Melawan Rasa Lelah dalam Riyadhoh Memperbaiki Akhlak

Akhlak yang berarti perangai atau tingkah laku merupakan hal yang sangat urgent diperhatikan dalam kehidupan ini, sebab seseorang akan baik agamanya bila baik akhlaknya. Manusia yang paling indah akhlaknya adalah para Nabi dan Rasul yang dapat dijadikan role model dalam kehidupan ini. Tolok ukur dalam berakhlak adalah ketentuan Allah Swt dan Rasul-Nya, yaitu apa yang dianggap Allah Swt dan Rasul-Nya baik maka akan baik pula esensinya. Akhlak terdiri dari dua, yaitu akhlak mahmudah (akhlak yang baik) dan akhlak madzmumah (akhlak yang buruk), yang baik dimata Allah Swt dan Rasul-Nya tentu akhlak mahmudah, oleh karena itu setiap manusia hendaknya memiliki akhlak mahmudah atau sering disebut juga dengan akhlakul karimah, seseorang yang memiliki akhlakul karimah, kehidupannya akan dipenuhi kelembutan dan ketenangan, hatinya dipenuhi dengan rasa cinta hingga timbul perilaku-perilaku terpuji yang menentramkan lingkungan sekitarnya, ia bukan hanya berakhlak kepada sesama manusia namun juga kepada semua makhluk Allah Swt, orang yang berakhlakul karimah tidak akan merusak lingkungan, tidak sembarang menyakiti hewan, pribadinya dipenuhi dengan rasa kasih sayang, ia memerlakukan setiap makhluk Allah Swt sebaik mungkin sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah Saw.

Dalam hadis riwayat Abu Hurairah, Rasulullah Saw bersabda:

ุฅูู†ู’ูƒูู… ู„ูŽู†ูŽ ุชูŽุณูŽุนููˆุงุงู„ู†ู‘ูŽุณูŽ ุจุฃูŽู…ู’ูˆูŽุงู„ููƒูู…ู’ุŒ ููŽุณูุนููˆู‡ูู…ู’ ุจูุจูŽุณู’ุทู ุงู„ู’ูˆูŽุฌู’ู‡ู ูˆูŽุญูุณู’ู†ู ุงู„ู’ุฎูู„ูู‚ู

โ€œSesungguhnya kamu tidak akan bisa memuaskan manusia dengan hartamu. Puaskanlah mereka dengan kecerahan wajah dan kebagusan akhlakโ€

Namun, dewasa ini tampaknya akhlakul karimah menjadi hal yang mahal, sebabnya ialah mulai jarang ditemukan manusia dengan pribadi yang berakhlakul karimah, bukan masalah tahu atau tidak tahunya seseorang perihal pentingnya memiliki akhlakul karimah, namun bagaimana dirinya mengaplikasikan pengetahuan tersebut yang menjadi penyebabnya, seseorang bisa saja sangat tahu dan sangat berilmu namun, ilmu tersebut terkadang tidak diaplikasikan kedalam kehidupannya. Bahkan pengetahuan Agama hanya menjadi sebatas pengetahuan tanpa pengamalan, hal ini semakin menjadikan manusia jauh dari fitrahnya sebagai makhluk yang tak bisa lepas dari yang namanya Agama.

Manusia sering tertipu dengan apa yang dimilikinya, ilmu, harta, tahta, hal-hal inilah yang menjadi penguasa bagi dirinya. Seharusnya, banyaknya ilmu dapat menjadikan pribadi makin tawadhuโ€™ ibarat padi yang semakin tinggi, ia semakin merunduk, banyaknya harta seharusnya menjadikan pribadi semakin dermawan, tingginya tahta seharusnya menjadikan pribadi semakin simpati bukan sebaliknya yang membawa pada sifat angkuh, merasa paling mulia, tinggi hati, dan semena-mena terhadap orang lain.

Lalu, bagaimana jalan agar dapat memiliki pribadi yang berakhlakul karimah? hal ini dibahas oleh Imam Ghazali dalam kitab Ihyaโ€™ Ulumuddin, beliau menyatakan bahwa jalan untuk memeroleh keindahan akhlak adalah dengan melatih jiwa. Memiliki akhlak yang baik merupakan perkara yang sangat penting sebagaimana Rasulullah Saw yang senantiasa mengingatkan umatnya untuk membaguskan akhlak. Pada kenyatannya memang, tidak semua manusia memiliki akhlak yang mulia, namun untuk menjadikan akhlakul karimah sebagai karakter dapat dilakukan dengan riyadhoh atau yang dikenal dengan latihan, Rasulullah Saw bersabda:

