Fitur PayLater, sebuah solusi atau menambah polemik?

Para perusahaan Fintech saat ini mulai populer memamerkan layanan fitur PayLater alias bayar nanti. PayLater memungkinkan masyarakat untuk membeli sesuatu, baik barang ataupun jasa dengan dicicil tanpa menggunakan kartu kredit. PayLater ini bisa digunakan untuk membayar ‘nanti’ berbagai macam transaksi mulai dari kebutuhan sehari-hari terutama saat di fase akhir bulan maupun untuk kebutuhan mendesak. Tapi penggunaan PayLater untuk sebagian orang bisa menyebabkan ketergantungan serta pemborosan yang tidak perlu. Banyak diantaranya malah hanya menambah hutang dan tidak menyelesaikan masalah finansialnya.

Dari penjelasan di atas Youdics, apakah diantara kalian sudah mencoba fitur ini? lalu, apakah menurutmu PayLater ini bisa menjadi sebuah solusi dari masalah finansial atau justru sebaliknya? Tulis di komentar ya Youdics!

Ilustrasi

Foto:Unsplash

1 Like

Pay Later adalah skema metode pembayaran mirip dengan kartu kredit dimana perusahaan aplikasi menalangi pembayaran tagihan pengguna kepada merchant. Setelah itu, pengguna membayar tagihannya ke perusahaan aplikasi. Menurut saya, untuk permasalahan diatas itu tergantung individu masing-masing. Karena, pada dasarnya paylater diciptakan untuk mempermudah pelanggan yang tidak bisa membayar saat itu juga, kemudian dapat membayarnya saat sudah gajian atau memiliki uang. Kita sebagai pengguna yang seharusnya bijak dalam menggunakannya, menyesuaikan dengan kebutuhan yang ada. Namun, bagi sebagian orang memang cukup sulit untuk mengatur keuangan, dan merasa kalap saat menggunakan fitur paylater sehingga menyebabkan polemik dikemudian hari. Oleh karena itu, para pengguna diharapkan lebih bijak menggunakan fitur paylater agar dapat terhindar dari polemik yang ada.

Referensi

Safitri, siti nely. (2020). Aspek hukum perlindungan konsumen pengguna paylater traveloka.

Fitur paylater merupakan salah satu teknologi yang hadir dan dapat mempermudah menjalankan kehidupan sehari-hari. PayLater memungkinkan masyarakat untuk membeli sesuatu, baik barang ataupun jasa dengan dicicil tanpa menggunakan kartu kredit. Dengan adanya fitur ini, tentu saja memudahkan masyarakat dalam bertransaksi apapun. Seperti halnya yang disebutkan Hadijah (2019) yang menyebutkan Fitur PayLater makin populer, sebab fitur pembayaran PayLater ini bisa digunakan untuk membayar ‘nanti’ berbagai macam transaksi mulai dari kebutuhan sehari-hari seperti belanja online sampai bayarin kebutuhan travelling, semisal beli tiket pesawat, pesan hotel dan isi paket data internet.

Fitur PayLater sebenarnya dapat menjadi opsi yang lebih mudah dan nyaman bagi masyarakat dalam mengakses kredit tanpa kartu. Pemahaman fitur PayLater dengan baik sangat dibutuhkan agar pengguna terhindar dari jeratan utang maupun cicilan yang melilit.

Menurut (Aristanti, 2020), ada beberapa keuntungan dari PayLater sebagai berikut:
a. Prosesnya Cepat dan Lebih Praktis
b. Tenor Bervariasi (Ada yang Hingga 1 Tahun)
c. Banyak Promo Menarik

Munculnya PayLater memang memberikan kemudahan. Namun, bisa membuat kita menjadi “ketagihan” dan selalu menggunakannya. Menurut (Ramadhani, 2020), kita perlu memerhatikan beberapa hal ini sebelum menggunakannya, sebagai berikut:
a. Ada Biaya Tambahan dan Bunga
b. Jiwa Konsumtif Semakin Meningkat
c. Membebani Keuangan Bulanan dan pengelolaan
d. Menggunakan Lebih dari Satu PayLater
e. Telat membayar, akan didenda
f. PayLater memang kadang membantu kalau dalam kondisi darurat. Namun, ada kalanya hal ini malah menjerumuskan.

