Hidup Bukan Kompetisi, Setujukah?

Hidup Bukan Kompetisi

Upaya untuk meraih keunggulan adalah upaya seseorang untuk menjadi makhluk yang lebih berkualitas. Apakah youdics pernah ketika kalian mencoba untuk menjadi seseorang yang superior?

Hal itu cenderung untuk menganggap sebagai hasrat dan menjadi lebih unggul dari yang lain. Believe it or not , hal ini sama saja ketika kalian sedang mendaki gunung yang tinggi dan kalian menendang orang yang lain untuk terjatuh.

Namun jika kalian menerapkan seperti sedang mendaki gunung yang tinggi dengan level kedudukan yang sama, ada orang-orang yang melangkah maju dan ada juga yang melangkah maju di belakang itu artinya kalian memiliki pola pikir yang maju. Bukan untuk bersaing dan mengharuskan diri lebih dominan dari yang lain.

Hidup bukanlah sebuah perlombaan, hidup juga bukan soal tentang siapa yang paling hebat, siapa yang paling juara, dan siapa yang memiliki kedudukan tinggi. Kita sebagai manusia harus menikmati proses sesuai standard yang Maha Kuasa sudah berikan. Bukan berarti hasilnya harus terus yang terbaik, melainkan bagaimana kalian bisa menghargai proses bertumbuh dan memaknai disetiap langkah.

Kunci nya adalah terus melangkah maju tanpa bersaing dengan siapa pun. Yang paling terpenting adalah tidak ada gunanya jika kalian terus membandingkan diri kalian dengan orang lain. Itu tidak akan membuahkan hasil dan hanya menjadikan diri kita tidak berkembang. Benar adanya, bahwa manusia diciptakan dengan berbeda. Tapi, jangan menggabungkan hal yang baik dan buruk. Apapun perbedaannya, manusia adalah setara.

2 Likes

Segala sesuatu di dunia ini bisa dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Begitu juga kompetisi, atau menjadi kompetitif, juga bisa dilihat dari sisi yang berbeda. Itulah mengapa saya suka dengan cara pandang paradoks dalam melihat suatu fenomena.

Kompetisi untuk saling mengalahkan adalah suatu yang negatif, karena biasanya akan memunculkan agresifitas, ego sentris dan bahkan bisa melakukan segala cara untuk mendapatkan kemenangan. Sifat manusia menjadi luntur dan tergantikan dengan “sifat hewan”. Kompetisi yang seperti ini biasanya bersifat destruktif, baik bagi orang lain maupun diri sendiri. Kartun ini mendeskripsikan kompetisi yang mengarah kepada hal yang buruk,

Kompetisi

Tetapi kompetisi juga tidak selamanya buruk. Kompetisi yang tidak saling mengalahkan dapat bermanfaat bagi diri kita sendiri. Kompetisi seperti ini biasanya ditujukan untuk saling memotivasi satu dengan yang lainnya. Misalnya berkompetisi dengan teman dekat, siapa yang lulus paling cepat atau siapa yang mendapatkan nilai lebih baik.

Salah satu ciri dari kompetisi yang baik adalah kita menjadi lebih fokus pada prosesnya, bukan hanya terfokus pada hasilnya saja. Menggunakan contoh diatas, dengan berkompetisi dengan teman dekat, kita menjadi lebih rajin belajar, lebih pandai mengatur waktu dan lebih bertanggungjawab atas setiap pilihan yang kita ambil dan perilaku kita.

Selain berkompetisi dengan orang lain, yang lebih penting lagi, kalau tidak yang terpenting, adalah berkompetisi dengan diri sendiri. Prinsip “hari ini harus lebih baik dari hari kemarin” merupakan salah satu kompetisi juga. Cara termudah adalah selalu men-challenge diri kita.

Dengan selalu men-challenge diri kita, maka kita mendapatkan gambaran yang lebih jelas terkait dengan apa yang kita harapkan dan bagaimana meraihnya. Kondisi tersebut akan memaksa kita untuk melakukan refleksi diri terkait dengan bagaimana capain kita, dan apa saja kekurangan-kekurangan kita. Dengan mengetahui capaian kita, dan kekurangan kita, maka kita akan selalu termotivasi untuk “bekerja” lebih baik lagi.

