Mengapa orang menguap ketika melihat orang lain menguap?

nguap
Ada sebuah fakta bahwa jika ada seseorang yang menguap maka orang di dekatnya juga akan ikut menguap, bagaimana proses kerja otak (perintah-perintah yang berjalan di otak) sehingga hal tersebut dapat terjadi?

Kenapa Menguap itu Menular? Menguap adalah tindakan refleks yang terjadi pada semua orang, biasanya dilakukan untuk menghirup udara dalam jumlah banyak dan diikuti dengan pernapasan. Tindakan refleks ini seringkali dikaitkan dengan stres, kelelahan, terlalu banyak kerjaan, kebosanan dan mengantuk. Menguap juga bisa terjadi bila ada kelebihan karbondioksida atau kelangkaan oksigen dalam aliran darah.

Sementara banyak penelitian terdahulu telah mendokumentasikan fenomena tersebut, sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Adaptive Human Behavior and Physiology, berpendapat bahwa menguap mungkin tidak menular selama kita belum membuktikannya. Psikolog eksperimental Rohan Kapitány dari Universitas Oxford melakukan tinjauan terhadap literatur ilmiah tentang menguap itu menular dan menemukan sedikit bukti konklusif untuk mendukung asumsi lama kami bahwa menguap itu menular.

“Keyakinan bahwa menguap itu menular tampaknya terbukti dengan sendirinya,” kata Kapitány kepada PsyPost, "tapi ada beberapa alasan mendasar mengapa kita salah dalam hal ini. Jika kita gagal membedah apa yang kita pikir kita ketahui, kita mungkin akan berakhir dengan kesimpulan yang tidak mencerminkan kenyataan.Dalam hal ini, literatur tidak mempertanyakan fitur dasar mengapa menguap itu menular, dan berakhir dengan berbagai metodologi dan kesimpulan yang tidak standar. "

Studi terbaru menunjukkan menguap bukan saja sebagai tanda seseorang ingin tidur. Tapi tujuan menguap untuk mendinginkan otak sehingga dapat beroperasi lebih efisien dan membuat seseorang tetap terjaga.

Tapi kenapa ketika seseorang menguap yang melihatnya juga ikut menguap?

“Kami berpikir penyebab menguap itu menular karena dipicu oleh mekanisme empatik yang berfungsi untuk menjaga kewaspadaan kelompok. Karenanya menguap adalah tanda empati,” ujar seorang peneliti Dr Gordon Gallup, seperti dikutip dari BBCNews, Kamis (8/4/2010).

Penyebab lain menularnya menguap karena aktifnya sistem saraf cermin (mirror neurons system) yaitu neuron yang terletak di bagian depan setiap belahan otak vertebrata tertentu.

Ketika menerima stimulus (rangsangan) dari spesies yang sama, maka spesies tersebut juga akan mengaktifkan daerah yang sama di otak. Hal inilah yang menyebabkan seseorang akan menguap jika melihat oang lain menguap.

Sistem saraf cermin ini bertindak sebagai penggerak untuk meniru dan bertanggung jawab terhadap pembelajaran manusia. Karenanya menguap sering dianggap sebagai cabang dari impuls (gerakan) tiruan yang sama.

Jika pusat dari sistem neuron cermin tidak aktif saat melihat seseorang menguap, maka hal ini tidak akan memiliki hubungan dengan keinginan merespons untuk menguap.

Semakin kuat seseorang ingin menguap, maka semakin kuat aktivasi dari bagian otak periamygdalar kiri. Hasil temuan ini merupakan tanda neurofisiologis pertama yang mengungkapkan bahwa menguap bisa menular.

Daerah periamygdalar adalah zona yang terletak di samping amigdala dan struktur bentuknya seperti kacang almond yang terletak jauh di dalam otak.

Aktivasi beberapa bahan kimia yang ditemukan di otak, misalnya, serotonin, dopamin, glutamin, asam glutamat dan oksida nitrat, dapat pula meningkatkan frekuensi menguap. Sedangkan beberapa bahan kimia lain seperti endorfin justru bisa mengurangi frekuensi menguap.

Jika seseorang menguap, maka ada tahapan yang terjadi adalah:

  1. Dimulai dengan mulut terbuka
  2. Rahang bergerak ke bawah
  3. Memaksimumkan udara yang mungkin dapat diambil ke dalam paru-paru
  4. Menghirup udara
  5. Otot-otot perut berkontraksi
  6. Diafragma didorong ke bawah paru-paru
  7. Terakhir beberapa udara ditiupkan kembali.

Beberapa studi menunjukkan manfaat dari menguap yaitu dapat menstabilkan tekanan di kedua sisi gendang telinga atau mirip dengan peregangan, melenturkan otot dan sendi pada tubuh serta meningkatkan tekanan darah dan denyut jantung.

Menguap Lebih Mudah Menular di Antara Anggota Keluarga atau Teman, Ketimbang dengan Orang yang Tidak Dikenal.

Temuan terbaru mengungkapkan bahwa empati sosial mempunyai peran penting di sini. Para ilmuwan menemukan bahwa menular tidaknya menguap tergantung dari kuat tidaknya ikatan antara orang-orang yang berada di suatu tempat. Anggota keluarga adalah yang paling mungkin untuk memicu penularan menguap ini, diikuti oleh teman-teman, kemudian baru orang asing atau yang tidak dikenal.