Jadi, adanya fitur Paylater di zaman sekarang tentu sangat bermanfaat dan juga merupakan sebuah solusi dalam menjawab permasalahan di dunia modern saat ini. Namun, kita tetap harus hati-hati dalm menggunakannya sehingga tidak menjadikan boomerang dan berdampak negatif dalam penggunaannya.

Sumber

Aristanti, N. D. (2020). PayLater, Kartu Kredit Zaman Now yang Ternyata Bisa Bikin Kalap Belanja! Koin Works. https://koinworks.com/blog/apa-itu-pay-later/

Hadijah, S. (2019, Oktober). Aplikasi Layanan PayLater Makin Diminati, Yuk Cek Keuntungan dan Kerugiannya -. Cermati.Com.
https://www.cermati.com/artikel/aplikasilayanan-pay-later-makin-diminati-yuk-cekkeuntungan-dan-kerugiannya.

Iin EP, Tira NF. 2021. Konsep Paylater Online Shopping dalam Pandangan Ekonomi Islam. 7(1): 425-432. JURNAL ILMIAH EDUNOMIKA

Ramadhani, N. (2020, February 21). Sering Pakai Fitur PayLater? Perhatikan Hal Berikut Sebelum Keseringan—Akseleran Blog. Akseleran. https://www.akseleran.co.id/blog/fitur-PayLater/

Menjadi solusi kalau menggunakannya di saat yang tepat, seperti saat ada kebutuhan mendesak misalnya. namun juga menjadi sebuah masalah finansial (utang yang menumpuk), kalau kita sudah terbiasa dan selalu mengandalkan fitur bayar nanti ini untuk kebutuhan yang tidak penting atau bahkan menjadi suatu pemborosan karena mengandalkan keuntungan dari fitur PayLater ini.

saya setuju dengan pendapat @Navyani
Metode layanan ‘bayar nanti’ atau paylater telah menjadi alternatif solusi pengelolaan keuangan bagi masyarakat. Demikian hasil temuan survei terbaru dari Research Institute of Socio-Economic Development (RISED) yang berjudul “Persepsi Pasar Indonesia Terhadap Pemanfaatan Fitur Pembayaran Paylater.”
Survei tersebut mengungkapkan bahwa sebesar 92% responden menyatakan layanan paylater bermanfaat untuk mengelola pengeluaran dan arus kas. Penggunaan layanan ini sebelum dan selama pandemi Covid-19 juga berubah. kehadiran layanan paylater harus dipandang sebagai solusi alternatif pengelolaan keuangan, bukan hanya soal instrumen pembayaran.

Layanan paylater saat ini banyak ditawarkan oleh platform digital yang bekerjasama dengan pihak ketiga penyedia layanan cicilan. Lebih dari 15 layanan e-commerce serta aplikasi on-demand yang menyediakan layanan ini, seperti Kredivo, Shopee Paylater, Traveloka, Gojek, Grab, dan Tokopedia. Menurut saya, ada dua faktor utama yang mendorong masyarakat semakin memanfaatkan layanan paylater. Dua faktor tersebut adalah keamanan dan kenyamanan.

1 Like

Sejujurnya aku sendiri belum pernah sama sekali mencoba fitur paylater ini. Tetapi mendengar cerita dari teman-teman ku yang menggunaan pay later ini ada positif dan negatif sih memang. Bisa menjadi solusi bagi mereka yang memang membutuhkan sesuatu dengan mendesak. Menjadi solusi juga untuk mereka yang pengelolaan keuangannya sangat stabil sehingga mereka bisa belajar perencanaan pengeluaran.

Negatifnya adalah budaya. Budaya yang dikit-dikit paylater aja lah, dan selalu menuruti keinginannya padahal sebenarnya tidak sangat mendesak. Menimbulkan perilaku yang sembrono, artinya membeli sesuatu tanpa dipertimbangkan terlebih dahulu. Apakah dengan harga segini bisa saya bayar dikemudian hari atau tidak

Menurut saya adanya fitur PayLater itu juga sangat membantu dan memudahkan ketika kita membutuhkan pembayaran cepat namun kredit atau saldo uang kita tidak cukup. Namun terkadang karena kemudahan ini juga mengakibatkan kita menjadi terlena dan kalap mata, sehingga menimbulkan pembelian yang berlebihan dengan berpikir bahwa “ah masih bisa dibayar nanti, yang penting beli dulu”. Sejati kita juga harus mewasdai adanya pemikiran seperti ini, karena jika nominal uang PayLater yang kita pakai sudah membengkak, kita akan merasa terbebani akan besarnya biaya yang harus kita bayar di bulan depan pada saat jatuh tempo.

