Dimensi apa saja yang ada pada kesejahteraan hidup atau psychological well-being ?

kebahagiaan

(Arisha Yonna Tanu) #1

Kesejahteraan hidup

Kesejahteraan hidup atau psychological well-being adalah sebuah kondisi dimana individu memiliki sikap yang positif terhadap diri sendiri dan orang lain, dapat membuat keputusan sendiri dan mengatur tingkah lakunya sendiri, dapat menciptakan dan mengatur lingkungan yang kompatibel dengan kebutuhannya, memiliki tujuan hidup dan membuat hidup mereka lebih bermakna, serta berusaha mengeksplorasi dan mengembangkan dirinya.

Dimensi apa saja yang ada pada kesejahteraan hidup atau psychological well-being ?


(Amalia Laisa) #2

Ryff dan rekan-rekannya, merumuskan psychological well being melalui teori psikologi klinis, perkembangan dan kesehatan mental, dan mengembangkan sebuah model multidimensional yang meliputi enam dimensi dari psychological well being dan skala self-report untuk mengukurnya.

Enam dimensi tersebut adalah:

  1. Penerimaan Diri (Self-Acceptance)

    Penerimaan diri yang dimaksud adalah kemampuan seseorang menerima dirinya secara keseluruhan baik pada masa kini dan masa lalunya. Seseorang yang menilai positif diri sendiri adalah individu yang memahami dan menerima berbagai aspek diri termasuk di dalamnya kualitas baik maupun buruk, dapat mengaktualisasikan diri, berfungsi optimal dan bersikap positif terhadap kehidupan yang dijalaninya. (Ryff,1995).

    Penerimaan diri didefinisikan sebagai fitur sentral mental kesehatan serta merupakan karakteristik dari aktualisasi diri, berfungsi optimal, dan kematangan (Ryff, 1989:1071). Penerimaan diri merupakan sikap positif terhadap diri sendiri dan merupakan ciri penting dari psychological well being. Individu yang memiliki sikap positif terhadap diri sendiri, mengakui dan menerima berbagai aspek diri termasuk yang baik maupun buruk, dan merasa positif tentang kehidupan yang dijalani berarti individu tersebut memiliki penerimaan diri yang positif. Sebaliknya, individu yang tidak puas dengan dirinya, merasa kecewa terhadap kehidupan yang telah dijalani, karena mengalami sejumlah kualitas pribadi dan ingin menjadi orang yang berbeda dari dirinya saat ini merupakan individu dengan penerimaan diri yang negatif (Sugianto, 2000: 69).

  2. Hubungan Positif dengan Orang Lain (Positive Relation with Others)

    Hubungan positif yang dimaksud adalah kemampuan individu menjalin hubungan yang baik dengan orang lain di sekitarnya. (Ryff, 1995). Banyak teori-teori sebelumnya menekankan pentingnya kehangatan, kepercayaan dalam hubungan interpersonal. Kemampuan untuk mencintai dipandang sebagai komponen utama kesehatan mental.

    Orang yang memiliki self-actualization digambarkan memiliki perasaan empati dan kasih sayang untuk yang kuat semua umat manusia dan orang dengan kasih sayang yang lebih besar, persahabatan yang lebih dalam, dan identifikasi yang lebih lengkap dengan orang lain. Kehangatan berhubungan dengan orang lain adalah berpose sebagai kriteria kematangan. Teori tahap perkembangan juga menekankan pencapaian hubungan dekat dengan orang lain (intimacy) dan pedoman serta arah lain (generativity). Oleh karena itu, pentingnya hubungan positif dengan orang lain dalam konsep psychological well being (Ryff, 1989.

    Individu dengan hubungan yang hangat, memuaskan dan saling percaya dengan orang lain, memperhatikan kesejahteraan orang lain, mampu melakukan empati yang kuat, afeksi, dan hubungan yang bersifat timbal balik menunjukkan individu tersebut memiliki hubungan yang positif dengan orang lain. Sementara individu yang hanya memiliki sedikit hubungan yang dekat dan saling percaya dengan orang lain, merasa kesulitan untuk bersikap hangat, terbuka dan memperhatikan orang lain, merasa terasing dan frustasi dalam hubungan interpersonal, tidak bersedia menyesuaikan diri untuk mempertahankan suatu hubungan yang penting dengan orang lain, maka orang tersebut dikatakan tidak memiliki hubungan yang positif dengan orang lain (Sugianto, 2000).

  3. Otonomi (Autonomy)

    Otonomi digambarkan sebagai kemampuan individu untuk bebas namun tetap mampu mengatur hidup dan tingkah lakunya. (Ryff, 1995). Orang yang berfungsi penuh juga digambarkan sebagai memiliki lokus internal terhadap evaluasi, dimana orang tidak melihat ke orang lain untuk mendapatkan persetujuan, tetapi mengevaluasi diri menurut standar pribadi (Ryff, 1989).