ุงูŽู„ุฎูŽูŠู’ุฑู ุนูŽุงุฏูŽู‚ูŒ

โ€œKebaikan itu kebiasaanโ€

Bila seseorang memiliki perangai yang buruk sebelumnya, maka perangai tersebut dapat diubah dengan kebiasaan diri. Misalkan seseorang memiliki sifat angkuh, maka ia harus membiasakan diri untuk tawadhuโ€™, dan begitupun jika seseorang memiliki perangai buruk lainnya, hendaknya ia memerangi dengan sifat-sifat yang baik agar terbiasa melakukannya. Memperbaiki akhlak ibarat mengobati penyakit dalam tubuh yaitu dengan cara mengonsumsi sesuatu yang dapat melawan penyakit tersebut.

Namun, untuk menangani hal ini diperlukan cara yang berbeda-beda karena setiap individu memiliki perbedaan karakter. Layaknya seorang guru yang dituntut untuk dapat mengetahui sifat-sifat yang dimiliki oleh muridnya agar ditemukan cara yang dapat dilakukan untuk menangani sifat tercela tersebut. Diawali dengan membimbing muridnya untuk melakukan serangkaian ibadah, diantaranya seperti mensucikan diri, lalu mengisi kekosongan waktu untuk beribadah kepada Allah Swt dan dalam setiap kesempatan senantiasa mengingat Allah Swt, kemudian meniatkan segala sesuatu hanya kepada Allah Swt, bermula dari pembersihan hati (niat) inilah yang paling penting diperhatikan, lalu setelah mengosongkan hati dari selain Allah Swt maka hati perlu diisi dengan keikhlasan tanpa memikirkan persoalan tentang dunia, maka dengan itu, tercapailah tujuan yang diharapkan.

Imam Ghazali mengatakan:

โ€œCara mendidik akhlak adalah dengan menggunakan sebagian sifatnya untuk mengatasi sifat lainnya. Ia anjurkan agar bersifat dermawan dan murah hati dengan perantaraan riyaโ€™ untuk meninggalkan sifat kikir dan cinta keduniaan. Ia tinggalkan penggunaan amarah dan syahwat supaya timbul sifat terpuji dengan memelihara diri dan berbuat kebenaran. Kemudian ia menguasai sifat riyaโ€™ lalu menundukkannya dengan kekuatan agamanya yang timbul dalam masa latihan dan di waktu beribadah kepada Allah Swt dan usaha yang tekun dalam mengatasi hawa nafsu.โ€

Untuk merubah sifat kikir, seseorang bisa membiasakan dirinya untuk memberi kepada orang lain walaupun pada awalnya disertai perasaan riyaโ€™ hal ini dilakukan sebagai riyadhoh (latihan) untuk menjadi dermawan dan murah hati, lalu sifat riyaโ€™ itu perlahan akan lenyap seiring dengan bertambahnya kecintaan pada agama yang muncul dalam masa riyadhohnya. Butuh proses untuk membiasakan diri kepada kebaikan, awalnya memang sulit namun terbiasa dilakukan maka akan menjadi sebuah karakter, sebagaimana pengertian akhlak itu sendiri menurut Imam Ghazali dan Ibnu Miskawaih adalah โ€œsebuah kondisi mental yang telah tertanam dalam diri seseorang, yang menyebabkan munculnya perilaku atau perbuatan tanpa memerlukan pertimbangan terlebih dahulu.โ€

Oleh karena itu alangkah baiknya bila kita membiasakan diri untuk senantiasa berperilaku baik agar perbuatan baik tersebut mudah dilakukan oleh kita tanpa perlu berfikir panjang terlebih dahulu.

Namun, dalam proses riyadhoh dalam berakhlakul karimah tentu tidak mudah untuk dilewati, banyak rintangan yang hadir, baik dari lingkungan terdekat maupun dari dalam diri sendiri. Berakhlakul karimah nampaknya memang sulit, perlu kesabaran dan keteguhan hati dalam pelaksanaannya, membiasakan diri berakhlakul karimah berarti bersungguh-sungguh dalam menentang hawa nafsu, ketika bertemu dengan teman yang perbuatan dan perkataannya menyakiti hati, kita harus menahan hawa nafsu untuk tidak marah, tetap berbuat baik kepadanya, sebisa mungkin untuk berbuat baik kepada siapapun, menghindari diri dari rasa dengki dan iri, berhati lembut, menjaga perkataan agar tidak menyakiti hati orang lain dan lain sebagainya, semua yang berat bisa menjadi ringan bila telah menjadi kebiasaan.

