Haruskah Manusia Membayar Ganti Rugi kepada Hewan atas Kerusakan Hutan?

ular-kobra-ilustrasi-_191208223959-837

Dilansir dari WWF, setengah dari jumlah asli hutan di dunia telah hilang dan masih terus ditebangi dengan kecepatan 10 kali lipat dibandingkan pertumbuhannya. Sifat manusia yang selalu menginginkan expansi wilayah, membuat mereka tidak memikirkan dampak lebih jauh dari penggusuran hutan menjadi pemukiman baru. Kerusakan hutan dapat mengubah persediaan air, mengakibatkan air menjadi kotor oleh polusi. Nilai eksistensi Indonesia sebagai paru-paru dunia pun semakin berkurang seiring hutan yang terus dibabat habis.

Dampak lainnya yang tidak secara langsung kita rasakan yaitu hilangnya habitat para hewan. Banyak hewan yang kehilangan habitat mereka tidak mampu bertahan hidup dan punah, namun ada pula yang bertahan dengan cara hidup bersembunyi diantara manusia. Tidak selamanya hewan-hewan ini dapat bersembunyi, terkadang saat masa kawin tiba atau saat anak-anak mereka lahir dan menetas, mereka harus keluar untuk mencari pasangan maupun mencari makan. Kasus nyata yang harusnya membuka mata kita adalah banyakmya ular yang muncul di pemukiman warga sepanjang tahun untuk berkembang biak. Akan tetapi, yang dapat dirasakan oleh manusia hanyalah rasa terancam karena takut dipatuk ular tanpa menyadari bahwa hal tersebut sebenarnya terjadi karena habitat asli mereka yang telah direnggut. Menurut saya sebagai manusia yang derajatnya labih tinggi daripada hewan, sudah sepantasnya kita mencari jalan keluar supaya kita dapat hidup berdampingan tanpa mengganggu satu sama lain di bumi ini. Bagaimanakah tanggapan kalian akan permasalahan tersebut? Bagaimanakah cara kita mengganti rugi kepada para hewan yang terdampak oleh keserakahan manusia?

Referensi :