responden menilai dampak psikologis dari wabah tersebut sedang atau berat; 16,5% melaporkan gejala depresi sedang hingga berat; 28,8% melaporkan gejala kecemasan sedang hingga berat; dan 8,1% melaporkan tingkat stres sedang hingga berat. Pandemi COVID-19 bukan hanya mengancam kesehatan secara fisik, namun juga secara mental. Tidak hanya datang akibat masa karantina tetapi, berita buruk, stigma negatif dan keputusasaan pun menjadi faktor pemicu ganggua kesehatan mental.

Dalam pandemi COVID-19, orang sehat dapat mengalami gangguan mental akibat adanya perubahan yang secara mendadak dan memaksa. Terlebih lagi orang yang terduga COVID-19 sangat rentan mengalami gangguan mental. Stigma negatif dari orang lain dapat menyebabkan peningkatan gejala depresi, dan stres (Earnshaw, 2020). Ketika seseorang terduga COVID-19, maka orang lain akan cenderung memberi stigma negatif ke orang tersebut. Stigma negatif menciptakan persepsi diri bahwa dia orang buruk, orang yang salah karena terinfeksi penyakit. Stigma juga dapat berdampak pada perilaku diskriminatif dari orang lain. Stigma negatif penyakit COVID-19, membuat orang cenderung melakukan perbuatan yang melanggar norma, yaitu kebohongan atau tidak jujur ketika ditanyakan berkaitan dengan COVID-19. Stigma mengakibatkan pasien terasingkan secara sosial, penolakan dan bullying dari orang sekitar melalui offline dan online (media sosial).

Selama COVID-19, interaksi sosial antar manusia pun beralih dari interaksi langsung menjadi interaksi tak langsung, yaitu dengan melakukan komunikasi online.


Gambar diatas menunjukkan kuliah dan rapat yang dilakukan secara online. Dunia digital memberikan akses bagi kita untuk melakukan hampir seluruh kegiatan secara online. Mulai dari kerja dari rumah, kelas online, belanja kebutuhan pokok hingga ibadah online. Pergeseran perilaku sosial manusia yang lebih terbuka akan informasi dan dunia digital membawa dampak positif maupun negatif.

69947
Data dari Hootsuite diatas menunjukkan bahwa penggunaan waktu dalam media sosial di Indonesia pada Januari 2020 lebih tinggi diatas worldwide, yaitu 3 jam 26 menit. Media sosial pun menjadi pilihan untuk mengatasi rasa bosan di waktu luang. Media sosial yang digunakan oleh masyarakat Indonesia pun beragam. Tiktok menjadi salah satu media sosial yang viral di kala pandemi. Namun, youtube tetap menempati peringkat teratas media sosial yang paling sering digunakan. Penggunaan media sosial yang berlebihan dapat mejadi ketergantungan bagi penggunanya.

Ketergantungan sosial media merupakan salah satu gejala gangguan kesehatan mental. Ketergantungan dalam berkomunikasi di media sosial dapat disebabkan adanya keinginan berinteraksi yang terus menerus, mencari hiburan yang tak pernah terpuaskan, ekspresi diri yang selama ini terkekang, mencari popularitas. Media sosial adalah kombinasi antara media komunikasi antarpersonal dan komunikasi massa (Utari, 2011). Media sosial yang terhubung dengan begitu banyak orang, membuat penyebaran hoax pun dapat terjadi oleh orang yang tak bertanggung jawab. Ketika kita menerima ataupun menyebar suatu pesan dalam media sosial, diperlukan pertimbangan dengan melihat fakta yang ada. Komunikasi secara online seperti pedang bermata dua, memiliki sisi negatif dan positif.

Komunikasi yang stabil akan menjaga koneksitas relasi dengan orang lain. Menjaga koneksitas relasi dengan orang lain perlu dilakukan selama masa karantina untuk menghilangkan rasa kesepian atau pun kehilangan. Dalam menjalin hubungan, komunikasi yang stabil sangat diperlukan untuk tetap saling memberikan rasa peduli. Membangun relasi postif dan membangun solidaritas yang saling mendukung dapat meningkatkan kebahagiaan. Adanya komunikasi yang positif dapat saling berbagi rasa dan menumbuhkan rasa saling pengertian. Hal ini memberikan feedback positif terhadap psikologis orang tersebut.