Menurutku fitur ‘kemudahan’ paylater ini justru malah memberikan beban tersendiri bagi penggunanya. Pengguna merasa terbantu pada awalnya, namun nanti lama-lama pasti menimbulkan efek kecanduan bagi si pengguna. Segala hal yang memudahkan pasti berisiko untuk digunakan secara berlebihan alias menjadi boros. Hal inilah yang seringkali terjadi pada pengguna paylater. Risiko lainya saat paylater digunakan secara berlebihan dan kalap, bukannya membantu mengatur keuangan, kondisi finansial pengguna malah menjadi berantakan karena beban cicilan yang terlalu besar, belum lagi tingkat bunga dan denda yang tinggi jika kita terlambat membayar.

Paylater hadir untuk seseorang yang mampu bertanggung jawab atas risiko yang diberikan. Dengan ‘beli sekarang bayar nanti’ seseorang dituntut agar mampu bertanggung jawab atas keputusannya membeli barang dan mampu membayarnya kemudian hari. Namun, bagi orang yang hanya menikmati proses belinya saja, itu yang menjadi masalah. Sering terjadi kasus penunggakan oleh orang yang konsumtif tetapi tidak memiliki pengaturan keuangan yang pasti. Ujung-ujungnya suka menyalahkan fitur paylater. Padahal baik dan buruknya paylater tergantung bagaimana kita menggunakannya dengan bijak.

Menjawab pertanyaan diatas, menurut saya fitur PayLater bisa dijadikan solusi ataupun bisa saja menjadikan masalah. Tergantung bagaimana kondisi seseorang ketika memutuskan untuk menggunakan fitur PayLater. PayLater dapat digunakan sebagai metode pembayaran ketika sedang tergesah-gesah dan buru-buru, tetapi ketika menggunakan fitur ini kita harus ingat dan bertanggung jawab untuk melakukan pembayaran tagihan di kemudian hari. Kalau tidak hal tersebut dapat menjadi masalah, sebagai contoh dikenakan denda, dan mungkin mendapat masalah yang lebih serius lagi.

Dampak positif adanya PayLater akan memudahkan masyarakat dalam berbelanja dengan metode pembayaran yang sangat praktis digunakan, terutama ketika ada kebutuhan mendesak atau ketika tanggal tua. Namun dampak negatifnya berdasarkan fakta yang terjadi, kehadiran fitur pembayaran ini telah membuka suatu peluang yang baru bagi pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab untuk melakukan pembobolan akun.

Tidak hanya itu, dengan adanya paylater juga dapat membebankan masyarakat dengan membayar bunga dan biaya tambahan ketika masyarakat telat membayar maka bisa saja akan terkena denda dan akhirnya masyarakat tersebut mengeluarkan uang untuk hal yang tidak perlu.

Jika kita menggunakan fitur PayLater berkali-kali, kemungkinan besar limit maksimal untuk belanja juga akan naik apalagi jika tidak pernah telat membayar tagihan. Peningkatan limit ini terus menjadi membuat jiwa konsumtif tidak mudah ditahan. Kesimpulannya, kebiasaan membeli banyak hal tidak dapat dihindarkan. Jiwa konsumtif ini bisa menjadi bumerang tersendiri, menyebabkan catatan keuangan berantakan dan bahkan bisa terlilit hutang yang semakin besar ketika tidak bisa membayar tagihan.

menurut saya fitur paylater dapat menjadi solusi dan dapat menjadi masalah juga. fitur ini menjadi solusi saat kita sedang benar-benar terdesak ingin membeli sesuatu yang dibutuhkan pada saat kondisi keuangan sedang mepet, namun kebanyakan orang setelah mencoba fitur paylater mereka menjadi kecanduan untuk berbelanja hal yang tidak perlu dan akhirnya tagihan tiba-tiba menumpuk karena tidak sadar telah membeli barang-barang yang tidak terlalu dibutuhkan karena terlalu asyik menggunakan fitur paylater dan akhirnya menyalahakn fitur ini.

Saya kerap menggunakan fitur PayLater ini dalam keadaan mendesak. Berdasarkan pengalaman saya menggunakannya, fitur ini sangat membantu saya dalam beberapa aspek kehidupan. Seperti saat membeli tiket kereta dan bus yang terkadang memang dihadapkan untuk sesegera mungkin membelinya karena harus berebut tiket.