Selain itu, ketika kita men-challenge diri kita, maka secara tidak langsung akan membuat kita lebih kreatif dan inovatif. Setiap challenge yang kita buat, pasti membutuhkan usaha untuk menyelesaikannya. Ketika kita memikirkan efektifitas dan efisiensi dalam setiap usaha yang dilakukan, maka disitulah muncul kreativitas dan inofasi. Akhirnya, kita akan menjadi lebih percaya diri.

Kompetisi bukanlah tentang hasil, tetapi tentang proses. Dalam dunia olahraga, yang sangat kental dengan aura kompetisi, sportivitas tetaplah yang paling utama.

2 Likes

Menurut saya, pada dasarnya manusia diharuskan hidup dalam kompetisi. Sama seperti makhluk hidup lainnya yang juga harus berkompetisi untuk mempertahankan eksistensinya di bumi ini. Semua hewan, bersaing baik dengan sesamanya, atau dengan spesies lainnya. Berusaha menjadi paling kuat, menjadi menarik bagi lawan jenis, berusaha menjadi yang paling adaptif agar DNA-nya dapat terus diturunkan ke anak cucu.

Manusia akan selalu berkompetisi jika berurusan dengan masalah bertahan hidup. Kita tentu sering lihat bagaimana proses pembagian bantuan sosial yang berakhir dengan keributan. Orang-orang takut untuk kehabisan makanan. Atau mungkin pertengkaran keluarga merebutkan warisan. Orang-orang takut kehabisan uang.

Namun yang disayangkan sekarang, menurut saya, adalah tentang banyaknya “standar” yang digunakan manusia untuk merasa hidup. Akibatnya, kompetisi yang terjadi saat ini bisa berlebihan dan mengarah pada hal yang kurang baik.

Jika dulu nenek moyang kita mungkin hanya bersaing untuk mendapatkan hewan buruan paling gemuk, gua yang paling aman, dan pasangan yang paling optimal, sekarang standar hidup manusia berubah banyak. Mereka yang seharusnya sudah bisa hidup walaupun sehari-hari harus naik kendaraan umum, merasa hidupnya belum benar-benar hidup karena melihat orang lain yang setiap hari naik mobil. Mereka yang seharusnya sudah bisa kenyang dengan memakan sepiring nasi, merasa nasi sangat kurang saat melihat orang lain memakan pasta atau steak. Standar-standar ini juga dapat menimbulkan kerusakan yang besar, seperti perang antar negara, yang sangat merugikan spesies manusia itu sendiri. Untuk hal seperti ini, kompetisi dapat membuat manusia punah lebih cepat karena mengharuskan mereka untuk bersaing antar sesamanya.

Tetapi, manusia tetap saja berbeda jika dibandingkan dengan hewan-hewan lainnya. Jika hewan lain mungkin hanya berkompetisi untuk bertahan hidup, manusia lebih dari itu. Manusia yang disertai akal, akan menggunakan kompetisi untuk bisa mencapai potensi terbaiknya. Hewan-hewan lain tidak akan pernah berpikir untuk membuat inovasi, hidup seperti itu-itu saja (kecuali jika mereka berevolusi). Sementara manusia akan terus berusaha lebih baik dari sebelumnya, menciptakan hal-hal baru untuk membuat dirinya sendiri puas dan bisa hidup dengan lebih aman dan nyaman. Untuk hal seperti ini, kompetisi dapat membuat manusia menjadi makhluk paling unggul di bumi ini.

Hidup adalah kompetisi karena pada dasarnya seperti itu. Hanya saja, harusnya kita harus tetap memilih kompetisi yang bersifat baik untuk kebaikan bersama.

