Pentingnya Komunikasi Efektif dalam Pendidikan Karakter pada Anak

Pendidikan Karakter pada Anak
Tidak bisa dipungkiri bahwa manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, manusia perlu melakukan interaksi dengan pihak-pihak yang saling membutuhkan dan saling keterkaitan. Nah, salah satu syarat terjadinya interaksi sosial adalah komunikasi. Dikutip dari situs wikipedia.org, “Komunikasi adalah suatu proses ketika seseorang atau beberapa kelompok orang, kelompok, atau organisasi, dan masyarakat menciptakan, dan menggunakan informasi agar terhubung dengan lingkungan dan orang lain.” Komunikasi merupakan bagian penting dan vital bagi manusia. Dengan berkomunikasi, manusia dapat mengutarakan segala hal yang diperlukan untuk berbagai kepentingan dengan pihak-pihak terkait.

Komunikasi lahir dengan beragam bahasa, maksud dan tujuan, penyampaian, serta penerimaan. Namun, sering kita melihat banyak kasus yang menyerang emosi anak yang disebabkan adanya komunikasi yang kurang baik di antara dua belah pihak atau lebih yang berujung pada kekerasan emosional. Kekerasan emosional merupakan tindakan yang merendahkan anak melalui kecaman kata-kata yang berlanjut dengan melalaikan anak, mengisolasi anak dari lingkungan dan hubungan sosialnya, menyalahkan anak terus-menerus dan biasanya selalu diikuti oleh kekerasan lain. Kekerasan emosional sangat sulit dideteksi karena sering kali merupakan kasus yang tidak dilaporkan. Manifestasinya akan terlihat setelah timbulnya masalah, baik terhadap diri sendiri maupun lingkungannya (Soetjiningsih, 2004; Ilham, 2013; Pratiwi, 2015).

Kekerasan emosional adalah jenis kekerasan yang paling umum dari kekerasan yang terjadi di Australia pada periode 2012-2013, seperti kekerasan emosional yang terjadi terhdap anak dapat berasal dari orang tua (ibu dan ayah), wali atau orang dewasa lainnya. Amerika Serikat Nasional Insiden Studi menyatakan kekerasan emosional pada anak berasal dari orang tua biologis sekitar 73%, orang tua non-biologis sebesar 20%, dan 7% di antaranya adalah kekerasan yang dilakukan oleh orang dewasa lainnya (Sediak, Mettenburg, Basena, Peta, McPherson, & Greene, 2010).

Kekerasan yang terjadi pada anak di Indonesia tidak jauh berbeda dengan kekerasan emosional di Australia. Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) mengatakan kekerasan pada anak sudah tahap darurat. Fakta itu terungkap dari data kekerasan yang diterima Komnas Perlindungan Anak cenderung meningkat.

Berdasarkan laporan kekerasan yang terjadi pada tahun 2010 mencapai 2.046 kasus, laporan kekerasan pada tahun 2011 naik menjadi 2. 462 kasus, pada tahun 2012 naik lagi menjadi 2.626 kasus, dan pada tahun 2013 melonjak menjadi 3.339 kasus. Bahkan, dalam tiga bulan pertama pada tahun 2014, Komnas PA sudah menerima 252 laporan kekerasan pada anak (Munte, 2019). Kekerasan terhadap anak umumnya disebabkan oleh faktor internal yang berasal dari anak sendiri maupun faktor eksternal yang berasal dari kondisi keluarga dan masyarakat. Faktor internal dan eksternal itu antara lain krisis identitas (gagal mencapai masa intergritas). Kontrol diri yang lemah, anak mengalami kecacatan, kemiskinan keluarga, keluarga pecah, keluarga yang belum matang secara psikologis, penyakit parah, riwayat penelantaran anak, dan kondisi sosial yang buruk (Huraerah, 2006; Iqbal, 2011; Wahyuningsih, 2010).

Setiap anak dilahirkan dengan kepribadian yang unik dan berbeda-beda. Namun, tempat ia tumbuh memberikan peran besar dalam pembentukan karakternya sebagai anak yang baik di masa depan. Oleh karena itu, orang tua, saudara, dan guru memiliki peran besar untuk mengajarkan anak dalam mengembangkan sifat-sifat kepribadian yang positif.

Manusia bebas untuk berkomunikasi dengan siapa pun dan di mana pun. Namun, dengan adanya kebebasan dalam berkomunikasi jangan sampai menjadikan anak merasa tursudut oleh omongan yang telah dilontarkan. Untuk membangun sebuah relasi yang baik, dibutuhkan komunikasi yang efektif di dalamnya agar manfaatnya dapat tersalurkan dengan baik pula.

Maksud dari komunikasi efektif ialah kegiatan saling bertukar informasi, ide, kepercayaan, persaan, sikap, antara dua orang atau lebih (kelompok) yang hasilnya sesuai dengan apa yang diharapkan. Komunikasi efektif ini sangat berguna dalam pembentukan karakter pada anak. Dalam hal ini, pendidikan karakter sangat penting sebagai penguat dan pembentuk konsep diri yang baik pada anak aehingga dibutuhkan kesabaran serta kehati-hatian di dalam prosesnya.