Para peneliti dari Italia, seperti dikutip laman Huffington Post edisi 8 Desember 2011, menghabiskan waktu satu tahun untuk merekam menguapnya 109 orang dewasa–53 pria dan 56 wanita–dari seluruh dunia. Partisipan dibagi dalam kategori ‘triggers’ yang lebih dulu menguap serta ‘observers’ yang merespons dengan menguap.

sumber:


http://fk.unair.ac.id/archives/2010/04/09/menguap-bisa-menular/

menguap-bisa-menular

Menguap dikaitkan dengan kondisi tubuh yang merasa kelelahan ataupun mengantuk yang kemudian mengintrupsikan untuk segera beristirahat. Namun pada kenyataannya tidak semua menguap disebabkan oleh kelelahan atau mengantuk, bisa juga disebabkan oleh berbagai alasan seperti stress, kebosanan, emosi, dan lain sebagainya.

Tetapi apakah menguap itu menular ? mungkin kita sudah sering mendengar hal tersebuat atau bahkan kita sendiri pernah melakukannya. Terkadang ketika kita melihat seseorang menguap di sekitar kita, otak akan bekerja dan menjalankan cerminan perintah yang sedang kita amati.

Menguap sendiri merupakan gejala yang menunjukkan bahwa otak dan tubuh orang tersebut membutuhkan oksigen dan nutrisi; dan karena organ pernafasan kurang dalam menyuplai oksigen kepada otak dan tubuh.

Secara ilmiah membuktikan bahwa menguap itu tidak baik. Ternyata menguap itu sinyal dari tubuh mulai dari yang biasa hingga masalah serius. Seperti dikatakan Joan Liebmann-Smith Ph.D dan Jacqueline Nardi Egan bahwa orang-orang menguap untuk berbagai macam alasan, tapi menguap juga tidak selalu berarti mengantuk.

Penyebab menguap
Ketika mengantuk, kandungan oksigen di dalam otak dan paru-paru berkurangan.Di dalam paru-paru terdapat satu organ yang dinamakan sebagai alveoli atau dengan nama lain adalah kantung udara yang berfungsi sebagai pengalir oksigen ke dalam darah dan menyedut karbon dioksida untuk dilepaskan ke luar badan. Jika alveoli ini tidak mendapat udara segar, ia akan kempis dan paru-paru akan mengeras.

Pada ketika inilah otak akan mengarahkan mulut untuk menguap dan menarik udara (oksigen) secukupnya untuk diserapkan ke dalam sel-sel darah merah (hemoglobin) di dalam badan dan organ-organ lain yang memerlukan oksigen. Menguap juga merupakan sinyal dari alam bawah sadar kita, kalau tubuh kita kurang bergerak.

Mekanisme tubuh saat menguap
Ketika menguap, mulut terbuka dan menghirup dalam-dalam, dan berakhir dengan napas pendek. Selama itu, otot di sekitar otak berkontraksi dan meregang serta mengambil udara. Kemudian, darah dingin di dorong ke arah tengkorak saat darah hangat didorong keluar. Tindakan ini meningkatkan aliran darah otak ke otak dan tengkoran dan pada saat yang sama, hal ini memaksa darah vena hangat menjauh dari tengkorak.

Perilaku sekunder seperti merentangkan lengan atau menggerakkan kepala saat kita menguap berfungsi sebagai teknik pendinginan di daerah bawah lengan. Terlebih, peregangan seluruh tubuh mempersiapkan otot kita untuk tindakan yang cepat, berkontribusi untuk mendorong kewaspadaan yang berasal dari suhu otak yang dingin.

Saat menguap detak jantung kita juga bisa naik sebanyak 30% dan menguap adalah tanda gairah, termasuk gairah seksual. Banyak bagian tubuh lainnya yang bekerja saat menguap.

Pertama, mulut terbuka, dan rahang Anda turun , yang memungkinkan udara masuk sebanyak mungkin. Ketika kita menarik napas, udara yang diambil mengisi paru-paru. Otot perut kita menjadi fleksibel dan diafragma didorong ke bawah . Udara yang kita hirup memperluas kapasitas paru-paru dan kemudian beberapa udara ditiupkan kembali.

Penyebab menguap itu menular
Sebuah kelompok di Finlandia mencoba menelusuri jawabannya melalui sebuah studi. Studi tersebut menyatakan bahwa ternyata di dalam otak terdapat sirkuit yang menganalisis dan memerintah kita untuk mengikuti gerakan orang lain. Sirkuit ini disebut sebagai sistem neuron cermin atau mirror-neuron system karena mengandung jenis khusus dari sel-sel otak atau neuron, yang menjadi aktif ketika pemiliknya melakukan sesuatu dan merasakan orang lain melakukan hal yang sama. Cermin neuron menjadi aktif ketika seseorang meniru tindakan orang lain. Proses ini mirip dengan proses belajar.

Namun belakangan, peran sistem ini terhadap penularan proses menguap mulai diragukan. Beberapa peneliti mengungkapkan bahwa sistem ini tidak tampak bekerja pada saat terjadinya menguap yang menular ini. Sejak saat itu, teori-teori lain juga dikemukakan.

Ada yang menyebutkan bahwa penularan tersebut diperantarai oleh bagian otak yang disebut **sulkus temporal superio**r, ada pula yang mengatakan karena penularan terjadi karena deaktivasi periamigdala, suatu bagian di dalam otak.

Namun seluruh teori ini juga belum dapat dibuktikan kebenarannya. Belakangan ini, sebuah studi lain di tahun 2007 menyimpulkan bahwa penularan menguap disebabkan oleh empati. Hal ini juga didukung oleh penelitian lain. Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Cognitive Brain Research oleh Steven Platek, PhD, psikolog dari State University of New York di Albania, menyebutkan bahwa penularan menguap merupakan respons empatetik, sama halnya seperti tertawa.

Artinya, menguap menjadi cara dalam menunjukkan empati kita terhadap perasaan orang lain. Menguap tidak hanya bisa dipicu setelah melihat orang lain menguap, tetapi juga mendengarkan, membaca, atau bahkan berpikir tentang menguap.

Referensi :