Halwa si Gadis Besi


Pagi-pagi sekali Halwa sibuk membungkus gorengan untuk dijual di sekolahnya. Selain gorengan ia juga berjualan kue kering. Halwa Ningrum, nama lengkapnya. Seorang siswa kelas dua belas yang setiap pergi ke sekolah selalu membawa tentengan yang berisi gorengan dan makanan ringan. Tak seorangpun yang meminta ia untuk berjualan di sekolah, ini murni atas kemauannya sendiri.
‘’Pagi buk! Ini titipan hari ini ya, seperti biasa nanti kita makan siang bersama! Halwa buru-buru bu, udah telat.’’ Halwa menghampiri bu Ani, pedagang kaki lima yang merupakan salah satu korban kebakaran yang satu-satunya selamat beberapa bulan yang lalu, berkat dukungan dari Halwa, ia berjualan di tepi trotoar dan terkadang harus berlarian menyelamatkan barang dagangan karna harus berhadapan dengan petugas. Pagi itu cuaca sangat cerah, terik matahari mulai membuat hangat tubuh ibu Ani, Halwa tak sabar ingin cepat-cepat pulang sekolah untuk menemuinya makan siang bersama.
Bel tanda pelajaran berakhir berbunyi. Halwa langsung mengemas peralatan belajar dan kantong kresek sisa jualan hari ini dan langsung mengambil langkah seribu menemuinya. Tak lupa juga ia juga membeli sebungkus nasi untuk dimakan bersama di tepi trotoar. Hari itu sangat menyenangkan karna ia berhasil melukis tawa dengan lelucon yang ia karang pada bibir bu Ani. Begitulah aktifitasnya setiap hari, berjualan di sekolah, pulang pukul 4 sore, menghitung hasil pendapatan hari itu, mampir ke pasar membeli bahan makan dan memasak untuk makan malam setiba di rumah.
‘’assalamu’alaikum’’ ia membuka pintu setengah kerepotan dengan tentengan barang di tangannya.
‘’iya nak!! Ibu sudah punya rencana untuk menjual emas-emas ini untuk Merlin, pokoknya apapun yang kamu minta bilang saja ya nak, ibu akan minta kakakmu Halwa untuk menjualnya di toko emas’’
Percakapan ibu dengan adiknya Merlin, menjadi torehan sembilu bagi Halwa. Ia ingat beberapa minggu lalu ia dipukuli hanya gara-gara minta uang tambah bayar spp sekolah. Memang, semenjak ayahnya meninggal, sikap ibunya berubah 180 derajat. Ia mengutuk anaknya karna suaminya meninggal diperjalanan pada saat hendak membelikan Halwa sepatu. Semenjak itu, kasih sayang sang ibu hanya tercurah kepada adiknya saja. Meskipun begitu, Halwa tetap menyayangi ibu dan adiknya, tidak pernah mengeluh apalagi dendam.
Suatu hari ibunya jatuh sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Halwa memutuskan untuk libur sekolah beberapa hari demi menjaga dan merawat sang ibu. Semakin lama, sakit sang ibu semakin parah. Ibunya memanggil-manggil Merlin, namun ia tak kunjung hadir menjenguk ibunya ke rumah sakit, wabah corona yang melanda negeri ini membuat ia takut terinfeksi. Namun bagi Halwa, ada ataupun tidak virus ini tidak akan mematikan semangat dan kasih sayangnya kepada sang ibu. Justru ketakutan yang berlebihanlah yang membuat keyakinan kita mati kepada tuhan yang maha memberi kesembuhan. Di tengah merawat sang ibu, Halwa menyempatkan diri mendatangi bu Ani yang telah kehilangan dia selama beberapa hari. Kedatangannya ternyata memang sangat dibutuhkan bu Ani, tempat mereka berjualan digusur oleh petugas, di sana tidak diperbolehkan lagi pedagang kaki lima berjualan. Halwa segera berfikir dan mengambil tindakan bagaimana bu Ani tetap bisa berjualan tanpa harus merasa dihantui oleh para petugas. Berani dan berbuat baik, atau ia tak baik bagi siapapun, inilah yang menjadi motivasinya untuk selalu menebar manfaat bagi orang lain. Hari itu juga, keresahan bu Ani terbayarkan karna bantuan dari Halwa yang kesana kemari mencarikannya tempat baru untuk berjualan.
Di rumah sakit, ibunya terus merintih kesakitan dan memanggil manggil Merlin anaknya, ia sama sekali tak melirik Halwa yang telah merawatnya selama ia sakit.
‘’Merlin, anakku, di mana dia?’’
‘’Dia di rumah bu, menjaga rumah, ia sedang tidak enak badan’’ Halwa sengaja berbohong, sebenarnya Merlin tidak mau menjenguk ibunya karna ia takut akan tertular virus yang saat ini ada di mana-mana, COVID-19.
Halwa terus mengedu adiknya untuk jangan terlalu berlebihan terhadap sesuatu. Tuhan memberikan ujian bukan untuk ditakuti, melainkan untuk dihadapi dan menunjukkan kepada tuhan bahwa kita sanggup untuk menjalaninya. Dengan keteguhan dan kesabaran Halwa ia tetap menjaga sang ibu meski ibunya selalu menyebut nama adiknya. Sang ibu yang kunjung tak melihat sosok Merlin mulai sadar bahwa anak yang selama ini ia kutuk tak pernah sedih dan dendam kepada ibunya. Akhirnya, hati sang ibupun luluh melihat ketulusan Halwa. Dengan siraman kebaikan dan ketulusan Halwa yang bersih menjadi obat bagi sang ibu, akhirnya sang ibupun sembuh. Ia kemudian kembali menyayangi Halwa sebagai anaknya.