Cyberbullying dan Cancel Culture menjadi sebuha toxic di media sosial, setujukah kamu?

cancel-culture-berujung-cyber-bullying-freepikcompikisuperstar

Cancel culture dapat diartikan sebagai aksi pembatalan yang berkaitan dengan pencabutan dukungan terhadap tokoh masyarakat sebagai tanggapan atas perilaku atau pendapat yang tidak menyenangkan. Ini dapat mencakup boikot atau penolakan untuk mempromosikan pekerjaan mereka.

Cancel culture adalah sebuah gerakan yang sebetulnya dikhawatirkan bisa berkontribusi pada peningkatan polarisasi politik. Baik itu tweet atau klip video yang kontroversial, pengguna media sosial dengan cepat bisa menuntut pertanggungjawaban pada subjek. Namun, para kritikus menganggap bahwa hal ini bisa menjadi sebuah bentuk online shaming, yang kemudian bisa mengarah kepada cyberbullying.

Richard Ford, seorang profesor hukum di Stanford University California setuju bahwa beberapa aktivisme media sosial itu konstruktif dan sah, tetapi ia juga mengeluhkan bahwa cancel culture bisa membatasi perdebatan. Selain itu, hal ini juga bisa memengaruhi perilaku diskriminatif dalam kehidupan sehari-hari. Perilaku ini juga dapat mendorong provokasi dan ekspresi kemarahan dan hampir sepenuhnya tidak mampu menyampaikan nuansa atau konteksnya. Richard juga menyebutkan bahwa terkadang tujuannya hanyalah kepuasan emosional saat menjatuhkan seseorang, yang mana ini bisa menjadi hal yang buruk.

Seperti layaknya sebuah racun yang masuk kedalam tubuh kini cyberbullying dan cancel culture masuk ke dalam media sosial dan menyebarkan racun kepada para penggunanya sehingga para pengguna media sosial terbawa dan terpengaruhi racun tersebut. Hal ini membuat pengguna media sosiak menjadi pengguna yang toxic, setujukah kamu dengan pernyataan itu? Sebarapa toxic nya cyberbullying dan cancel culture saat ini? Klik link di bawah ini untuk membantu teman saya ya😊

Setuju, sebab tindakan-tindakan yang dilakukan dimedia sosial yang tidak secara langsung dapat menjadi sebuah Boomerang besar bagi sipelaku pembulian tersebut. Sebab dengan begitu, pelaku yang menjadi objek bulan-bulanan orang lain akan merasa kecil hati. Pembulian yang dilakukan di media sosial tersebut dapat menarik orang-orang baik itu tidak kita mengenal kita menjadi orang-orang yang sangat pro untuk memberikan pembulian, dengan adanya stigma buruk dari orang lain untuk membenci kita dari pembulian tersebut.

Dari tindakan yang dilakukan saja sudah bisa terlihat bahwa cancel culture yang mengarah pada cyberbullying ini akan merugikan beberapa pihak terkait. Dunia maya menyebabkan segala bentuk informasi menjadi bias untuk bisa dipercaya oleh masyarakat. Karena itulah, sesuatu apapun bisa dijadikan sebagai bahan perdebatan di media sosial. Hal ini disebabkan oleh ketidaktahuan masyarakat mengenai kebenaran dari berita-berita yang beredar, tidak adanya validasi lanjutan dari mereka yang akhirnya maraknya berita hoaks dan mungkin menyudutkan beberapa pihak.

Berangkat dari perilaku-perilaku tersebut, kita melihat banyak fenomena cyberbullying, menghujat sana-sini hanya berdasarkan informasi yang beredar. Hal ini cukup disayangkan karena segala aktivitas kita saat ini tentunya didominasi dengan penggunaan media sosial. Maka apabila kita tidak bisa menggunakannga secara bijak, kita sendiri yang akan terjerumus ke dalamnya.

Ada benarnya jika cyberbullying dan cancel culture menjadi sebuah toksik di media sosial mengingat semua informasi mengalir dengan sangat cepat di media sosial dan pelakunya sangat sulit untuk diidentifikasi. Di sisi lain, kebenaran akan sangat subjektif di media sosial dan mereka akan menyerang atau menjatuhkan siapapun yang mereka anggap tidak benar. Media sosial juga bebas digunakan oleh siapapun orangnya. Karena kebebasan itulah, perilaku-perilaku seperti cyberbullying dan cancel culture ini menjadi semakin parah dan sulit dihentikan kecuali dibawa ke ranah hukum.