Agar dapat melawan rasa lelah dalam proses riyadhoh memperbaiki akhlak, hal yang sebaiknya dilakukan adalah:

1. Mengingat Tujuan dalam Berakhlakul Karimah

Ketika mulai merasa lelah, hendaklah mengingat tujuan mengapa diharuskannya memiliki akhlakul karimah, yaitu mengharap ridha Allah Swt, dicintai oleh Allah Swt dan meneladani sifat-sifat Rasulullah Saw.

2. Mengingat Buah dari Akhlakul Karimah

Ingatlah bahwa semua upaya yang sedang dilakukan tidak akan berakhir sia-sia, Allah Swt pasti akan membalas apa yang diupayakan hambanya, ingatlah bahwa kesukaran tersebut akan berbuah manis. Orang yang senantiasa mempraktikkan akhlakul karimah dalam hidupnya akan memeroleh ketenangan hidup, pribadi yang beraklahkul karimah akan terhindar dari musuh dan kebencian, bahkan akhlakul karimah akan mendatangkan banyak kecintaan dari orang-orang sekitar.

3. Mengamalkan Doa Memperindah Akhlak

Nabi Saw mengajarkan doa agar senantiasa dikaruniai oleh Allah Swt keindahan akhlak. Dalam hadis riwayat Ahmad yang dishahihkan oleh Asy Al Albani, Rasulullah Saw bersabda:

ุงู„ู‘ูŽู„ู‡ู…ู‘ูŽ ุฃูŽุญู’ุณูŽู†ู’ุชูŽ ุฎูŽู„ู’ู‚ู ููŽุฃูŽุญู’ุณูู†ู’ ุฎูู„ูู‚ููŠ

โ€œYa Allah, Engkau telah memperbagus penciptaanku, maka baguskanlah akhlakku.โ€

Doa ini singkat namun fadhilahnya sangat besar, ini merupakan doa yang sering dilafadzkan ketika sedang bercermin, sebagai permohonan pada Allah Swt agar istiqamah memperindah akhlak sebagaimana Allah Swt menyempurnakan penciptaan kita. Doa ini juga bisa diamalkan selepas salat.

4. Bergaul dengan Orang-orang yang Memiliki Keindahan Akhlak

Hal ini bisa dilakukan dengan mengelilingi diri dengan teman-teman yang baik. Pergaulan dapat memengaruhi sifat seseorang, bila senantiasa berkumpul bersama orang-orang yang bagus akhlaknya maka kita akan terpengaruh untuk turut memperbaiki akhlak juga, teman dan sahabat dapat menjadi motivasi bagi kita untuk berperilaku baik atau buruk. Hal ini juga bisa dilakukan dengan mengikuti kajian-kajian di majelis taklim

5. Membaca Kisah Para Nabi dan Kisah-kisah Keindahan Akhlak Wali Allah

Cara selanjutnya untuk memotivasi diri agar istiqamah dalam riyadha memperbaiki akhlak adalah dengan banyak membaca sirah nabawiyah, kisah para Nabi dan Rasul, ataupun kisah kisah para Wali Allah dengan berbagai keindahan akhlaknya.
Ada sebuah kisah tentang keindahan akhlak salah satu Wali Allah, Habib Abdul Qodir Assegaf, beliau merupakan Wali Allah yang dilahirkan di Hadramaut, Yaman yang selalu menghiasi budi pekertinya dengan keindahan. Pernah suatu ketika beliau diundang makan di rumah salah seorang di daerah tersebut, beliau menghadiri undangannya tanpa memandang siapa orang tersebut, kaya ataupun miskin. Setelah selesai makan, tausiah, dan berdoa di rumah orang tersebut, beliau pamit untuk pulang. Sebagai adab dalam menerima tamu, sang tuan rumah mengantarkan Habib Abdul Qodir dan membukakan pintu mobil untuk sang Habib, Habib Abdul Qodir memasukinya lalu mengucapkan terima kasih karena telah diundang. Orang tersebut sangat terharu dan senang karena rumahnya bisa didatangi oleh ulama seperti Habib Abdul Qadir. Namun, setelah beberapa kilometer Habib Abdul Qadir menyeru dan bertanya kepada orang yang duduk disebelahnya,

โ€œKira-kira kalau berhenti disini apakah tuan rumah tadi akan tahu?โ€

โ€œTentu tidak wahai Habib, ini sudah jauhโ€

โ€œKalau begitu tolong berhenti dan bukakan pintuโ€ pinta Habib Abdul Qadir.

Ketika dibuka ternyata banyak sekali darah di pintu mobil, yang disebabkan oleh tangan Habib Abdul Qadir yang terjepit.

