Media sebagai Komunikator di Tengah Pandemi

Esai (1)

Oleh : Viola Fada

Corona Virus Disease atau kerap disapa COVID-19, bukan hal yang asing lagi bagi semua orang dibelahan dunia. Virus yang berasal dari negeri tirai bambu (China), telah menimbulkan keresahan dikalangan masyarakat. Sejak 31 Desember 2019, kasus ini telah meningkat pesat, yang kemudian menyebar dengan cepat ke sejumlah negara dan teritori. Saat ini virus tersebut telah menyebar secara global dan dinyatakan sebagai pandemi global. Sementara itu, Covid-19 pertama kali dilaporkan di Indonesia pada 2 Maret 2020.

Virus ini mirip dengan kelompok virus pada SARS dan MERS. Penyakit tersebut merupakan penyakit infeksi virus pada saluran pernapasan yang berakibat fatal. Perbedaan penyakit pada ketiganya ada pada masa inkubasi, gejala, penyebaran hingga pengobatan. Masing-masing orang memiliki respons dan kekebalan tubuh yang berbeda terhadap Covid-19. Sebagian besar orang yang terpapar virus corona akan mengalami gejala ringan hingga sedang dan akan pulih tanpa perlu mendapat perawatan di rumah sakit.

Keberadaan wabah virus corona tidak hanya berimbas pada bidang kesehatan saja. Namun, setelah penyebaran terjadi secara global, wabah ini memengaruhi berbagai bidang lain, seperti ekonomi. Sektor ekonomi dunia sekarang ini telah dibekukan oleh wabah tersebut, dampaknya sudah nyata terlihat dari menurunnya harga minyak dunia. Tidak hanya itu, saat ini banyak kota yang melakukan lock down hingga berdampak pada aktivitas warga dan akan menghambat perekonomian masyarakat.

Pemerintah telah berupaya dalam mengatasi wabah virus corona, salah satu strategi yang digunakan adalah menetapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) guna mencegah penyebaran virus corona. Selain itu, kegiatan yang melibatkan publik dilakukan secara terbatas, termasuk kegiatan pembelajaran yang dilakukan secara daring . Namun sejak pertama kali kasus virus corona telah dilaporkan, pemerintah belum berhasil mengendalikan peningkatan laju kasus tersebut.

Rentetan cerita baru banyak bermunculan, hal ini terjadi sejak wabah virus corona pertama kali dilaporkan di Indonesia. Banyaknya informasi yang masuk membuat masyarakat kesulitan dalam membangun kepercayaan karena banyak pandangan dan pendapat yang berbeda mengenai kasus virus ini. Dengan keadaan sedemikian rupa, media memiliki peran penting dalam mengikuti perkembangan wabah dengan informasi yang akurat. Masyarakat akan merasa lebih tenang saat informasi terkait isu tersampaikan dengan jelas dan transparan.

Media dengan sigap mengikuti perkembangan dan selalu melakukan pembaruan status secara terus-menerus. Hal ini menyatakan bahwa peran media sangat penting sebagai penyambung lidah pemerintah ataupun tenaga kesehatan dengan masyarakat, terkait penanganan maupun pencegahan yang dapat dilakukan secara individu maupun berkelompok. Selain itu, media berperan sebagai faktor yang mendorong kebijakan berwawasan kesehatan dan perubahan perilaku masyarakat melalui informasi dan ajakan promosi kesehatan. Kebijakan media dalam memutuskan beita apa yang layak untuk dikonsumsi publik dapat mengarahkan pandangan yang sepatutnya harus diperhatikan bersama.

Masalah yang sering terjadi pada banyak media adalah penyebaran informasi yang salah. Seperti halnya beredar teori tentang SARS-CoV-2, menyatakan bahwa virus ini merupakan rekayasa di laboratorium sebagai agen bioterorisme atau disebabkan oleh jaringan seluler 5G, padahal kenyataan dalam lapangan belum tau atau bahkan tidak ada kaitannya sama sekali dengan teori tersebut. Selain itu, banyak oknum yang memanfaatkan pandemik untuk mencari keuntungan semata, seperti mempromosikan obat Covid-19 palsu atau menjual sanitizer dan masker dengan harga yang melambung.

