Komunikasi Verbal dan Non-verbal pada Omah Munir Malang

Saya memiliki pengalaman mengunjungi Omah Munir yang beralamat di Jl. Bukit Berbunga No.2, RT.4/RW.7, Sidomulyo, Kec. Batu, Kota Batu, Jawa Timur 65317. Konsep tempat ini seperti museum yang seakan-akan memberikan kesan bagaimana hidup seorang pejuang HAM di Indonesia yang bernama Munir. Kesan tersebut saya rasa dapat dikatakan sebagai komunikasi non-verbal, bagaimana pendapat Youdics mengenai komunikasi verbal dan non-verbal Omah Munir Malang?

1 Like

Saya pernah mengunjungi Omah Munir 2016 silam, saya kemudian menemukan beberapa hal yang cukup menarik untuk dikaji menggunakan teori komunikasi verbal dan non verbal. Pada dasarnya komunikasi verbal adalah komunikasi yang menggunakan kata-kata, entah lisan maupun tulisan. Dalam hal ini saya telah memetakan komunikasi verbal pada Omah Munir berdasarkan beberapa benda yang terpajang sebagai berikut:

1. Banner


Sumber: insideindonesia.org

Banner yang terpasang di luar menjadi petunjuk untuk orang-orang yang sedang melewati kawasan omah Munir yang mungkin baru tahu, bahwa ada musium tokoh besar HAM di kota Batu-Malang. Komunikasi yang dimaksudkan pihak-pihak pengelola Omah Munir akan sampai ketika ada sebuah reaksi lanjut setelah melihat dan membaca bener, kemudian setidaknya mereka mengenal atau bahkan tertarik untuk memasuki Omah Munir.

2. Papan tulisan yang mengenalkan biografi Munir

paan biografi
Sumber: merdeka.com

Dimulai dari siapa sosok Munir, keluarganya, sampai pada perjalan hidupnya yang dipaparkan secara kronologis menunjukan bahwa komunikator ingin mengajak komunikator (Pengunjung) menjadi mengenali Munir lebih lanjut.

3. Papan tulisan yang menceritakan 2 jam Munir di udara


Sumber: sesikopipait.wordpress.com

Papan tulisan tersebut dimaksudkan komunikator untuk mengantarkan komunikan pada pemikiran tentang sebab-akibat Munir meninggal. Mengingat kasus tersebut belum menemui titik terang atas siapa pelakunya. Maka dengan adanya papan tulisan tersebut maka komunikan bebas menginterpretasikannya sendiri, baik siapa maupun bagaimana tanda-tanda yang terasa sesaat membacanya. Meskipun di papan tersebut, dituliskan dugaan-dugaan tertentu. Namun perbedaan persepsi masih mungkin ada, karena sudut pandang komunikan bisa berbeda-beda. Tidak lebih, papan tulisan tersebut hanya menceritakan dua jam kegiatan Munir di udara yang kiranya menjadi kronologi Munir sebelum menghembuskan napas terakhirnya.

4. Dokumen-dokumen yang tertata di etalase dan buku-buku


Sumber: atikahsyaharbanu.com

Seperti KTP, KTM, artikel-artikel Munir, hasil skripsi, dll tersebut rupanya bentuk tindak lanjut komunikator yang sebelumnya mengenalkan sosok Munir hanya dari biografinya. Kemudian dengan adanya KTP misalnya, maka komunikan akan yakin akan kebenaran karena bukti tempat tanggal lahirnya ada… Atau KTM misalnya, akan dapat meyakinkan komunikan bahwa Munir benar-benar alumni Universitas Brawijaya. Diikuti karya-karya Munir yang membuat pengunjung semakin mengenali sosok Munir. Buku-buku yang ada di omah Munir menunjukkan akan banyaknya hal-hal yang masih harus diketahui pengunjung mengenai sosok Munir.

5. Rekaman audio visual

rekaman
Sumber: merdeka.com

Disamping sudut pandang mengenai Munir itu adalah komunikan sendiri, namun di sisi lain komunikator juga membawa sudut pandang mengenai Munir itu dari orang-orang di sekitar Munir. Seperti Istri yang ditayangkan di rekaman audio visual (TV) di dalam omah Munir tersebut.

Bagaimana dengan komunikasi non verbal di omah Munir?

Komunikasi non verbal dapat dirumuskan sebagai proses komunikasi yang dilakukan tanpa kata-kata, melainkan menggunakan isyarat, ekspresi wajah, kontak mata, atau melibatkan objek sebagai penyampai komunikasinya. Saya pun mencoba mengulas sebagian kecil untuk hasil analisis:

  1.   Foto-foto
    

Beberapa foto Munir sudah terlihat di area luar omah Munir, sehingga tanpa didahului penjelasan tentang Munir. Komunikan telah dapat mengetahui munir secara fisik dari fotonya yang mungkin juga terlihat aura Munir bila sekilas memandangi fotonya.