    Konsep otonomi berkaitan dengan kemampuan untuk mengarahkan diri sendiri, kemandirian dan kemampuan mengatur tingkah laku. Individu dengan otonomi tinggi jika mampu mengarahkan diri dan mandiri, mampu menghadapi tekanan sosial, mengatur tingkah laku sendiri dan mengevaluasi diri dengan standar pribadi. Sebaliknya individu yang tidak otonom jika individu tersebut memperhatikan pengharapan dan evaluasi orang lain, bergantung pada penilaian orang lain dalam membuat keputusan, menyesuaikan diri terhadap tekanan sosial dalam berpikir dan bertingkah laku (Sugianto, 2000).

  4. Penguasaan Lingkungan (Environmental Mastery)

    Penguasaan lingkungan digambarkan dengan kemampuan individu untuk mengatur, memanfaatkan kesempatan yang ada di lingkungan, menciptakan, dan mengontrol lingkungan sesuai kebutuhan. (Ryff,1995). Individu yang memiliki kemampuan untuk memilih atau menciptakan lingkungan yang sesuai dengan kondisi psikisnya didefinisikan sebagai karakteristik dari kesehatan mental.

    Kematangan dipandang membutuhkan partisipasi dalam ruang lingkup yang signifikan dari aktivitas di luar diri. Perkembangan sepanjang hidup juga membutuhkan kemampuan untuk memanipulasi dan mengendalikan lingkungan yang kompleks. Teori-teori ini menekankan kemampuan seseorang untuk menghadapi dunia dan mengubahnya secara kreatif melalui kegiatan fisik atau mental (Ryff, 1989).

    Individu yang memiliki penguasaan lingkungan yang baik adalah individu yang mempunyai sense of mastery dan mampu mengatur lingkungan, mengontrol berbagai kegiatan eksternal yang kompleks, menggunakan kesempatan-kesempatan yang ada secara efektif, mampu memilih atau menciptakan konteks yang sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan pribadi. Sementara individu yang mengalami kesulitan dalam mengatur aktivitas sehari-hari, merasa tidak mampu untuk mengubah atau meningkatkan konteks sekitar, tidak waspada akan kesempatan-kesempatan yang ada di lingkungan, dan kurang mempunyai kontrol terhadap dunia luar menunjukkan individu yang tidak memiliki penguasaan atas lingkungan (Sugianto, 2000).

  5. Tujuan Hidup (Purpose in Life)

    Tujuan hidup memiliki pengertian individu memiliki pemahaman yang jelas akan tujuan dan arah hidupnya, memegang keyakinan bahwa individu mampu mencapai tujuan dalam hidupnya, dan merasa bahwa pengalaman hidup di masa lampau dan masa sekarang memiliki makna. (Ryff,1995).

    Kesehatan mental didefinisikan untuk memasukkan keyakinan yang memberikan perasaan adanya tujuan dan arti hidup. Definisi kematangan juga menekankan pemahaman yang jelas tentang tujuan hidup, merasa terarah dan disengaja. Teori perkembangan rentang kehidupan melihat berbagai perubahan maksud atau tujuan dalam hidup, seperti menjadi produktif dan kreatif atau mencapai integrasi emosional di kemudian hari. Jadi, satu fungsi positif yang memiliki tujuan, niat, dan rasa arah, semua yang memberikan kontribusi perasaan bahwa hidup ini bermakna (Ryff, 1989).

    Individu yang memiliki arah dan tujuan dalam hidup mampu merasakan adanya arti dalam hidup masa kini dan lampau. Sebaliknya individu yang kurang memiliki tujuan hidup adalah individu yang arti hidup, tujuan, arah hidup dan cita-cita yang tidak jelas, serta tidak melihat adanya tujuan dari kehidupan masa lampau (Sugianto, 2000).

  6. Pertumbuhan Pribadi (Personal Growth)

    Individu yang tinggi dalam dimensi pertumbuhan pribadi ditandai dengan adanya perasaan mengenai pertumbuhan yang berkesinambungan dalam dirinya, memandang diri sebagai individu yang selalu tumbuh dan berkembang (Ryff,1995).

    Berfungsi optimal secara psikologis memerlukan tidak hanya mencapai satu karakteristik sebelumnya, tetapi juga sesuatu yang terus mengembangkan potensi seseorang, untuk tumbuh dan berkembang sebagai manusia. Keterbukaan terhadap pengalaman, misalnya, adalah karakteristik kunci dari orang yang berfungsi penuh. Teori sepanjang hidup juga memberikan penekanan yang eksplisit untuk pertumbuhan yang berlanjut dan menghadapi tantangan baru atau tugas pada periode yang berbeda dari kehidupan. Jadi, pertumbuhan pribadi merupakan kemampuan seseorang untuk mengembangkan potensi diri secara berkelanjutan (Ryff, 1989).

    Individu yang memiliki pertumbuhan pribadi yang berkelanjutan adalah individu yang mampu merasakan adanya pengembangan potensi diri yang berkelanjutan, terbuka terhadap pengalaman-pengalaman baru, menyadari potensi diri, dan melihat kemajuan diri dari waktu ke waktu. Sebaliknya individu dikatakan tidak kurang memiliki pertumbuhan pribadi jika individu tidak merasakan adanya pengembangan potensi diri dari waktu ke waktu, merasa jenuh dan tidak tertarik dengan kehidupan, serta merasa tidak mampu mengembangkan tingkah laku baru (Sugianto, 2000).