Masalah lain yang dialami media adalah mengendalikan stigma masyarakat. World Health Organization (WHO) menyayangkan stigma yang telah beredar di masyarakat, “Sangat menyakitkan melihat stigma yang beredar,” kata Direktur Jenderal WHO. “Dan sejujurnya, stigma lebih berbahaya dari virus itu sendiri. Stigma adalah musuh yang paling berbahaya,” tegasnya. Stigma itu sendiri dapat menimbulkan stereotip dan asumsi. Stereotip ini bisa memperluas ketakutan dan merendahkan seseorang yang telah terapar virus corona. Pada tingkat yang lebih tinggi, stigma dapat memengaruhi seseorang untuk menghindari pertolongan, pemeriksaan maupun karantina.

Agar tidak mudah memberi stigma :

  • Gunakan fakta. Stigma dapat diterima seseorang ketika mereka memiliki pengetahuan yang rendah mengenai wabah corona. Sebarkan cara penularan, cara mencegah, cara mengatasi berdasarkan faktanya melalui media yang dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat.
  • Perhatikan tokoh masyarakat. Tokoh masyarakat paling banyak mendapat sorotan dari publik, dengan begitu mereka dapat memberi dukungan atau memberi pesan yang sesuai agar stigma tidak beredar.
  • Perhatikan etika jurnalisme. Laporan berita yang hanya fokus pada perilaku seseorang dapat menimbulkan stigma.
  • Gerakan melawan stigma. Membuat kelompok dengan lingkungan yang positif dan menunjukkan empati serta kepedulian untuk seluruh kalangan.

Literasi digital masyarakat Indonesia yang masih rendah khususnya dalam penggunaan media sosial, dapat mengakibatkan misinformasi. Salah satu beritanya adalah smartphone yang diimpor dari Tiongkok dapat menularkan virus corona. Beruntung beberapa media di Indonesia segera meluruskan berita tersebut. Ulasan-ulasan informasi komprehensif dan tajam perlu disaring berkali-kali agar dapat dipahami dengan baik.

Pemberitaan wabah dilakukan secara berkala yang memuat informasi dasar seperti jumlah penderita, lokasi karantina, pendapat-pendapat pemerintah yang bertujuan untuk menenangkan rakyatnya. Namun, hal ini dirasa kurang ketika media di negara lain lebih banyak mendapat informasi dengan prespektif yang berbeda tentang virus ini. Dengan kata lain pembahasan masalah dari informasi yang terbagi masih terbilang minim.

Tujuan utama dari media sendiri adalah sebagai komunikator kepada masyarakat tentang risiko yang terjadi. Komunikasi massa melibatkan berbagai elemen seperti media dan sumber berita. Sumber berita sendiri didapat dari pemerintah yang memiliki pusat komunikasi dan informasi yang kemudian akan disampaikan kepada masyarakat dan diberitakan oleh media secara akurat. Oleh karena itulah masyarakat mempercayakan diri kepada media sebagai komunikator.

Dalam kasus pandemic Covid-19, peran media sangatlah krusial untuk menekan pemerintah melakukan upaya-upaya secara optimal dalam mendeteksi, pemantauan dan manajemen penanganan kasus secara menyeluruh. Sampai sekarang pemerintah dinilai sangat lamban dalam merespon wabah. Media dapat menjadi aspirasi masyarakat dalam menuntut kerja pemerintah. Selain itu, kerja sama antar ketiga elemen (pemerintah, media, masyarakat) juga sangat penting, dalam penyembuhan dunia dari wabah.

PUSTAKA

https://remotivi.or.id/amatan/575/menimbang-peran-media-dalam-menghadapi-epidemi

12 Likes