  1.   Patung-patung
    

Patung yang diposisikan di dekat-dekat pintu masuk, seakan mengomunikasikan bahwa Munir itu benar-benar ada, dulunya. Melihat dari foto, kemudian melihat wujud jelmaan fisiknya itu kesannya menjadi strategi komunikator yang bagus karena Munir dibuat lebih nyata di hadapan komunikan.
Sekalipun ada patung itu hanya sampai di bagian kepala Munir saja, namun lebih jelas jika dibandingkan urutan komunikasi non verbal yang sebelumnya (Foto).

  1.   Sandang Munir
    

Seperti jaket, sepatu, almamater, dll adalah seakan jadi aplikasi yang dirancang komunikator, supaya komunikan dapat merasakan jiwa-jiwa Sang penegak HAM tersebut.
Intelektual Munir yang mungkin saja sudah dapat dibaca dari tipe-tipe sandangan yang Munir kenakan di hari-harinya, menambah daya magnet tersendiri untuk dapat mengenali Munir lebih lagi.

  1.    Aksesoris Omah Munir
    

Adapun hal yang bersinggungan dengan penegakan HAM selain kasus Munir adalah kasus Marsinah yang juga menjadi koleksi di dalam omah Munir. Dalam penyinggungan HAM, kasus Marsinah tersebut juga diaplikasikan dalam bentuk patung atau tulisan, sama seperti kasus Munir. Hanya saja, fokus konsep omah Munir memang adalah menguak sosok Munir sebagai pejuang HAM. Tak heran, jika koleksi dominannya adalah ke Munir.

Kesan dan Pesan

Bagi saya, kunjungan ke sebuah museum adalah bukan hal yang pertama kali maupun asing. Namun dari kunjungan ke omah Munir, saya seakan mendapat motivasi dan sedikit khayalan untuk dapat mengikuti jejak Munir “Perjuangan & prestasi” bukan kematiannya yang tragis.

  • saya merasa terpanggil supaya berani menegakan hak-hak pribadi, tanpa takut dengan ancaman karena memang perlindungan HAM itu telah ada. Artinya dengan perlindungan yang ada, maka saya pun menekankan bahwa harus ingat dengan hak orang lain.

  • saya pun mencoba berpikir untuk bagaimana supaya omah Munir tersebut dapat jauh lebih hidup, mengetahui potensi nilai sejarahnya yang sangat berguna untuk asupan generasi muda Indonesia. Suatu ide-ide yang mungkin dapat saya sumbangkan untuk pengembangan fungsi omah Munir tersebut.

  • saya merasa mendapat tamparan, sesaat mengetahui bahwa Munir dulunya gemar menulis sebuah karya ilmiah yang kira-kira telah berbeda dengan kegemaran saya dan muda-mudi zaman sekarang. Terlebih ketika mengetahui terdapat KTM, almamater, dan hasil skripsi di Fakultas Hukum-Universitas Brawijaya, dimana kami yang seketika itu bersama-sama berkunjung ke omah Munir adalah sama-sama dari Universitas Brawijaya seakan ditunjukan jejak seorang alumni yang mestinya kami teladani.

  • Kesan yang terakhir, meskipun ketika berkunjung kondisi saya sangat lemah karena kurang sehat. Namun di dalam omah Munir saya masih dapat tenang, karena desain omah Munir yang terbilang agak tenang tersebut tidak menjadikan saya bertambah lemah karena bising atau apa.

Di balik kesan, sebaiknya memang harus ada pesan. Sebagaimana saya menemukan pelayanan itu di omah Munir. Ketika kami hendak meninggalkan omah Munir, ternyata ada daftar presensi yang disertai dengan permintaan kesan dan pesan dari komunikator kepada komunikan melalui media buku yang telah disediakan di luaran omah Munir.

  • saya berharap kedepannya omah Munir dapat dibuat lebih hidup. Misal yang saya rasakan sebagai komunikan difabel, saya tidak langsung dapat merasakan getar-getar suasana omah Munir karena keterbatasan penglihatan dan sayangnya di omah Munir tidak diberi efek suara yang dapat menambah poin plus sekaligus mengimbangi semua kalangan yang berkunjung ke omah Munir (Difabel netra).

  • saya mendapati audio visual yang kiranya dapat didengar untuk sumber informasi tentang sosok Munir, namun lagi-lagi omah Munir dirasa saya kalah di bagian suara. Volume Tv tersebut terlalu kecil dan rekamannya juga kurang jelas.

  • saya juga berharap supaya seharusnya dokumen-dokumen yang ada di etalase itu digandakan, maksudnya supaya komunikan dapat memegang/membacanya tanpa takut merusak aslinya. Karena seperti skripsi, alangkah baiknya apabila komunikan dapat membuka lembar demi lembar hasil skripsi Munir dengan tujuan memberi persepsi atau hal yang mungkin bermanfaat dari bahasan skripsi Munir.

  • saya juga berharap bila-bila dapat mungkin diwujudkan, desain omah Munir tersebut akan lebih elegan bila dibuat menyerupai di dalam pesawat.