Namun, dengan adanya fitur PayLater terkadang membuat saya pribadi membeli sesuatu yang tidak penting padahal awalnya saya tidak mengisi saldo adalah untuk penghematan. Apalagi sekarang banyak platform atau e-commerce memberikan promo atau diskon jika payment yang digunakan adalah PayLater atau bayar nanti ini.

Bagi saya pribadi PayLater ini adalah bukanlah sebuah solusi finansial namun lebih ke arah mengajarkan kita untuk berutang.

Menurut pandangan saya, hadirnya PayLater merupakan inovasi yang berpeluang besar dalam bidang Fintech, mengingat manfaat dan kemudahan yang ditawarkan dalam fitur ini. Dalam riset yang dilakukan Kredivo dan Katadata Insight Center selama Januari-Desember 2020, sebanyak 55 persen pengguna e-commerce (6 e-commerce besar di Indonesia) memilih metode pembayaran melalui Paylater, dan
sebanyak 41 persen konsumen memilih fitur paylater untuk mengontrol pengeluaran bulanan.

Riset pada tahun tersebut cukup menjelaskan bahwa hadirnya pandemi berdampak pada akselerasi penggunaan keuangan digital berupa paylater menjadi metode pembayaran pilihan yang cepat, mudah dan aman di e-commerce. Dalam riset juga disebutkan, Paylater ke depannya akan semakin diminati sebagai pembayaran pilihan yang cepat, aman, dan nyaman. Selain itu, melihat peminat pengguna jasa ini, Paylater diperkirakan menjadi salah satu pembayaran digital yang tumbuh paling cepat di e-commerce dalam satu tahun terakhir. Namun perlu diperhatikan, bahwa pembayaran melalui digital tentu mempunyai risiko.

Menurut saya adanya fitur paylater memiliki dampak positif dan negatifnya. Fitur paylater pada umumnya merupakan konsep yang hampir sama dengan kartu kredit. Anda akan dipinjamkan sejumlah dana oleh suatu pihak dengan batasan tertentu guna memenuhi keperluan Anda. Bedanya, Paylater ini umumnya disediakan di berbagai situs jual-beli online tidak perlu menggunakan kartu dengan bentuk fisik. Dampak positif yang bisa diambil yaitu:

  1. Lebih Mudah dan Praktis
  2. Terdapat promo menarik
  3. Merupakan fitur kredit terbaru yang lebih modern
  4. Dapat menjadi alternatif ketika membutuhkan sesuatu yang mendesak tetapi uang belum ada

Namu terdapat dampak negatif yang perlu diperhatikan, seperti:

  1. Pengaturan keuangan yang berantakan
  2. Bunga dan denda fitur paylater
  3. Menjadi terlena dan berakhir menjadi konsumtif
  4. Memiliki hutang membuat hidup tidak tentram

Dari yang sudah diuraikan diatas fitur paylater bisa menjadi sebuah solusi jika digunakan secara bijak, tetapi alangkah baiknya jika kita membeli yang hanya dibutuhkan dan menyesuaikan finansial agar tidak perlu berhutang.

Dilansir dari cigna.co.id, PayLater merupakan sebuah layanan pinjaman online yang tidak menggunakan kartu kredit. Layanan tersebut membuat para konsumen bisa melakukan transaksi sekarang dan membayar di kemudian hari. Dalam hal ini, pay later berfungsi untuk memudahkan masyarakat jika memiliki kendala untuk membayar suatu kebutuhan yang mendesak. Misalnya, membutuhkan popok atau susu untuk anak namun waktu gajian masih 3 minggu lagi. Tentunya, hal tersebut dirasa sangat menguntungkan karena prosesnya lebih cepat dan praktis.
Namun, ada juga beberapa konsekuensi jika menggunakan fitur PayLater terlalu sering, diantaranya ialah membuat kita menjadi lebih konsumtif, lebih boros, memiliki beban tagihan setiap bulan, dan lain sebagainya. Memang, tidak dapat dipungkiri bahwa pay later menjadi solusi yang tepat untuk menjawab permasalahan dan kebutuhan masyarakat. Akan tetapi, perlu diperhatikan kembali mengenai resiko-resiko saat menggunakan pay later. Untuk masyarakat yang memiliki gaji tetap atau penghasilan tetap setiap bulan sih tidak masalah, yang menjadi masalah ialah ketika seseorang dirasa tidak mampu untuk membayar di kemudian hari menggunakan pay later.