Komunikasi dengan tujuan positif bisa memberikan efek yang baik terhadap orang lain yaitu memberikan sebuah motivasi. Komunikasi dengan tujuan positif ini dimulai dari diri sendiri yang bersifat persuasif atau mengajak masyarakat menjadi lebih positif. Komunikasi yang efektif akan cenderung lebih mudah membuat orang lain termotivasi yang akhirnya cenderung meningkatkan semangat, gairah, produktivitas, kepuasan maupun kinerjanya. Menggeser stigma yang beredar dengan motivasi sehingga menghilangkan rasa cemas dan keputusasaan. Bahkan, dampak lain yang timbul dengan komunikasi yang positif dan efektif adalah seseorang akan merasa senang, meningkatkan loyalitas dan kesehatan mental, memunculkan rasa hormat dan rasa percaya.

Komunikasi positif dan efektif juga bisa berupa ekspresi diri seperti musikalisasi puisi atau pelatihan memasak yang dapat pada masa pandemi COVID-19. Ekspresi diri ini dapat membantu kita untuk semangat, mencintai diri sendiri dan menerima keadaan. Waktu yang berlebih dapat digunakan untuk kegiatan yang produktif dan positif, sehingga tidak ada ruang untuk rasa jenuh dan cemas yang menghantui. Dalam ekspresi diri, kreativitas pun diasah sehingga menimbulkan rasa hidup dan berinovasi.

Komunikasi yang positif dan efektif tidak melibatkan emosional tanpa pertimbangan. Informasi yang diterima harus ditanggapi dengan bijak. Sebelum menelan informasi secara langsung, kita terlebih dahulu melihat data atau fakta terkait. Tetap peduli pada situasi atau perubahan yang terjadi dan informasi terbaru. Hal ini membantu kita untuk tidak termakan hoax dan dapat mengambil sikap dalam menghadapi pandemi COVID-19. Komunikasi harus tetap jujur, kooperatif, dan pro-aktif melaporkan masalah-masalah sosial yang disebabkan dampak COVID-19 kepada pihak yang berwenang agar segera diatasi. Sosialisasi tentang cara pencegahan dan penganan COVID-19, serta memberikan informasi yang jelas dan akurat dalam penanganan wabah ini.

SUMBER REFERENSI

Berelson dan G.A.Steiner. 1964. Human Behaviour An Inventory of Scientifie Finding. New York: Harcurt, Brank 721.

Earnshaw, V.(2020).Don’t Let Fear of COVID-19 Turn into Stigma. Diakses dari: https://hbr.org/2020/04/dont-let-fear-of-COVID-19-turn-into-stigma

Galea, S., Merchant, R. M., & Lurie, N. (2020). TheMental Health Consequences of COVID-19 and Physical Distancing: The Need for Prevention and Early Intervention. JAMA, April, 1-2. doi:10.1001/jamainternmed.2020.1562

Nurjaman, K., & Umam, K. (2012). Komunikasi & Public Relation. Pustaka Setia.

Utari, Prahastiwi. 2011. Media Sosial, New Media dan Gender dalam Pusaran Teori Komunikasi. Yogyakarta; Aspikom

Wang , C , Pan, R , Wan, X 1 , Tan, Y, Xu, L 1 ,. Ho,C.S & Roger C. Ho, R.C(2020). Immediate Psychological Responses and Associated Factors during the Initial Stage of the 2019 Coronavirus Disease (COVID-19) Epidemic among the General Population in China., International.Journal of Environment Research and . Public Health, 17, 1729; doi:10.3390/ijerph17051729

WHO. (2020). Risk communication and community engagement (RCCE) readiness and response to the 2019 novel coronavirus (2019-nCoV). Diakses dari: https://www.who.int/publications-detail/riskcommunication-and-community-engagement-readiness-and-initial-response-for-novelcoronaviruses-(-ncov)

9 Likes