4 Likes

Menurut saya, manusia akan hidup dengan kompetisi dan juga kerjasama. Kompetisi dan kerjasama merupakan dua pola hubungan yang terjadi dalam kehidupan manusia. Kompetisis di anggap sebagai komponen dalam challenge yang mendorong seseorang berperilaku. Sementara kerjasama merupakan salah satu bentuk insentif yang dapat menjadi penguat perilaku individu. Kompetisi dan kerjasama merupakan sebuah pola keseimbangan. Jadi, kurang tepat jika manusia hidup dengan selalu berkompetisi tanpa bekerjasama, begitu juga sebaliknya.

Seperti yang diungkapkan oleh @vl_smip di bawah:

Memang benar, manusia akan terus berkompetisi jika berurusan dengan bertahan hidup. Mereka akan melakukan segala cara untuk tetap bertahan hidup, bahkan dengan mengorbankan manusia lainnya sekali pun. Kompetisi dengan membenarkan segala cara itu lah yang harus dihindari dalam kehidupan, karena nanti akan merugikan orang lain. Semisal: dalam urusan bisnis terdapat kompetisi yang kurang sehat, hingga pada akhirnya ada salah satu pihak yang kehilangan nyawa.

3 Likes

Buat saya pernyataan hidup adalah kompetisi bisa iya bisa juga tidak. Iya apabila kompetisi disini artinya usaha untuk “mengalahkan” sesuatu dalam rangka menjaga kelangsungan hidup dan spesies, seperti yang dijelaskan dalam biologi di mana dalam suatu ekosistem organisme bersaing untuk mendapatkan kebutuhan mereka. Sebaliknya, jawabannya bisa juga tidak apabila dalam definisinya mengharuskan orang lain sebagai objek yang harus dilampaui atau dikalahkan.

Dalam dunia modern saat ini, kita dibiasakan dengan kompetisi sejak dini. Sistem peringkat di sekolah adalah salah satu bentuknya. Satu anak bersaing dengan yang lainnya untuk mendapatkan peringkat tertinggi. Di satu sisi, kompetisi semacam ini bisa menjadi sangat positif karena anak-anak akan terpacu semangat belajarnya. Namun akan jadi salah apabila motivasinya semata-mata agar dapat melampaui orang lain. Hal ini mendorong orang untuk menggantungkan standar kesuksesannya dan fulfillment-nya pada orang lain. Seseorang yang terpaku dalam kompetisi semaca ini memiliki kecenderungan untuk merasa tertekan, cemburu dan insecure.

Misalnya si A mengusahakan suatu hal, bukan dengan tujuan untuk menjadi lebih baik dalam hal tersebut melainkan untuk mengalahkan si B, maka saat pada akhirnya ia tidak bisa mengalahkan si B ia akan kecewa. Ia jadi tidak bisa menghargai hasil ataupun kemajuan dari hal yang ia usahakan karena tujuan finalnya, yaitu mengalahkan si B, tidak tercapai. Lain halnya apabila objek kompetisinya adalah dirinya sendiri, di mana seseorang ingin menjadi versi yang lebih baik sehingga ia harus mengalahkan dirinya yang kemarin, seperti yang sudah disampaikan oleh Pak @Aryadita

Menurut saya kompetisi yang seperti ini yang lebih sehat. Mengenai ini, ada satu quotes menarik dari penakluk Gunung Everest yang pertama, Edmund Hillary.

Selain itu yang perlu dipahami juga, setiap orang memiliki advantage dan disadvantage-nya masing-masing. Kemenangan si B atas si A dalam satu bidang tidak berarti kekalahan si A, karena si A bisa jadi memiliki advantage yang tidak dimiliki si B dalam bidang lain, yang berarti kemengan A atas B dalam bidang lain. Advantage dan disadvantage ini bisa berbentuk apapun, baik fisik ataupun laten. Jika setiap orang memiliki potensi dan kendalanya masing-masing, mungkin sebaiknya ambisi dalam kompetisi bukan untuk saling mengalahkan, namun untuk membuat kemajuan dalam mengalahkan “disadvantage” bagi diri sendiri dan orang lain.

2 Likes