Cerita Mini 2.0 : Mendorong Tembok

Mendorong Tembok

Sumber gambar : https://image.shutterstock.com/image-vector/casual-man-pushing-wall-isolated-260nw-325549493.jpg

Brum…

Suara motor tua itu terdengar nyaring, rupanya motor itu sedang dihangatkan diiringi kicauan burung di pagi hari. Tatapan sedih dibasahi tetesan air mata terlihat di wajah Azka. Bocah enam tahun itu tak ingin Ayahnya pergi meninggalkannya. Wirda memeluk anaknya itu sembari menenangkan, “Ayahmu pasti kembali, jagoan.” Ucapnya.

Firmansyah, seorang dokter yang mendapat panggilan kemanusiaan tanpa ragu menjalankan tugasnya. Sebelum pergi, diapun memeluk istri dan anaknya yang masih berumur enam tahun itu.

“Doakan Ayah ya. Jaga Ibumu baik-baik, kamu itu anak kuat.” Ucapnya sembari tangannya memegang pundak Azka.

“Pokoknya Ayah harus kembali.” Ucap Azka tersedu-sedu.

Firmansyah menguatkan istri dan anaknya sembari meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ditariklah pedal gas motor tua itu meluncur ke Rumah Sakit tempat dia bekerja. Tapi kali ini tak biasa, jam kerja sudah tidak sesuai dengan biasanya. Tenaga terkuras setiap hari. Hazmat atau alat pelindung diri yang harus dipakai sebelum bertugas membuatnya harus menahan haus. Pakaian itu hanya sekali pakai, minum air dibatasi agar tak pergi ke toilet. Ketika pakaian berlapis itu dibuka tak boleh dipakai lagi. Dan parahnya, jumlah stok masker, hand sanitizer , dan alat pelindung diri menipis. Masih saja ada oknum yang mengambil keuntungan di saat wabah COVID-19 ini. Alat-alat kesehatan tadi ditimbun dan dilambungkan harganya. Masyarakat saling berebut untuk mendapatkannya.

Sementara itu, terlihat Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang masih muda hingga paruh baya berbelanja di sebuah supermarket untuk memenuhi kebutuhan mereka selama beberapa bulan ke depan. Tak membutuhkan waktu yang lama untuk melihat barang-barang kebutuhan pokok itu habis dan menghilang dari tempatnya. Dan parahnya lagi, yang berbelanja tadi memakai Hazmat atau alat pelindung diri yang seharusnya dipakai oleh tim medis. Sungguh pemandangan yang memprihatinkan. Bagaimana bisa mereka dengan tenangnya berbelanja sebanyak-banyaknya menggunakan Hazmat yang sedang dibutuhkan tim medis untuk menangani pasien-pasien yang terpapar COVID-19.

“Beras udah, minyak udah, telur udah, daging udah, apalagi ya. Oh bahan-bahan kue. Kan lumayan bisa nyoba-nyoba bikin kue. Belom pernah bikin soalnya.” Gumam salah satu pengunjung supermarket itu.

Dari hari ke hari, jumlah pasien terus meningkat. Penyebarannya begitu cepat. Tim medis bekerja siang malam untuk melakukan tugasnya. Firmansyah menarik napas dalam dalam setelah cukup lama melayani pasien.

“Hahhh udah jam segini. Mereka udah tidur belum ya.” Gumam Firmansyah memikirkan keluarganya.

Firmansyah mencoba video call dengan istrinya dan langsung diangkat.

“Assalamualaikum mas… kamu baik-baik aja kan?” Sapa Wirda dengan cemas.

“Waalaikumsalam… aku baik-baik aja kok. Kamu dan ade udah makan?”

“Udah mas, kita nungguin lho. Kamu malem ini ga pulang?”

“Untuk sementara ini aku belom bisa pulang. Kalian jaga terus kesehatan ya.”

Azka terbangun dari tidurnya dan melihat Ibunya sedang video call dengan sang Ayah. Azka pun berlari menghampiri Ibunya.

“Ayaaaah. Ayah masih di Rumah Sakit?”

“Hai jagoan, Ayah pasti pulang kok. Kamu udah bantu-bantu Ibu?”

“Udah dong yaah. Tadi kita beres-beres rumah, ngelap kaca, beresin mainan. Seru bareng Ibu apalagi kalo ada Ayah”

“Nanti kita main bareng oke.”

“Siaap yaah.”

Video call setidaknya menjadi jalan untuk Firmansyah melepas rindunya. Dia tahu, bukan sehari dua hari dia akan bertugas hingga larut malam. Sesekali dia meneteskan air mata, melihat rekan-rekannya kelelahan hingga ketiduran di kursi atau bahkan di lantai. Pakaian berlapis yang menutupi seluruh badan dari ujung kaki hingga ujung kepala masih dikenakan oleh rekan-rekannya yang tertidur.

Firmansyah mengapresiasi usaha masyarakat dan pihak berwenang yang turut meringankan tugas tim medis. Bantuan penyediaan alat-alat kesehatan untuk Rumah Sakit, logistik, hingga bantuan tempat tinggal untuk tim medis selama melakukan tugasnya. Masih banyak orang baik di negeri ini dan peduli kepada sesama.

Waktu terus belalu, pasien yang sembuh meningkat begitu juga dengan angka kematian. Nominal-nominal itu seakan tersebar secara cepat. Rupa-rupa respon masyarakat, ada yang mengkhawatirkan tetangganya dan memberikan bantuan sembako, ada pula yang ketakutan berlebih bahkan menolak jenazah pasien positif yang hendak dimakamkan di daerah mereka. Firmansyah dan beberapa rekan tim medis mengantarkan jenazah yang dibungkus sedemikian rupa agar virus itu tidak menyebar. Jenazah tersebut merupakan seorang warga Asem Bener dan hendak dimakamkan di daerah itu. Namun ada hal tak terduga, sontak saja beberapa warga Asem Bener ketakutan dan menolak jenazah tersebut dimakamkan. Bahkan dengan teganya beberapa warga itu melempar batu dan mengusir Firmansyah beserta rekan-rekannya. Sedih melihat warga yang masih belum paham bagaikan mendorong tembok, meskipun diedukasi namun tetap bebal. “Semoga Tuhan mengampuni dan memberi petunjuk kepada mereka” ucap Firmansyah.

7 Likes