Kisah "Pisau dan Pohon"

Romy adalah seorang pemuda yang cepat marah, tidak jarang dia membentak istrinya habis-habisan. Setiap kali ada perkara yang menurutnya tidak benar meskipun hanya sebuah masalah kecil dia akan langsung menyalahkan sang istri dan memarahinya.

Suatu hari ayahnya mendapati keributan yang terjadi dalam rumah tangganya. Ayahnya pun memanggil Romu dan mengajaknya ke suatu tempat. Ternyata mereka tiba di sebuah pohon besar di pinggir danau. Sang Ayah menyerahkan sebilah pisau dan menyuruhnya melemparkan pisau tersebut ke batang pohon di hadapan mereka.

“Untuk apa?” tanya Romy.

“Lakukan saja!” perintah ayahnya keras.

Dengan malas Romy melaksanakannya. Pisau dia lemparkan dengan asal ke arah pohon tersebut. Namun ternyata hanya membentur batang pohon dan terjatuh ke tanah.

“Ayah, jika Ayah mengharapkan aku mampu melempar pisau hingga menembus kulit pohon itu, Ayah sama saja dengan bermimpi. Seandainya pun aku ahli dalam melempar pisau, tapi tidak bisakah Ayah lihat betapa tebalnya kulit pohon itu? Mustahil aku melakukan itu, Ayah.”

Tidak mengindahkan ucapan putranya, ayahnya kembali menyuruh Romy mengulangi melempar pisau. Berulangkali dia mencobanya, pada awalnya ia kembali gagal, gagal, dan gagal. Tetapi sekali, dua kali ia akhirnya berhasil menancapkan pisau di batang pohon yang besar tersebut meskipun tidak begitu dalam.

Namun sang Ayah belum puas rupanya, dia terus meminta Romy untuk melanjutkannya. Sementara Romy yang mulai kehilangan kesabaran akhirnya tidak tahan lagi.

“Pak Tua! Aku tidak peduli apabila dirimu adalah ayahku. Tapi aku sama sekali tidak mengerti dengan keinginanmu, apa pentingnya pisau dan pohon ini hingga aku harus menghabiskan waktuku di tempat ini?”

“Dasar anak muda jaman sekarang, melakukan hal sekecil ini saja tak becus. Berhentilah menjadi sok jagoan jika melempar pisau saja kau tak mampu!” tegur ayahnya dengan suara lantang sembari mencabut pisau yang masih tertancap.

Romy benar-benar tidak bisa lagi mengontrol emosinya.

“Berikan pisau itu, akan aku buktikan betapa hebatnya aku. Tak ada hal yang tak bisa aku lakukan!” sentaknya marah dan kemudian dengan penuh amarah di lemparkannya kembali pisau tersebut. Kali ini tidak diragukan lagi pisau itu menghujam batang pohon begitu dalam. “Kau lihat itu!” serunya menatap lelaki tua di hadapannya dengan tatapan menantang. “Aku bisa melakukannya!”.

Ayahnya hanya tersenyum, sembari berjalan mendekati pohon itu ia berujar pelan, “Kau benar, anakku, kau bisa melakukannya.” Dengan mengeluarkan tenaga yang lumayan besar dicabutnya pisau dari pohon yang ternyata benar-benar tertancap kuat, “Dengan luapan emosi seperti itu apapun bisa kau hancurkan, anakku…”, “Kemari dan lihatlah ini…” panggilnya.

Romy yang mulai bisa mengatur emosinya kini hanya terdiam bingung sembari mendekati ayahnya.

“Apakah kau dapat melihat lubang yang ditinggalkan oleh pisau ini? Dapatkah kau melihat dalamnya kerusakan yang diakibatkan oleh lemparan pisau di kala kau sedang marah? Apakah menurutmu pohon ini akan kembali seperti sedia kala?”, “Kurang lebih seperti itulah bekas yang akan kau tinggalkan setiap kali engkau mengambil sebuah tindakan untuk melampiaskan amarahmu. Tidak akan menjadi masalah jika engkau melampiaskannya pada masalah-masalah yang mengakibatkan amarahmu muncul, bila untuk mencari jalan keluar dalam mengatasinya. Namun pernahkah kau berpikir luka seperti apa yang akan kau berikan apabila kau melampiaskan setiap amarahmu kepada seseorang? Seseorang yang mempunyai hati dan perasaan.”

“Kata ‘Maaf’ mungkin bisa menyembuhkannya, tapi takkan pernah bisa menghapus bekas luka yang telah ditimbulkannya…”

Bagaimana pendapat Anda tentang kisah ini?

Sumber:

Memang orang seringkali marah tanpa berpikir apa dampak kemarahannya terhadap lingkungan dan orang lain. Begitu dia terkena sesuatu akibat perbuatannya barulah dia meminta maaf. Memang maaf bisa menghilangkan kemarahan yang mungkin timbul pada seseorang yang terkena dampak perbuatan anda, tapi itu sama sekali tidak menutup luka mereka terhadap anda. Berhati-hatilah dalam meluapkan emosi anda.

Kisah ini memberitahukan kepada kita bahwa sekali kita menyakiti orang lain, maka bekas luka itu tidak akan hilang. Apa maksudnya? Maksudnya adalah saat kita melontarkan kata-kata kasar atau menyakiti mereka saat kita sedang emosi, mereka akan merasa sakit hati. Mungkin ada beberapa yang tidak. Tapi pasti banyak yang merasa terluka. Saat kita meminta maaf, dia mungkin akan memaafkannya, tapi tidak untuk melupakannya. Mengapa? Karena kita telah mengecewakannya. Jadi, kendalikan emosi anda agar anda bisa mengontrol diri anda.