Pentingkah kata putus dalam mengakhiri hubungan?

Belakangan ini nama Kaesang dan (mantan) pacarnya, Felicia, tiba-tiba jadi trending di twitter. Kalau saya baca kronologinya sih, katanya Kaesang meng-ghosting pacarnya selama dua bulan sebelum akhirnya muncul dengan perempuan lain. Hehe, menarik ya. Ghosting yang dilakukan Mas Kaesang nggak spesial juga sebetulnya. Kasus semacam ini banyak terjadi di mana-mana. Kadang saya berpikir, memangnya harus banget ya ada kata putus dalam mengakhiri hubungan? Apalagi yang konteksnya masih sebatas pacaran belum pernikahan.

4 Likes

Kebetulan topik yang sama juga menghiasi TL saya di twitter. Saya lihat banyak orang yang menyalahkan Kaesang atas hal ini. Namun terlepas dari masalah Kaesang, menurut saya ada ghosting yang bisa dibenarkan yang konteksnya adalah menyelamatkan diri dari hubungan abusive.

Kunci dari sebuah hubungan terletak pada komunikasi. Karena itu dalam mengakhiri hubungan seharusnya ada komunikasi yang baik antara dua belah pihak sehingga keduanya saling memahami serta menerima perpisahan tanpa merasa dirugikan. Namun komunikasi hanya terwujud apabila terjadi dua arah. Sayangnya tidak semua partner dapat diajak berkomunikasi dua arah.

Dalam hubungan yang abusive, baik secara fisik maupun mental, kebanyakan pelaku tidak akan membiarkan pasangannya memutuskan hubungan dengan mereka. Semakin korban membicarakan mengenai perpisahan, maka semakin besar potensi konfliknya. Bahkan bisa sampai pada taraf yang membahayakan keselamatan. Dalam hal ini sepertinya jalan yang terbaik adalah dengan ghosting dan mencari perlindungan dari pihak-pihak yang dapat membantu korban.

2 Likes

Emang kuncinya ada di komunikasi, tapi sayangnya masih banyak orang yang beranggapan kalau komunikasi itu harus verbal (ucapan). Komunikasi non verbal dianggap bukan komunikasi, apalagi komunikasi yang bersifat “simbolis”.

“Kata” putus (sengaja saya kasih kutip) bisa aja dilakukan dengan “menghilang”. Malahan, itu ucapan yang sangat jelas. Ngga semua orang yang marah atau menunjukkan rasa ngga seneng dengan “teriak-teriak” kan ? Diam aja sudah cukup menunjukkan bahwa kita sedang marah.

Banyak contoh orang yang ngga perlu ngungkapin rasa sukanya, tapi orang yang disukai tau kalau dia suka. Tau-tau pacaran aja :sweat_smile:

Tapi sayangnya, masih banyak orang yang ngga paham dengan bahasa simbol seperti itu. Diam dianggap tidak terjadi apa-apa. Giliran ngilang (ghosting) dipermasalahin. Lha waktu “diam” apa ngga ngerasa bahwa dia sedang berkomunikasi dengan caranya sendiri ?

Intinya, kunci dari komunikasi adalah kepekaan seseorang dalam menangkap pesan yang disampaikan, baik verbal maupun non verbal.

3 Likes

Nah disitulah letak masalahnya. Apabila hubungan dimulai oleh kedua individu, maka seharusnya dalam mengakhiri, keduanya terlibat juga secara sadar. Contoh komunikasi non verbal dengan mendiamkan yang disebutkan oleh kak @desas tadi mungkin bisa diberlakukan ke beberapa orang dengan tipe komunikasi tertentu, dengan catatan, keduanya sama-sama menyepakati simbol tersebut dan saling memahami pesan yang ingin disampaikan, sehingga secara tidak langsung keduanya menyepakati berakhirnya hubungan.

Namun tipe komunikasi manusia beragam. Satu individu dan individu lainnya tidak bisa disamakan. Terutama dalam penggunaan bahasa non verbal yang artinya tidak pakem, bisa berbeda dalam budaya yang berbeda. Dalam kasus-kasus semacam ini alangkah baiknya kalau komunikasi dilakukan dengan bahasa yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. Apalagi hubungan adalah sesuatu yang melibatkan dimensi perasaan serta dapat mempengaruhi mental seseorang. Hal yang sensitif seperti ini, apabila memang harus diakhiri, seharusnya diakhiri dengan tuntas sehingga tidak ada pihak yang masih merasakan adanya ganjalan. Pesan-pesan yang tidak sampai dengan baik kepada satu pihak akan menimbulkan adanya ganjalan ini.

Kalau menurut saya, yang paling penting adalah, kedua pihak sama-sama mendapatkan pemahaman yang utuh mengenai pesan yang disampaikan kepada satu sama lain.

Untuk hubungan yang dimulai dengan pertanyaan sejenis “Mau gak jadi pacar aku?” dan jawaban “Mau” atau kata lain yang mewakili bersedianya si lawan bicara, saya rasa jelas kata “putus” menjadi penting untuk mengakhiri hubungan. Jadi, sebagaimana itu dimulai, akhirilah dengan cara yang sama. Menghilang tiba-tiba tanpa sepatah kata pun mungkin bagi sebagian orang bisa jadi harapan, sementara kalau jelas sudah ada pernyataan berakhir, lebih besar peluang untuk ‘ikhlas’ muncul.

Ini menurut saya karena saya tipe yang ingin apa pun itu menjadi jelas sejelas-jelasnya alias ga digantung atau nyangkut di hati. Bisa jadi di luar sana beberapa orang ternyata terlalu peka dan bisa paham keinginan pasangannya tanpa perlu ada kata untuk mengakhiri hubungan.

2 Likes

Menurut saya pribadi dalam mengakhiri sebuah hubungan walaupun masih pacaran jelas memerlukan kejelasan dengan bahasa. Jika hanya dengan menggunakan isyarat maupun simbol-simbol tertentu justru membuka kemungkinan adanya kesalahpahaman lebih lanjut di antara pemilik hubungan.
Dengan adanya kata putus ataupun bahasa verbal lainnya yang dapat dimengerti kedua belah pihak membuat semua pihak tidak terjebak dalam kebingungan.

3 Likes