Bersikap lemah lembut terhadap kekurangan anak. Banyak orang tua berharap anak-anak mereka unggul dalam segala hal yang mereka lakukan. Ketika anak-anak melakukan hal yang tidak sesuai dengan harapan, beberapa orang tua pun menyatakan kekecewaannya melalui banyak cara. Bahkan, tidak jarang yang menuduh anaknya tidak cukup kompeten. Padahal, setiap anak pasti memiliki kemampuan dan bakat masing-masing. Sebagai orang tua harus bisa mengidentifikasi dan mendorong anak untuk terus berkembang. Cara itu dapat diberikan melalui bantuan lembut untuk memperbaiki kekurangan anak tanpa mengurangi kepercayaan diri anak.

Membandingkan anak dengan saudara, teman, kerabat, dan tetangga lain dapat merusak kepribadian anak. Kebiasaan ini dapat memberikan pesan yang tidak cukup baik. Anak-anak menjadi bingung tentang identitas mereka sendiri dan mulai meniru orang lain. Bahkan, ada juga yang menyalahkan diri sendiri karena tidak berbakat seperti orang lain. Hal ini akan memicu anak menjadi tidak percaya diri dan membuat semangat mereka turun. Untuk itu, memahami kepribadian anak adalah langkah pertama dan terpenting dalam membangun kepercayaan diri serta kekuatan terbaik mereka.

Jadilah pendengar yang baik bagi anak. Anak-anak selalu membutuhkan perhatian. Ketika anak-anak tumbuh, mereka menjadi semakin mandiri. Anak-anak prasekolah cenderung mengekspresikan diri lebih banyak dengan berbicara, terutama pada saat keterampilan bahasa berkembang.

Batasi waktu anak untuk menonton televisi dan bermain gadget. Gadget adalah masalah yang banyak dialami oleh orang tua. Penelitian menunjukkan bahwa terlalu banyak melihat layar gadget atau menonton televisi bisa memengaruhi perkembangan intelektual dan sosial pada anak. Bermain gadget juga bisa menimbulkan kecanduan pada anak sehingga anak akan cenderung lebih sedikit melakukan interaksi sosial. Batasi waktu anak saat bermain gadget maupun menonton televisi. Ajari mereka menghargai lingkungan serta orang-orang yang ada di sekitarnya lebih dari hal-hal virtual yang mereka lihat di gadget. Dengan begitu, anak akan bisa mengimbangi perilaku mereka dan melakukan hal-hal positif dalam berinteraksi.

Memberikan kejelasan tanggung jawab pada anak. Terkadang orang tua gagal dalam mengomunikasikan maksud dan tujuannya yang akhirnya menuduh mereka melakukan kesalahan. Padahal, ketika aturan dan tanggung jawab ditegakkan dengan tegas, beberapa anak belajar menyelaraskan dengan aturan yang telah dibuat dan berusaha untuk patuh. Mungkin, perlu waktu bagi anak-anak untuk menyelaraskan diri dengan aturan yang berlaku, tetapi kepatuhannya yang berkelanjutan akan menjadi kebiasaan yang baik bagi anak.

Dorong anak untuk melakukan kegiatan secara mandiri dengan pengawasan minimum. Ini tidak hanya melatih keterampilan, tetapi juga dapat meningkatkan rasa tanggung jawab anak.

Terapkan pola asuh yang lembut. Menegur atau melukai hati anak tidak akan bisa menyelesaikan masalah. Orang tua harus menyampaikannya secara perlahan dengan memperhatikan tata bahasa yang digunakan supaya anak mengerti dan tidak terjadi kesalahpaham di antara keduanya. Pola asuh seperti ini akan efektif dalam pembentukan karakter anak.

Ciptakan suasana yang nyaman. Orang tua harus bisa menyesuaikan diri agar anak bisa nyaman saat interkasi itu terjadi, seperti memilih waktu, tempat, serta menyampaikannya dengan emosi yang tepat. Dengan begitu, terciptalah suatu solusi di antara keduanya atau pihak-pihak terkait.

Selain dalam hal mengarahkan, orang tua juga harus mendengarkan apa yang diinginkan atau apa yang menjadi penyebab terjadinya pertentangan di antara pihak-pihak terkait agar bisa memahami satu sama lain. Sebelum menyampaikan pesan, alangkah baiknya jika memilah kata yang sesuai agar menjadi kalimat yang mudah dipahami dan tidak terjadi kesalahpahaman dalam menerima sebuah isi. Dengarkan dan pahami anak adalah salah satu kunci keberhasilan dalam membangun karakter pada anak. Dengan demikian, terciptalah karakter anak yang unggul dan berbudi pekerti luhur.

7 Likes