Lukisan "Komposisi Rajah" karya Bagong Kussudiardja

Lukisan “Komposisi Rajah” karya Bagong Kussudiardja

image

Lukisan Komposisi Rajah merupakan salah satu karya perupa seni lukis Indonesia, Bagong Kussudiardja. Dibuat pada tahun 1983 dengan menggunakan media Paint On Canvas serta berukuran 60 cm x 50 cm.

Lukisan ini merupakan lukisan dengan gaya abstrak, impressionisme dan realisme. Dengan teknik melukis menggunakan bahan cat di atas kanvas.

Imajinasi yang total merupakan pegangan kreasi dalam lukisan ini, yang kemudian terjelma dalam susunan warna yang jernih. Lukisan ini menggambarkan komposisi rajah dengan aksentuasi bentuk dan garis yang kuat. Dalam bahasa visual, semua bentuk yang dihadirkan pelukis dapat dibaca dengan berbagai tingkatan penafsiran.

Rajah atau tato (bahasa Inggris: tattoo) adalah suatu tanda yang dibuat dengan memasukkan pigmen ke dalam kulit. Dalam istilah teknis, rajah adalah implantasi pigmen mikro. Walaupun pada beberapa kalangan rajah dianggap tabu, seni rajah tetap menjadi sesuatu yang populer di dunia.

Makna Lukisan Secara Global

Almarhum Bagong Kussudiardja tidak hanya dikenal dan terkenal sebagai seniman tari, namun ia adalah seniman yang memiliki banyak talenta, selain menari ia juga melukis. Di samping multi talenta, ia juga memiliki energi yang besar yang dapat meledak kapan saja dan ledakan itu mewujud dalam karya-karyanya.

Karakter Lukisan

Bagong merupakan pelukis yang produktif dengan karakter yang kuat. ia lebih dikenal dengan lukisan batik cat minyak dan cat airnya. Semua lukisannya mencitrakan aspek mitos dan mistik dari kultur Jawa, pemandangan dan tentu saja tari Bali dalam guratannya yang penuh warna.

Ia telah menghasilkan karya lukisan batik tentang tema-tema Kristen seperti Kelahiran Kristus dan Penyaliban. Penyaliban Kristus di ekspresikan melalui sosok wayang tradisional yang memperkuat rasa tragedi. Kendati demikian penggunaan warna yang misterius, kepala Kristus yang tertutup oleh sinar hijau dengan latar belakang kegelapan, memberikan efek kontras. Disini Kristus di ungkapkan bukan melalui simbol-simbol kesenian asing, melainkan dalam konteks Indonesia.

Karyanya penuh spirit dan sarat dinamika gerak. Pameran telah dilakukannya ratusan kali baik di Indonesia maupun di luar negeri. Ia juga telah banyak menerima penghargaan, salah satunya berupa Medali Emas dari Paus Paulus II untuk lukisannya yang menggambarkan Yesus dalam cita rasa Indonesia dan Medali Emas dari Pemerintah Bangladesh untuk karya lukis abstaraknya yang dipamerkan dalam pameran seniman Asia-Pasifik di Kota Dakka.

Sumber: