[Hoax atau Fakta] Ospek Mahasiswa Identik dengan Perpeloncoan. Benarkah?

image

  • Hoax
  • Fakta

0 voters

Ospek adalah singkatan dari orientasi studi dan pengenalan kampus. Namun, seringkali perserta ospek yang notabene merupakan mahasiswa baru harus membawa dan melakukan sesuatu sesuai yang telah disusun oleh mahasiswa senior. Belakangan ini, penyelenggaraan ospek telah diawasi oleh pihak kampus agar tidak terdapat unsur perpeloncoan di dalamnya. Namun, apakah penyelenggaraan ospek sudah bebas dari unsur perpeloncoan? Ataukah ini hanya hoax? Sampaikan pendapatmu di kolom komentar!

Ketika semester 3 kemarin, saya pernah menjadi panitia dalam ospek yang diadakan bem fakultas. Dan memang benar unsur perpeloncoan tidak diperbolehkan dan sebagai panitia kita harus mematuhi peraturan dari pihak univ. Karena pada saat itu sedang pandemi, maka ospek dilakukan secara daring sehingga acara yang dibuatpun tidak begitu rumit. Tujuan dari ospek sendiri yaitu untuk memperkenalkan segala macam hal mengenai kampus sehingga susucan acara dibuat seefektif mungkin agar mahasiswa baru dapat menyerap informasi terkait kampus. Misal penyampaian materi, pemberian tugas, pembekalan, dll yang menunjang pengetahuan mengenai kampus. Dan agar karakter maba dapat terbentuk dengan baik khususnya agar bisa beradaptasi dengan deadline dan tugas yang cukup banyak, maka panitia memberikan beberapa challange, misal melalui kuis tentang materi yang disampaikan, tugas yang deadlinenya singkat, dll. Semua diberikan agar maba tidak kaget ketika sudah memasuki masa perkuliahan. Selain itu, agar semua urusan administrasi dan pengetahuan tentang kampus dapat tersampaikan dengan baik. Sehingga tidak ada unsur perpeloncoan yang menurut kami sendiri sangat tidak bermanfaat bagi maba. Jadi, inti dari ospek itu untuk membentuk karakter dan memberikan informasi perkuliahan.

sebenarnya tidak semua ospek yang ada selalu identik dengan perpeloncoan. karena ospek dijurusan saya sendiri saat saya masih maba dahulu, saya merasa senang dengan kegiatan pengenalan kampus yang diselenggarakan oleh kaka-kaka tingkat di jurusan. tidak ada saling merendahkan, membodohi atau menyusahkan peserta ospek saat itu. Jika tidak berkenan untuk mengikuti kegiatan ospek, bisa izin kepada panitia sambil menyertakan alasan kenapa tidak bisa ikut. bila ada pelanggaran hukuman yang diberikan juga ringan hanya menyanyi atau menari. tapi saya pernah meliihat di media sosial seperti twitter atau instagram ada beberapa pihak kampus atau sekolah yang menyelenggarakkan ospek dengan adanya unsur perpeloncoan, kekerasan, paksaan. hal ini biasanya sudah menjadi tradisi turun temurun dari tingkat sebelumnya. dan itu tidak baik. harus segera diubah. dan diberikan edukasi kepada kepada semua pihak yang terkait bahwa kegiatan masa orientasi pengenalan lingkungan sekolah/kampus seharusnya memberikan kesan dan pesan yang sangat baik.

Ospek dahulu dikenal dengan perpeloncoan dan ajang balas dendam kakak tingkat kepada adik tingkat seperti bagaimana kaka tingkat sebelumnya melakukan perpeloncoan saat mereka masih mahasiswa baru atau siswa baru. Hal ini menyebabkan (aku menyebutnya) never ending cycle of hell, dimana ajang balas dendam dan perpeloncoan terus terulang pada mahasiswa baru atau siswa baru selanjutnya, yang jelas-jelas bukan salah mereka. Kegiatan ospek ini digarang-garangi oleh esensi untuk meningkatkan mental. Menurut saya, bukan dengan perpeloncoan yang menggunakan atribut tidak jelas dan marah-marah karena hal yang tidak jelas. Itu namanya pembodohan.

Kemendikbud dalam peraturan putusan Dirjen Dikti Tahun 2014 tentang Panduan Umum Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru jelas-jelas menyebutkan dalam salah satu poinnya adalah Azas humanis, artinya kegiatan penerimaan mahasiswa baru dilakukan berdasarkan kemanusiaan yang adil dan beradab, dan prinsip persaudaraan dan anti kekerasan.

Walaupun perpelocoan sudah mulai perlahan-lahan tergantikan semenjak putusan tersebut, tetap saja ada berita yang menunjukan bahwa eksistensi perpeloncoan itu memang benar (masih) ada.

Referensi

Kopertis XII. (2016). SANKSI AKADEMIK UNTUK PERGURUAN TINGGI PENYELENGGARA OSPEK DENGAN KEKERASAN. Maluku. https://lldikti12.ristekdikti.go.id/2016/06/30/sanksi-akademik-untuk-perguruan-tinggi-penyelenggara-ospek-dengan-kekerasan.html diakses pada tanggal 04 Agustus 2021 pukul 08.40