โ€œWahai Habib kenapa tidak bilang dari awal?โ€ Tanya orang tersebut.

โ€œAku tidak tega melihat orang yang hatinya sudah begitu senang, berubah menjadi sedih dan merasa bersalah.โ€ Jawab Habib Abdul Qadir.

Sungguh mulia pribadi yang senantiasa menghiasi diri dengan keindahan akhlak, salah satunya seperti Habib Abdul Qadir yang sangat menjaga perkataan dan perbuatannya dari menyakiti dan membuat sedih hati orang lain, sampai beliau menahan rasa sakit dari tangan yang terjepit pintu demi tidak membuat sedih hati dan perasaan bersalah orang lain terhadapnya. Setelah membaca kisah-kisah yang berkaitan dengan keindahan akhlak ini diharapkan dapat menambah rasa semangat kita untuk terus riyadha membaguskan akhlak sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah Saw yang merupakan manusia dengan sebaik-baiknya akhlak.

Memperbaiki akhlak merupakan salah satu bentuk cinta kita kepada Rasulullah Saw. Dari Abu Hurairah r.a, bahwasanya Rasulullah Saw bersabda:

ูƒูู„ู‘ู ุฃูู…ู‘ูŽุชููŠ ูŠูŽุฏู’ ุฎูู„ููˆู’ ู†ูŽ ุงู„ู’ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉูŽ ุฅูู„ุงู‘ูŽ ู…ูŽู†ู’ ุฃูŽุจูŽู‰ุŒ ู‚ูŽู„ููˆู’ุง : ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู’ู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ูŠูŽุฃู’ุจูŽู‰ ุŸ ู‚ูŽู„ูŽ : ู…ูŽู†ู’ ุฃุทูŽุงุนูŽู†ููŠ ุฏูŽุฎูŽู„ูŽ ุงู„ู’ุฌูŽู†ู‘ูŽุฉูŽุŒ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ุนูŽุตูŽุงู†ููŠ ููŽู‚ูŽุฏู’ ุฃุจูŽู‰

โ€œSetiap umatku akan masuk surga, kecuali yang enggan.โ€ Mereka (para sahabat) bertanya: โ€œSiapa yang enggan itu?โ€ Jawab beliau: โ€œBarangsiapa yang mentaatiku pasti masuk surga, dan barangsiapa yang mendurhakaiku, maka sungguh ia telah enggan.โ€

Sedangkan orang-orang yang memiliki akhlakul karimah termasuk kedalam orang yang menaati Rasulullah Saw, oleh karena itu biasakanlah diri untuk memiliki akhlakul karimah agar melekat menjadi karakter sebagaimana yang dipraktikan Rasulullah Saw, perlahan melatih diri, walau sebagai manusia biasa yang banyak kekurangan, kita tidak bisa menyamai persis bagusnya akhlak Rasulullah Saw.

REFERENSI

  • Al-kaf, Idrus Abdullah. 2003. Bisikan-bisikan Ilahi: Pemikiran Sufistik Imam Al-Haddad dalam Diwan ad-Dur al-Manzhum. Bandung: Pustaka Hidayah.
  • An-Naisaburi, Abul Qosim Abdul Karim Hawazin Al-Qusyairi, 2013. Ar-Risalatul Qusyairiyah fi iIlmit Tashawwuf. Alih Bahasa: Umar Faruq, Risalah Qusyairiyah. Cet. Ke-3. Jakarta: Pustaka Amani.
  • Imam Al-Ghazali, 2014. Mukhtasar Ihyaโ€™ Ulumuddin. Alih Bahasa: Achmad Sunarto. Ringkasan Ihyaโ€™ Ulumuddin. Surabaya: Mutiara Ilmu.
  • Kajian Fiqh Online Ikatan Remaja Masjid Nurul Huda Palembang. 30 April 2020.
  • Mahmud, Abdul Halim. 2002. At-Tasawuf Fi Al-Islam. Alih Bahasa: Abdullah Zakiy Al-Kaaf. Tasawuf di Dunia Islam. Bandung: Pustaka Setia.
  • Syekh Abdus Shomad Al-Palembani, Hidayatus Salikin. Penyusun: Kms. Andi Syarifuddin. Surabaya: Pustaka Hikmah Perdana.
  • Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Hadis-hadis yang Memerintahkan Kita untuk Mengikuti Nabi dalam Segala Hal. https://almanhaj.or.id/1985-hadits-hadits-yang-memerintahkan-kita-untuk-mengikuti-nabi-dalam-segala-hal.html. Diakses pada 9 Mei 2020.
2 Likes